
Hari berlalu. Ken telah membaik jauh lebih cepat dari perkiraan. Hari ini pria tampan itu diperbolehkan untuk pulang.
Seusai janji Sean. Ken dan Devan diajak kesebuah tempat, di mana hukum tidak ada.
Ken begitu terkejut ketika mendatangi markas mafia terbesar dan terkuat yang ia ketahui.
Sebenarnya Ken juga suka berkecimpung dalam dunia hitam. Ia memiliki nama samaran yakni Red Dragon.
Sean baru mengetahuinya saat ini. Ketika beberapa orang membungkuk hormat pada Ken.
Sedang Devan yang baru saja masuk ke dunia hitam. Hanya memasang mode silent.
Wajahnya datar dan dingin. Matanya kelam juga sangat tajam menusuk bagi siapapun memandang.
Aura membunuh yang keluar dari Devan sangat menakutkan Bahkan Ken hanya mampu tersenyum kecut.
Sean hanya menggelengkan kepalanya. Sean sangat salut akan sikap yang dibawa oleh menantunya ini.
"Diego, di mana kau letakkan kroco itu?" tanya Sean pada lelaki berkulit hitam.
Diego mengarahkan jalan sambil menggerakkan tangannya.
Ketika sampai di ruangan. Keempat menyeringai.
"Terima kasih Diego. Kau bisa kembali, minta bonusmu pada Kiki," ujar Sean sambil menepuk pundak Diego.
Diego hanya mengangguk dan mengacungkan ibu jari. Pria bertubuh tinggi besar itu pun berlalu.
"Diego itu bisu. Lidahnya dipotong oleh ayahnya sendiri ketika berusia dua belas tahun," jelas Sean.
Ken dan Davin termangu mendengar penjelasan Sean.
"Papa menemukannya saat ia dituduh mencuri oleh salah satu pemilik rumah makan di kota B. Dia bersikeras tidak melakukan pencurian. Papa langsung meminta rekaman CCTV. Tentu saja mereka yang memang memfitnah Diego tidak bisa berkutik, makanya Papa bawa ia kemari," jelas Sean lagi panjang lebar.
"Ken ...," panggil Sean.
Ken melangkah mendekati Sean.
"Ini dia si Codet yang menembak mu tidak sengaja," ujar Sean sambil membuka penutup wajah Codet.
Mang Codet terkejut melihat dua orang di hadapannya. Ia sangat mengenal Sean. Sedangkan pria di sebelah kepala mafia itu, ia tak mengenali.
"Kau tau, dengan siapa kau berurusan?" tanya Sean yang dijawab gelengan Si Codet.
"Kau berurusan dengan keluarga Bima dan Bramantyo," ujar Sean, "Juga berurusan dengan ku, kepala mafia Harimau Benggala."
Codet menelan saliva kasar. Sungguh sekarang ia menyesali apa yang telah ia lakukan. Tapi, sayang. Penyesalannya sudah sangat terlambat.
Codet berharap, kematian cepat menghampirinya. Karena ia sangat yakin tidak akan sanggup menahan siksaan yang sebentar lagi ia terima.
Benar saja. Tak lama, mulut itu melolong kesakitan, ketika Ken mematahkan satu jarinya.
__ADS_1
******
Hari berlalu. Aira sudah resmi menampuk jabatan sebagai CEO di perusahaan ayahnya. Devan, juga sesekali mengajari istrinya cara berbisnis.
Aira yang memang cerdas, dengan sangat mudah bisa langsung mengerti dan menjalani semuanya.
Hanya saja pengalaman terjun ke dunia bisnis yang sedikit kotor, yang belum ia miliki. Aira yang jujur sangat sulit beradaptasi ketika menghadapi permainan kotor para rekan bisnisnya.
Beberapa proyek justru ia lepas begitu saja, karena tidak ingin bermain licik. Hal itu meresahkan Sean.
Bukan maksud Sean agar Aira juga bermain licik. Tapi, jika melepas begitu saja proyek-proyek lama kelamaan integritas Aira sebagai CEO akan dipertanyakan.
"Dev, bisakah kau beri sedikit pengarahan pada istrimu tentang trik berbisnis?" pinta Sean sedikit khawatir.
Devan sebenarnya juga ikut khawatir tentang ulah istrinya. Tapi, ia berpikir, semua pemimpin tentu memiliki cara sendiri.
"Pa, biarkan dulu. Kita lihat saja kinerjanya. Aku yakin jika Aira memiliki caranya sendiri dalam berbisnis," ujar Devan tenang.
