
Masih ingat Brigita?
ini nasibnya setelah dibuang.
IJINKAN AKU MENCINTAIMU
episode 38
Siapa yang bisa menjangkau kekuasaan Sang Khalik. Siapa yang bisa menepis cinta-Nya, saat hidayah menembus hati kelam seorang manusia. Siapa yang meragukan cinta-Nya ketika tangan besar Allah menyentuh dan membuka pintu taubat manusia. Siapa yang meragukan ampunan-Nya? Siapa?
Seorang gadis tengah mengarit rumput untuk makan kambing milik tetangganya. Tubuhnya yang kurus tampak begitu gesit, menebas rumput-rumput liar.
Gadis berusia 15 tahun itu, tampak terkejut ketika melihat sosok manusia tergeletak penuh luka. Gadis kecil bernama Arini itu tanpa takut langsung menghampiri. Ia menyibak rambut wanita yang tergeletak tak sadarkan diri.
Masih dirasakannya denyut pelan nadi wanita. Bahkan napas kecil-kecil juga masih terasa.
"Ibu ini, masih hidup. Kasihan sekali. Ia pasti dibuang oleh orang yang tidak menginginkannya," ujarnya bermonolog.
Sekarang Arini bingung ingin menolong wanita itu. Untuk memanggil ayahnya, ia pasti akan terlambat menolongnya. Dicarinya alat yang bisa membawa wanita itu.
"Ah ... Gerobak!" Teriaknya ceria ketika mengingat benda yang tadi dibawanya.
Didorongnya gerobak kayu berukuran sedang untuk membawa rumput. Entah kekuatan dari mana ia bisa membopong tubuh yang besarnya satu kali lipat darinya.
Dengan hati-hati Arini meletakkan wanita itu pada gerobaknya. Dengan kuasa Allah. Gadis kecil itu mampu menarik gerobak dan berjalan menuju rumahnya.
Sampai rumah, ia membawa gerobak sampai kamarnya. Rumah kecil yang bersih dan rapi. Ada dua kamar. Satu kamar miliknya dan satu lagi milik ayahnya.
Arini gadis kecil yang mandiri. Ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Bahkan tak jarang ia menyiapkan keperluan sang ayah. Sejak kepergian sang ibu selama-lamanya sepuluh tahun silam. Arini sudah terbiasa dan dibiasakan oleh Ayahnya.
Dengan telaten ia membersihkan wajah dan tubuh wanita itu. Digantinya pakaian yang melekat dengan daster yang lumayan bagus peninggalan ibunya. Bahkan juga pakaian dalam wanita itu.
Dimasaknya air, kemudian ia membuatkan dua teh manis. Satu untuk ayahnya. Ia yakin sebentar lagi sang ayah akan pulang.
Dan satu teh lagi, ia sulangi secara pelan-pelan untuk wanita itu. Brigitta merasa ada air manis yang hangat masuk ke dalam mulutnya. Ia menelan cairan manis itu.
Entah itu keajaiban atau apa. Brigitta merasa tubuhnya hangat dan tenang. Perutnya juga tidak begitu perih dan sakit lagi. Sebenarnya ia sudah sadarkan diri ketika gadis itu mengganti pakaian dalamnya. Tapi, karena begitu lemah. Ia tak mampu membuka kelopak matanya.
Setelah tehnya habis. Arini mengusap lembut rambut wanita yang tak dikenalnya itu. Sesekali terdengar helaan napas dari hidungnya.
Entah dorongan dari mana. Arini mengecup lembut kening wanita yang baru saja ia temukan.
"Jangan takut, Bu. Arini akan menjaga Ibu," bisiknya lembut di telinga Brigit.
Terdengar bunyi pintu terbuka. Arini bergegas keluar dari kamarnya. Sayang. Arini tidak melihat satu tetes air jatuh dari mata wanita yang tadi diciumnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" Terdengar suara sopran keluar dari mulut pria berusia empat puluhan.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Ayah sudah pulang?" Sambut Arini langsung mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim.
Didi mengelus rambut putrinya. Wajah lelahnya langsung hilang ketika melihat senyum manis Arini.
Didi masuk dan menutup pintu. Ia langsung duduk di kursi dekat meja makan. Di sana sudah tersedia teh manis yang sudah hangat.
Dihirupnya secara perlahan teh itu. Hangat langsung menyeruak keseluruhan tubuhnya.
"Aah ... alhamdulilah!" Ucapnya.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sang putri. Ia melihat gelagat Arini yang serba salah. Didi menebak jika anak gadisnya itu menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa, Nak? Kenapa kau gelisah seperti itu?" Tanya Didi mulai curiga.
Mata bulat beriris hitam itu menatap sang ayah dengan binaran mata indah. Siapapun yang memandang binaran mata Arini tak akan sanggup menolak pesonanya. Begitu juga Didi-sang Ayah.
Didi menghela napasnya. "Katakan pada Ayah. Ayah tidak akan tahu jika kau tak memberi tahu."
Arini pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Terkejutlah Didi mendengar cerita anak gadisnya itu.
Didi hanya bisa mengusap wajahnya. Ia tak tahu harus bagaimana. Tapi, melihat anak gadisnya yang mulai memasang wajah takut dan kesedihan mendalam. Didi tidak tega memarahinya.
"Di mana kau taruh wanita itu?" Tanya Didi kemudian.
Arini mengajak sang ayah ke kamarnya. Didi melihat tubuh kurus seorang wanita yang penuh dengan bekas luka. Sebagian luka ada yang mengering dan ada yang basah juga masih baru. Tampak anak gadisnya telah mengobati beberapa luka itu dengan obat merah.
