In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 43


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Dean tiba di depan rumah sakit. Sebelum ia benar-benar masuk dan memicu perkelahian di dalam sana, mengingat Dean sangat sulit mengontrol emosinya, Cakra dengan langkah terburu-buru turun dari motor langsung menarik jaket kulit yang Dean kenakan.


Cakra menarik kasar tubuh Dean keluar dari pelataran rumah sakit. Mereka kini berada di bahu jalan. Beberapa orang sempat memperhatikan mereka karena terlalu ramai di pinggir jalan.


"Lo mau gue hajar, hah?" kelakar Cakra meninju dada kiri Dean dengan keras. "Jangan lo egois di situasi kayak gini! Gue udah bilang sama lo Anna itu lagi sakit dan seenaknya ajah lo masuk kesana. Mau ngapain, hah?"


"Gue ngga bisa lihat Anna sakit kayak gitu Cak," tutur Dean pasrah. Ia lemas setelah melihat keadaan Anna terbaring tak berdaya di dalam sana.


"..dan gue juga ngga suka lihat cowok sialan itu dekatin Anna sampai sedekat itu. Anna milik gue, Cak. Dia milik gue..."


"Sialan! Apa sih isi otak lo ini? Mikir Dean, mikir! Jangan cuman diri lo sendiri ajah yang lo pikirin. Selama ini yang nyakitin Anna, siapa? Lo sendiri, kan? Sean itu cuman jagain Anna. Kenapa sih lo ngga bisa tenang sedikit. Apa-apa dipermasalahkan..."


Dean terdiam sesaat. Kepalanya berputar pada masa ia menjalin hubungan dengan Anna. Apa yang sudah ia berikan pada gadis itu agar dia bisa bahagia? Tidak ada. Justru Dean lah salah satu sumber kesakitan Anna selama ini. Dia yang membuat Anna sampai menderita sejauh ini.


...•••...


"Kenapa lo yang datang dan bukan ayah gue?" tanya Anna memalingkan tatapannya dari arah jendela kepada Sean yang duduk di dekatnya.


"Mau berapa kali lagi gue jawab pertanyaan lo ini. Gue udah jelasin sebelumnya..."


"Gue bahkan ngasih nomor bokap lo pada pihak rumah sakit buat hubungin orangtua lo, tapi lo lihat sendiri yang mereka hubungin gue dan berarti bokap lo—"


"Ayah gak bakalan datang. Gue udah tahu hal ini pasti terjadi," jawab Anna sembari menghela napasnya.


"Itu yang mau gue tanyain sama lo sekarang. Bokap lo kemana sampai anaknya masuk rumah sakit ajah bokap lo gak datang?"


"Apa bokap gue gak datang jadi urusan lo sekarang?" ketus Anna membuat Sean berdecih pelan dan Anna tidak suka dengan tingkah cowok itu begitu.


Disaat keadaannya seperti ini ayahnya sama sekali tidak datang melihatnya. Justru orang yang bukan siapa-siapa yang duduk di hadapannya, menanyakan keadaannya apa baik-baik saja.


"Jadi secara ngga langsung keberadaan gue disini gak perlu lagi? Kalau gak biar gue pergi," putus Sean membuat Anna dengan cepat menggeleng.


"Bukan gitu maksud gue..."


"Iya gue tahu. Kalau bokap lo gak datang yaudah gue kan masih ada disini. Bokap lo mungkin sibuk atau ngga besok pagi bakalan datang jenguk lo kemari."


Anna mengangguk patuh. Disaat keduanya sedang lekat saling pandang, ponsel di saku Sean berdering. Tatapan yang diberikan Anna membuat laki-laki itu langsung bangkit dan mengangkat telepon di tangannya dengan menjaga jarak dari Anna.


"Hah, hallo?" sapa Sean pada orang diseberang sana. "Lo yakin itu mereka?"

__ADS_1


Suara tegas itu membuat Anna menoleh menatap ekspresi Sean yang cepat berubah ketika mengangkat telepon.


