
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
"Kemari lah Anna," ujar Alice berdiri di depan sebuah lemari pakaian berwarna putih.
Sebelum Anna berjalan menghampiri Alice, Anna masih terkagum-kagum menatap seisi kamar milik Alice yang cukup besar dan dua kali lipat dari kamarnya.
"Kenapa, Kak?" tanyanya menghampiri Alice yang sedang memilih-milih dress yang ada di sana.
"Kakak kan gak tau ukuran dress mu bagaimana. Jadi daripada kakak capek sendiri milihnya mending kamu sendiri yang cobain satu persatu-satu dress di lemari ini."
"Semua ini masih baru dan tidak pernah kakak pakai sama sekali. Kakak jarang bangat ada dirumah. Kau tau bagaimana sibuknya pekerjaan kakak..."
Alice tersenyum manis memandang Anna. Paham dengan apa yang Alice katakan, Anna langsung mengangguk. Kakinya menuntun untuk lebih dekat ke sebuah lemari tinggi yang terbuka lebar, menampakkan isinya dengan deretan gaun, dress, dan beberapa pakaian yang disusun rapi di tempatnya.
"Tidak papa Anna. Jangan sungkan sama kakak ya. Bentar lagi kamu juga jadi adik kakak, jadi pilih dress yang kau mau ya. Dicoba satu-satu pun engga apa-apa. Entar maid yang akan beresin lagi," ujar Alice kepadanya.
Anna yang masih menatap puluhan dress berbagai mode tertata di lemari pun mulai mendekat. Tangannya mulai terulur menyentuh satu persatu dress buatan merk terkenal disana.
Ia tidak banyak memakan waktu memilih dress di lemari. Tangannya langsung meraih satu dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga dibagian bawahnya.
"Tidak mau ambil dress yang lain lagi Anna, misalnya dress yang ini," kata Alice meraih sebuah dress sebatas lutut sedikit mengekspos bagian dada atas.
Bagian atas dress itu memang sedikit terbuka tapi cocok untuk Anna kenakan semisalnya untuk party time.
"Tidak usah kak. Anna pakai yang ini saja. Ehm... gantinya dimana ya, Kak?" tanyanya menatap sekeliling kamar dan tidak menemukan pintu selain pintu masuk ke dalam kamar ini.
"Ganti disini saja. Tidak akan ada yang melihatnya. Kamar ini juga tidak ada CCTV nya jadi jangan takut. Mari kakak bantu bukain dress mu yang sudah kotor."
Disaat Alice menyentuh pengait belakang dress yang Anna pakai, Anna sontak berbalik badan. Alice akan melihat lukanya jika perempuan itu membantu membuka pakaian miliknya.
"Kenapa?" tanya Alice menatap wajah Anna yang tiba-tiba berubah menjadi takut dan panik.
"Kakak hanya ingin membantumu. Tanganmu tak akan sampai membuka resletingnya. Kemari, kakak bukakan..."
"Tidak usah kak. Aku bisa sendiri," ujarnya membuat Alice mengerutkan keningnya.
Merasa tidak enak hati melihat ekspresi Alice barusan, Anna pun luluh, mengangguk dan berdiri di hadapan Alice. Ia membelakangi Alice dan memejamkan mata saat Alice perlahan membuka pengait dress nya.
Alice perlahan membuka resleting dress milik Anna secara perlahan. Wanita muda itu kini membatu saat sepasang matanya menangkap basah luka memar yang ada di pundak adik iparnya.
Tak sampai disitu, Alice kembali menurunkannya sampai sebatas pinggang Anna. Sontak wanita itu membalikkan tubuh mungil Anna, menghadap dirinya. Tatapan Alice yang begitu tidak percaya dengan apa yang ia lihat membuat Anna langsung menatap Alice sendu.
"Jujur sama kakak. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa punggungmu penuh dengan luka lebam? Kau dipukul siapa?" kata Alice dengan suara sedikit penekanan.
"Maaf Kak Alice, jangan katakan apapun sama bang Leon. Anna takut..."
__ADS_1
Anna tiba-tiba memeluk erat tubuh Alice. Ia menenggelamkan wajah sedihnya di ceruk leher sang kakak ipar. Sementara Alice, ia menatap letak bekas luka yang ada di tubuh gadis itu. Bahu, punggung, paha, dan lengannya lebam-lebam.
Alice kembali menatap Anna. "Apa luka ini masih sakit?" Alice menyentuh luka lebam di bahu kanan Anna. Ringisan kecil yang keluar dari mulut gadis itu membuat Alice panik dan khawatir.
"Kakak gak bisa bohong sama Abang kamu Sayang. Kau harus katakan siapa orang yang melakukan ini padamu. Ayo, kakak bantu kamu ceritain semuanya.
