
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
"Kamu lihat putrimu itu. Inilah alasan kenapa sejak kecil aku memintamu untuk tidak memanjakan anak itu! Dia selalu berlagak sesukanya dan tidak ada hormat-hormatnya pada orangtua. Kalau sudah seperti ini bagimana lagi?"
Hendra berkacak pinggang di hadapan istrinya. Pria itu masih sangat marah karena sikap tidak sopan putri mereka yang berkata demikian. Bukan hal yang biasa untuk mereka dengarkan, tapi ini sudah sering terjadi jika ada sesuatu yang membuat Ghea merasa kesal.
"Mas... Dia anak kita satu-satunya. Apa salahnya memanjakan dia? Kalau bukan kita siapa lagi yang peduli dengan Ghea?"
"Memanjakan bagaimana lagi, Anita? Kata-kata mu itu perlu kau tarik kembali. Apa kau tidak memikirkan Anna yang masuk rumah sakit karena Ghea melukainya? Tidak ada kah terlintas dalam pikiranmu bagaimana sedih mendiang Naura melihat anaknya terluka karena Ghea?"
"Mereka bersaudara...." tegas Hendra menatap Anita yang memasang wajah sendu sejak keributan itu terjadi.
"Seandainya Ghea yang diposisi Anna sekarang, apa kau bisa tidak mengkhawatirkannya?"
"Jangan berbicara seperti itu Mas..." Anita menunduk lemas. Ia membayangkan bagaimana frustasinya dirinya saat mengetahui Ghea dulu pernah masuk rumah sakit karena jatuh naik motor.
"Untuk itu Mas mengingatkanmu. Ini sudah lewat batas. Dia hampir melenyapkan nyawa orang. Kalau kamu bersikeras masih seperti ini, apapun yang menimpa dirinya jangan minta bantu pada Mas."
"Sejak awal didikanmu sudah salah padanya! Tidak seharusnya anak itu dimanja sejak kecil."
...â˘â˘â˘...
Di lain tempat, tepat pada pukul sepuluh lewatâ dikediaman Sean. Cowok itu baru saja tiba di rumah setelah ia memarkirkan motor sportnya di garasi. Rumahnya terlihat sepi malam ini karena memang sejak dulu Sean lebih memilih tinggal sendiri dari pada satu rumah dengan kedua orangtuanya.
Keputusan yang Sean ambil tidak pernah menyulitkan kedua orangtuanya. Sean berhak hidup mandiri asal tidak keluar dari jalur yang sudah ditentukan ayahnya.
Pelayan rumah yang biasanya ada dirumah hanya sampai pukul lima sore saja bekerja, dan ya, Sean selalu sendirian setiap malam, menghabiskan waktunya seorang diri di rumah yang cukup besar ini.
Kini Sean berjalan ke arah dapur. Membuka lemari pendingin di sudut kiri lalu mengambil satu botol minuman bersoda, membukanya sekali tarikan dan menenguk habis tanpa sisa.
Setelah tenggorokannya segar, Sean berjalan menaiki tangga menuju kamar. Seharian ini ia sudah lelah dengan banyak urusan membuat tubuh tegap proporsionalnya lengket dan kurang nyaman.
__ADS_1
Disaat ia melepas seragam sekolahnya, sepasang matanya menatap bercak darah yang menempel di seragam. Darah milik Anna yang ia gendong menuju rumah sakit siang tadi ternyata mengotori seragamnya.
"Pasti ada yang tidak beres dengannya," gumamnya sambil memasukkan seragamnya ke keranjang kotor.
Setelah setengah jam lebih membersihkan diri, Sean keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil seraya menatap suasana malam lewat balkon kamar.
Pergerakan kecilnya mengalihkan ekor matanya menatap ponselnya yang bergetar di meja belajar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Disaat ia hendak mengangkat, telepon itu langsung mati dan detik berikutnya kembali menghubungi ponselnya. Itu sangat membuat keningnya berkerut dalam dengan alis tertekuk penuh curiga sekaligus heran melihat nomor tersebut.
Dengan rasa penasaran yang cukup lama, akhirnya Sean mengangkat telepon itu.
"Halo? Siapa?" sapanya ramah.
Hening.
Hanya ada suara bising kendaraan yang membuat Sean berdecak kesal sambil satu tangannya di pinggang.
"Halo? Jangan merasa jadi orang penting hubungin orang malam-malam begini ya."
Suara ini seperti tidak asing, gumam Sean dalam hati.
