
Perhelatan akbar Ken dan Tiana usai. Aira sangat bahagia, akhirnya sang sahabat bisa melepas masa lajang dengan orang yang ia cintai.
Hari berlalu. Waktu berganti. Seperti biasa, Devan, Jak, Aira dan Reena kembali bekerja.
Ya, Aira bekerja lagi, dengan membawa tiga bayi kembarnya. Dengan dibantu oleh tiga perawat.
Reena kembali memenangkan proyek pembangunan sebuah rumah sakit besar di kota K.
Hal ini membuat gadis itu sering bepergian ke kota, itu. Hal ini membuat Rehan khawatir.
Pria parubaya itu, sangat keberatan jika putrinya itu bepergian sendiri ke kota K. Walau ada Kia yang menemaninya.
Rehan masih trauma pada kejadian yang menimpa Reena sebelumnya.
"Kan Papa udah ngasih dua bodyguard. Apa lagi yang Papa khawatirkan?" tanya Reena masih bernegosiasi meminta persetujuan Rehan.
"Sayang ... Papa masih trauma!" ungkapan khawatir Rehan benar-benar beralasan.
"Pa ... proyek ini sangat penting bagi karier Reena. Di sini, semuanya akan melihat Ree sebagi pengusaha muda berbakat, Ree mau kayak Kak, Devan!" ujar Reena bersikeras.
Memang tahun ini Reena masuk nominasi sebagai pengusaha muda pendatang tersukses versi majalah bisnis.
Rehan sangat paham dengan antusias putrinya itu. Dengan segala macam pertimbangan. Akhirnya Reena diijinkan oleh Rehan dengan sejuta peringatan.
Reena langsung memeluk papanya. Ya, semua anak-anak perempuan Bramantyo sangat dekat dengan Rehan.
Rehan adalah panutan mereka selain Devan sang kakak tentunya. Walau peran Linda tak kalah penting bagi hidup mereka.
******
Hari ini Reena telah bersiap. Walau gadis itu biasa bepergian dengan jarak yang jauh. Bahkan ia menempuh pendidikan di London selama empat tahun.
Namun, untuk perjalanan bisnis. Ini adalah yang pertama kali. Jarak antara kotanya dengan kota Y, bisa memakan waktu tiga jam jika mengenakan pesawat jet. Jika dengan pesawat komersial, bisa menempuh waktu tiga kali lipat. Karena harus melakukan transit.
Reena menggunakan jet pribadi milik keluarga Bramantyo.
Rehan dan Linda mengantarkan mereka dari menjemput Kia di apartemennya, hingga menuju bandara pribadi mereka.
Sampai bandara. Berkali-kali Rehan memberi peringatan.
"Jangan silent hpmu!"
"Hubungi langsung jika ada apa-apa!'
"Aktifkan lokasi di manapun kamu berada, bahkan di toilet umum sekalipun!"
Dan banyak peringatan lainnya. Reena mengiyakan semuanya dengan senyuman dan memeluk tubuh papanya dengan hangat.
Sedang Linda hanya mengiringinya dengan jutaan doa. Walau ia juga sama takut dan trauma dengan kejadian yang pernah dialami oleh putrinya.
Jet lepas landas. Baru saja lima menit. Rehan sudah merasa cemas bukan main. Ia hanya terduduk lemas memegangi dadanya.
"Pa ... tetap khusnudzon pada Allah. Berdoalah untuk keselamatan putri kita, Pa!" pinta Linda sedih sambil mendekap suaminya.
"Maaf, Sayang. Papa mungkin terlalu khawatir. Jadi Papa berlaku seperti ini," ujar Rehan sambil membalas dekapan istrinya.
Di dalam pesawat jet. Reena menatap takjub pemandangan yang dilihatnya dari kaca pesawat. Perlahan ia merasa kantuk, ia membenarkan posisi duduknya.
Lalu ia pun tertidur pulas, begitu juga dengan Kia, sang sekretaris. Mereka pergi ditemani tiga bodyguard wanita dan satu pria.
Tiba-tiba di tengah perjalanan. pesawat mengalami turbulensi. Reena terbangun dan langsung memasang sabuk pengaman, begitu juga Kia.
Reena terus beristighfar dalam hati memohon keselamatan. Beruntung, kejadian itu hanya berlangsung selama dua menit.