"Jangan Kak, please. Anna mohon jangan sampai bang Leon tau. Abang bakalan marah besar kalau tau siapa pelakunya."
"Tidak Anna, jangan seperti ini. Dengarkan kakak..." Alice menangkup kedua pipi gadis itu. Kali ini tatapan yang Anna lihat dari manik mata Alice adalah tatapan sebuah harapan.
"Kalau kamu tidak cerita sekarang, Leon pasti akan sangat marah dan bahkan akan cari tau sendiri siapa dalang dari memar yang ada di punggungmu. Leon itu tidak suka kebohongan Sayang. Mungkin kamu tau kelakuan Leon karena dia abangmu tapi selama kakak pacaran dengannya, kakak lebih tau bagaimana Leon kalau sudah marah."
"Dulu kakak pernah terluka, hanya urusan kecil saja di ujung jari telunjuk kakak, tapi Leon, Abang kamu khawatirnya sampai berlebihan. Dia rela terbang dari London menemui kakak ke Jerman."
"Kamu mau abangmu sendiri yang tahu siapa dalang dari lukamu ini. Kamu mau?"
Anna menarik napas panjang. Ia menggelengkan kepalanya. Apa sudah saatnya ia mengatakan bagaimana ayahnya selama ini padanya? Tapi bagaimana kalau ia jujur dan membuat ayah serta abangnya ribut? Anna tidak akan sanggup melihat itu.
"Dengarkan kakak. Jangan pernah menahan semuanya dalam hatimu ini. Hatimu tidak sebesar dunia ini Anna. Dadamu akan sesak kalau kamu tidak mampu berkata jujur."
"Luka ini juga kakak lihat bukan luka baru. Ada apa sebenarnya? Apa ada yang menyakitimu," ujar Alice menyentuh lengan Anna.
"Ingat Sayang. Hati tidak bisa berbohong dan hati juga tidak akan sekuat itu menahan rasa sakit yang kau tanggung sendiri. Perlu sekali cari tempat untuk cerita."
"Kemarilah. Kakak akan bantu kamu berbicara dengan abangmu," ucap Alice mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Anna.
Mereka berdua langsung saja keluar dari kamar. Saat ini Anna benar-benar gugup untuk mengatakan semuanya pada saudara laki-lakinya, tapi kalau ia tidak jujur hingga hari ini mungkin apa yang Alice takutkan akan terjadi.
...ā¢ā¢ā¢...
"Sayang..." Alice memanggil dari arah tangga. Leon yang jelas mendengarnya menoleh menatap kedatangan tunangannya bersama adiknya ke ruang tamu.
"Sudah selesai keliling rumahnya?" tanya Leon. Anna pun tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kita pulang sekarang ya. Abang juga belum ketemu dengan ayah satu hari ini, jadi sebelum pukul delapan malam kita harus sampai di rumah."
Ia pun meraih tangan adiknya, namun Alice menahan lengan pria itu. "Tunggu sebentar Leon. Anna ingin mengatakan sesuatu yang penting untukmu. Berjanjilah untuk tidak memarahinya," ujar Alice.
Leon mengerutkan dahinya. "Wajah kalian kenapa jadi seserius ini?" ujar Leon. "Apa ada hal serius yang kalian bicarakan sejak tadi?"
"Tidak ada, Sayang. Adik kamu hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting denganmu."
"Kita bisa bicarakan di rumah, Alice. Aku harus bertemu ayah dulu. Lama sekali aku tidak melihatnya. Kalau sudah malam, takut ayah tidur dan tidak bisa diganggu lagi."
"Ayo, Anna. Besok aku akan datang kemari lagi."
Anna melirik Alice dengan tatapan gugup dan begitu ketakutan. Tapi Alice memang perempuan yang sudah cukup dewasa dan sudah tau menangani masalah seperti ini langsung mengusap punggung Anna lembut.
"Adikmu terluka, Leon. Dia membutuhkanmu saat ini. Dia sangat ketakutan," terang Alice membuat Leon yang tadinya membelakangi mereka hendak berjalan ke arah pintu disana lantas berhenti dan berbalik badan.
Leon mengayunkan langkahnya lebih dekat ke arah Alice dan mata itu memandang lekat kepada Anna, adiknya. Ia berhenti. Pria bertubuh jangkung itu berdiri dihadapan Anna. Anna sendiri hanya bisa menundukkan kepala. Entah bagaimana rasanya saat ini ia benar-benar takut melihat manik mata abangnya.
__ADS_1
"Tidak papa, Sayang. Dia abang kamu, dia berhak tau apa yang sedang terjadi denganmu selama dia tidak ada di rumah. Katakan keadaan sebenarnya," ucap Alice menyentuh pundak Anna.
Melihat respon Anna yang begitu lambat, ada kemungkinan ia takut, Alice dengan segera menyingkap sedikit lengan dress yang menutupi lengan Anna.
