
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
"Lakukan, Ayah!" teriak Anna dan Ryan yang terkejut mengangkat tangannya tiba-tiba dan menggores pergelangan Anna membuat tangan kiri gadis itu berdarah. Darah dari pergelangannya menetes ke lantai.
"Arghh...." ringis Anna bersimpuh di lantai sambil menggenggam erat tangannya yang luka.
"Anna..." panggil Ryan. Pria itu sempat berjongkok dan menyentuh pundak Anna. Namun, sepersekian detik pria itu menjauhkan dirinya. Ia menjaga jaraknya dengan Anna yang mulai kesakitan.
...🍁🍁🍁...
Di sisi lain, tadinya Arkana yang ingin pulang langsung tersadar ketika ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada Anna. Tanpa diduga, Arkana yang sudah lima menit berada di teras rumah Anna melihat semua kejadian itu dengan matanya sendiri.
Bagaimana ayahnya memarahi gadis itu bahkan sampai terluka pun Arkana melihatnya dengan jelas.
Arkana yang tidak bisa berkata-kata lagi, lantas melepaskan helmnya—meletakkannya di atas meja di teras rumah lalu menghampiri Anna yang sudah terkapar di lantai, ruang tamu.
Ryan meninggalkannya dengan berjalan menuju tangga. Bahkan setelah emosi yang sudah ia keluarkan, semuanya ternyata tidak berarti di mata sang ayah. Dengan semua derai air mata yang keluar, Anna ngin mengatakan kalau ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Sekalipun Anna mati ayah tidak akan pernah peduli denganku! Bunuh Anna, Ayah!"
"Astaga, Anna!" Arkana, cowok itu berteriak histeris ketika ia melihat keadaan Anna begitu menyedihkan. Pergelangan tangan yang tidak sengaja terluka karena ulah sang ayah begitu menyayat pandangannya. Darah segar yang masih hangat membasahi lantai marmer rumah.
Cowok itu tahu tidak seharusnya ia ikut campur, tapi melihat Anna selemah ini cowok mana yang tega.
"Om! Om gak bisa liat ya Anna sedang terluka. Kalau mau menyakiti anak sendiri jangan tanggung-tanggung Om! Anak itu hadiah dari Tuhan tapi Om malah menyiksa anak sendiri. Karma selalu menanti di belakang. Ingat perkataan ini Om, gue Arkana bakalan jadi orang pertama yang lihat Om menyesali semua ini. Dasar orangtua tidak tahu diuntung!!"
Mungkin Ryan mendengar umpatan itu tetapi pria itu menghiraukan begitu saja. "Tolongin Den. Bantu Bibi bawa non Anna kerumah sakit," ujar Bi Rina menyentuh kedua tangan Arkana.
Cowok itu langsung mengangguk dan mengangkat tubuh tak berdaya Anna dalam pelukannya, keluar dari rumah diikuti Bi Rina dari belakang. Mereka menghentikan sebuah taxi menuju rumah sakit.
Di dalam taxi, Arkana bisa melihat jelas pemandangan mengerikan itu. Wanita tersebut menunjukkan satu persatu luka lebam di tubuh Anna. Arkana tidak bisa berkata banyak setelah apa yang ia lihat di beberapa bagian tubuh Anna yang dipenuhi luka lebam.
Terlihat baik-baik di depan semua orang tidak lantas bisa disimpulkan kalau orang itu sedang baik-baik saja. Seperti Anna, gadis itu ternyata terluka. Tidak hanya luka batin tapi Anna menderita luka fisik juga.
Kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya berputar dalam ingatan Arkana. Sekarang ia tahu sebagian besar apa yang membuat Anna berubah seperti sekarang ini. Ini bisa disebut trauma. Semua kenyataan itu benar-benar membuat dirinya syok. Bahkan keluarga yang dianggap sebagai rumah nyatanya tidak selalu jadi tempat persinggahan untuk kembali.
"Kamu harus janji Den Arkana. Jangan mengatakan hal ini pada siapapun. Tolong rahasiakan ini dari siapapun. Bibi mohon Den."
Arkana tidak bisa janji, terlebih ia tidak bisa berbohong, tapi sebisa mungkin ia akan berusaha semampunya. Iris matanya tak henti menatap Anna yang sekalipun tidak sadarkan diri masih mengeluh kesakitan.
Sesampainya dirumah sakit Anna dengan cepat langsung ditangani Dokter. Arkana terlihat berbincang serius dengan Bi Rina di depan ruang rawat gadis tersebut sampai pada akhirnya.
