In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 48


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Seminggu setelah kejadian yang menimpa Anna sampai harus dirawat intensif di rumah sakit, hari ini gadis itu sudah diizinkan pulang. Namun, dengan satu syarat gadis itu harus rajin mengonsumsi obat yang sudah di resepkan dokter.


Sebelum Anna bergabung dengan Leon dan Alice di lorong rumah sakit, dokter David yang merawat Anna selama berada ditempat itu meminta untuk mengobrol sebentar di ruangannya. Leon setuju dan Anna langsung berjalan ke ruangan dokter itu seorang diri.


"Permisi, Dok," sapanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu yang sedikit ia buka. Disana sudah ada Dokter David--pria paruh baya yang bisa ditebak berusia kepala lima atau mungkin enam puluhan lebih.


Beliau sibuk dengan pena dan secarik kertas di atas mejanya. Sampai ketukan di pintu membuat pria itu menoleh sebentar.


"Silahkan masuk, Anna."


Setelah mendapat izin untuk masuk, Anna melangkah lebar dan tidak lupa menutup pintu itu kembali. Namun, langkahnya mendadak terhenti dengan terbelalak ketika seseorang yang ia hindari selama beberapa bulan belakangan ini duduk di sofa dengan mata tajam menatap dirinya. Selain matanya yang bisa membunuh Anna sekejap, tangan pria itu juga melambai padanya.


Sorot mata itu kian membuat Anna ketakutan. Pria itu memang begitu tampan, Anna sangat akui itu dengan jujur. Beberapa bulan lebih tidak melihat pria itu, Anna benar-benar terpukau.


Dia mengamati semuanya, mulai dari tatapan mata, hidung mancung, bibir tipisnya sampai potongan rambutnya model comma hair perpaduan yang sangat sempurna.


Apa yang dilakukannya di sini, gumam Anna dalam hati.


"Sekarang kau tidak bisa kemana-mana lagi, keponakan. Kau terlalu keras kepala jika diingatkan berulang kali. Kita bertemu lagi," ujar Dokter tampan, bernama Alexander, yang baru saja bangkit dari sofa dan berdiri di samping meja di hadapan Anna.


Anna yang masih betah menatap pria itu hingga berdiri di samping meja dokter David dengan cepat sadar dari lamunannya.


"Duduklah Anna. Tidak usah memperhatikan dokter Alexander," ucap Dokter David kepadanya.


"Ah, iya. Terimakasih, Dok."


Anna menarik pelan kursi di hadapan meja itu lalu mendaratkan bagian belakangnya dengan nyaman. Duduk dengan tegak seraya kedua tangannya bermain di atas paha. Sesekali Anna melirik Dr. Alexander di sebelahnya. Mata pria aneh itu tidak berhenti menatap dirinya sejak ia datang dan duduk dengan anggun.


"Tidak aku sangka kau masih sanggup bertahan Anna. Apa yang kau makan sampai bisa sekuat ini?"


Dokter Alexander mendekatkan wajahnya memperhatikan Anna lebih dekat. Anna yang merasa diintimidasi langsung membuang muka ke arah lain.


Dokter David memukul kepala pria itu keras membuat Anna tercengang. Dokter Alexander langsung mengaduh kesakitan dan mengusap kasar kepalanya.


"Apa yang Ayah lakukan?!"


Ayah? ucap Anna dalam hati.


"Kau duduk saja disana. Jangan menganggu pekerjaan ayah. Entah apa yang kau inginkan sampai datang kemari? Kau punya rumah sakit sendiri, Alexander..."

__ADS_1


Kini tatapan itu beralih pada Anna. "Kau mengenal Dokter Alexander ini, Anna?" tanya Dr. David. Gadis itu menoleh dan mengangguk seraya melirik sinis pada dokter Alexander.


Jelas aku mengenalnya. Dia dokter paling kejam yang aku temui, lanjut Anna dalam hatinya.


"Siapa yang tidak mengenalku ayah. Aku dokter paling tampan di kota Bandung ini dan gadis dihadapan ayah ini dia gadis yang Alex ceritakan dua bulan lalu. Dia putrinya Naura, adik kandung Tante Sekar," jelas Alexander pada ayahnya, Dokter David.


Anna? putri Naura?


"Benarkah kamu Anna, anaknya Naura?" Dengan wajah bingung Anna lantas mengangguk.