Tidak itu juga, Alice terang-terangan membuka pengait belakang dress yang Anna pakai--membuat Anna membelakangi Leon, menampakkan punggungnya yang penuh luka lebam.
"Maaf kalau aku terlalu lancang melakukan ini pada Anna. Sesama perempuan, adikmu butuh perlindunganmu. Lihat semua luka ini Leon," kata Alice menatap punggung Anna yang dipenuhi bekas lebam dan di dekat pintu ada luka yang masih belum mengering.
"Aku melihat luka lebam ini saat aku membantu adik kamu melepas dress kotornya. Lihat sendiri luka sebanyak ini apa tidak menyakitkan untuknya. Bagaimana dia tidur pun sudah buat aku ngeri."
Leon yang tadinya mengerutkan dahi langsung mendadak memasang wajah datar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Leon melangkah ke hadapan Anna yang tertunduk takut.
"Siapa pelakunya?" ujar Leon dengan suara meninggi. Anna mengangkat wajahnya menatap sorot mata Leon yang tidak seperti awal mereka bertemu tadi siang.
"Pelan-pelan Leon! Kamu bertanya seolah kau ingin juga menyerangnya juga."
"Bagaimana aku bisa tenang Alice melihat adikku sendiri terluka seperti ini. Aku saja abangnya berniat ingin mencubitnya saja aku urungkan."
"Katakan siapa yang berani melakukan ini? Teman sekolahmu? Atau siapa? Katakan?!" Leon menaikkan nada suaranya membuat Anna panik dan napasnya naik turun.
"Jangan diam begini Anna! Abang tidak bisa bertindak kalau kau hanya diam seperti ini. Katakan! Katakan siapa yang membuat badan kamu sampai memar begini," ucap Leon menatap lekat semua luka memar di tubuh Anna.
"Abang harus janji tidak akan marah kalau Anna mengatakannya."
"Abang janji..." sahut Leon begitu cepat.
Anna menyentuh pergelangan tangan Leon. Menggenggamnya kuat sampai membuat Leon melirik sentuhan Anna di tangannya.
"Ayah... Ayah yang udah pukul Anna sampai seperti ini..." terang Anna dengan menitikkan air mata. "A-ayah melakukannya..."
Alice yang mendengar itu menganga tidak percaya kalau pria yang akan jadi ayah mertuanya tega melakukan itu pada putrinya sendiri. Alice yang paham keadaan langsung menyentuh lengan Leon, berusaha menetralkan emosi sang calon suami agar tidak cepat larut dalam amarah tapi Leon bukanlah pria seperti itu.
Sekalipun ayahnya ia tetap akan melewati batas jika berani melukai adiknya sendiri yang mungkin tidak melakukan kesalahan sama sekali.
"Abang tau. Setelah abang pergi ninggalin aku dan hilang kabar selama itu juga ayah selalu menyiksa aku sampai rasanya ingin sekali mati ditangan Ayah. Ayah tidak pernah melihatku seperti anaknya sendiri Bang. Ayah selalu mengatakan kalau aku ini anak pembawa sial. Aku. Bahkanā"
"Hentikan..." titah Leon datar dan pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Leon memegang kedua pundak Anna, menatap sepasang bola mata Anna yang berair dengan lekat tanpa berkedip.
"Apa yang buat ayah sampai seperti ini padamu? Malam ini Abang harus tau alasan ayah bertindak sejauh ini."
"Kamu ikut bersamaku," ucap Leon melirik Alice. "Aku takut kelepasan dan membuat semuanya berantakan." Alice mengangguk paham. Ia lebih tau seperti apa Leon kalau sudah tersulut api kemarahan.
Satu jam perjalanan mobil mewah keluaran terbaru itu kini memasuki pelataran rumah dan terparkir ditempatnya. Leon mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah Anna yang duduk di jok sebelahnya sementara Alice duduk di jok belakang.
"Kamu masuk lebih dulu. Abang akan lihat seperti apa cara ayah memukulmu kalau ia tahu kau lama pulang dari luar."
"Tapi bang Anna..." Leon mengusap lembut pipi Anna. "Ada Abang disini. Siapapun di luaran sana yang punya adik perempuan gak bakalan bisa tenang lihat orangtuanya sekalipun bermain tangan sama adiknya terutama Abang Anna.
"...sekalipun dia Ayah kita kalau jalannya sudah salah Abang tidak peduli. Mati pun abang mau demi kamu satu-satunya yang Abang punya."
"Kau ingat saat kau merusak tugas Abang dulu. Abang marah pun tidak pernah ada niat untuk memukulmu, jadi ayah, semarah apapun ayah, ayah tidak seharusnya melakukan itu."
__ADS_1
- to be continued -