
Reena turun dari lantai atas menggunakan lift. Kamarnya yang berada di lantai tiga membuatnya harus menggunakan benda segi empat itu untuk turun ke bawah.
Reena tampak begitu buru-buru, ia sudah sedikit kesiangan. Terlihat dari wajahnya yang polos tanpa make up. Justru hal itu membuat kecantikannya memancar.
"Re, kamu nggak sarapan?" tanya Aira ketika membereskan piring bekas sarapan.
"Aku ambi roti aja, Kak. Oh ya, nanti minta tolong suruh Bik Ila untuk mengantar makan siang ku ya?!" pinta Reena langsung menyomot selembar roti dan memakannya begitu saja tanpa selai.
"Assalamualaikum!" lanjutnya sambil berteriak memberi salam.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas Aira sambil menggeleng.
Aira menaruh piring di dapur. Ia langsung memberitahu apa yang Reena katakan pada Bik Ila.
Bik Ila langsung menyanggupi, permintaan Nona majikannya itu.
Dalam perjalanan. Reena terkena macet. Ia sangat kesal sampai memukul stir mobil.
Dengan menahan segala emosi ia berkali-kali menekan klakson.
Butuh waktu lima belas menit untuk ia keluar dari kemacetan.
Reena terlambat lima menit masuk kantor. Memang tidak ada satupun yang akan memarahinya, karena dia adalah Boss perusahaan ini.
Tapi sebagai atasan, ia merasa harus memberi contoh baik bagi para karyawannya.
Reena langsung ke bagian HRD untuk melaksanakan absensi dan menjelaskan keterlambatannya.
Pimpinan HRD agak sedikit sungkan untuk memberi peringatan pada atasannya itu. Bahkan semua tahu jika semalam ada acara mewah yang melibatkan saudara kandung atasannya tersebut.
"Sesuai dengan peraturan, Saya akan memberikan SP 1," ujar pimpinan HRD dengan hati-hati
Reena mengangguk. Ia menerima sanksi yang diberikan oleh pihak HRD. Selain pemotongan gaji sebanyak 2% per menit keterlambatan.
Potongan gaji itu untuk efek jera bagi karyawan yang malas dan bertingkah semaunya. Walau nantinya potongan itu akan diberikan pada karyawan yang tengah kesulitan. Seperti biaya rumah sakit dan lain sebagainya.
Reena ditemani oleh sekretarisnya menemui klien penting, disebuah restoran mewah.
Setelah perbincangan yang cukup alot. Akhirnya mereka mengambil kesepakatan kerja sama dengan diakhiri dengan jabatan tangan oleh kedua belah pihak.
Reena dan sekretarisnya nampak duduk kelelahan. Kliennya sudah pergi 10 menit yang lalu.
Ketika Reena mengalihkan pandangannya. Matanya bertumpu pada sosok wanita cantik berhijab yang tengah bermain dengan dua anaknya.
Pandangannya tak pernah lepas dari senyum manis wanita tersebut.
Tiba-tiba ia menatap dirinya sendiri di depan kaca pembatas antara ia dan wanita itu.
Reena merasa malu. Terlebih wanita itu memergokinya sedang mengamati wanita tersebut.
Dengan senyum ramah wanita berhijab itu mengangguk hormat. Reena yang malu ketahuan juga membalas anggukan sambil mengatup kedua tangannya di dada, sebagai permohonan maaf.
Setelah wanita itu memberikan kode 'tidak masalah'. Reena kemudian berdiri diikuti oleh sekretarisnya meninggalkan restoran setelah melakukan pembayaran.
Dalam perjalanan ke kantor. Reena memikirkan wanita berhijab itu. Pandangannya begitu kosong. Raganya ada di situ, tapi jiwanya entah kemana.
Kia, sekretarisnya hanya mengamati atasannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Gadis itu baru bekerja selama tiga minggu, menggantikan sekretaris lama yang telah resign.
Kia belum begitu akrab dengan Bossnya. Ia begitu takut untuk menjalin hubungan. Kia membatasi dirinya.
"Hmm ... Pak, nanti pulang, kita mampir dulu di butik ya!" titah Reena pada supir.
"Baik, Nona," jawab sang supir.
Netra Reena beralih pada sang sekretaris. Ia memindai sosok gadis yang kini gemetaran ketika ia amati.
Reena terkekeh geli.
"Kau kenapa, Ki?" tanya Reena masih memamerkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ti-tidak ken-napa-napa, Nona," jawab Kita terbata.
"Sudah. Hilangkan ketakutanmu padaku. Aku bukan harimau yang akan memangsamu!" ujar Reena lembut tapi penuh ketegasan.
"Ba-baik, Nona," ujar Kia masih gugup.
Reena tertawa melihat Kia yang masih ketakutan.
"Hmm ... berapa ukuran bajumu, Ki?" tanya Reena lagi.
"Eh ... apa?" Kia malah berbalik bertanya.
"Berapa ukuran baju dan pinggangmu?" tanya Reena lagi.
"Sa-saya berukuran M, Nona," jawab Kia lagi-lagi gugup.
"Hmmm ... ternyata ukuran kita sama. Apa pinggang mu berukuran 27?" tanya Reena lagi.
"Eh ... itu, anu, Saya ukurannya 28, Nona," jawab Kia tetap dengan kegugupannya.
Reena tertawa melihat tingkah dan jawaban dari sekretarisnya itu.
"Kalau begitu pas denganku. Oh, ya, bukan maksudku untuk menyinggungmu. Tapi, apakah kau mau baju-baju bekasku?" tanya Reena sedikit hati-hati.
"Jangan khawatir, akan kuberikan yang bagus-bagus!' lanjutnya buru-buru.