"Gue kesana sekarang..."


Setelah mematikan panggilannya Sean berjalan ke arah Anna yang tengah mengerutkan keningnya. Gadis itu sepertinya penasaran dengan apa yang sedang terjadi lewat telepon.


"Lo mau pergi?" tanyanya.


"Hm. Gak papa kan gue tinggal sebentar?" Anna mengatupkan bibirnya. Apa perlu ia menjawab pertanyaan itu sekarang?


"Gue bakalan balik secepatnya. Lo istirahat yang banyak. Biar besok bisa sekolah lagi. Tidur ya..."


Sean membaringkan Anna dengan hati-hati. Menarik selimut kecil itu sebatas dada lalu entah apa yang ia pikirkan sampai berani mengecup lembut keningnya membuat Anna kikuk kemudian menarik selimut menutupi setengah wajahnya.


Kelakuannya itu justru membuat Sean tersenyum manis. "Kalau gak nyaman bilang ya. Gue ngga bakalan kayak gitu lagi sama lo."


"Minta izin dulu baru kayak gitu," ujar Anna ceplos. Sean pun memajukan wajahnya mendekat pada Anna, memastikan gadis itu tidak salah menjawab.


"Berarti boleh dong ya kalau gue minta izin," godanya kepada Anna.


"M-maksud gue bukan gitu.. anu.. ehmm..."


"Iya iya gue tau. Lain kali ngga bakalan gue ulangi lagi kok. Gue juga ngga mungkin sering kayak gitu. Lo kan bukan cewek gue. Lo itu adik gue, hehehe."


Sean yang bersiap beranjak dari tempat itu tertahan ketika kaos putihnya ditarik oleh Anna. Ia menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya.


"Bisa?" tanya Anna memastikan kembali. "Kalo memang gue ini lo anggap sebagai adik perempuan lo. Gue juga bakalan demikian.


"Gue ngga larang lo percaya atau ngga sama gue, tapi sebisa mungkin gue ngga bakalan bikin lo kecewa."


Sean berjalan menuju pintu. Tanpa berbalik badan cowok itu hilang dari depan ruang rawat membuat Anna  mendesah kecil. Ia tidak merasa ngantuk malam ini bahkan setelah kepergian Sean, ia menonton televisi, bermain game di ponselnya bahkan melakukan panggilan video call dengan ketiga temannya, gadis itu tidak bisa tidur.


Ia bangkit dari ranjangnya lalu perlahan berjalan menuju jendela kaca yang tertutupi gorden berwarna biru. Ia membuka tirai itu sedikit. Pandangannya jatuh menatap kelap-kelip lampu kota di malam hari.


Entah ia berada di lantai berapa, Anna yakin kalau ia saat ini tengah di rawat di lantai atas. Dari atas sini ia bisa melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Baru saja ia ingin membuka tuas jendela itu, suara langkah kaki dan pintu yang terbuka mengalihkan pandangannya.


Anna mundur dan hampir membuat benda di atas nakas terjatuh karena tidak memperhatikan langkahnya. Seseorang yang berjalan ke arahnya membuat mulut kecil gadis itu bergumam ketakutan.


"Kau sudah sadar ternyata. Baguslah. Kali ini kau tidak perlu merepotkan ayah lagi."


Beberapa jam yang lalu pintu rumah kediaman Anna terbanting dengan keras. Pria yang masih mengenakan setelan kantornya, rambut berantakan dan raut wajah sangarnya terpatri disana membuat Bi Rina yang masih berjaga di bagian dapur terkejut.


"T—tuan, Non Anna masuk rumah sakit. Apa tuan tidak kesana menjenguknya?" ujar Bi Rina berani.


Ryan yang berjalan menaiki tangga berhenti lalu membanting kasar tas kantornya ke lantai.

__ADS_1


"Biarkan saja dia disana. Anak itu lebih baik tidak tinggal di rumah ini, dia membuat kepala saya pusing memikirkannya."


