In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 22


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Sorot lampu motor yang terarah padanya membuat Anna mematung di tempat tanpa menoleh pada pemotor itu. Ia sangat mengenal suara motor itu tanpa melihat sang empu. Setahun lalu, ia pernah dibawa mengelilingi kota dengan motor orang itu.


Mengenai hal-hal kecil di masa lalu sampai hari ini, Anna masih mengingatnya jelas dalam kepala. Bahkan aroma tubuh yang menusuk indera penciumannya saat udara malam berhembus membuat Anna menarik napas panjang.


Sosok lelaki yang selama ini Anna benci dan sesuatu yang masih terasa aneh dalam hatinya kini sudah berdiri di sampingnya. Berdiri dengan jarak yang begitu dekat sampai berhasil memporak porandakan dada Anna yang berdegup kencang.


"Kenapa pesan gue ngga dibalas?" Suara berat yang khas dari sosok didekatnya membuat Anna enggan menatap balik.


Lelaki yang baru saja selesai berbicara dengannya kini sudah berdiri di hadapannya seraya melepaskan helm di kepala.


"Sini-in ponsel lo," pungkasnya meraih ponsel di genggaman Anna. "Pasti lo ngga balas karena ngga kenal siapa yang chat lo kan. Kebiasaan bangat kalau gak kenal gak bakal mau balas."


Anna tetap diam di posisinya sampai tiba-tiba pundaknya diputar paksa menghadap cowok itu. Ia masih tidak berani beradu pandang. Kakinya perlahan bergerak mundur membuat cowok itu melirik dan maju dua kali lipat mendekati Anna yang murah resah.


"Gue ngga bakalan nyakitin lo, tenang ajah. Gue kesini cuman lepasin rasa rindu gue setelah hampir sepuluh bulan gue gak lihat lo."


"Ck! nah... benar kan, lo pasti ngga nge-save nomor gue, pantas ajah ngga mau balas."


Sambil mengutak-atik ponsel gadis di depannya, cowok bernama Dean itu sesekali memperhatikan Anna dan tersenyum kecil. Sampai matanya menangkap sesuatu yang membuat ekspresi Dean tekuk. Ada luka di sudut bibir gadis itu.


Dengan gerakan yang begitu cepat, Dean mencengkram dagu Anna. Tidak kuat tapi berhasil membuat Anna mendongak dan menatap manik Dean yang begitu indah dibawah sinar lampu dekat gerbang rumah.


Mata itu salah satu alasan Anna jatuh cinta padanya. Lalu tanpa ragu, Dean menatap Anna, tatapannya tajam membuat Anna sedikit merasa sedang diintimidasi.


"Kenapa ini? Siapa yang mukul lo?" tanya Dean mengusap ujung bibir Anna lembut.


Sebenarnya luka itu sudah lama dan mungkin meninggalkan bekas disana. Melihat sorot mata itu, Anna menepis tangan Dean dengan kasar lalu mundur selangkah, tapi tubuhnya dengan cepat ditarik keras oleh Dean hingga Anna kembali berdiri dengan jarak sejengkal di depan Dean.

__ADS_1


Aura yang Anna rasakan berdiri di hadapan Dean benar-benar membuatnya keringat dingin.


"Siapa yang buat ini luka?! Jangan buat gue cari tau sendiri penyebab lo kenapa-napa, Anna. Gue benci lo sakit, mending gue lihat lo langsung mati daripada terluka begini."


Anna menelan ludahnya kasar. Sepasang kakinya lagi-lagi menjaga jarak dengan Dean dan jari tangan cowok itu yang sempat menyentuh bibirnya tertahan di udara. Melihat sikap Anna yang dingin Dean pun berdecak kasar. Ia mengusap lembut puncak kepala gadis itu sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Anna.


"Gue datang kemari untuk meminta maaf atas semua kesalahan gue dimasa lalu, Anna. Gue ngga akan melukai lo sampai kapan pun. Gue hanya ingin dengar lo ikhlas maafin gue."


Andai segampang itu, Anna tidak akan peduli jika ia harus menyakiti hati orang lain. Jika semudah itu, Anna mungkin tidak akan terbaring sampai memiliki trauma karena ulah Dean setahun lalu—sebelum ia pergi menjauhi Anna.


"P—pergi dari sini!" suara ketakutan dan sedikit gemetar itu membuat Dean terkekeh.


Tangannya terangkat menyentuh lengan Anna dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke depan Anna membuat gadis itu langsung mundur dan gugup seketika. Diam-diam Anna sudah mengepalkan tangannya di sisi celana. Bersiap jika Dean melakukan hal yang kurang ajar padanya.


Kemudian yang terjadi detik berikutnya di luar pemikiran Anna. Dean mendekapnya erat, merengkuh tubuh ringkih Anna lalu mengelus punggung perempuan itu berulang kali dengan sentuhan yang lembut—menjatuhkan dagunya di kepala Anna. Aroma yang memabukkan dari rambut gadis itu membuat Dean memejamkan mata sebentar.


"Katakan Anna, siapa yang udah nyakitin lo sampai begini. Kasih tau gue siapa mereka."


Anna meremas kuat celana training nya. Bisikan pelan di daerah belakang telinganya membuat Anna merinding. Katakan ia perempuan bodoh. Teriakin Anna dengan lantang karena tidak bisa melawan orang yang hampir saja menyentuhnya satu tahun lalu.


"Kenapa diam? Ayo katakan, Anna. Mana mulut yang selalu cerewet di depan gue? Lo masih Anna yang gue kenal, kan? Jangan jadi mendadak bisu begini."


