Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 57


__ADS_3

Hari berganti. Kandungan Aira telah memasuki 7 bulan. Perutnya yang besar menghalangi pandangannya.


Dalam perutnya berisi tiga bayi yang Aira sengaja tidak ingin mengetahui apa jenis kelamin mereka.


Aira ditemani para asisten rumah tangga. Ia tengah mengolah beberapa bumbu. Kali ini menunya adalah rawon.


Aira merasakan sedikit kontraksi. Ia mengabaikan rasa itu. Menurut dokter yang menanganinya. Kontraksi itu memang sering terjadi ketika kandungan mendekati bulan kelahiran.


'Masih tiga bulan lagi. Sabar ya sayang-sayangku,' gumam Aira dalam hati sambil mengelus perutnya yang besar.


Tiba-tiba kontraksinya makin sakit.


"Arrgghh!" teriak Aira sambil memegang perutnya.


Para asisten rumah tangga langsung menghentikan pekerjaan mereka.


"Nyonya muda!" teriak mereka khawatir.


Mereka melihat air yang merembes dari sela-sela kaki Aira.


Aira hanya mengenakan atasan putih lengan panjang dipadu rok panjang dibawah dengkul berwarna biru terang.


"Ketubannya sudah pecah! Tuaaaan ... Nyonyaaa!" teriak Bik Ila.


Rehan yang baru saja pulang hendak makan siang di rumah, mendengar teriakan salah seorang asisten rumah tangganya.


Pria parubaya itu langsung berlari menuju dapur.


"Ada apa kalian teriak-teriak!" seru Rehan dengan suara keras ketika mendengar keributan.


"Nyonya muda Aira sudah pecah ketuban!" teriak Bik Ila tak kalah kerasnya.


Rehan membulatkan matanya. Ia langsung menggendong menantunya itu.


"Bik, siapkan semua keperluan Nyonya muda kalian, sudah itu bawa ke rumah sakit segera!" titah Rehan tegas.


Rehan segera membawa Aira ke mobilnya. Supir yang baru mau masuk rumah melihat Tuannya keluar dengan menggendong anak menantunya, langsung membukakan pintu mobil.


Rehan memasukkan Aira di jok belakang.


"Tahan, Nak. Rapatkan kakimu!" titah Rehan lembut.


Aira menuruti perintah papa mertuanya. Kepalanya dipangku Rehan.


Aira terus berdoa sambil menahan laju air ketuban, agar bayi dalam kandungannya tidak kekeringan.


Rehan melakukan panggilan telepon.


"Rendra, Aira akan melahirkan!" teriak Rehan setelah ponselnya tersambung.


Rendra yang sigap langsung mengerti dan mengatakan akan menyiapkan semuanya.


Setelah mendengar jawaban Rendra. Rehan memutuskan sambungan telepon.


"Cepat Pak!" teriak Rehan panik.


Wajah Aira memucat. Ia menahan sakit yang luar biasa. Ia tak menyangka jika akan melahirkan secepat ini.


Sampai depan lobby rumah sakit. Pak supir turun dan langsung membukakan pintu mobil.


Rehan perlahan turun lebih dulu. Kemudian ia menyeret Aira hati-hati dari dalam mobil dengan mengapit kedua lengan di ketiak Aira.


Para medis sudah meyiapkan brangkar. Rehan langsung membantu Aira untuk naik ke atas tempat tidur dorong itu.


Semuanya sibuk. Dokter yang menangani kandungan Aira juga sudah menyiapkan ruang operasi.


Rehan duduk dengan wajah pias di kursi tunggu depan ruang operasi. Linda datang bersama dua orang asisten yang membawa perlengkapan Aira.


"Pa bagaimana!?" tanya Linda khawatir.


Rehan hanya menggelengkan kepala menandakan ia tidak tahu. Devan sedang berada di luar negeri bersama Jak. Ia tengah melakukan pembangunan sebuah proyek raksasa yakni hotel tertinggi di negara tersebut.

__ADS_1


Rehan tidak bisa menghubungi mereka. Karena kedua ponsel mereka tidak aktif. Rehan yakin jika keduanya tengah sibuk berat.


