
Devan dan Aira keluar dari kamar mereka. Ketika menuju lift mereka bertemu dengan Jak dan Ken.
"Hai bro! Wah, kayaknya baru seneng-seneng nih tadi malam?!" goda Ken sambil menaik turunkan alisnya.
Aira sangat malu digoda oleh adik sepupu suaminya itu. Ketika mereka sampai depan lift. Tiba-tiba Tiana berlari dari lorong berseberangan.
"TUNGGU!" teriaknya.
Mereka semua menoleh. Aira menatap sahabatnya itu dengan kerutan di kening.
Tiana yang mengenakan piyama motif Minions menjadi perhatian semuanya.
"Sorry, gue kesiangan. Nggak sempet ganti baju. Cuma cuci muka sama gosok gigi doang," ujarnya sambil terengah-engah.
"Dih ... jorse amat sih kamu Beb. Emang kamu nggak subuhan?!" tanya Aira sebal.
"Abis subuh, gue molor lagi, Beb," jawabnya sambil nyengir.
Tiana memperhatikan penampilan Aira yang mengenakan syal.
"Beb ... ini memang masih pagi. Tapi, panas loh. Pake syal segala. Nggak sumuk tuh leher?" pertanyaan absurd Tiana membuat Aira mendengkus kesal.
"Katanya dokter ... tapi nggak bisa peka sama keadaan pengantin baru," Ken menimpali percakapan.
Tiana sedikit bengong dengan perkataan Ken. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Emang apa hubungannya, pagi, syal sama pengantin baru?" tanya Tiana polos.
"Astaghfirullah ... Gue penasaran dia dapet gelar dokter dari mana?!" umpat Ken kesal.
Tiana termenung. Beberapa detik kemudian baru dia membelalakkan mata indahnya.
"Masha Allah! jadi kamu sudah lepas segel Ra!" teriaknya girang.
Aira, Ken dan Devan memutar matanya malas. Sedangkan Jak hanya diam mengamati. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Hanya dia dan othor yang tahu.
Sampai di lantai yang telah ditentukan. Mereka keluar dari lift. Sampai di sana mereka digiring oleh para petugas hotel untuk mendatangi sebuah ruangan.
Di ruangan itu mereka disajikan dengan pemandangan luar biasa. Sebuah taman asri dengan ratusan pohon bonsai dan aneka ragam bunga tertata dengan apik.
Devan terperangah. Ia meyakini jika mereka berada di sebuah balkon terbesar yang pernah ada.
Matahari pagi yang bersinar langsung menerpa tubuh mereka. Belum lagi udara pagi yang belum banyak terkontaminasi oleh polusi.
Devan berdecak kagum. Ia menyanjung konsep yang dibuat oleh pemilik hotel ini.
Tampak di sana mereka telah ditunggu oleh kedua orang tua Devan, Sean papanya Aira, Irawan sang kakek dan Max juga orang tua Ken.
Sean langsung memeluk serta mencium kening Aira, begitu juga sang kakek.
__ADS_1
"Devan, maafkan Papa ya, jika istri mu Papa manjain. Walau Papa tahu, kamu bakalan tetap jadi prioritas Aira," ujar Sean.
"Iya, aku ngerti kok, Pa," jawab Devan.
Ya, Devan tidak ingin egois. Selama puluhan tahun mereka memendam kerinduan untuk memeluk Aira demi keselamatan. Kini, ketika semuanya selesai, mereka ingin menumpahkan semua kasih sayangnya.
Tiba-tiba perhatian Devan teralih. Pria itu melihat asisten pribadinya sedikit gelisah dan banyak diam. Walau memang Jak pendiam. Tapi, gelagat resah dan gelisah terpatri pada wajah Jak.
"Selamat pagi semua!" dua suara cempreng memasuki ruangan.
Reena dan Safeera datang secara bersamaan. Keadaan mereka sama dengan Tiana. Memakai piyama dengan motif berbeda.
Tiana tersenyum lebar. Ia merasa memiliki teman.
"Akhirnya, ada yang samaan bajunya," ujarnya geli.
"Eh ... Kak Dokter, kita samaan yaa!" ujar Safeera terkekeh geli.
Mereka bertiga langsung membentuk kelompok. Aira hanya menggeleng kepala.
"Eh ... sudah-sudah. Memang ini terlalu pagi untuk sarapan, makanya, Saya selaku tuan rumah mengajak semuanya untuk olah raga dan menghirup udara pagi," ujar Irawan kemudian.
"Olah raga?" Ken bingung.