"Anna... Anna. Nasib lo ngga berubah juga ya masih sama saat gue tinggal dulu. Gimana sekolahnya, lancar?" tanya Dean mengurai pelukannya lalu membelai pipi Anna dengan ibu jarinya. Namun, dengan cepat Anna menepisnya.


"Menjauh dari hidup gue!" sarkas Anna menatap dan membentak Dean dengan sekali tarikan napas. Mata gadis itu melotot dengan sudut bibir terlihat bergetar.


"Cowok brengsek kayak lo ini gak sepantasnya bahagia diatas penderitaan orang lain! Apa ngga puas juga dengan semua kebohongan, pengkhianatan, dan kelakuan lo selama ini sama gue. Gue menyesal pernah pacaran sama cowok brengsek kayak lo!"


"Setelah lo hampir ngebunuh gue dengan menyiksa gue seperti binatang, lo malah datang dan pura-pura peduli sama gue. Apa lo masih pantas disebut manusia, hah?! Mending lo mati ajah! Gue bakalan lebih bahagia kalau gue lihat lo tiada!"


Anna berhasil mengatakan itu tanpa terbata-bata sedikitpun. Ia ingin semua yang ia pendam setelah apa yang dilakukan Dean cowok itu tahu dan tidak seenaknya, tapi setelah Anna mengatakan itu ekspresi Dean berubah kalut dan spontan mencengkram kuat dagu Anna hingga gadis itu meringis kesakitan. Luka disudut bibirnya masih begitu terasa dan sekarang Dean justru menekannya kuat.


"Ulangi omongan lo barusan? Ulangi gue bilang!" Dean mengarahkan kepalan tangannya ke wajah gadis tersebut, namun tertahan ketika air mata Anna lolos membasahi tangan Dean. ****!

__ADS_1


"Jangan lupakan apa yang pernah gue bilang sama lo Anna! Gue ngga suka dibentak bahkan gue bisa marah kalau kemauan gue gak dituruti. Lo tau banyak tentang gue jadi jangan berulah..."


"Coba ingat-ingat lagi. Kemauan lo sendiri yang dekat-dekat sama gue kan dan kebodohan lo yang buat diri lo ini dipandang rendah. Dimana-mana cowok yang selalu nembak cewek duluan, tapi lo—"


"Apa? Gue murahan begitu maksud Lo?" sela Anna lantang menatap tepat di manik mata Dean yang terang karena sorot lampu dekat gerbang rumah.


"Iya, memang gue murahan! Gue terlalu murahan karena berani mengatakan rasa suka gue dihadapan cowok yang begitu dicintai perempuan lain di sekolah. Lo bisa bangga lo disayang semua orang. Lo selalu dianggap ada. Tapi sedikitpun lo ngga pernah menganggap gue pantas buat lo."


"Gue rela datang ke lo karena kebodohan gue mencintai orang yang sama sekali ngga cinta sama gue. Ah, bukan—buat apa lo punya rasa sama gue. Anggap gue ajah lo ngga pernah."


"Gue temanin lo saat lo lagi sedih. Sebaliknya lo pernah? Ngga kan! Satu detik waktu lo ngga pernah ada kecuali gue harus maksa lo ataupun berbohong. Lo lebih peduli dengan perempuan yang lo istimewakan itu. Pada intinya, semua yang gue lakukan karena gue memang murahan. Sekarang terserah lo. Lo kembali kesini buat nyakitin gue, gak apa-apa. Gue siap."


Anna menitikkan cairan kristal dari pelupuk matanya, sedangkan Dean yang melihat semuanya mengeraskan rahangnya. Ia benci melihat Anna merasa tersakiti.


"Hei, anak muda!! Apa yang sedang kau lakukan!" Petugas pos keliling berteriak kencang membuat Dean berdecak kasar. Anna langsung mengusap kasar pipinya—bernapas lega melihat Pak Satpam keliling yang bertugas mulai berjalan kearah mereka.


Tanpa basi-basi Dean berjalan cepat menuju motor sportnya dan hilang di belokan kedua dari komplek perumahan.


"Neng Anna tidak apa-apa?" tanya Pak satpam mengamatinya lekat. Anna hanya menggeleng pelan. Pikirannya masih tertuju pada perkataan Dean tadi.


"Lain kali jangan keluar sendirian, Non, bahaya. Untung ada bapak yang lagi berjaga kalau engga, mungkin ... sudahlah Neng masuk rumah sekarang ya."


Sepeninggal pria paruh baya itu, Anna pun langsung bergegas masuk rumah. Hari ini memang Mang Dodi satpam rumah tidak bertugas karena jadwalnya hanya sampai jam delapan malam saja. Untuk itu Anna merasa sial sekaligus panik bertemu Dean, lelaki masa lalunya.


"Bibi..." panggilnya dari ruang keluarga.


"Non Anna? Apa yang terjadi, Non?" Bi Rina melangkah lebar menghampiri Anna yang ambruk di lantai.


"Dia datang Bi. Dia kembali untuk menemui ku. Anna barusan ketemu dia di depan rumah."


Beliau sempat bingung, namun ia langsung teringat dengan satu nama yang cukup membekas di ingatan beliau. Dean, mantan pacar Anna setahun lalu.


"Apa perlu Bibi hubungi Tantenya Non?"

__ADS_1


"Jangan Bi. Jangan katakan apapun pada Tante Sekar. Anna ngga mau Tante Sekar tau semua masalah Anna. Sekarang... Anna harus apa Bi, Anna takut..."


- to be continued -


__ADS_2