
Selasa pagi Reena dan Kia bersama ke empat bodyguard telah sampai lokasi proyek.
Mereka langsung melakukan pekerjaan setelah peletakan batu pertama beberapa jam lalu.
Ketika semua pejabat daerah yang terkait sudah pergi. Bahkan Reena masih menunggu perwakilan aliansi yang kemarin berdemo.
Karena waktu sudah menunjukan siang. Reena langsung mengintruksikan para pekerja untuk melakukan kerja mereka.
Kadang Reena kesal dengan ke empat bodyguard yang mengawalnya. Nyaris semua pekerjaan diperiksa terlebih dahulu oleh mereka.
Gadis itu kini merenggut kesal. Wajahnya mode jutek dan galak. Jika ada satu saja kesalahan yang diperbuat oleh para pekerja.
Maka tak segan-segan ia turun tangan. Dari mencampur semen dan pasir hingga mengaduknya.
Para pekerja terperangah melihat Boss mereka begitu mahir memegang cangkul.
"Widih ... Boss kita kuat juga ya, Bro!" puji salah satu pekerja.
"Iya ... gue ngebayangin kekuatannya, kalo di ranjang kek gimana," jawab salah satu mandor mesum.
"Huuu! Dasar mesum Loe. Awas loe ampe macem-macem sama Boss!" ancam para pekerja pada mandor genit.
"Dih ... Kalian berani Ama gue!' gertak mandor.
"Iya kita berani. Kita ramean. Nah Eloe cuman sendiri!" gertak balik para pekerja yang langsung pasang badan.
"Weihh ... sabar-sabar ... gitu aja marah," ujar mandor takut ketika semua mata menatapnya tajam.
'Cis ... padahal kalo digarap tuh body semok, pasti enak banget,' gumamnya tetap mesum.
Entah berapa kali si mandor berusaha untuk mendekati Reena. Tapi, setiap kali ia berusaha, pasti digagalkan oleh para bodyguard yang menjaga Reena.
"Cis ... sialan tuh penjaga. Nggak bisa bikin orang senang. Padahal pengen banget gue nowel bokongnya. Walau pakaian dia tertutup. Gue yakin bodynya seksi," racaunya tak jelas dan makin mesum.
Bahkan mandor kini dengan berani menatap penuh minat pada gadis yang menjadi atasannya itu.
Reena merasa jengah. Ia sangat tahu jika ada pria yang menatapnya penuh napsu.
Pandangan Reena langsung bertemu dengan tatapan napsu sang mandor.
Mandor yang mengetahui jika si Boss membalas tatapannya. Bukannya dia takut, malahan ia menjulur lidahnya mengoles bibir hitamnya. Reena jijik dan mau muntah melihat hal tak senonoh tersebut.
Reena sangat ingin menghajar pria mesum itu. Tapi, tentu tak bisa ia lakukan, karena pria itu masih melakukan pekerjaannya dengan baik.
Maka itu Reena mengabaikan si mandor dan memilih untuk menghindar jauh dari kemesuman pria itu.
Sudah berapa jam si mandor tidak menemui gadis yang menjadi incarannya.
Netranya mengedar untuk mencari sosok yang menaikan libidonya. Ketika ia menemukan gadis itu. Entah mengapa tubuhnya bergetar hebat menahan birahi yang memuncak.
Dan entah kenapa, Reena tengah sendirian sekarang. Gadis itu menyandar di sebuah pilar besar dan jauh dari pandangan orang lain.
Dengan langkah yakin, pria berusia 30an, bertubuh tambun dengan perut buncit itu menyambangi Reena.
Dengan penuh percaya dirinya, pria itu menarik tubuh gadis itu dan berusaha menciumnya.
__ADS_1
Reena yang terkejut, nyaris didekap oleh sang mandor.
Dengan kekuatan penuh ia mendorong tubuh tambun namun kekar itu. Sayang, badan sang mandor hanya bergeser sedikit.
Mendapat perlawanan membuat si mandor malah bergairah. Ia langsung menarik tangan sang gadis.
Reena langsung melakukan tendangan.
Buk!
Brak!
Klontang!
Barang-barang seperti kaleng cat berjatuhan.
"BRENGSEK!" teriak Reena langsung menjadi perhatian.
Karena lokasi Reena yang sulit dijangkau oleh para bodyguard dan butuh waktu untuk mencapainya.
Reena berusaha mati-matian melawan si mandor yang telah kalap dan gelap mata untuk menjamahnya.
Si mandor berhasil melumpuhkan Reena. Tenaga gadis itu makin lemah.
Para pekerja langsung berlompatan menuju lokasi itu.
Salah seorang pekerja berhasil mendarat sempurna di belakang Mandor.
Sebuah pukulan keras mengenai tengkuk mandor, hingga dia terjatuh.