"Kita semuanya senam pagi!" ujar Irawan sambil tertawa tanpa suara.
Ken, Tiana dan dua adik Devan lemas. Terlebih Aira. Ia salah kostum begitu juga Devan.
"Mba Linda tidak memberitahu mereka ngapain ya ke sini?" tanya Sean kepada besannya.
Linda tersenyum geli sambil menjawab, "Lupa!"
"Ya sudah. Tidak jadi senamnya. Kita bercengkrama saja. Saling mengenal satu sama lainnya," ujar Irawan melegakan para pemuda.
Mereka terlibat percakapan seru, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 8.30.
Para petugas hotel langsung menyajikan meja dan kursi. Tak lama berselang, alat-alat masak juga tersedia.
Ternyata Sean menyajikan konsep outdoor cooking and direct order.
Lagi-lagi Devan terkagum-kagum akan konsep yang ditawarkan.
Sean langsung menyuruh besan dan anak serta menantunya duduk.
Meja disusun berdempetan hingga membentuk meja panjang, di alasi taplak cantik bahkan set piring telah disiapkan dengan cepat.
Devan menghitung waktu yang disiapkan. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk melakukan itu semua, tanpa ada kericuhan dan kepanikan. Semuanya diselesaikan oleh tenaga profesional.
Devan menjadi sangat antusias dengan kinerja para pekerja hotel. Dalam hati, ia akan memberikan treatment sama pada pegawainya nanti.
__ADS_1
Para chef sudah hadir bersiap untuk memasak langsung pesanan mereka.
Mereka pun telah memegang menu di tangan masing-masing.
Aira hanya memesan nasi goreng udang dengan minuman jus buah naga merah. Sedangkan Devan memilih sarapan stik daging dan kentang dan jus kiwi sebagai minumannya. Devan agak lapar karena ia tidak makan banyak tadi malam. Makanya pria itu memilih sarapan agak berat.
Tiana memilih sarapan nasi bakar dan empal goreng, sedang untuk minumannya ia meminta jus jeruk dan air mineral.
Ken memilih menu sama dengan Devan hanya saja ia memesan minuman berbeda yakni air mineral.
Jak hanya memesan nasi goreng ayam dengan kerupuk emping, minumanya juga hanya air mineral.
Setelah semuanya memesan makanan yang diinginkan, mereka tinggal menunggu saja.
Beberapa buah segar telah tersaji di meja. Tiana mengambil apel lalu mengupasnya.
Memotong kecil-kecil lalu ditempatkan pada piring kecil. Setelah itu ia berikan pada Aira yang duduk di sebelahnya.
Aira menerima piring berisi apel itu dan memakannya. Melihat hal itu Sean sedikit terenyuh. Sungguh ia sangat terharu akan perhatian Tiana pada putrinya tersebut.
Devan lain lagi. Ia merasa kurang nyaman akan perhatian sahabat dari istrinya itu.
Sedangkan Aira dan Tiana hanya biasa saja. Mereka terbiasa saling memperhatikan satu dengan lainnya.
Makanan telah tersaji. Setelah berdoa, lagi-lagi kelakuan dua sahabat ini mengagetkan keduanya. Tiana menukar piringnya dengan Aira.
"Loh kok, kalian bertukar menu?" tanya Linda langsung.
Tiana tersenyum mendengar pertanyaan ibu dari sahabatnya itu.
"Iya Tante, Kita emang suka gitu. Aira itu sebenarnya alergi udang, nggak parah sih. Makanya aku langsung tuker menu sarapan Aira," jawab Tiana.
"Kalo kamu alergi udang, kenapa kamu pesan itu, Sayang?" tanya Linda lagi.
"Hehehe ... habis kayanya enak gitu Ma, jadi main pesen aja," jawab Aira tersenyum kikuk.
"Kebiasaan Tante, Aira tuh kadang lupa kalo dia itu alergi udang, jago berantem sama jago ... ummpph!" Tiana tak melanjutkan ucapannya karena Aira langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan Aira.
"Berisik!" bisiknya pada Tiana.
Aira tersenyum sambil meminta maaf akan kelakuan sahabatnya itu.
Semuanya hanya bisa tersenyum. Sedang Sean dan Devan tengah memikirkan sesuatu akan ucapan Tiana.
'Ah ... banyak sekali yang tidak aku ketahui tentang Aira,' gumam keduanya.
Bersambung.
yuhu ... othor datang lagi... bisa dong klik like and komen ... apa lagi vote ...
__ADS_1
wah seneng banget deh...
makasih