
Pembangunan proyek telah mencapai 18%. Reena sangat puas dengan hasil yang dirintisnya.
Kia bahkan kini menjalin kasih dengan Deo. Ketika pembangunan sudah berjalan 20%, mereka bersiap ke kota asal mereka.
Mereka akan datang kembali ketika pembangunan mencapai 50%, 80% dan 100% sekaligus pembukaan.
Reena, Jak, Kia dan beberapa bodyguard, akhirnya sampai kota asal mereka. Wajah Kia sedikit sedih, pasalnya ia akan berhubungan via LDR dengan kekasihnya, Deo.
"Sudah, jangan sedih gitu napa?!" ejek Reena, "Pembangunan selesai kan Pak Deo janji langsung lamar kamu. Trus dia mau ngelamar kerja di perusahaan kita."
Kia hanya menunduk malu. Jak hanya berekspresi datar.
Sampainya di kota. Mereka dijemput dan langsung menuju kantor untuk mengerjakan rapelan kerja yang sempat tertunda.
Jak menuju kantor untuk menemui Devan, dan melaporkan segala aktivitas mereka. Kecuali pernyataan Reena untuk menikahinya.
"Jak ...!" panggil Devan.
"Saya, Tuan!" saut Jak.
"Aku ingin tahu, apa kau memiliki perasaan pada adikku?" pertanyaan langsung dengan nada tajam tertuju untuk Jak.
Jak sedikit terkejut dengan pertanyaan atasannya itu.
Jak sedikit gugup, untuk mengakui perasaannya, sebisa mungkin ia menguasai gugupnya.
"Jak. Aku bertanya padamu!" tekan Devan.
"Tuan ...," Jak hanya menundukkan kepalanya. Sungguh pria itu sangat takut untuk mengungkapkan.perasaan sebenarnya.
"Jak!" teriak Devan lagi.
"Jujur Tuan. Saya sangat mencintai Nona Muda. Maafkan saya!' ungkap Jak jujur.
Devan tersenyum mendengar pernyataan bawahannya itu.
"Jika memang itu benar. Aku mohon padamu Jak. Tolong cintai adikku sepenuh hatimu, jangan kau sakiti dia dan hatinya sedikit pun!" ujar Devan memohon.
"Tuan ...," Jak terkejut Devan memohonnya seperti itu.
"Saya bukan siapa-siapa, Tuan ...," aku Jak lemah.
Yang ia tahu atasannya sangat anti sosial. Perbedaan status sosial yang jauh membuat Jak sedikit minder.
"Apa yang kau pikirkan, Jak?"
"Jika Aira tidak pernah menjadi istri ku, mungkin saat ini aku sudah membunuhmu, ketika kau menyatakan perasaan mu, untuk adikku!"
Jak hanya tertunduk mendengar penjelasan Devan. Pria itu sangat tahu apa yang bisa Tuannya lakukan untuk dia.
"Jak ... aku sangat yakin kau bisa menjaga dan menyayangi adikku. Aku memohon padamu. Hanya kamu yang bisa membahagiakan Reena," ungkap Devan memohon.
Jak tercenung.
__ADS_1
"Tuan ...,"
"Panggil aku kakak, Jak!" titah Devan. "Kau sudah kuanggap adikku sendiri."
"Kak ...," cicit Jak.
Devan memeluk Jak dengan hangat. Entah mengapa tubuh Jak langsung bergetar hebat. Ia menahan semua gejolak perasaannya.
Kasih sayang yang Devan curahkan, membuat haru pria kaku itu.
"Menangis lah jika kau ingin menangis, Jak!" ujar Devan lirih.
Jak membalas pelukan Devan. Ada isak kecil terdengar keluar dari mulut pria kaku dan datar itu.
"Devan ... Jak!" sebuah suara berat datang dari pintu masuk.
Jak buru-buru melepas pelukannya. Kepalanya terus menunduk.
"Tegakkan kepalamu Jak. Tidak ada satupun keluarga Bramantyo menundukkan kepalanya!" titah tegas keluar dari mulut Rehan.
Jak menegakkan kepalanya. Rehan merentangkan kedua tangannya.
"Kemarilah, Nak!"
Jak, nyaris setengah berlari kedalam rengkuhan Rehan. Kehangatan menyeruak kesemua sendi dan tubuh Jak.
"Selamat datang, Nak. Papa tunggu lamaranmu untuk putriku!' ujar Rehan sambil mengusap punggung Jak.