Ketika semua aman terkendali, Reena bernapas lega sambil mengucap hamdalah.
__ADS_1
Pilot mengucapkan permohonan maaf, melalui intercom. Kemudian mengumumkan jika dalam waktu setengah jam lagi, akan mendarat di bandara xxx kota K.
Satu jam berlalu. Kini, Reena tengah berada dalam mobil yang menjemput mereka menuju hotel.
Kota K, begitu ramai dan maju. Banyak bangunan bertingkat menjulang. Kota K memang kota terbesar dan paling maju. Bahkan lebih maju dari kota asal mereka.
Sampai sebuah hotel xxx, Reena dan Kia, juga para bodyguard menuju kamar yang telah direservasi sebelumnya.
Reena dan Kia memiliki kamar masing-masing yang bersebelahan dengan pintu penghubung.
Tadinya, Kia mengusulkan untuk memesan satu kamar untuk mereka berdua. Tapi, Reena yang memang terbiasa tidur sendiri, menolak usul Kia.
Reena telah menghubungi Rehan sebanyak tiga kali.
Reena tersenyum-senyum sendiri setiap ia menghubungi papanya.
Setelah beristirahat satu hari. Reena dan Kia ditemani oleh para bodyguard menuju lokasi proyek untuk survey.
Ketika ditengah perjalanan, ternyata banyak demo yang menentang pembangunan rumah sakit ini.
Reena melihat banyak orang yang berorasi dengan teriakan menggunakan toa. Keningnya sedikit berkerut. Mengapa orang-orang ini berdemo?
Ketika kedua gadis itu turun, para bodyguard langsung melindungi mereka. Karena para pendemo meneriakinya.
"HENTIKAN PEMBANGUNAN INI! KARENA LINGKUNGAN SEKITAR AKAN TERANCAM DAN TERCEMAR!"
Reena memandang area sekitar. Tidak ada hutan atau margasatwa berada di tempat yang sama.
"Pasti ini ada provokator yang memutar balikkan informasi," gumam Reena.
Ketika sampai kantor proyek. Gadis itu menemui pemimpin proyek. Menanyakan keresahan para pendemo.
"Saya kurang tahu, Nona. Mereka sudah berdemo ketika proyek ini diwacanakan" jelas pemimpin proyek bernama Deo.
"Kalau begitu siapkan meja dan kursi. Kalian belikan minuman gelas kemasan beberapa dus juga makanan, berikan pada pendemo. Jangan sampai mereka tahu jika itu dari kita. Menyamar lah!' titah Reena.
"Minta ketua pendemo untuk melakukan tatap temu dan dialog, Pak Deo!" lanjut Reena memberi perintah.
Deo langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Reena. Gadis berhijab coklat dengan tunik hitam dan celana jeans sewarna dengan hijabnya, duduk di kursi yang menghadap kursi berjejer di depannya, sedang Kia duduk di sebelahnya.
"Kau catat apa yang menjadi keluhan mereka!" titahnya pada Kia yang langsung dijawab anggukan oleh gadis itu.
Sepasang muda-mudi menjadi perwakilan para demonstran untuk mengemukakan keberatan mereka.
"Silahkan perkenalkan nama kalian, yang lainnya silahkan duduk!" titah tegas Reena membuat semuanya tunduk.
Seorang gadis berkisaran usia 20 tahun dan seorang pemuda berkisaran seusia 24 tahun langsung mengenalkan diri mereka.
"Saya Dewa mahasiswa tingkat akhir universitas Nasional!"
"Saya Mira mahasiswi semester tiga universitas Berdikari!"
"Kami tergabung dalam aliansi Pemuda Masa Depan!" kini Dewa yang memperkenalkan kelompok mereka.
"Baik, silahkan salah satu dari kalian berbicara dan kemukakan apa yang menjadi masalah dengan pembangunan rumah sakit ini!" suara tegas Reena mampu membuat dua hati pendemo itu berdetak kencang.
"Begini Bu, kami menolak pembangunan di sini, karena bangunan ini akan mencemari lingkungan sekitar!" jelas Dewo kemudian.
"Merusak lingkungan? Lingkungan mana?" tanya Reena.
