Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 47


__ADS_3

Safeera lulus dengan nilai eksak tertinggi. Ia juga mendapat beberapa beasiswa dari berbagai universitas.


Pilihannya jatuh pada universitas Guna Bangsa. Universitas terbesar di kotanya ini salah satu investasi dari perusahaan Kakaknya Devan.


Ia mendapat panggilan lulus tes di bidang kedokteran. Kedua orang tuanya tentu mendukung apapun keputusan putrinya.


Safeera mengikuti semua prosedur, untuk bisa masuk ke universitas tersebut, tanpa bantuan siapapun.


Otaknya yang memang terbilang encer, mampu masuk menjadi sepuluh besar terbaik.


Pertama masuk kuliah sudah dipusingkan dengan setumpuk buku tebal.


Kini ia tengah berkutat di lab, untuk mengurai masa. Mempelajari struktur jaringan otot manusia.


Tentang orthopedi, saraf dan kinerja otak. Berkubang dengan mayat dari yang berbentuk hingga sampai yang hancur.


Semua jasad tak bertuan adalah korban tabrak lari yang tidak diambil oleh keluarganya, atau jasad orang gila.


Rendra masuk sebagai dosen untuk mata kuliah jaringan pencernaan manusia.


Di sinilah pertama kali ia bertemu dengan Safeera. Gadis manis yang pemberani juga baik hati.


Iris hitam pekat milik Safeera begitu mempesona Rendra.


Tak terasa Safeea sudah satu semester kuliah. Rendra semakin yakin akan perasaannya.


Ketika kedua orang tuanya datang. Rendra langsung mengutarakan keinginannya.


Hutomo yang mendengar jika putranya jatuh cinta pada putri sahabatnya, sangat antusias.


Maka dengan segera ia melakukan pertemuan dengan Rehan, sahabatnya itu.


Pertama, Hutomo langsung mendatangi kantor Rehan. Melakukan perjanjian makan siang bersama.


Ketika sampai pada restoran yang disetujui. Hutomo langsung mengutarakan keinginan Rendra.


"Bagaimana Han, Kau tau, aku memang sangat ingin berbesan denganmu," ujar Hutomo begitu besar berharap.


Rehan tersenyum mendengarnya.


"Aku sih senang-senang aja. Tapi, ini menyangkut putri bungsuku, usianya juga masih 18 tahun. Aku tanyakan dulu, ya, aku nggak bisa berjanji lebih," jelas Rehan sedikit hati-hati agar tak menyinggung sahabatnya itu.


Hutomo menghela napas. Ia sadar terlalu berlebihan. Tapi, ia sangat berharap jika anak gadis sahabatnya itu juga memiliki perasaan yang sama dengan putranya.


Pertemuan berakhir. Kini Hutomo hanya bisa menyarankan Rendra untuk membuat Safeera jatuh cinta padanya.


****


Sampai rumah, Rehan duduk di kursi malas miliknya. Matanya terpejam, pikirannya sedikit kalut.


Teringat permintaan sahabat baiknya beberapa hari lalu. Lagi-lagi ia menghela napas berat.


Linda yang lewat sempat tertegun mendengar hembusan napas suaminya. Ia pun berjalan mendekati.


"Sayang, ada apa?" tanyanya heran.


Rehan menatap istrinya sendu. Sungguh ia berat untuk menanggung sendiri beban. Kemudian ia pun menceritakan keinginan Hutomo.


Linda sedikit terkejut. Jika saja Rendra memilih Reena, mungkin masih bisa diusahakan. Tapi, putra sahabat dari suaminya ini memilih gadis bungsunya.


"Usia mereka terpaut delapan tahun," ujar Linda.


"Bukan beda usia yang aku pusingkan, Sayang!' keluh Rehan.


"Lalu?"


"Usia Saf yang masih 18 tahun, ia muda sekali jika harus menikah," lanjutnya.


Linda mengerti kekhawatiran suaminya. Usia belia yang rentan dengan emosi labil. Terlebih sikap Safeera yang ceplas-ceplos dan sedikit urakan itu.

__ADS_1


Rehan takut, jika Saf, begitu panggilan sayangnya. Tidak bisa menjadi istri.


"Kita tanya dulu, siapa tahu kan, Sayang," saran Linda.


"Aku tidak enak dengan Hutomo, ia begitu antusiasnya ketika mengungkap keinginan putranya itu," ujar Rehan tidak enak.


"Tapi, aku yakin, jika Mas Tomo, pasti mengerti dan tidak akan berpengaruh dengan persahabatan kalian," jelas Linda menenangkan suaminya.


Safeera yang baru pulang dari kuliah, ia melihat papa dan mamanya di teras belakang.


Keningnya berkerut melihat, sang papa duduk di kursi malasnya.


"Kenapa Papa duduk di kursi malasnya? Apa Papa ada masalah serius? Tidak biasanya Papa begitu!" gumamnya pelan.


Karena penasaran. Ia pun mendatangi kedua orang tuanya.


"Papa, kok tumben duduk di kursi malas?" tanyanya kemudian.


Rehan dan Linda yang tadi termenung, menjadi terkejut akibat kedatangan dan pertanyaan Safeera.


"Ah ... ini, Papamu ...."


"Assalamualaikum!" sebuah teriakan salam terdengar dari luar.


"Wa'alaikum salam!" balas ketiganya.


"Eh ... tadi Saf, lupa ngucap salam," cicitnya sambil menutup mulutnya.


Rehan dan Linda menggeleng kepalanya. Devan dan Aira masuk dengan wajah ceria.


"Wah ... ada apa nih, keknya bakalan ada berita bahagia!" terka Saf sambil tersenyum menatap keduanya.


Aira tersenyum lebar hingga menampakkan giginya yang rapi dan putih.