"Ah, pantas saja saya tidak asing dengan wajahmu ini. Ternyata kau putrinya Naura. Karena kita sudah bertemu jangan sungkan pada Om ya. Saya juga keluarga jauh dari ibumu dan ya Dokter Alexander ini putra saya. Kamu pasti tidak kenal saya karena ibumu tidak pernah ada waktu mengenalkan mu dengan kami keluarga dekatnya dulu. Dr. Alex ini akan meneruskan pekerjaan saya jadi—


"Langsung ke intinya saja, Dok. Abang saya tidak suka menunggu soalnya," cetus Anna memotong ucapan dokter david. David terkejut dan Alexander hanya berdecak pelan saja sembari memutar matanya malas.


Putrimu ini memang duplikat mu Naura. Dia sama kerasnya denganmu, lanjut David dalam hati.


"Baiklah, baik. Cukup mengobrol nya ya. Kita masuk ke bagian yang paling lebih serius," ujar Dokter David seraya menautkan kedua jemari tangannya di atas meja.


Sementara Dr. Alexander masih betah berdiri disisi meja seraya melipat tangan di depan dada. Telinganya mulai siap mendengar hasil pemeriksaan gadis keras kepada di hadapannya.


Kedatangan Alexander di tempat ini bukan karena ia dokter disini tapi karena memang tiga kali seminggu ia datang melihat ayahnya dan kebetulan ia tidak sengaja berjalan di lorong rumah sakit dan melihat gadis itu sedang dirawat.


"Penyakitmu ini sudah memasuki stadium 2. Tingkatan yang cukup rawan untuk dihadapi. Apa kamu tidak ada niat untuk melakukan kemoterapi. Leukimia yang kamu derita masih bisa disembuhkan jika kamu rajin melakukan kemo dan mengonsumsi beberapa obat khusus."


"Tak perlu, Dok. Untuk apa aku melakukan itu kalau memang sudah waktunya, semuanya akan pergi—termasuk aku."


"Saya tau, Dok. Tapi tetap saja saya tidak ingin sembuh."


"Apa masih ada yang ingin dokter katakan. Kalau tidak ada, saya izin pamit. Terimakasih sudah merawat saya selama seminggu ini."


"Menyerah bukanlah satu-satunya jalan keluar Anna. Hidupmu masih panjang. Banyak orang yang peduli dan sayang padamu. Kita lakukan sekali saja. Datanglah minggu depan."


Dokter Alexander melepaskan pegangannya. Setelah itu Anna berjalan ke luar dari ruangan itu. Ia terdiam sebentar lalu mengusap pipinya lembut.


"Aku tidak suka dikasihani..."


...•••...


Sera tersenyum lebar saat melihat sebuah mobil berwarna hitam milik Brian terparkir di seberang jalan depan sekolahnya. Setelah menunggu hampir tiga jam lebih setelah keadaan sekolah benar-benar sepi dan satpam sekolah juga sudah pulang, Sera akhirnya berjalan menghampiri mobil hitam itu lalu membuka pintu depan sebelah kemudi.


Sera menoleh pada laki-laki yang duduk di kursi kemudi. Sosok Brian dengan penampilan yang jauh dari biasanya—memakai kaos hitam polos dibalut jaket kulit dengan celana jeans robek dibagian lutut. Satu tangannya memegang kursi kemudi dan satu tangan lagi meraih sesuatu dari kursi belakang.


Sebuah paper bag hitam mendarat di pangkuan Serta membuat gadis itu mengernyitkan dahi sekaligus melirik isi dari paper bag ditangannya.


"Gue kesini bukan niat ngantarin lo pulang. Tapi lo bakalan temanin gue ke klub ntar malam. Gue ada pertemuan disana."

__ADS_1


"Club? Gue ngga—"


Brian menoleh sambil mencengkram kuat lengan Sera. "Gue ngga ingin dengar alasan apapun. Gue bawa lo kesana bukan untuk melakukan hal lain."


"Boleh ajak Ghea?" ucap Sera sambil melepaskan genggaman Brian di lengannya yang kian terasa sakit sampai memerah.


"Ngga! Gue ngga ada urusan sama teman lo itu. Gue cuman butuh lo ikut sama gue."


Sera tidak menjawab lagi. Ia memilih diam dari pada meributkan hal yang bisa berujung buruk pada dirinya sendiri.


"Ganti seragam lo dengan pakaian yang ada di dalam paper bag itu. Cepat!" Sera menoleh. Ganti? Apa iya ia harus menggantinya disini?


"Disini?" tanyanya karena ia bingung.


