
Setelah semuanya beres. Devan, Ken dan Jak kembali ke dunia luar mereka.
Berita tentang ditemukannya sosok petinggi yang babak belur dengan semua barang berharga dicuri. Menjadi berita pertama yang didengar oleh mereka.
Devan hanya tersenyum tipis mendengar berita tersebut. Reena masih dalam perawatan. Gadis kuat dan pemberani itu pulih begitu cepat.
Bahkan Reena tidak merasa trauma sedikit pun. Justru pertama kali ia sadar adalah menanyakan keadaan sekretarisnya.
Berkat bantuan obat-obatan dari Sean. Luka-luka di wajah Reena sembuh tanpa bekas.
Hal ini membuat Rendra ingin melakukan kerja sama pada perusahaan farmasi yang dikelola oleh Sean.
Aira secara diam-diam merawat Reena dengan menggunakan tekhnik chi. Wanita hamil itu menyembuhkan pada semua bagian tubuh Reena yang memar.
Perbuatan Aira direkam oleh Tiana, sang sahabat. Alasannya, untuk ia belajar.
Siapa sangka. Perbuatannya itu diketahui Rendra dan Devan yang melihatnya tengah asik mempraktekkan teknik itu, diruang kerjanya.
"Apa yang kau lihat, Dok?" tanya Rendra tiba-tiba masuk ke ruang kerja.
Tiana kaget, ia lupa tidak menutup rapat pintu saking antusiasnya belajar ilmu chi.
"Eh ... anu, itu ...."
Tiana yang gugup mendadak jadi lebih gugup ketika tiba-tiba ia merasakan aura dingin di sekitarnya. Ternyata Devan berada di belakang tubuh Rendra.
Rendra yang merasakan perubahan suhu ruang. Ia membalik tubuhnya.
"Eh ... Kak," cicitnya.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Devan.
Netranya beralih dengan ponsel android yang dipegang Tiana. Karena posisi layar terpampang jelas di mata suami sahabatnya.
"Itu ... apa yang sedang istriku lakukan pada Reena?" tanya Devan heran.
Tiana menelan saliva kasar. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi kehebatan sahabatnya itu.
Akhirnya dengan berat hati. Tiana menjelaskan apa yang diperbuat Aira pada Reena.
Mendengar penjelasan Tiana. Devan berbinar. Tiba-tiba Rendra memiliki usul.
"Kak ... bagaimana jika Kak Aira melakukan praktek di rumah sakit ini!"
Devan langsung melayangkan tatapan tajam dan dingin.
Rendra langsung kicep. Sungguh ia meruntuki dirinya sendiri ketika mengusulkan ide tersebut.
Sedangkan Tiana hanya bisa terdiam. Devan menyuruh Tiana untuk menghapus video itu. Dengan berat hati, Tiana melakukan apa yang diperintahkan oleh Devan.
Ketika semuanya telah selesai. Devan meninggalkan mereka berdua yang kaku dan kikuk.
Devan langsung datang ke ruang rawat. Di sana tanpa sengaja ia melihat istrinya tengah melakukan penyembuhan pada Reena.
"Sayang ...," panggil Devan.
__ADS_1
Aira yang sedikit selesai, hanya mengabaikan panggilan suaminya. Devan yang mengerti terpaksa diam menunggu.
Dua menit kemudian, therapy penyembuhan pada adik iparnya selesai. Aira langsung, menyambut kedatangan suaminya dengan senyum.
Tatapan Devan yang datar dan dingin, membuat senyum di wajah Aira hilang seketika.
Devan langsung tersadar akan perubahan wajah Aira. Pria tampan itu langsung memeluk tubuh Aira yang berisi dan berperut buncit.
"Sayang ... kenapa kau tak bilang jika kau adalah seorang master therapist chi?" tanya Devan lembut.
Ia tak mau lagi kehilangan tatapan pemujaan Aira. Devan juga tidak ingin Aira menatapnya penuh ketakutan.
"Maaf sayang. Aira memang tidak merasa seorang therapist," jawab Aira rendah diri.
"Apakah itu tidak mengganggu bayi kita?" tanya Devan lagi.
"Tidak Sayang, justru malah membuat sehat bayi-bayi kita!" jawab Aira dengan mata berbinar.
"Bayi-bayi?" tanya Reena tiba-tiba, ia mendengar perkataan kakak iparnya.