"Nyalakan proyektor!" titah Reena kemudian setelah keduanya tidak menjawab pertanyaannya.
Deo langsung menyiapkan proyektor. Reena menggeser kursinya lalu berdiri.
"Coba perlihatkan suasana atau lingkungan di mana kita bangun rumah sakit ini!" titah Reena lagi.
__ADS_1
Deo langsung memberikan beberapa gambar dan skema blue print dari laptop dan langsung tertayang di dinding.
Reena telah mempelajari semuanya, sebelum ia datang ke lokasi proyek.
Setelah mendengarkan lokasi proyek dari Deo. Reena juga menjelaskan beberapa langkah penanggulangan.
"Sekarang silahkan kalian berikan berkas penyangkalan pada proyek kami!" titah Reena masih dengan ketegasan tinggi.
Kedua orang itu hanya bisa bungkam. Mereka memang tidak menyiapkan apa-apa untuk memberikan sangkalan.
"Begini saja. Saya akan menjeda pekerjaan ini sampai besok pagi. Silahkan kalian kumpulkan bukti dalam berkas untuk menyangkal proyek ini!" titah gadis itu penuh penekanan.
"Ya tidak bisa besok, itu terlalu cepat!' protes Mira.
"Loh terlalu cepat gimana?!" ujar Reena sedikit kesal.
"Kalian berdemo ketika pembangunan ini masih dalam wacana, dan itu terjadi tiga bulan lalu. Semestinya kalian telah mengumpulkan berkas dan bukti penyalahgunaan proyek ini, apapun itu!' lanjutnya.
Keduanya terdiam, mereka tidak bisa membuktikan apapun atas sangkalan mereka.
Ketika tidak adanya titik temu. Dewa dan Mira akhirnya keluar tanpa hasil apapun.
Begitu kagetnya mereka ketika keluar, suasana telah sepi. Hanya beberapa anggota yang tergabung dalam aliansi mereka yang menunggu.
"Loh ... yang lainnya kemana?" tanya Dewa bingung.
"Mereka pulang satu persatu," jawab salah satu anggota.
"Ini makanan dan minuman dari siapa?" kini Mira yang bertanya ketika ada beberapa bungkus makanan dan minuman kemasan.
"Oh ... ini ada sumbangan dari warga sekitar. Katanya sih kasian liat kita-kita dari kemarin tidak dapat asupan apa-apa," jelasnya lagi.
"Gue yakin, kita disogok!' tuduh Mira.
"Nyogok? Gimana maksud Loe?" tanya pria bernama Siswo.
"Iya mereka semua disogok sama makanan ini!" lagi-lagi Mira berspekulasi sendiri.
"Loe tuh ngomong nggak pake logika apa?!" ujar Siswo sengit. Yang tentu saja diprotes oleh gadis itu.
"Eh ... Gue bilangin ya. Kita itu dibayar sama suatu perusahaan untuk melayangkan demo, tanpa tahu apa maksudnya. Sekarang gue tanya, apa hasil pertemuan kalian di dalam?" tanya Siswo lagi.
Dewa dan Mira menggeleng.
"Gue udah tau bakalan gitu. Semua ini karena kesombongan kalian, padahal itu duit juga kurang buat operasional kita selama ini!' umpat Siswo kesal.
Dewa hanya menghela napas. Mira manyun. Mereka tahu apa yang dikatakan teman sealiansi mereka benar.
"Gue nanya. Apa yang dijanjikan orang itu sama kalian. Sumpah, gue kaget ketika tiba-tiba kalian ngajak kita-kita demo, tanpa rapat?!"
"Entar kita bahas ini di markas. Sekarang kita pulang dulu deh. Gue pengen mandi dan rebahan!" ujar Mira suntuk.
"Gini nih, gue nggak suka sama kepemimpinan Loe Mir!" umpat kesal Siswo.
Mereka pun beberes dan pulang ke rumah masing-masing.
Sedang Dewa hanya termenung, ingatannya tertuju pada gadis berhijab yang memimpin perbincangan.
"Sudah cantik, tegas, pintar lagi," pujinya bergumam.
"Siapa Wa?" tanya Mira, yang lalu dijawab gelengan oleh Dewa.
"Bukan siapa-siapa."
Bersambung.
__ADS_1
uh oh ... Jak!