
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Teriakan keras di dalam kelas XII IPA 5 begitu memekakkan telinga, membuat seisi kelas sontak menatap sang pelaku. Dua gadis yang berada di meja guru tengah sibuk menggibah satu cowok ganteng di sekolah mereka sampai tertawa terbahak-bahak.
"Anjir! Lo berdua berisik tau ngga!" cetus seorang cowok dari pojok belakang sudut sebelah kiri. Matanya menajam ke arah dua gadis di meja guru.
"Apa sih! Heboh bangat jadi orang! Masih mending gue teriak doang dari pada lo semua nonton suara desah-desah yang ngerusak telinga semua perempuan di kelas ini."
"Bilang aja lo pengen nonton Tan. Gak perlu sok polos gitu deh," sahut cowok disebelah dengan kedipan mata pada Tania.
"Emang gue polos. Gak kayak lo semua pecinta film biru, ihh..." seru Tania mengedikkan bahunya. Setelah ia mengatakan itu beberapa cowok yang mengurusi Tania tadi sudah tidak menyahut lagi. Mereka justru kembali fokus dengan laptop yang ditaruh di atas meja. Bayangkan setiap ada freeless, para kaum buaya di kelas mereka ini akan bersiap untuk mencuci mata. Salah satu orang akan selalu membawa laptop ke sekolah demi kesenangan mereka bersama.
"Gila sih anak cowok di kelas kita ini. Gak pernah gak nonton film begituan. Entah apa faedahnya. Kalau ada guru yang lewat kelas kita bisa gawat urusannya," celetuk Tania.
"Biarin ajah lagi. Gak usah diurusin," kata perempuan yang memelintir helaian anak rambutnya.
"Tania!!" teriakan dari dekat pintu mengalihkan pandangan Tania yang duduk di meja guru. Gadis berambut sebahu disana berjalan kearahnya dan duduk di kursi guru.
"Gue kepo nih kenapa lo bisa tau banyak tentang Sean? Lo pacarnya apa bukan, sih?"
"Iya Tan ini yang mau gue tanyain sama lo dari hari lalu. Kenapa bisa Sean makan siangnya bareng elo terus setiap hari? Gue juga kan mau..."
Perempuan berambut ombre berkacamata bulat menyahut menimpali ucapan gadis berambut sebahu. "Kepo bangat sih berdua. Besok-besok ajah gue cerita gue mau ke toilet dulu," kata Tania keluar dari kelasnya dan berjalan di lorong.
Tania, murid yang paling humble, berambut gelombang sepunggung yang selalu dikuncir kuda. Dia salah satu gadis yang paling diincar di sekolah ini. "Mau gue pacarnya apa bukan, apa ada yang salah kalau gue sedekat itu sama Sean?" gumam Tania.
Disaat ia berjalan di lorong kelasnya, ia tidak sengaja melihat Sean dan seorang gadis yang ia kenal saling berdiri berhadapan di lantai kelas sebelas. "Hahaha.. Katanya gak mau, gak peduli sama tuh perempuan. Kenapa malah saling ngobrol?"
"Memang gila tuh anak," gumam Tania. Karena Tania orangnya suka kepo, ia pun berjalan menuruni anak tangga dan bersembunyi di balik sebuah tiang. Ia memasang kedua telinga mendengarkan apa yang sedang dua insan itu bicarakan.
"Gue baru tau lo bisa perhatian juga orangnya, mwehehe." Tania terkekeh sambil menilik sesekali keberadaan Sean dan Anna ditengah koridor. Kalau saja saat ini lagi istirahat mungkin mereka sudah jadi bahan gosipan satu sekolah.
Melihat Anna yang sudah pergi dan Sean berdiri seorang diri disana, Tania langsung mengekori dari belakang dan tiba-tiba...
"Doorrrrr!!" Tania mengangetkan Sean yang sedang menatap kepergian Anna. Sayangnya cowok itu tidak terkejut sama sekali. Ia justru mengerutkan dahi menatap Tania berdiri disebelahnya.
__ADS_1
"Ng-ngapain lo disini? Jangan bilang lo--"
"Emang," potong Tania begitu saja. Perempuan itu memamerkan smirknya. "Gue dari tadi perhatian lo ngobrol sambil senyum-senyum sama Anna. Katanya gak mau berurusan sama tuh cewek, lah kenapa sekarang senyum-senyum sendiri."
"Lo salah liat kali," tandas Sean ketus lalu melanjutkan langkahnya.
"Mata gue masih sehat kok. Kalau lo bisa dekatin Anna gue janji bakalan beli sepatu kesukaan lo. Gimana?" tawaran gila itu memasuki gendang telinga Sean.
"Dia bukan barang Tan."
"Gue gak ada maksud kearah itu. Gue cuman mau lihat seberapa berjuangnya seorang Sean buat dekatin sosok Anna yang katanya udah gak mau dekat sama siapapun."
"...Gue tau kok lo masih ajah nanyak orang-orang tentang masalah yang terjadi sama tuh cewek setahun lalu, tapi apa yang gue ceritain masih kurang? Please deh... jangan gitu."
"Hemm, sayang bangat lo gak lihat gimana bucinnya Anna dulu sama Dean. Harusnya lo pindah lebih cepat kemari biar bisa dekat sama Anna."
"Lo pasti belum tau, kan jarang-jarang ada perempuan yang nembak cowok duluan. Anna itu manusia langka loh."
"Beda bangat sama lo, kan?" Sean menyela dan menghentikan langkahnya lalu melirik Tania.