Sean hanya bisa percaya pada menantunya sekarang. Ia pun memberikan kepercayaan pada putrinya.
Benar saja. Dalam hitungan minggu, beberapa proyek yang ia lepas, tiba-tiba meminta kerja sama kembali.
Sean melihat reaksi Aira. Betapa tenang putrinya tidak langsung menerima proyek tersebut.
Aira memilih untuk mempelajari dan menyelidiki masalah yang ada pada proyek tersebut.
Benar saja. Aira mendapat bukti jika proyek tersebut kehilangan banyak dana karena korupsi besar-besaran.
Aira merasa kelelahan jika bekerja sendiri, walau kadang Max atau Devan yang membantunya.
Ia mencari asisten cekatan dan berani. Dan pilihannya jatuh pada Jihan.
Gadis berambut panjang dengan tubuh tinggi dan tegap. Menguasai lima bahasa asing dan juga mahir bela diri.
Perawakan yang nyaris sama dengan Aira. Tomboy dan urakan.
Dalam sekejap perusahaan Buditama Grup berkembang lebih pesat.
Aira meluaskan area kekuasaan dengan membangun jalan tol dan lapangan udara di daerah-daerah yang terpencil. Sehingga pembangunan merata.
Aira juga membangun pasar tradisional yang modern. Dengan harga sewa yang terjangkau, hingga para pelapak dan pedagang kecil mampu membayarnya.
Aira juga memikirkan lingkungan. Dia melihat hutan yang banyak sekali pembalakan liar.
Dengan kekuasaan Papa dan suaminya. Ia langsung menjadikan hutan itu dilindungi dan menjadi area margasatwa.
Pembalakan liar dibasmi. Para perusahaan bodong juga disikat dan diseret keranah hukum.
Aira yang tengah asik dengan kerja barunya. Tiba-tiba merasa pusing dan pandangannya berubah gelap.
*******
__ADS_1
Devan buru-buru ke rumah sakit. Ia terkejut ketika mendengar Aira jatuh pingsan.
Ketika sampai di ruang rawat inap. Ia melihat wajah pucat istrinya. Di sana ada Tiana sang sahabat.
"Sayang ...." Aira tersenyum ketika melihat suaminya datang.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir.
"Aira tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja ...," Aira menggantung ucapannya.
"Hanya kenapa Sayang?!" Tanya Devan khawatir.
"Aira hamil, Mas," ujar Aira lirih.
Devan terpaku. "Apa? Coba katakan sekali lagi?!"
"Aira hamil."
Devan tersenyum, wajahnya menampilkan banyak ekspresi. Antara sedih, bahagia dan terharu menjadi satu.
"Selamat ya, Tuan muda Bramantyo. Anda sebentar lagi jadi ayah. Usia kandungan Aira sudah menginjak delapan minggu," jelas Tiana.
Dewan langsung memeluk Aira erat. Diciumnya bertubi-tubi pucuk kepala istrinya.
"Ah ya, Saya sarankan jika Aira harus istirahat total hingga melahirkan!" titah Tiana tegas.
"Kenapa begitu, apa ada masalah dengan kehamilannya?" tanya Devan jadi khawatir.
"Ada sedikit kista, tapi jangan khawatir. Kista bisa hilang ketika Aira melahirkan nanti," jelas Tiana.
"Sayang, aku akan melarangmu bekerja!" ujar Devan memberi peringatan pada istrinya.
Aira hanya bisa mengangguk patuh. Beruntung ia sudah memiliki Jihan yang juga tak kalah hebat dengannya. Aira bisa mempercayakan penuh semuanya pada gadis itu, bukankah Max juga akan banyak membantu.
Pikiran Aira hanya satu. Ia akan menuruti semua perkataan dan saran dari sahabatnya, terlebih suaminya.
Dokter Rendra yang mendengar kehamilan Aira, hanya bisa tersenyum. Perasaanya pada Aira juga sudah mulai berkurang.
Kini, ia tengah mengamati salah satu adik dari suami Aira.
"Apa Om Rehan setuju ya, jika aku langsung melamar putrinya?" gumam Rendra bermonolog.
"Sepertinya, aku tunggu kedatangan Papa. Biar kutanyakan dulu pendapatnya," lanjutnya.
bersambung.
okeh ...
makasih sama jempol dan love, koment apa lagi vote.
othor juga nggak keberatan kalo dikasih hadiah.
__ADS_1
hehehehe.