"Eh ... Lu goblok ya! Gue bilang jauhin Boss!" bentak si pekerja.
Mendengar hal itu Reena ketakutan. Sungguh tenaganya tidak akan kuat jika melawan keduanya. Sedang para bodyguard berusaha. mencapai lokasinya.
"Dasar brengsek, Loe. Udah punya bini juga!" teriak si pekerja memaki.
"Ck ... berisik!" ujar mandor bangkit.
Kini mereka berdua terlibat perkelahian. para bodyguard akhirnya bisa mencapai tempat atasannya.
Para bodyguard langsung mengamankan Reena. Kia yang menangis langsung memeluknya.
Reena bernapas lega. Tangan dan kakinya sakit, sedang di beberapa bagian tubuhnya juga terasa nyeri.
"Nona, sebaiknay Nona ke rumah sakit untuk diperiksa!" saran salah seorang bodyguard.
Reena menggeleng. Ia merasa baik-baik saja. Si mandor langsung digelandang ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Reena dan beberapa pekerja langsung memberikan pernyataan dan saksi.
Setelah mendapat bukti dan keterangan. Mandor langsung dipenjara, dan dipecat oleh Deo selaku pemimpin lapangan.
Rehan yang mendapat kabar jika putrinya nyaris diperkosa. Langsung bertolak menuju kota K, bersama istrinya.
Devan dan Jak yang tengah berada di kota B, kebetulan kota B jaraknya tidak begitu jauh dengan kota K, langsung membatalkan meeting sementara dan pergi ke kota di mana Reena sedang berada.
__ADS_1
Rehan dan Linda langsung ke lokasi. Mereka tidak peduli dengan tubuh lelah dan merasakan jatlag.
Sampai sana ternyata Devan dan Jak tiba lebih dahulu.
Linda langsung berurai air mata ketika melihat wajah putrinya ada lebam di beberapa tempat.
Linda langsung memeluk putrinya. Tangisan terdengar dari keduanya.
"Sayang ... kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rehan bergetar ketika membelai wajah Reena yang sedikit lebam bahkan ujung bibirnya ada bekas luka robek.
"Ree tidak apa-apa, Pa. Penjahatnya juga sudah masuk penjara. Semuanya berkat Pak Jono yang cepat menolong Ree," ujar Reena menjelaskan.
"Mana Pak Jono?" tanya Rehan dan Devan bersamaan.
Yang punya nama datang sambil membungkukkan badan. Rehan bertanya perihal kejadian.
Jono langsung menceritakan sedari awal memang sang mandor sudah berkeinginan untuk melecehkan Boss mereka.
Betapa geramnya Devan dan Rehan. Terlebih Jak.
Tiba-tiba datang seorang ibu dengan dua anaknya menangis meraung di halaman kontruksi bangunan.
Reena dan yang lainnya terkejut. Bagaimana bisa ibu itu masuk ke lokasi pembangunan yang ditutup dan dijaga oleh sekuriti.
"Hei ... siapa yang jaga portal?! Kenapa mereka bisa masuk!" teriak Deo kemudian.
Para sekuriti langsung berhamburan dari warung tempel liar yang ada di sebelah lokasi proyek.
Melihat baju mereka yang berantakan bahkan, ada resleting celana mereka belum terpasang.
Reena langsung murka melihat hal tak senonoh tersebut. Dia berlari dan memberikan tendangan pada ketiga sekuriti tersebut.
Ketiganya jatuh. Reena yang emosi menendang tubuh ketiganya bertubi-tubi.
Suara mengaduh dan teriakan minta ampun tak dipedulikan oleh gadis itu.
Devan langsung menghampiri adiknya. Sedang ibu dan kedua anaknya hanya terdiam melihat aksi brutal sang gadis.
Devan langsung menggendong adiknya secara bride style. Reena memukuli dada kakaknya lalu menangis histeris.
"Jak! singkirkan warung itu! Deo pecat mereka!" titah Devan dengan tatapan dingin.
Rehan langsung menggantikan gendongan Devan. Reena langsung tak sadarkan diri.
"Kita bawa dia ke rumah sakit. Sepertinya dia shock," ujar Linda.
Rehan mengangguk.
"Jono. Kamu jadi pemimpin para pekerja sekarang!" titah Rehan yang langsung disetujui oleh Devan.
Rehan dan Linda langsung membawa Reena ke rumah sakit. Sedang Devan langsung menggantikan posisi adiknya mengawasi pembangunan.
Reena shock akibat dirinya yang nyaris dilecehkan. Sedang Ia mendapati pekerjaannya tengah melakukan maksiat di tempat ia bekerja. Hingga membuat gadis ini kalap luar biasa.
bersambung
__ADS_1
uh ... gue jadi Reena
gue potong anunya para sekuriti mesum itu! š”š”š”š”š”!