"Saya izin pulang dulu ya Bi. Bibi bisa hubungin saya nanti. Itu nomor telepon Arkan Bi."
"Baik Den. Sebelumnya makasih bangat Aden udah bantuin Bibi bawa non Anna kemari."
__ADS_1
"Sama-sama Bi. Permisi ya Bi."
Setelah kepergian Arkana, beberapa detik kemudian dokter yang memeriksa keadaan Anna keluar dan berdiri di depan pintu ruang rawat Anna. Segera beliau menghampiri dokter tersebut.
"Bagimana keadaannya, Dokter?" Wanita paruh baya itu menatap wajah sang dokter yang kebetulan masih muda sekitaran usia 30-an.
"Keadaannya baik-baik saja Bu. Dia gadis yang kuat. Semuanya baik-baik saja. Anda tidak perlu secemas itu, tapi maaf kalau saya ikut campur. Apa yang terjadi dengannya? Mengapa tubuhnya banyak luka lebam? Apa—"
"Itu tanda lahirnya, Dokter," ujar Bi Rina singkat. Sang dokter hanya bisa mengangguk kecil walau ia tahu itu bukanlah lebam biasa atau pun tanda lahir.
Disaat keduanya mengobrol sosok yang dibicarakan tiba-tiba saja keluar dari ruang rawat. Bi Rina spontan mendekap tubuh lemas Anna kemudian mengamati pergelangan tangannya yang sudah diperban.
"Makasih banyak Bibi udah bawa Anna kemari. Kalau ngga ada Bibi entah gimana nasib Anna."
"Sudah tugas Bibi Non. Sekarang kita pulang ya. Ayahmu pasti khawatir..." ucap Bi Rina walau mendapat tatapan tidak enak dari Anna.
Bi Rina membawa Anna pergi dari hadapan dokter itu namun belum dua langkah berjalan Dokter itu mengatakan sesuatu.
"Tunggu sebentar," cegat sang Dokter membuat Anna dan Bi Rina menoleh kembali. Dokter itu menghampiri keduanya. Kali ini mata itu menatap wajah Anna intens.
"Jaga kesehatanmu Anna. Jangan terlalu bersikeras mengerjakan sesuatu. Jika waktunya istirahat, kau harus istirahat. Kalau terjadi sesuatu datanglah ke rumah sakit ini dan ini.. ini resep obat yang bisa kau beli di apotik terdekat. Jangan sampai lupa meminumnya."
"Terimakasih, Dok. Kita izin pamit," tutur Anna menunduk lalu melangkah pergi bersama Bi Rina menjauh di koridor rumah sakit.
"Hanya Tuhan yang punya jawaban pasti untuk keadaanmu sekarang Anna. Apa kau sudah tau penyakitmu ini?"
...🍁🍁🍁...
"Gimana pun Na keadaan lo sekarang, lo perempuan kuat yang pernah gue kenal," gumam Arkana naik ke atas motor dan menyalakan mesin motornya.
Sebelum ia pergi, Arkana kembali menoleh menatap rumah mewah milik keluarga Williams. Tampilan luar saja bisa menipu ya. Tidak ada yang tau bagaimana satu keluarga di dalam rumah itu menjalani hari-hari mereka.
"Tidak semua. Tidak semua orangtua bisa jadi rumah untuk anaknya."
Arkana pun berlalu dari sana dengan perasaan cemas. Cemas memikirkan bagaimana jadi Anna selama ini dan cemas bagaimana kabar gadis itu sekarang. Arkana menambah kecepatan motornya agar tiba tepat waktu di taman. Taman samping alun-alun kota, tempat dimana teman-temannya menunggu.
"Woi, Arkana!" sapa Rogan mendekati Arkana yang baru turun dari atas motor. Tubuhnya dirangkul Rogan lalu berjalan bersama-sama ke arah Sean, Satria dan Davian berada.
"Lo lagi gabut makanya ngajak ngumpul disini?" Arkana berujar seraya menatap Sean.
"Bukan gue. Rogan mau balapan malam ini."
"Balapan?" Arkana mengernyit. Tatapannya beralih pada cowok yang lengannya masih betah melingkar di pundaknya. "Merasa hebat lo ngajak orang balapan? Siapa lawan lo? Berapa tarifnya?"
