
Matahari tenggelam dengan sempurna. Bintang bertaburan hiasi langit gelap, bulan pun bersinar penuh.
Tampak sebuah pesta meriah tengah berlangsung di sebuah ballroom hotel ternama di kota itu. Hiasan kristal dan nuansa gold membuat suasana terkesan megah dan sangat eksklusif. Para awak media juga mesti berpakaian formal dan mewah, disertai id card dan undangan khusus.
Keluarga Bramantyo datang dengan setelan yang sama. Para pria memakai taxedo berwarna hitam dengan tie gold sedang para wanita mengenakan gaun berwarna gold yang seksi.
Devan datang dengan balutan taxedo bernuansa hitam dengan list gold buatan designer ternama. Rambutnya di sisir klasik tampak begitu gagah. Wajah tampannya jadi sorotan.
Namun semua mata terhenti dengan sosok wanita yang sangat cantik. Dengan gaun hitam dengan taburan swarosky. Gaun model kemben dengan punggung terbuka. Aira begitu seksi dan terkesan mewah juga sangat elegan.
Hal itu membuat wajah Devan berubah kelam. Ia sangat tak suka akan para mata yang seakan menelanjangi sang istri.
Rahang Devan mengeras. Ia melepas jas taxedonya, lalu menyampirkannya pada bahu Aira. Sedangkan Aira yang memang sedari tadi kurang nyaman akan gaun yang ia kenakan, sedikit lega ketika, Devan menyampirkan jas ke bahunya yang telanjang.
"Mas ... Aku takut," cicit Aira lemah.
Jemari Devan langsung menggenggam tangan Aira yang melingkar di lengannya. Diangkatnya tangan itu, lalu diciumnya punggung tangan Aira.
Blush ...
Rona merah langsung menyeruak di wajah Aira. Semua kamera menyorot kepada dua insan yang sangat serasi itu.
Nyala blits yang berkilauan menyipitkan mata Aira, hingga ia tak menyadari dekorasi yang tersembunyi.
Tiba-tiba sebuah suara MC menginterupsi, jika acara akan dimulai. Tentu diawali dengan kata-kata sambutan.
Rehan yang menjadi pion utama acara didaulat untuk memberikan satu wejangan bagi para pengusaha muda.
Tiba diacara puncak. Sosok pria yang telah lanjut usia tampak masih amat gagah menaiki panggung. Entah mengapa jantung Aira berdetak begitu cepat.
Gadis itu meremas lengan Devan. Devan melirik wajah sang istri yang berubah ekspresi. Pria itu mengelus tangan Aira lembut seakan memberi kekuatan.
"Selamat malam semuanya. Selamat datang dipesta yang sengaja kami adakan untuk memberi semangat bagi para pebisnis muda," ujarnya penuh ketegasan.
Entah mengapa Aira tiba-tiba meneteskan air matanya. Devan melihat itu, langsung menghapus dengan ibu jarinya. Devan melepas lengan Aira yang merangkul tangannya.
Ia melingkarkan tangan Aira ke pinggangnya, sedangkan Devan merangkul tangannya di bahu Aira.
"Malam ini, Saya selaku pencetus acara juga ingin menyampaikan sesuatu kabar gembira. Kabar yang selama dua puluh dua tahun kami tahan. Kabar yang mestinya menjadi kebahagiaan kami terpaksa kami kubur, demi keselamatan nyawa seseorang yang kami cintai," lanjut pria tua di atas podium.
"Devano Bramantyo, bawa ke tengah altar istri cantikmu!" Devan membawa Aira ke tempat yang disebut.
Aira sedikit bingung, tapi ia tetap mengikuti langkah suaminya. Sedangkan hatinya masih berdegup dengan sangat kencangnya, bahkan ia nyaris kesulitan bernapas.
"Aira Pramesti Irawan!" Aira menoleh ke asal suara.
"Ada yang mesti kau ketahui. Bahwa kau memliki ayah dan kakek yang masih hidup!" Aira terkejut. Air matanya luruh begitu saja.
"Sean, keluarlah!"
Seorang pria setengah baya, berjalan dengan gagahnya. Netranya terus menatap gadis yang kini dalam pelukan menantunya. Sungguh, ia sangat ingin berlari dan memeluk Aira, putrinya.
Irawan turun dari podium, ia berdiri sejajar dengan putranya. Tubuhnya bergetar hebat. Wajah pias menunggu reaksi seorang gadis yang menatap mereka berdua dengan ekspresi tak terbaca.