Didi menatap wajah putrinya yang memelas. Seakan mengatakan jika ia tak salah menolong orang. Dengan mengucao basmalah dalam hati. Didi mempercayai insting putrinya.
Didi bergegas keluar. Ia berencana melaporkan keberadaan wanita pada RT setempat. Ketua RT dan istri mendatangi rumah Didi.
Istri pak RT masuk ke kamar bersama Arini. Sedangkan pak RT dan Didi menunggu diruang tamu sambil duduk bersila. Tak ada kursi di sana. Satu-satunya kursi hanya ada di dekat meja di ruang makan.
"Sepertinya, wanita ini harus dibawa ke puskesmas. Saya takut jika luka ini menimbulkan infeksi," ujar istri pak RT mendatangi suaminya dan Didi di ruang tamu setelah memeriksa wanita itu.
"Kalau begitu, Ibu tunggu di sini. Saya akan ambil mobil. Kita Antarkan wanita itu. Sekalian lapor polisi," ujar Pak RT.
"Jangan! Jangan lapor polisi!" Teriak Arini tidak setuju.
Semuanya berpaling menatap wajah gadis kecil yang sudah ingin menangis.
"Jangan laporkan Ibuku ke polisi!" Pinta Arini memelas.
Semua terkejut mendengar perkataan Arini, termasuk Didi. Pak RT langsung menoleh wajah ke Didi, meminta pendapat. Didi hanya menghela napas kemudian pria itu mengangguk.
Pak RT pun setuju. Setelah mengambil mobil. Didi menggendong wanita itu masuk ke dalam mobil, untuk dibawa ke puskesmas setempat.
Beruntung tidak ada luka serius. Kecuali benturan dan beberapa memar yang besar. Tak ada tulang yang patah. Mereka yakin jika wanita itu jatuh terperosok.
__ADS_1
Sungguh jika Tuhan sudah menginginkan. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Para Penjahat itu memang membuang tubuh Brigitta yang mereka pikir itu jurang yang dalam. Tapi ternyata hanya dataran yang tak terlalu rendah. Bahkan tingginya tak sampai satu meter setengah. Karena gelap. Mereka tidak mengetahui sama sekali.
Brigitta hanya diberi beberapa obat dan vitamin. Setelah infus habis. Wanita itu diperbolehkan pulang.
Brigitta tak diantar ke rumah Didi lagi. Tapi, dibawa ke sebuah rumah tempat ibu-ibu PKK berkumpul. Brigitta disuruh tinggal di sana.
Pak RT tahu jika istri Didi sudah lama meninggal. Jadi mereka menyuruh Didi untuk segera menikahi wanita yang diketemukan putrinya.
Selama tiga hari Didi memikirkan hal itu. Sedangkan Arini lebih sering menginap bersama wanita yang telah dia anggap ibunya itu.
Awalnya Brigitta sedikit risih dengan kehadiran Arini. Tapi, keuletan dan kasih sayang yang gadis kecil itu berikan membuat hati kelam Brigitta perlahan-lahan mulai memudar.
Setiap malam, Brigitta mendapat pelukan dan ciuman dari gadis kecil itu. Hatinya menghangat. Bahkan ia seperti merasa harus melindungi tubuh kecil dan kurus yang memeluknya tiap malam.
Setiap pagi, ia melihat pria yang menjemput putrinya. Entah dari mana getaran itu datang. Brigitta seolah-olah merasakan denyut jantungnya yang tiba-tiba cepat setiap melihatnya.
Didi berkulit coklat. Tubuhnya tidak terlalu kurus tapi kekar. Dadanya lebar, wajahnya juga tampan. Senyumnya lembut. Tatapannya teduh dan menenangkan.
Hari telah ditentukan. Didi telah membuat pilihan. Pria itu melamar Brigitta. Ditemani ibu-ibu kampung dan tetes mata haru. Wanita itu menerima pinangan Didi.
Tanggal pernikahan ditentukan. Minggu depan adalah waktu yang telah ditetapkan.
******
Hari berlalu. Esok adalah hari pernikahannya. Brigitta menatap langit penuh dengan bintang dari jendela kamarnya. Debaran di jantungnya makin bergemuruh. Brigitta meraba dadanya.
"Apakah ini benar? Kemana cintaku pada Sean selama ini? Apakah aku mencintai Didi?" Seribu pertanyaan tumbuh dipikirannya.
Bunyi pintu kamar terbuka. Brigitta menoleh. Sebuah senyum yang selama ini menemaninya. Wanita itu membalas senyuman manis gadis kecilnya.
"Assalamualaikum, Ibu. Kenapa, Ibu belum tidur?" Tanya Arini penuh kelembutan.
Arini menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia berhambur dan langsung memeluk tubuh Brigitta yang mulai berisi.
Brigitta langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Arini.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Ibu tidak bisa tidur," aku Brigitta jujur.
"Apa karena besok, Ibu akan menikah lagi dengan Ayah?" Tanya Arini polos.
Sebenarnya Brigitta heran. Bagaimana bisa Arini berasumsi jika ia adalah ibu yang dulu menjadi istri ayahnya.
Brigitta kemudian berdiri. Menutup jendela dan menggandeng tangan Arini menuju tempat tidur. Arini langsung naik dan merebahkan tubuhnya, begitu juga Brigitta.
"Arini sangat menyayangi Ibu. Setiap malam, Ibu selalu datang ke mimpi Arini," ujarnya sambil memeluk erat tubuh Brigitta.
Brigitta membalas pelukan Arini. Mengecup lembut pucuk kepala gadis kecil itu. Hatinya selalu menghangat dalam lingkungan yang ia tempati ini.
Dalam sekejap mereka berdua tertidur, masih dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Bersambung
Next?