"Gue--" ujar Tania menunjuk dirinya.
Tania menyunggingkan bibirnya. "Eh! Gue bukan perusak hubungan orang ya! Tega bangat ngomong gitu. Seperti kata pepatah, sebelum jalur kuning melengkung mari terobos terus. Mereka kan masih status pacaran ya gak apa-apa dong cowoknya ga ue dekatin kecuali udah nikah."
"Aliran sesat lo! Entah sejak kapan lo belajar jadi perusak hubungan orang."
"Ini bukan aliran sesat Sean, tapi sebuah perjuangan untuk mendapatkan cowok ganteng kayak bang Alister. Dia ganteng, kan? Lo mah kebanting, wkwkwkwk." Tania tertawa ngakak seraya berusaha mensejajarkan dirinya berjalan dengan Sean yang kakinya begitu panjang ketimbang dirinya.
"Udah sana sana balik ke kelas. Nanti gue jemput pas makan siang."
"Seriusan?" kata Tania. "Entar kayak kemarin lagi lo bohongin gue."
"Engga. Sana, sana gue mau masuk ini."
"Oke, bye bye," seru Tania berlari menuju kelasnya di paling ujung koridor kelas. Sean pun langsung masuk ke dalam kelas dan kedatangannya sudah disambut oleh teman-temannya.
"Pacaran lo sama Tania?" Sean yang baru mendaratkan bokongnya langsung diulti dengan sebuah pertanyaan dari Rogan, teman sebangkunya.
"Dapat kabar burung darimana lo?" balas Sean seraya menatap lembaran kertas di atas mejanya.
__ADS_1
"Gue cuman nanyak ajah. Soalnya makin hari makin lengket ajah Tania sama lo. Kalau bukan pacaran apa lagi hubungan sedekat itu?"
"Ada teman rasa pacar, ada memang sebatas teman doang dan gak lebih. Apalagi yaa?" ujar Arkana menyahut dari meja di hadapan Sean dan Rogan.
"Tania memang cantik, ramah dan statusnya oke juga buat dijadiin pacar, tapi gue gak demen sama tuh cewek," ujar Davian merasa dirinya oke.
"Alahh bacot lo Dav. Sok-sok an lo nolak Tania jadi pacar lo, belum tentu juga Tania mau sama lo."
"Gue gak maksa dia mau sama gue kok," jawab Davian enteng.
"Tania lagi ngincar anak kuliah bukan anak SMA kayak lo berdua. Dia punya standar tinggi," celetuk Sean membuat Arkana dan Davian menoleh kearahnya.
"Anak kuliah? Kuliah dimana? Orangnya kayak gimana? Main juga tuh cewek. Suhu tuh si Tania," kata Davian.
"Gak pernah kedengaran punya pacar bahkan gebetan. Sekali dapat info langsung anak kuliahan incarannya. Woah ... gak nyangka bangat," ujar Arkana.
"Kita bahas yang lain ajahlah. Ini kemarin gue bilang yang bakalan bawa dua lagu untuk pentas seni nanti memang ngga ada sama sekali?" tanya Sena menatap ketiga temannya yang berada di depan mejanya.
"Ya engga ada lah. Tau sendiri sekolah kita bahkan gak pernah menang kejuaraan padus. Mana ada suara yang bagus disekolah ini. Melengking semua," tandas Arkana membuat Satria dimeja sebelah tertawa ngakak. Cowok itu sedang mengerjakan tugasnya.
"Ngapa lo ketawa?" seru Rogan melirik ke arah Satria. Cowok itu tidak memperhatikan Rogan. Ia
"Lucu ajah dengar Arkana bilang suara disekolah kita ini melengking."
"Lah memang iye. Apalagi seangkatan kita suaranya pada cempreng semua. Kayak tikus kejepit pintu--ngiiiinggggg!" sahut Arkana dan langsung diserbu dengan tawa ngakak Satria. Sementara dua temannya lagi Rogan dan Sean malah merasa aneh, tidak ada yang lucu Satria malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Lo sendiri kan bisa nyanyi. Kenapa gak lo ajah. Hitung-hitung lo sebagai ketua OSIS ikut andil dalam acara ini jangan cuman sepatah kata doang," ujar Rogan menatap Sean.
Sean yang sedang memperhatikan peserta yang ikut pentas seni mewakili kelas masing-masing menatap Rogan. "Gue sibuk. Engga ada waktu buat latihan."
"Kalau butuh penyanyi buat pensi nanti, gue ada calonnya. Tuh si Anna orangnya anak kelas sebelas IPA Satu. Kalau gak salah dia bisa nyanyi. Bisa tuh lo minta tolongin," kata Satria menyudahi mengerjakan tugasnya.
"Anna bisa nyanyi? Gak salah lo. Darimana lo tau tuh cewek itu bisa nyanyi. Hampir tiga tahun gue kenal dia disekolah ini gue gak pernah dengar tuh cewek bisa nyanyi," ucap Arkana.
"Makanya lo gereja gila. Gue pernah lihat dia di gereja bawain persembahan lagu pujian. Kita pernah satu gereja."
Sean tampak berpikir. Apa ini waktu yang tepat untuk meminta gadis itu menepati janjinya mengobrol bersamanya? Kalau Anna bersedia untuk mempersembahkan suaranya untuk pensi nanti, Sean akan sangat berterimakasih dan tidak akan kewalahan melalukan latihan lagi.
"Minta tolong sama dia ajah. Gue yakin dia pasti gak akan nolak, apalagi ini acara sekolah," kata Satria.
__ADS_1
-tbc-