Aira menatap Reena dengan wajah bahagia. Sedang Devan hanya termangu tak percaya.
Memang diakui, selama kehamilan istrinya. Pria itu hanya satu kali saja menemani sang istri mengecek kehamilan. Itu pun ketika Aira baru ketahuan mengandung.
Kesibukan dan beberapa masalah terakhir membuatnya sibuk.
"Maaf, Sayang, aku jarang menemanimu belakangan ini," ujar Devan dengan raut wajah menyesal.
"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting, kau harus hadir ketika aku melahirkan tiga bayi kita nanti," jelas Aira masih dengan senyum bahagianya.
Aira mengangguk sambil tersenyum lebar, hingga memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
Devan langsung semringah. Sedang Reena bersorak di atas brangkarnya.
"A ... duh!" Reena meringis pelan.
Mendengar suara mengaduh dari mulut Reena. Sepasang suami istri itu langsung mendatangi adiknya tersebut.
"Kenapa Ree, apa ada yang sakit? Kakak panggilkan Dokter ya!?" ujar Aira dengan nada khawatir.
"Tidak, Kak. Aku hanya terlalu kuat bersorak jadi rasa nyeri di sini timbul," jelas Reena sambil menunjuk ulu hatinya.
Devan menangis mendengar hal itu. Pria itu langsung memeluknya adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Kakak tidak bisa menjagamu dengan benar," ujarnya sambil terisak.
Aira ikut menangis mendengar tangisan suaminya. wanita itu juga memeluk keduanya.
Aira mencium pipi Devan dan Reena bergantian. Devan yang sudah lama puasa batin tiba-tiba bergairah mendapatkan ciuman itu.
Entah sejak kapan, pria itu berubah drastis. Setiap istrinya melakukan kegiatan intim padanya. Libido Devan langsung naik.
"Sayang ...," panggil Devan dengan suara serak. Pria itu melepas pelukannya.
Aira terdiam dan wajahnya bersemu merah merona. Ia sangat tahu dengan tanda yang dilontarkan sang suami.
__ADS_1
Reena yang masih polos hanya memandangi wajah keduanya.
Tiba-tiba, Ken dan Jak masuk.
"Kalian berdua, tunggui adikku di sini!" titahnya kemudian.
"Emang Lu mau kemana, Bro?" tanya Ken dengan mimik serius.
"Gue mau jenguk Dedek bayi!" Devan menjawab asal pertanyaan Ken.
Dengan mata berkabut gairah. Devan langsung menarik tangan Aira untuk mengikutinya.
Sedangkan Ken masih mencerna apa perkataan Devan tadi.
Setelah Kakak sepupu membawa Aira pergi. Barulah Ken sadar apa yang dikatakan Devan tadi.
"Aish ... dasar mesum!" runtuknya kesal.
Sedang Jak, hanya diam. netranya memandang gadis yang terbaring sambil tersenyum melihat tingkah Ken, kakak sepupunya.
Selesai meruntuki tingkah Devan. Ken mendekati Reena. Dibelainya sayang kepala adik sepupunya itu.
"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Ken penuh kasih sayang.
"Nona ...."
Reena hanya membalas anggukan hormat pada Jak, sedang untuk Ken, Reena memberi senyum manisnya.
"Kata Dokter, tiga hari lagi kau boleh pulang," ujar Ken.
Reena mengangguk.
"Oh ya, aku lihat sekretarismu memakai bajumu, kenapa?" tanya Ken kemudian.
"Oh ... Ree memang memberikan semua baju-baju Ree, sama Kia, Kak," jawab Reena lembut.
"Iya, tapi kenapa?" tanya Ken lagi.
"Ree sekarang berhijab," jawab Reena sambil tertunduk malu.
"Benarkah?" tanya Ken antusias.
Gadis itu mengangguk. Ken senang mendengarnya. Pria itu pun mengecup lembut pucuk kepala adik sepupunya itu.
Lepas dari pengamatan Ken. Jak menatap Reena dengan penuh kasih. Sungguh pria itu berusaha mati-matian untuk menetralisir degup jantungnya.
'Aku senang melihat kau sehat lagi, Nona,' gumam Jak dalam hati.
Bersambung.
okeee
boleh dong klik like and love. Komentar apa aja asal sopan. Vote jika perlu.
makasih.
__ADS_1