"Tapi Tuan, non Anna sedang koma. Kalau Tuan tidak kesana pihak rumah sakit akan bertanya-tanya. Tuan harus tau keadaan non Anna bagaimana. Kasian dia, Tuan..."


"Kalau kau merasa iba dengannya kau saja yang pergi ke sana, Bi Rina! Bertahun-tahun dia kau rawat pasti kau sudah menganggapnya seperti anakmu sendiri. Jadi kau saja yang menjenguknya."


"Masalah di kantor saja sulit saya atasi apalagi anak itu..."


"Tapi tuan, teman sekolahnya tadi menghubungi telepon rumah kalau Dokter ingin bertemu dengan keluarga non Anna"


"Teman? Anak saya punya teman? Baiklah kita kesana sekarang," ujar Ryan tanpa panjang lebar lalu berjalan menuju kamarnya. Bi Rina tersenyum senang walau wanita itu tidak paham apa arti senyum yang terukir di wajah majikannya.


...•••...


Rs. Cinta Kasih


"Non Anna sudah baikan? Bibi khawatir sekali non. Untung saja teman sekolah non menghubungi bibi kalau tidak mungkin Bibi tidak tahu kalau non di rumah sakit."


Anna yang tadinya tengah duduk sembari menatap hingar-bingar kota terkejut saat menatap kedatangan Ayahnya bersama Bi Rina.


Sesaat ia merasa senang, akhirnya ayahnya peduli, namun senyum itu pudar ketika pria itu memaksa pulang dari rumah sakit. Ryan mengamati setiap detail bagian tubuh gadis itu dengan baik. Anna yang merindukan ayahnya spontan memeluk tubuh tegap Ryan dengan erat, namun itu hanya berlangsung satu menit saja. Ryan langsung melepas pelukannya lalu duduk di sofa.


Pria itu duduk di sofa seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Berkemas lah, Rina. Saya tidak punya banyak waktu berlama-lama di tempat ini," ucap Ryan mengabaikan keberadaan Anna yang mematung di atas brankar.


"Apa maksud ayah, Bi?" tanyanya menahan tangan Bi Rina merapikan selimutnya.


"Non di rawat di rumah saja. Bapak sudah izin dari dokter."


"Tapi Bi, dokter baru saja datang kemari dan bilang Anna belum bisa pulang."


"Ayah pasti bohong, kan? Anna bahkan tidak di kasih izin pulang Yah..."


Ryan menendang kasar kaki meja di depannya. Bi Rina yang merasa panik tanpa menoleh dengan cepat menepuk pelan punggung tangan gadis itu.


"Kau menginginkan ayah ribut dengan abangmu lagi? Kalau iya lakukan saja, kau tetap disini sampai Leon tau adik kesayangannya masuk rumah sakit."


Pria itu berjalan lebih dulu keluar dari kamar meninggalkan Anna yang kini bertanya-tanya pada Bi Rina.


"Kenapa sih, Bi? Anna ngga boleh keluar tanpa persetujuan Dokter. Dokter yang memeriksa Anna tadi baru juga datang kemari."


"Bapak marah besar non karena tahu non punya teman laki-laki. Maafin Bibi non. Bibi tidak bermaksud mengatakan itu. Teman non yang namanya Sean kemarin siang datang ke rumah."


"Non juga tau kan tuan sama tuan muda Leon sedang tidak akur. Tuan muda masih belum tau kalau non masuk rumah sakit jadi baiknya sekarang kita pulang ke rumah sebelum tuan muda tau non dirawat disini," jelas Bi Rina.


"Ayo, Non, ikut bibi nanti Bapak bakalan marah kalau kita lama." Selang infus yang masih menancap di tangannya ia cabut perlahan membuat ringisan melengos keluar dari mulutnya. Untung saja tidak sampai berdarah.

__ADS_1


Anna bersama Bi Rina keluar dari sana. Ia yang sudah tidak mengenakan pakaian rumah sakit pun tidak terlalu diperhatikan keluar oleh suster atau satpam yang bertugas.


- to be continued -


__ADS_2