Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
BONUS PART KIA DAN DEO 4


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba. Di sebuah ruangan sederhana nampak dua pasang manusia beda usia tengah duduk berhadapan.


Deo dengan ibunya, sedang Bondan bersama istrinya.


Kia duduk diapit oleh Bondan dan Lina. Gadis itu hanya menunduk dan tengah meremas jari jemarinya karena gugup.


Sedangkan Deo. Pria itu jauh lebih gugup dari gadis yang kini sibuk menunduk. Percakapan antara Ibu Deo dan Bondan tidak terdengar oleh keduanya.


Baik Deo dan Kia hanya sibuk menenangkan degup jantungnya yang memacu kencang.


"Wah ... ada apa ini, dua calon saling diam begini?" tanya Bondan menggoda Kia dan Deo.


Wajah keduanya langsung merona. Semua nampak tersenyum bahagia kecuali Lina. Wanita itu hanya mampu tersenyum palsu. Sungguh ia ingin mengacaukan pertemuan itu.


"Oh ya ... maaf, bukan maksud menyinggung. Tapi, Deo adalah duda. Bagaimana dengan mantan istrinya, apakah tidak mengganggu hubungan Kia nantinya?" tanya Lina sinis.


Bondan sedikit kaget dengan pertanyaan Lina, istrinya. Tapi, tidak dengan Hansa, ibu Deo.


"Kamu jangan khawatirkan itu, Nak!" jawab lembut Hansa, "keduanya sudah resmi bercerai dan Rima telah menikah dan bahagia. Ibu rasa, tidak ada yang menghalangi. Kecuali ...."


Hasna memotong ucapannya. Lina tampak antusias. Wanita itu ingin mengambil kesempatan untuk menggagalkan pernikahan adik iparnya. Ia masih sayang, jika Kia berhenti memberinya uang.


"Kecuali apa Bu?" tanya Bondan tiba-tiba.


Baik Deo dan Kia nampak memucat. Mereka memandang wajah Hasna serius dan sedikit panik.

__ADS_1


"Kecuali jika mereka tidak serius dengan semua ini!" jawab Hasna kemudian yang membuat napas Deo dan Kia lega.


Wajah Lina nampak kesal, namun sebisa mungkin ia menetralkan mimik mukanya.


"Oh ... kukira apa," cicitnya lirih.


"Baiklah. Sekali lagi saya katakan, bahwa kedatangan kami berdua untuk melamar Kia untuk menjadi istri putraku, Deo!" sebuah ajuan lamaran terlontar begitu lugas dari bibir wanita yang telah menginjak usia 60 tahun itu.


Wajah Kia merona ketika mendengar lamaran tersebut.


"Saya selaku wali dari Kia, hanya bisa mengembalikan jawaban pada adik saya, karena dia lah yang nanti mengarungi bahtera rumah tangga," jawab Bondan tegas.


"Bagaimana, Dek?" tanya Bondan lagi.


Kia merona lalu menjawab dengan suara lirih.


"Alhamdulillah!" ketiga orang nampak mengucap hamdalah dengan perasaan lega, kecuali Lina.


"Baik lah, jadi kapan bisa dilangsungkan pernikahan ini?" tanya Bondan kemudian sambil tersenyum lebar.


"Kebaikan itu harus disegerakan bukan? Saya rasa lebih cepat itu lebih baik!" jawab Hasna kemudian.


"Jadi kapan, Nak?" tanyanya lagi kepada Deo yang kini berseri.


"Inshaallah satu bulan ke depan, bertepatan dengan lima belas tahun meninggalnya almarhum Ayah, Bu!" jawab Deo tegas.

__ADS_1


"Berarti tepat lima minggu lagi ya?" tanya Bondan sambil melihat kalender yang menggantung tak jauh dari tempatnya duduk.


"Benar Kak, sekita lima minggu lagi!" jawab Deo.


"Alhamdulillah. Tanggal sudah ditetapkan, bagaimana, Dek?" tanya Bondan pada Kia.


Kia hanya bisa mengangguk, rona merah di wajahnya tidak pudar karena saking bahagianya.


Deo menatap para ayu kekasih hatinya. Pria itu sangat tak sabar menunggu hari, di mana ia akan menjadikan gadis itu istrinya.


"Baiklah, berapa mahar yang kau pinta?" tanya Deo sambil terus menatap Kia.


Lina hendak menjawab pertanyaan Deo, tapi entah mengapa mulutnya tidak bisa bergerak. Justru pertanyaan itu dijawab oleh Kia dengan segera.


"Saya hanya minta mahar 10gram emas dan seperangkat alat sholat!" jawab Kia malu-malu.


Deo tersenyum mendengar jawaban gadis yang sangat dicintainya itu.


"Kau sanggup dengan mahar yang diminta oleh adikku?" tanya Bondan pada Deo.


"Ya, saya siap!" jawab Deo tegas.


Semua mengucap syukur. Bondan langsung mengajak Deo dan ibunya mencicipi makanan yang telah dihidangkan.


Tadinya Kia hendak memesan catering untuk menyambut calon mertua dan suaminya. Tapi, Kia memilih untuk memasak sendiri semuanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2