Kia termangu mendengar tawaran dari atasannya itu. Sungguh ia membutuhkan baju baru yang layak pakai. Masalahnya, gadis itu hanya memiliki baju formal yang masih layak pakai sebanyak tiga buah.
"Jika kau tidak mau ...."
"Saya mau, Nona!" Potong Kia cepat.
Reena tersenyum manis, ia menggenggam jemari sekretaris nya itu. Memberikan rasa nyaman pada gadi yang baru bekerja dengannya.
"Sudah, jangan takut lagi padaku. Ok!" ucap Reena sambil tersenyum.
Sampai ruang kerjanya, Reena mendapati Bik Ila yang tengah membawakan bekalnya.
"Nona, sebentar lagi ada rapat dengan divisi pengembangan!" ujar Kia memberi tahu jadwal selanjutnya.
Tadi di restoran, hanya para klien yang dipesankan makanan. Reena dan Kia belum sempat untuk makan, karena bentrok jadwal rapat.
Bik Ila langsung mengerti tugasnya.
"Bawa semua berkas. Kita rapat!" ujar Reena cepat.
Kedua gadis itu bergegas ke ruang rapat diikuti oleh Bik Ila. Sampai sana, Ken yang mewakili Devan, tidak mengetahui kebiasaan Nona mudanya.
Reena memimpin rapat sambil disuapi oleh Bik Ila. Jak mengernyit heran. Ia memberi pesan pada Devan, atasannya.
Setelah mendapatkan balasan. Jak, hanya tersenyum tipis. Saking tipisnya, tak ada yang menyadari jika pria itu sedang tersenyum.
Rapat selesai. Jak memberi hasil rapat pada Devan melalui pesan seruel.
"Terima kasih, Nona. Laporan Anda sangat fantastis!" ujar Jak memberi selamat dengan memgulurkan tangannya.
Reena membalas uluran tangan Jak. Mereka saling berjabatan.
Tangan yang saling bersentuhan, memberikan sengatan listrik pada keduanya. Degup jantung yang berpacu, seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.
Jak langsung melepas jabatan tangannya.
"Maaf, Nona!"
"Tidak apa-apa, Jak!"
Reena mengusap wajah untuk menyembunyikan rona merah yang menyeruak. Menghembuskan napas pelan untuk menetralisir perasaannya.
"Saya permisi, Nona," pamit Jak terlihat kaku dan sedikit kikuk.
__ADS_1
Reena menjawab dengan anggukan. Gadis itu menatap punggung pria yang telah merusak mimpi indahnya.
"Mungkin kita tak berjodoh, Bang!" gumamnya sangat pelan.
Secara tak sadar, tingkah dan gumaman Reena tak luput dari pengamatan seseorang.
Sedang di temot lain, Jak yang berjalan menuju mobilnya, sesekali meraba dadanya.
Pria itu sungguh dari tadi meredakan semua perasaan yang mengganggu.
Wajah gadis itu begitu lekat diingatannya. Sungguh, ingin ia menampik, tapi pria itu tak bisa membohongi hatinya.
"Sadarlah Jak!" gerutunya pada diri sendiri. "Dia terlalu tinggi!"
*****
Reena kini berada di sebuah butik busana muslimah.
Ia mengambil sepuluh potong gamis dengan corak dan warna berbeda. Setelah itu, ia memilih sepuluh tunik polos dengan warna dan model yang berbeda juga.
Memilih celana bahan yang tidak terlalu ketat. Terakhir ia memilih banyak pasmina dan hijab instan.
Beruntung Reena tidak menyukai pakaian terlalu seksi. gaunnya semua berdada tinggi, paling tanpa lengan.
Setelah ia membayar semua barang belanjaannya. Gadis itu pulang ke rumah.
Sampai rumah, ia dibantu Bik Ila membawa beberapa barang belanjaannya.
Linda yang melihat langsung menghampiri anak gadisnya.
"Assalamualaikum, Ma," sapanya sambil mencium punggung tangan mamanya.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Apa kau baru berbelanja?" tanya Linda setelah menjawab salam.
"Hai, Dik, baru ngeborong nih?" Aira datang langsung memberinya pertanyaan.
"Wah, mana dulu nih yang mesti Ree jawab?" tanyanya usil.
Linda dan Aira hanya tersenyum mendengar perkataan Reena.
"Ya, sudah. Sana kau mandi, langsung ganti baju dan turun untuk makan malam, ya!" titah Linda lembut.
"Iya, Ma. Ree naik dulu," ujar Reena langsung menuju kamarnya melalui lift.
Bik Ila yang sduah sampai kamarnya tengah mengeluarkan semua baju dalam paper bag.
"Duh, biar aku aja yang nyusun, Bik!' ujar Reena menghentikan Bik Ila mengurusi pakaiannya.
"Baik, Non," ujar Bik Ila sambil menunduk.
"Eh, sudah sana. Tidak apa-apa, Bibik istirahat dulu sana!' titah Reena lembut sambil tersenyum.
Setelah kepergian Bik, Ila. Gadis itu menyusun semua pakaian barunya.
"Habis makan, Malam baru aku bongkar semua baju yang tidak akan lagi aku pakai," ujarnya bermonolog.
"Besok tinggal aku kemas dalam koper dan akan kuberikan pada Kia."
"Bismillah. Semoga aku tetap bisa Istiqomah!"
Reena telah memutuskan untuk membuat perubahan dalam hidupnya. Dan ia sangat yakin dengan keputusannya tersebut.
bersambung.
wah keknya Reena mau jadi muslimah sejati nih.
woke ... boleh dong jempol dan komentar positifnya
makasih
__ADS_1