"Ada apa sayang, jangan buat Mama dan Papa penasaran!" ujar Linda tak sabar.


"Ma, Pa. Kalian sebentar lagi akan jadi Oma dan Opa!" ujar Devan memberikan tahu.


"Selamat, Sayang, sudah beberapa minggu?" tanya Linda sambil memeluk dan mencium wajah menantu kesayangannya.


"Delapan minggu, Ma," jawab Aira sambil tersenyum bahagia.


"Ah ... masih terlalu muda, kau tidak boleh terlalu bekerja keras sayang," ujar Linda menasehati.


"Iya, Ma. Tadi, Dokternya juga bilang, ada kista kecil di rahimnya, tapi, itu tidak mengganggu. Aira harus total beristirahat jika ingin kandungannya tidak kenapa-napa," jelas Devan.


"Ya, sudah. Bawa istrimu ke kamar dan biarkan dia istirahat. Oh ya, ada yang ingin Papa bicarakan padamu nanti," ujar Rehan panjang lebar.


"Baik Pa. Ayo, Sayang!" ajak Devan langsung menggiring Aira menuju kamar.


"Aira istirahat dulu ya, Ma, Pa!" pamit Aira yang langsung dijawab dengan anggukan.


Selesai mengantar Aira ke kamarnya, Devan turun ke bawah menuju ruang kerja papanya.


Di sana sudah ada sang mama dan adik bungsunya. Devan sedikit heran.


'Eh ... ada apa ini? kenapa Saf juga ada di sini?' tanyanya dalam hati.


"Duduklah, Dev!" titah Rehan.


Devan duduk di sofa, di mana Saf juga berada di sana.


Rehan kemudian menceritakan keinginan sahabatnya beberapa hari lalu.


"Aku menolak keras hal itu, Pa!" ujar Devan keras menolak.


Sedangkan Saf yang menjadi sorotan, bungkam tak bisa berpikir apa-apa.


"Tapi ...."

__ADS_1


"Tidak ada tapi, Pa! Saf baru delapan belas tahun!" masa depannya masih panjang!" tolak Devan lagi-lagi keras.


Rehan tahu hal itu. Tapi, ia sangat sungkan dengan sahabatnya itu. Ia juga berharap agar hubungannya lebih erat lagi.


"Hmmm ... Kau benar, Saf masih panjang masa depannya. Tapi, aku masih berkeinginan untuk mempererat hubungan kami. Bagaimana jika Papa minta Reena untuk Rendra?"


"Loh ... kan Pak Rendra sukanya sama aku! kenapa dikasih Kak Reena sih?!" timpal Saf tidak terima.


Perkataan Saf, membuat kaget semuanya. Saf, yang keceplosan menutup mulutnya.


"Maksud kamu?" tanya Devan bingung.


"Emhh ... sebenarnya ... anu ... Emmh," Saf gugup mengungkap apa yang dirasakannya.


"Jangan katakan kau menyukainya?!" ujar Devan dengan suara tinggi.


"Ck ... kenapa? Pak Rendra ganteng, mapan, idola cewek-cewek kampus Saf. Siapa yang tidak senang jika menjadi pendampingnya?" ujar Saf gamblang.


Devan menganga tak percaya dengan perkataan Saf yang menuju Rendra.


"Apa bagusnya dia sih!" umpat Devan sinis.


"Ih ... Kakak cemburu ya?!" tuduh Saf tak mau kalah.


"Tidak!" elak Devan.


"Sudahlah Kak, akui saja. Pesonamu sudah dikalahkan oleh Pak Rendra," ledek Saf.


"Hei ... kenapa kalian malah bertengkar?!" ujar Linda menengahi.


"Jadi apa kau mau dijodohkan dengan Rendra. Oh ya, kenapa kau memanggilnya Pak?" tanya Rehan kemudian.


"Pak Rendra itu dosen di kampus Saf, Pa" jawab Saf enteng.


Rehan mengangguk. "Lalu, bagaimana, apa kau setuju?"


Saf tiba-tiba merona malu. Ia sangat yakin dengan keputusannya. Terlebih memang ia tidak suka dengan teman-teman perempuannya yang berebutan menarik perhatian dosen tampannya itu.


Devan yang melihat tingkah adik bungsunya itu, hanya bisa menghela napas kasar. Ia tidak bisa melarang ap yang sudah menjadi keputusan sang adik tersayang.


"Baik. Tapi, kau harus tanggung jawab dengan pilihan mu, kau tahu, pernikahan itu bukan untuk main-main!" tegas Devan memperingati.


Saf mengangkat wajahnya. Ia menatap penuh haru kakak laki-laki yang menjadi panutan selain papanya.


Saf langsung berhambur kepelukan Devan.


"Kak ...," rengeknya manja.


"Masih manja gini, udah pengen nikah aja. Dasar kecentilan!" goda Devan terkekeh.


Saf manyun, ia makin mengeratkan pelukannya pada sang kakak.


"Berarti kamu akan melangkahi kakak perempuan mu Reena," ujar Linda tersenyum tenang.


Wajah Rehan penuh dengan kelegaan.


"Papa yakin, Reena pasti mengerti dan akan memudahkan adiknya mendahului untuk menikah," jelas Rehan dengan wajah leganya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, apa Reena sudah punya pacar ya?" tanya Rehan lagi.


Baik, Devan, Saf juga Linda, menggeleng tidak tahu.


Sedangkan di suatu tempat, Reena yang tengah membaca berkas-berkas yang menumpuk tiba-tiba.


"Haaachii!" bersin, "siapa nih yang lagi ngomongin aku?" ujarnya sambil menggosok hidungnya yang gatal.


bersambung.


wokeeee.... boleh dong vote nya plissssss

__ADS_1


makasih...


__ADS_2