"Adalah pokoknya. Soal tarif, kalau gue menang gue bisa jajanin lo sampai setahun. Mantap kan," kata Rogan menepuk-nepuk pundak Arkana berulang kali. Mendengar jajanan tak heran Arkana biangnya.
Cowok itu langsung tersenyum lebar dan merangkul balik pundak Rogan sampai tubuh cowok itu mendekat ke dada Arkana.
"Homo lo berdua?" celetuk Davian saat melihat Arkana mengacak-acak rambut Rogan. Melihat tatapan aneh dari Sean dan Davian Arkana dengan cepat melepaskan tangannya merangkul Rogan.
__ADS_1
"Otak lo perlu di cuci tuh pakai racun tikus biar lebih fresh mikirnya," kata Rogan merapikan rambutnya dan menyiku lengan Arkana sengaja.
"Apaan sih anjir," celetuk Arkana kepada Rogan.
"Gan, sana giliran lo sekarang," kata Satria menghentikan kegiatan mereka.
Cowok itu segera meraih helmnya dari atas motor Sean. Saat Rogan mengenakan helmnya, Arkana lagi-lagi melompat merangkul cowok itu.
"Kata Sean kalo lo benaran bisa menang dia tambahin lima juta."
Rogan melihat kebelakang. Matanya memandang Sean yang tampak mengerutkan dahi seolah berkata ada apa? lewat lirikan matanya.
"Minggir lo! Penipu anjir...." Arkana langsung tertawa ngakak sambil meninju lengan Rogan. Setelah itu Arkana memberikan tepukan semangat pada sahabatnya sebelum ia bergabung ke barisan awal balapan di depan sana.
"Gimana Anna tadi sore? Lo antarin dia pulang?" Sean tiba-tiba sudah berdiri di dekat Arkana membuat Arkan terkejut. Mereka kini sudah berada di pinggir area balapan menunggu kedatangan Rogan menuju garis finish.
"Anna? Oh, dia selamat sampai tujuan. Kenapa?"
"Gak apa-apa. Thanks udah bantuin gue."
"Gak masalah, asal jatah gue besok di kantin lo amanin." Sean mengangguk pelan dan membuat Arkana tersenyum senang. Kapan lagi ia bisa sesuka hati seperti ini pada Sean.
Lima belas menit kemudian teriakan mengalun memekakkan telinga melihat kedatangan Rogan lebih dulu sampai di garis finish.
"Gila tuh si Rogan..." kata Arkana.
"Rogan, Rogan, Rogan!" Suara pendukung Rogan kembali terdengar. Cowok itu turun dari atas motornya dan beberapa para pemain yang ikut balapan malam ini menyusul dari belakang. Kedatangan Rogan langsung dikerumuni pada pendukungnya, termasuk keempat sahabatnya yang mengacungkan jempol padanya.
"Selamat Yo. Malam ini kemenangan ada di tangan lo. Ini uang milik lo semua. Oh, iya. Gue masih belum mengakui kekalahan gue. Lain kali lo masih mau kan balapan sama gue?"
Rogan menerima amplop tebal yang ia yakini uang taruhan mereka berlima malam ini dari tangan Jonas. "Thanks Jo. Pasti gue siap balapan lagi sama lo. Jangan lupa calling gue kapan pun lo siap."
Cowok bernama Jonas mengangguk pelan dan menepuk dua kali pundak Rogan. Setelah itu Jonas membawa massa nya pergi meninggalkan area balapan mereka malam ini. Tempat itu benar-benar sepi setelah balapan liarnya usai. Sean dan yang lainnya datang menghampiri.
"Lo langsung balik, Sean?" panggil Rogan membuat Sean yang memakai helmnya mengangguk.
"Duit kemenangan gue?" Lanjut Rogan membuat Sean langsung menatap tajam ke arah Arkana.
"Cuman bercanda gue," kekeh Arkana bersembunyi di belakang tubuh Davian.
"Besok."
Sesingkat itu dan Sean mengiyakan. Arkana menganga. Sean serius memberi uang sebanyak lima juta kepada Rogan secara cuma-cuma?
"Serius lo, Cok? Gue mah tadinya cuman bercanda, njir. Kenapa malah dianggap serius."
"Iya gue lagi serius dan sebagai ganti lima juta uang gue lo jadi babu gue enam bulan kedepan," ujar Sean membuat Arkana langsung menelan salivanya kasar.
Rogan pun terkekeh. Satria dan Davian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya.
__ADS_1
- to be continued -