
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
Setelah Sean pergi dari area rumah sakit, melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan ibu kota yang super macet di malam jam-jam tinggi seperti ini, akhirnya cowok berambut hitam pekat, alis mata super lenting dan bibir sexyable benar-benar menggambarkan ciptaan Tuhan yang sempurna tiba di area yang sudah dikirimkan padanya.
Cowok itu memarkirkan motor hitamnya sembarangan di depan gerbang setinggi dada orang dewasa yang tidak terkunci. Area tempat itu benar-benar gelap dan hanya ada satu tiang lampu berdiri kokoh disana. Selebihnya Sean mengandalkan senter handphonenya.
Sean mendorong pintu yang mulai usang di depannya dan melangkah masuk ke dalam gudang tua tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara rintihan kesakitan mulai mengalun di telinganya. Tanpa menimbulkan perhatian, Sean masuk ke sebuah ruangan yang minim pencahayaan.
"Tepat waktu Sean, sebelum si pecundang ini habis di tangan kita," kata Galih ketika Sean melangkahkan kakinya di ruangan itu.
Galih menatap kedatangan sosok yang sejak tadi ia tunggu. "Bayar gue lebih sesuai kesepakatan kita sebelumnya, soalnya tangan gue kebas habisin si gob*lok ini."
"Sesama teman masih perlu nanya harga?" ucap Sean menyunggingkan senyum devil nya.
"Dia bercanda Sean. Jangan buang waktu lo ladenin dia, Galih lagi stress diputusin pacarnya."
"Jangan bahas dia disini," ucap Galih melototkan matanya kepada Arkana.
"Sorry..." jawab Arkana jutek.
Di ruangan yang gelap, lembab dan minim pencahayaan, Sean berdiri berhadapan dengan seseorang yang telah lama ia cari keberadaannya. Sempat ia putus asa dan menghentikan pencarian pelaku penganiayaan pada sepupunya, namun akhirnya sosok itu justru datang sendiri menunjukkan batang hidungnya.
Galih dan dan Gian berdiri di depan pintu gudang. Siapa mereka? Dia adalah sahabat Sean dalam suka dan duka sebelum ia datang ke Starlight High School.
Jika dibandingkan dengan Satria dan Arkana, kedua cowok itu lebih lama berteman dengan Sean. Baik buruknya Sean mereka lah yang lebih tau.
"Gue gak nyangka setelah tujuh bulan berlalu dia berani juga nunjukin muka di depan kita," ujar Gian menyalakan pemantiknya pada sebuah rokok yang terselip di bibirnya.
"Ya biasanya gak jauh-jauh mikirnya. Mungkin dia butuh uang tambahan makanya berani mau ketemu Sean."
"Nasibnya..." ujar Gian mengembulkan asap rokoknya diudara. Sementara Sean, cowok itu menepuk-nepuk pelan wajah laki-laki dihadapannya.
Setelah orang itu mengangkat pandangannya dengan mata menyepit karena memar di sudut mata, barulah ia menyadari kalau Sean lah yang berdiri di depannya.
Luka dimana-mana, darah segar dari pelipisnya juga masih mengalir pelan membasahi wajahnya tampannya. Namun yang paling menyakitkan bukanlah perasaan iba melainkan sebuah kenyataan pahit yang harus Sean dengarkan keluar dari mulut laki-laki itu.
"Jadi benar dia yang nyuruh lo lakuin itu sama sepupu gue?" tanya Sean dingin dan sedikit ketus. Suara beratnya mampu mendominasi gudang tua itu saat ini.
"Lo minta gue jujur dari tadi. Kenapa sekarang lo malah nanya balik?!"
__ADS_1
"Gue ngga minta lo ngomong panjang lebar! Jawabannya hanya satu, iya atau tidak!" Sarkas SeN setelah melayangkan satu pukulan di rahangnya.
"Gue baru lihat Sean semarah itu. Apalagi tinjunya itu pasti terasa sakit bangat," bisik Arkana di telinga Satria.
"Diem deh lo! Orang pendiam bianya lebih rawan," sahut Satria membuat Arkana langsung menutup mulutnya rapat.
"Jadi lo berdua benaran saudara kembar?" tanya Satria pada Galih dan Gian. Keduanya pun mengangguk mengiyakan.
"Gue lebih dulu lahir," ucap Galih. "Biar gue abangan dia lebih berbahaya dari gue. Lo berdua harus hati-hati sama Gian."
Galih yang iseng menakut-nakuti teman Sean langsung mendapat serangan keras di bagian perut setelah Gian mendaratkan satu pukulan keras.
"Arghhh..." rintih Galih memegang perutnya. "Lihat kan. Dia sangat liar," kekeh Galih merangkul Gian bahkan menepuk-nepuk pelan dada cowok itu.
"IYA! DIA YANG NYURUH GUE BUAT LAKUIN ITU SAMA SEPUPU LO. PUAS!!"
"Gue baru puas!" sahut Sean tak kalah lantang dari suara cowok itu. Sean lalu menoleh pada Gian dan Galih. Melihat lirikan yang diberikan Sean, keduanya pun mengangguk paham dan berjalan ke arah Sean berada.