"Devan sudah diberi tahu?" tanya Linda.


Rehan hanya menjawab dengan anggukan. Walau ia yakin putranya kini belum mengetahui jika istrinya tengah melahirkan melalui operasi caesar.


Tiga jam berlalu. Seorang perawat keluar dari ruang operasi.


"Keluarga Ibu Aira?!" panggil perawat itu.


Rehan menyahut panggilan itu sambil berdiri bersamaan dengan Linda dan dua orang maid.


"Selamat, Pak. Ibu Aira melahirkan dengan selamat semuanya tidak kurang apa-apa!' lapor perawat dengan senyum.


Rehan dan semuanya mengucap hamdalah.


"Bu Aira melahirkan, dua bayi laki-laki dan satu bayi perempuan," jelas perawat tadi masih dengan tersenyum.


Rehan bernapas dengan lega. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Untuk ketiga bayinya sedang di dalam inkubator dan Ibu Aira tengah menjalani pemulihan. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan," jelas perawat lagi.


Rehan mengangguk. Kelas presidential suit menjadi ruang perawatan Aira.


Ya, ruang sebesar 10x15 meter dengan fasilitas lengkap. Tidak itu saja. Ruang khusus diperuntukkan orang-orang berkantung tebal itu, didesign mewah dan nyaman.


Tabung inkubator yang berisi tiga bayi lucu diletakkan di pinggir kamar.


Ada ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei warna putih dengan garis-garis biru.


Aira sudah mengenakan baju pasien berwana pink dengan hijab lebar dengan warna senada.


Ya, Aira telah mengenakan hijab, bersamaan dengan mama mertuanya.


Linda mengenakan gamis motif batik Megamendung berwarna cokelat tua dengan hijab warna senada.


Aira masih dalam pengaruh obat bius jadi dia belum sadar sepenuhnya. Linda menatap cucu-cucunya dengan binar bahagia.


"Masha Allah, Nyonya mereka tampan-tampan dan cantik!" seru Bik Ila dengan suara tertahan.


Wanita itu menatap empat orang yang tengah memandangi box inkubator dengan tatapan bahagia.


Seorang perawat masuk bersama dengan dokter kandungan yang menangani kelahiran bayi-bayi Aira.


"Assalamualaikum!' salam sang dokter yang mengejutkan keempat orang tersebut.


Rehan dan Linda hanya tersenyum kikuk sambil membalas salam sang dokter. Sedang yang lainnya hanya tertunduk dan menyingkir sedikit menjauh.


"Wah ... saking senangnya, sampai pada tidak tahu jika Ibunya telah siuman," ujar dokter sambil terkekeh.


"Ah ... sayang, kamu sudah sadar?" tanya Linda dengan wajah bahagia.


Paras Aira sudah tidak begitu pucat. Ia tak banyak bergerak. Perutnya masih sakit akibat operasi caesar.


Dokter langsung menjelaskan keadaan ibu dan bayi kembar tiganya.


"Semuanya baik, dan kista juga sudah diangkat. Jadi Ibu Aira tinggal istirahat agar luka operasi cepat kering dan sembuh," jelasnya lagi.


Perawat tengah membantu Aira untuk menyusui satu persatu bayinya.


"Nah, ini yang pertama. Bayi perempuan, siapa namanya, Bunda?" tanya perawat ketika meletakkan bayi cantik itu dalam gendongan Aira.


"Namanya Khadijah Humaira Bramantyo, Suster," jawab Aira dengan suara seperti anak kecil.


"Wah ... namanya cantik, semoga jadi anak yang solehah dan baik seperti Sayidah Khadijah ra. Aamiin," doa baik terlontar dari mulut perawat yang diamini oleh semuanya.


Setelah sang putri kenyang dan tertidur, perawat meletakkan kembali, dan mengambil salah satu bayi laki-laki.


"Nah, ini yang kedua. Siapa namanya Bunda?" tanyanya lagi.


"Muhammad Arsean Bramantyo," jawab Aira.

__ADS_1


Setelah menyusui baby Ar. Perawat kembali menaruhnya dalam inkubator dan mengambil yang terakhir.