"Lo siapa hah? Lo ngan---" ucapannya terputus saat telepon iseng itu mematikan teleponnya sepihak.
****!
"Annaâd-dia pasti dalam bahaya."
Sean dengan cepat meraih kaos hitam dari lemari beserta sebuah sebuah jaket yang tergantung di balik pintu kamar. Tidak peduli dengan rambutnya yang masih setengah kering, ia langsung menyambar kunci motornya di atas nakas lalu melangkah cepat keluar dan menutup pintu kamar. Menuruni tangga dengan langkah lebar dan perasaan yang ugal-ugalan.
Sean menyusuri jalan ibu kota yang ramai akan kendaraan roda empat. Semalam ini pun jalanan tetap ramai saja untuk dilalui. Ia pun menyalip beberapa kendaraan. Tidak ingin sesuatu terjadi dengan gadis disana, Sean menaikkan kecepatan motornya.
Sesampainya di rumah sakit, Sean langsung menyelonong masuk menuju rawat inap Anna tempati saat ini. Ia kini sudah berada di depan pintu ruang rawat Anna.
Napas yang tadinya begitu memburu perlahan mulai tenang setelah ia melihat seorang suster tengah memeriksa keadaan Anna. Sean pun membuka pintu dengan pelan. Kakinya melangkah lebih dekat ke samping ranjang. Suster tersebut menoleh lalu tersenyum ramah.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Sus?"
"Beberapa jam lalu pasien sudah melewati masa kritisnya. Apa kamu datang untuk menjaganya malam ini?" tanya suster itu. Sean pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Panggil saya kalau terjadi apa-apa dengan pasien ya. Permisi."
"Sebentar Sus. Boleh saya tanyakan sesuatu?" tanyanya membuat suster yang hendak pergi dan berada diambang pintu menoleh pada Sean.
"Apa ada seseorang yang datang kemari? M-maksudku sebelum saya, apa ada orang yang datang menjenguknya?"
"Tidak ada. Sejak kamu mengantarnya kemari dan dia melewati komanya, satu orang pun tidak ada yang masuk keruangan ini, hanya kau saja yang baru menjenguknya."
"Oh, iya. Apa kau lupa mengabari keluarganya kalau gadis ini masuk rumah sakit?"
"Saya sudah menghubungi keluarganya Sus jadi mungkin saja malam ini mereka akan datang kemari."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dahulu," ujar suster tersebut melangkah menuju pintu dan tidak lupa kembali menutup pintu dengan rapat.
Sekarang mata Sean jatuh pada Anna yang terbaring lemah di ranjang. Perempuan itu terbaring dengan selang infus yang menempel di punggung tangan.
Sean menarik pelan kursi di pinggiran ranjangâduduk lesu sembari mengelus puncak rambut panjang gadis itu dengan lembut. Beberapa detik berlalu, Sean masih bergeming dan terus menatap wajah gadis yang masih setia menutup kelopak matanya. Sesekali mata lelaki itu melirik liontin yang Anna pakai di leher jenjangnya.
"Gue gak tau banyak tentang lo Anna, tapi kalau melihat keadaan seperti ini, mulai dari dapat masalah sampai berbaring di tempat ini, tidak satu pun keluarga yang jenguk lo kemari. Apa selama ini lo menanggung beban itu sendirian?"
Sean yang menggenggam satu tangan Anna menariknya ke arah kening dan menunduk merasakan keadaan gadis begitu memilukan. Tanpa ia sadari sebulir cairan bening jatuh dari sudut mata Anna.
Mungkin dalam keadaan tidak sadar pun Anna pasti bisa mendengar kalimat yang baru saja Sean lontarkan kepadanya.
"Kenapa lo harus rasain hal serumit ini sih? Kenapa setelah bertahun-tahun berlalu pertemuan kita untuk yang pertama kalinya harus dalam keadaan seperti ini. Ini sangat menyakitkan Anna."
"Please, wake up. I'm back just for you..."
Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Detik berikutnya bibir lelaki itu mengecup pipi Anna cukup lama. Genggaman tangan itu kian mengerat.
"Wake up, baby girl... I'm here. Your brother will always be by your side. Please... bangun Na. Gue janji kalau lo bangun gue bakalan bawa lo ke tempat yang lo suka."
Tanpa Sean sadari ada seseorang yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruang rawat, melihat semua adegan itu dengan tangan terkepal erat di samping celana, merasakan sesak luar biasa didalam dada.
__ADS_1
- to be continued -