Aira menatap kedua pria yang menjulang di hadapannya.
"Aira ... Aku adalah Opamu dan pria di sebelahku ini adalah Papa kandungmu!" Ungkap Irawan dengan suara tercekat.
Aira hanya bungkam. Sedang air matanya terus mengalir di kedua pipinya yang halus. Antara senang, sedih, kecewa dan tak percaya menjadi satu.
Satu kilasan terlintas diingatan Aira. Sebuah letusan senjata berkali-kali dan sosok wanita roboh dengan bersimbah darah.
Kepala Aira mendadak sakit, telinganya berdenging. Tangannya langsung mencengkram kepala yang mendadak sakit itu. Kakinya juga lemas, hingga nyaris terjatuh. Beruntung Devan dengan sigap memeluk tubuh istrinya.
"Aira!" Seru semuanya khawatir.
"Aira ... Mereka sama tersiksanya denganmu, Nak," sebuah suara lembut tiba-tiba menyeruak di telinga gadis itu.
Netra Aira terbuka dan langsung mendapat sosok wanita yang dulu dipanggilnya Mommy.
Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk, lalu menghilang bagai asap.
__ADS_1
" ... Daddy?" Panggil Aira.
"Sweety!" Sean memanggil putrinya.
"Daddy!"
"Sweety!' Sean merentangkan tangannya.
Aira langsung berhambur kepelukan Sean. Sebuah tangis pilu terdengar dari bibir Aira. Tangisan yang begitu menyayat bagi siapa pun yang mendengarnya.
Bahkan Ken yang sangat keras hati langsung menangis dan memeluk ibunya.
Irawan juga memeluk kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia menoleh ke arah pria muda yang juga sedari tadi menahan air matanya.
Irawan melambaikan tangannya. Devan pun mendatangi mereka. Irawan langsung memeluk cucu menantunya.
Suasana haru menyeruak. Semua mata menitikkan buliran bening ke pipi mereka.
"Daddy ... I miss you so much!" Ungkap Aira sambil terisak.
"I miss you too sweety! Verry miss you!" Jawab Sean sambil mengecup berkali-kali pucuk kepala putrinya.
Sean langsung mengurai pelukannya. Mencium hangat kening Aira. Irawan merentangkan tangannya. Aira langsung memeluk kakek yang juga ia rindukan.
"Kuserahkan cucu perempuanku pada mu, Nak!" Ujar Irawan pada Sean putranya.
Sean memeluk Aira sangat erat. Kemudian ia kembali mencium kening putrinya.
"Devano Bramantyo. Aku serahkan putriku padamu. Jaga dia, cintai dia segenap jiwamu. Jika suatu saat kau tak lagi memiliki rasa untuknya. Jangan kau sakiti dia, tapi segeralah kau kembalikan ia padaku, jangan sekalipun kau menyakitinya!" Ujar Sean dengan tatapan tajam ke arah menantunya.
Devan langsung mengambil Aira dari tangan Sean. Sebuah kecupan singkat mendarat tiba-tiba di bibir Aira, hingga membuat gadis itu membelalakkan matanya.
Blush ....
Rona merah langsung membias wajah ayunya. Ia sangat terkejut akan tingkah Devan yang tiba-tiba.
"Saya Devano Bramantyo berjanji, akan selalu mencintai dan menjaga istri saya sepenuh jiwa raga saya!" Janji Devan.
Aira terharu mendengar janji suaminya.
Irawan kembali ke podium.
"Hari ini saya umumkan, jika Aira Pramesti Irawan Buditama, adalah pewaris tunggal dari perusahaan Buditama Grup ... dan ...!"
Tiba-tiba suara letupan kecil terdengar kertas kecil warna-warni berterbangan.
"Selamat ulang tahun cucuku yang ke dua puluh lima tahun!" Teriak Irawan dengan ceria.
Aira terpana. Sebuah kain membentang dengan tulisan ''Happy B'day 25th Aira!''.
Sebuah kue tart berukuran raksasa di datangkan. Aira masih terpana dengan mulut terbuka. Ia sangat bahagia. Tiba-tiba.
"Surprise!" Teriak Tiana.
"Tiana!" Sorak Aira tercengang. "Kamu tau ulang tahun ku?!"