"Hei sudah-sudah! Kenapa jadi melow gini sih!' ujar Devan sedikit kesal.
"Iya Tuan!' Devan melotot.
"Ah ... maksud saya Kak!" ralat Jak sambil mengulas senyum.
"Hei ... aku tak tahu jika, senyummu ternyata manis, Jak!' puji Rehan.
Jak menunduk malu, mendengar pujian itu.
"Astaga ... bahkan kini pipi mu bisa merona!" ejek Devan kesal.
"Kak ...."
"Hei ... bahkan sekarang kepiting rebus saja kalah dengan rona merah di wajah mu, Jak!" ungkap Devan sambil tertawa terus meledek.
"Hei ... sudah lah, berhenti kau meledeknya. Seperti kau tidak pernah jatuh cinta saja!" ujar Rehan menengahi.
"Tapi, apa yang dikatakan Dev, benar juga ... senyummu manis dan wajahmu bisa juga merona seperti itu. Kukira kau kaku seperti patung kayu Jak!' kini malah Rehan yang meledek Jak.
Maka tak ayal membuat Devan tertawa terpingkal-pingkal. Jak hanya mampu menghela napasnya. Tapi, kemudian ia ikut tertawa.
*****
"Tuan Buditama, bisakah saya minta bantuan anda?" tanya Jak meminta tolong.
__ADS_1
Jak kini berhadapan dengan Sean, ayah dari istri Devan.
"Ada apa, Jak. Tidak biasanya kau minta tolong padaku. Perihal apa yang tidak bisa kau kerjakan?" tanya Sean dengan perasaan heran.
Dalam pikiran Sean. Jak adalah pria multi-talent yang bisa mengerjakan apapun dalam sekejap.
"Sebenarnya ...," Jak ragu mengungkapkan apa yang ia inginkan.
"Katakan saja, Jak!" ujar Sean penasaran.
"Saya ingin meminang Reena Bramantyo."
Jawaban Jak, membuat Sean mengerutkan kening.
Jak yang paham langsung menceritakan keadaan dirinya. Hal itu membuat Sean haru.
"Bagaimana jika, aku mengadopsi mu. Kau akan menjadi kakaknya Aira!" ujar Sean memberi solusi.
"Siapa yang ingin kau angkat anak, Sean?" tiba-tiba sebuah suara datang dari arah pintu.
Irawan datang bersama dengan Max. Jak langsung menunduk memberi hormat. Irawan mengelus kepala Jak.
"Apa kabarmu, Nak?" tanya Irawan lembut.
"Alhamdulillah, Saya baik Tuan," jawab Jak.
"Aku ingin mengadopsi Jak, Pa! Bagaimana menurutmu?" ungkap Sean.
"Ah ... benarkah? Apa kah kau mau jadi cucu laki-laki ku, Jak?" tanya Irawan dengan mata berbinar.
Jaka tercengang. Sungguh ia tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Antara senang, bahagia dan takut.
"A-apakah, Saya pantas, Tuan?" tanyanya dengan terbata.
"Astaga ... Jak. Aku baru lihat ketidak percayaan mu hari ini!" ungkap Sean tidak percaya.
Jak hanya tersenyum kikuk. Senyuman Jak membuat Irawan dan Sean tertegun.
"Ah ... kau tersenyum, Jak?" ungkap Sean lagi sambil ikut tersenyum.
Jak lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang. Setelah kemarin ia habis diledek oleh keluarga Bramantyo, sekarang keluarga Buditama yang meledeknya.
"Ah ... sayang, kenapa tadi aku tidak memfotomu. Jarang-jarang kau akan memperlihatkan senyum manismu," sindir Irawan kini.
"Iya ya ... tunggu! Bukankah ruang ini ada CCTV. Aku rasa aku bisa melihat rekaman dan menjadikannya foto!' ujar Sean lagi.
"Tuan ...."
Irawan dan Sean tertawa melihat Jak yang sudah putus asa mendengar olok-olok dari mereka.
"Baiklah cucuku. Aku yakin jika Aira akan senang mendapatkan kakak laki-laki seperti mu," ujar Sean lagi.
Entah apa yang Jak rasakan kini. Ia tidak tahu, kebaikan apa yang telah ia lakukan hingga mendapatkan kebahagiaan sebesar ini.
__ADS_1
bersambung.
ah Jak ... kau memang pria baik