"Mau dimana lagi? Lo mau ganti di luar biar semua orang lihat tubuh lo?" Sera menelan ludahnya kasar. Mulut Brian memang tidak pernah berbicara manis padanya. Terkadang Sera sakit hati karenanya tapi ia sangat sangat sayang dengan Brian. Jika ia membantah Brian bisa melakukan hal hal yang tidak ia inginkan.


Sera melepaskan tas sekolahnya, menaruhnya di kursi belakang. Setelah itu, membuka seragamnya tanpa canggung, meninggalkan tank top putih serta celana pendek hitamnya di badan. Semua pergerakan kecil Sera tidak lepas dari pandangan Brian. Ini bukan pertama kalinya untuk cowok itu lihat. Apa yang Brian lihat sekarang sudah terlalu biasa untuknya.


"Sepatunya?" ujar Sera. Brian hanya berdehem pelan membuat Sera menurut dan melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Mengeluarkan heels lima centi warna hitam dari Paper bag yang sama.


Ia sempat terkejut melihat semua barang yang ia kenakan. Ini bukanlah barang-barang yang murah untuk dibeli. Sera tau harga dari semua semua barang yang ia pakai. Mulai dari dress merah hingga sepatu heel, anting dan kalung di lehernya.


"Apa masih lama?" tanya Brian membuat Sera menoleh pada kekasihnya. Sera tidak menjawab tapi ekspresi wajahnya bisa dibaca Brian. Gadisnya sedang kesusahan mengaitkan heels nya.


"Hadap gue. Angkat kaki lo ke paha gue. Cepat!"


Sera dengan gerakan cepat memiringkan tubuhnya dan mengangkat kaki kirinya ke atas paha Brian. Cowok itu menyentuh pergelangan kakinya, mengaitkan tali heels nya dengan benar.


Apapun yang Brian lihat sekarang itu bukanlah disengaja. Mengenai dress yang Sera pakai hingga mengekspos dadanya itu ia beli asal asal pilih. Brian memang tidak salah pilih menjadikan Sera sebagai kekasihnya hampir tiga tahun ini. Bermain dengan Sera memang menyenangkan tapi untuk melepaskan Sera tidak pernah terbesit sekalipun di pikiran Brian.


Setelah selesai, Sera menarik kembali kakinya. Duduk tegak sambil mengibas rambutnya ke belakang. "Eh?" gumamnya saat jaket milik Brian terlampir di pahanya.


"Pakai jaketnya. Gue masih normal lihat badan lo yang buat gue sakit mata." Sera merunduk melihat dirinya. Tangannya dengan cepat menutup dadanya lalu memakai jaket milik Brian yang harum khas cowok itu. Setelah semuanya aman, Brian mulai menjalankan mobilnya.


"Mau makan?" Sera mengangkat pandangannya. Kali ini tidak menoleh pada sosok yang berbicara padanya. Ia hanya mengegeleng pelan membuat Brian mengangguk-angguk.


"Ternyata Ghea dan Anna itu saudaraan." Brian melirik Sera sedikit, sorot matanya tampak berbeda. "Gue dengar itu dari mulut Anna sendiri saat kita menyekap Anna di gudang sekolah yang lama."


"Jadi tuh cewek masuk rumah sakit benar-benar karena ulah lo berdua? Ck! Gue udah bilang sama lo jaga jarak dari Ghea. Lo bodoh atau memang sengaja mau main-main bareng dia?"


"Dua-duanya nggak. Gue lakuin itu karena Ghea bilang lo suka sama Anna. Ghea juga bilang kalo lo tertarik dengan Anna dan bakalan ninggalin gue."


Usapan lembut di puncak kepala Sera membuat gadis itu melirik keberadaan Brian.


"Itu alasan gue ngelarang lo dekat sama Ghea. Lo pikir otak Ghea itu sehat? Ngga. Lo lihat sendiri kan gimana cara dia ngebully orang-orang disekolah. Lo juga mau ajah ikut-ikutan sama dia. Tau ngga kenapa gue gak pernah ngomong ini sama lo? Karena gue tahu Ghea bakalan cuci otak lo dengan mengatakan hal-hal yang mustahil buat gue lakuin."

__ADS_1


"Kita berdua bukan pacaran sebulan lagi tapi hampir tiga tahun dan Lo sendiri pun tahu. Sekali gue ngelarang dan dibantah ya gue akan peduli lagi termasuk lo. Setelah gue pikir-pikir lagi gue ngga akan mungkin biarin lo jadi anjing peliharaan Ghea sampai tamat sekolah nanti."


- to be continued -


__ADS_2