"Hmm ... Aku baru tahu kemarin Beb!' ujar Tiana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe ... maaf, kan kau tau alasannya," cicit Aira lirih.
”Ya ... ya, gue tau kok. Pokoknya selamat ya, Say. Lop yu much deh!" Ujar Tiana langsung hendak mencium basah pipi Aira.
Aira mengelak, "ih ... gelay deh ... sana-sana, bau zigong lu!"
"Ish pelit. Masa misua lu aja yang boleh sun. Eke juga dong Beb!" Ujar Tiana masih ingin menyosor pipi Aira.
"No!" Elak Aira.
Tapi bukan Tiana namanya. Jika ia tak bisa mengerjai sahabatnya ini. Dan akhirnya.
Cup!
__ADS_1
"Ish ... Tiana!" Gelak tawa Tiana terdengar puas mengerjai sahabatnya.
"Gue sumpahin jodoh lu Kak Ken!" Ujar Aira tiba-tiba.
"Eh loh ... siapa Kak Ken?" Tanya Tiana bingung.
Sosok yang disebut langsung tersenyum, sedangkan Aira hanya menutup mulut dengan tangannya. Ia salah sebut.
'Ih ... kok, Kak Ken sih? Bukan Bang Jak?!' gumam Aira dalam hati.
Ken menatap Tiana dengan penuh arti. Sedangkan sepsanga mata lain hanya menatap perih sosok wanita yang mulai mengusik mimpi-mimpinya.
"Bang, Jak!" Sebuah suara lembut memanggil.
"Ah ... iya, Nona!" Jawab Jak sambil menoleh asal suara.
Gadis cantik berambut kecoklatan, menaruh sesuatu di kantong jas nya.
"Jika Abang berkenan, nanti. Aku harap, Abang membacanya," ujar gadis itu dengan kepala tertunduk.
Jak menantap tubuh gadis yang bergegas pergi meninggalkannya. Ia merogoh sakunya, mengambil kertas beramplop.
"Harum," ujarnya pelan sangat pelan hingga tak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
*******
Pesta telah usai. Semua keluarga Bramantyo menginap dan di beri kamar eksklusif. Begitupun sepasang manusia yang tengah berbahagia ini.
Devan menuntun sang istri ke peraduan meraka. Ketika Devan menggesek id card ke tempat yang disediakan.
Klik pintu terbuka. Mereka pun masuk ke dalam. Pintu langsung tertutup dan terkunci secara otomatis.
Netra Aira berbinar bahagia. Dekorasi kamar yang indah dengan taburan kelopak mawar merah berbentuk hati di atas ranjang berukuran king size.
Belum lagi juntaian kain dengan untaian manik emas menghiasi kepala ranjang dan dinding kamar.
Lilin-lilin beraroma therapy, sangat menenangkan. Mereka berjalan. Aira begitu bahagia.
"Sayang ...," Panggil Devan dengan suara serak.
Aira menoleh, menatap pria dengan pemujaan. Devan sangat bahagia mendapat tatapan itu lagi.
"Aira ingin ganti baju," cicit Aira sambil menunduk ketika Devan hendak mencium bibir gadis itu.
Aira langsung berlari ke kamar mandi. Di balik pintu ia meraba dadanya yang berdetak begitu kencang.
"Sayang ... gantinya dengan baju yang sudah aku siapkan di sana ya!" Teriak Devan memberi perintah.
Aira segera mengganti pakaiannya. Ia melihat baju yang disiapkan suaminya.
"Baju apa ini? Ini baju apa saringan santan sih, tipis banget!" Aira menatap pakaian yang ada di tangannya.
"Sayang!' teriak Devan.
"Iya sayang. Tapi ini bukan baju!" Teriak Aira lagi.
"Itu baju sayang!' jawab Devan kembali berteriak.
"Bukan! Ini saringan santan!" Jawab Aira tak mau kalah.
Devan terkikik geli mendengar jawaban Aira.
"Ya sudah. Pakai saja saringan santan itu, cepat!" Teriak Devan.
Aira segera memakainya. Dengan perlahan ia keluar kamar mandi.
Devan menatapnya dengan penuh gairah. Tak sabar, Devan bangkit lalu menggendong Aira ala bride style.
Kemudian .... Skidipapap Bum bum syalalala ... Kalian tau kan apa yang terjadi. Aira lepas segel.
bersambung.
__ADS_1
boleh minta votenya.
Muah!