"Nah, ini yang terakhir. Siapa namanya, Bun?"


"Namanya Ali Muhamad Devano," tiba-tiba Rehan menimpali untuk menjawab pertanyaan perawat.


Aira mengangguk dengan senyum lebar. Baby Al, menyedot susunya dengan kuat. Aira sampai meringis.


"Uh ... pelan-pelan, Sayang," ujar Aira lembut sambil mencium Baby Al.


Baby Ira, Baby Ar dan Baby Al, tidur dengan perut kenyang. Mereka memang masih kecil dan mungil.


Tapi, mereka semua sehat. Aira yang kini ditemani Tiana sang sahabat tengah bersenda gurau.


Aira melihat raut wajah sahabatnya itu tidak seperti biasa. Ada kegundahan yang menutup netra Tiana.


"Ada apa, katakan!' titah Aira lembut penuh ketegasan.


Tiana menghela napasnya. Ia tahu jika dirinya tak bisa menutupi kegundahan hati di depan sahabatnya itu.


"Aku dilamar Kak Ken!" jawab Tiana.


"Wah ... Sela-mat ...," ucapan Aira terhenti ketika melihat ekspresi wajah Tiana yang murung.


"Beb!"


"Gue nolak lamaran Kak Ken. Loe tau kan gue siapa, dan Kak Ken siapa. Gue nggak punya siapa-siapa. Elu tahu kan maksud gue!" Tiana menahan air matanya.


Aira sangat sedih. Ia sangat mengetahui jika ibu dari Ken tidak begitu menyukai Tiana. Terlihat jika betapa Sinta selalu berusaha mencarikan jodoh untuk putranya. Padahal ia tahu jika Ken sudah memacari Tiana.


"Assalamualaikum ... Sayang," Devan masuk dengan wajah gembira.


Penampilan yang acak-acakan, tampak sekali jika ia terburu-buru. Jak ikutan masuk. Pria itu tak kalah kusut penampilannya dengan Devan, sang atasan.


"Gue pamit ya, Beb," ujar Tiana pamit sambil mencium kening Aira.


"Iya, Say. Yang sabar ya!" jawab. Aira, sedang Tiana hanya mengacungi jempol sambil mengangguk hormat pada kedua pria yang datang.


Jak hanya menatap Tiana dengan tatapan entah. Sedang Devan langsung berhambur ke tempat tidur istrinya.


"Selamat Nyonya muda!" ungkap Jak.


Lalu tanpa diperintah, pria itu mundur setelah mengucapkan kata dan keluar dari ruangan tersebut.


Pintu tertutup. Devan langsung ******* bibir sang istri dengan rakus. Hingga Aira susah bernapas akibat aksi suaminya itu.


Setelah merasa kehilangan oksigen. Devan melepas tautan bibirnya. Kening dan hidung mereka menyatu dengan napas menderu.


Sungguh jika dibolehkan, pria itu ingin memakan istrinya. Tapi, ia sangat tahu jika tidak boleh.


Devan mengecup mesra kening sang istri.


"Di mana anak-anak ku?" tanyanya.


Aira menunjuk tempat di mana bayi-bayi mereka diletakkan.


Devan bangkit dari ranjang. Berjalan menuju box inkubator yang berisi tiga bayi mereka.


Ketiganya sudah menunjukkan perkembangan pesat. Devan menatap dengan binaran bahagia.


"Assalamualaikum baby Ira, baby Ar dan baby Al!" sapa Devan.


"Wa'alaikum salam, Daddy," balas Aira dengan suara meniru anak kecil.


Perawat datang seperti bisa, membantu membawa ketiga bayi tersebut untuk disusui secara bergantian.


Devan disuruh duduk oleh perawat. Menyuruhnya membuka kemeja untuk menyatukan mereka.


Devan membuka kancingnya. Perawat meletakkan bayi di dada Devan, selama lima menit. Begitu seterusnya.


Setelah selesai. Bayi-bayi mereka tidur dengan tenang.

__ADS_1


Devan masuk dalam satu selimut dengan Aira. Mereka saling berpelukan dengan bongkahan rasa bahagia yang tak terkira.


bersambung.


__ADS_2