Kedua cowok itu saling pandang lalu tersenyum miring menatap laki-laki yang duduk di kursi. "Jangan sampai mati. Gue masih butuh dia ngomong suatu hari nanti..."
"Kalo kita main bentar gak masalah dong ya..."
"Terserah. Gue cabut duluan," ucap Sean merapikan pakaiannya lalu beranjak dari tempat itu bersama dengan Satria dan Arkana.
...â˘â˘â˘...
Jalanan ibu kota pada pukul 21.30 begitu padat dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara pengendara motor sport Honda CBR 250RR berwarna hitam begitu melaju kencang dengan kecepatan di atas rata-rata membelah lautan kendaraan yang memadati jalanan ibu kota.
Tidak peduli dengan makian yang terdengar dari pengendara lain saat klakson motornya memekakkan telinga. Sesampainya di tempat tujuannya, Sean mencagakkan motornya, melepas helm full facenya lalu turun dari atas motor.
Ia melangkah lebar memasuki rumahnya, pandangan itu kini menyapu bersih sudut demi sudut rumah, mencari sosok tersebut tapi tak ada siapapun disana. Sampai suara panggilan dari arah belakangnya membuat Sean berbalik badan.
"Lo datang?"
Suara bernada berat yang sangat familiar di sepasang telinganya sontak membuat laki-laki yang masih mengenakan seragam abu-abu berbalutkan jaket hitamnya yang ia biarkan terbuka menatapnya datar. Sean mulai mengamati sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Masih sama seperti setahun yang lalu, pikirnya.
Rambut hitam legamnya begitu acak-acakan. Rahang tegasnya yang begitu sempurna tidak bisa Sean tampik kalau cowok di hadapannya itu benar-benar tidak berubah sama sekali.
"Masih ingat pulang lo? Kenapa pulang, hah?! Duit lo untuk foya-foya udah habis makanya ingat pulang?" cecar Sean pada sosok dihadapannya.
"Ck. Santai ajah kali. Gue baru pulang bukannya lo tawarin minum atau apa malah nyerang duluan dengan topik lama."
"Langsung ajah. Lo ada apa datang kemari? Mau caper lagi sama bokap? Atau mau nguras harta bokap lagi?"
__ADS_1
"Brengsek! tutup mulut kotor lo itu!" seruan dari lawan bicara Sean terdengar marah, menggelegar dalam rumah yang begitu sepi. Sean melangkah maju mendekat pada laki-laki itu. Kini keduanya saling adu pandang.
"Gue datang kesini bukan cari ribut sama lo. Gue datang karena permintaan kakek. Beliau minta lo datang kerumah," ujar cowok itu.
Sean justru berdecak meremehkan. "Pria tua itu masih ingat sama gue? Gue bukan siapa-siapanya jadi buat apa kesana? Pentingkah?"
"Sean!" bentak Nataniel. Ya, dia adalah Nataniel, kakak angkat Sean yang tidak banyak orang tahu dan laki-laki yang selalu diagungkan oleh kakeknya bahkan selalu dibandingkan dengan dirinya.
Selama tiga tahun lebih Nathaniel tinggal di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas di Australia. Nathaniel selalu dikatakan cucu yang berbakti, penurut, bisa diandalkan dan tidak mau membangkang segala perintah yang dikatakan kakeknya. Sementara Sean, apalah, dia selalu jadi kebalikan dari Nathan. Itu menurut kakeknya bukan keluarga yang lain.
"Apa? Mata lo buta gak bisa liat gue diusir dari rumah itu. Gue dibuang bahkan nama belakang pria sialan itu sama sekali udah gak ada dinama belakang gue!"
Tinjuan keras dari Nathan mendarat tepat dirahang Sean membuat sang empu oleng ke kanan dengan decihan keras lolos dari bibirnya.
"Ngomong sekali lagi gue hancurin wajah lo, Sean! Harusnya lo tahu diri sedikit. Mulut lo kemajuan ngomong kayak gitu," desis Nathan dengan tangan masih terkepal kuat di sisi celana training bergaris yang ia pakai.
"Tau diri apa, hah? Kenapa? Lo gak suka kalo gue ngomong gitu? Harusnya lo yang tau diri! Lo siapa dikeluarga itu? lo hanya manusia yang gak tau malu ngerusak satu keluarga demi diri lo sendiri. Anjing kan kelakuan lo! Perlu lagi gue buka lembaran lama hah?!"
"Mending lo pulang dan bilang pada mereka kalau gue gak bakalan pernah nginjak rumah pria sialan itu. Apapun yang terjadi gue gak bakalan kesana," ucap Sean santai dan kontan menyulut api kemarahan dari manik mata sosok di depannya.
Laki-laki bertubuh jangkung itu melayangkan kembali pukulan telaknya saat Nathan melangkah maju dan tepat mengenai rahang Sean kedua kalinya. Menerima pukulan sekeras itu membuat Sean yang jatuh tersungkur hanya tertawa kecil dan mengusap kasar sudut bibirnya yang berdarah dan berdenyut hebat.
Sean akui pukulan itu benar-benar terasa sakit. Ini pertama kalinya ia berkomentar dan langsung diserang dengan tinjuan tangan Sean sampai sensasi pukulan itu begitu pedih menyerang dirinya.
"Pukul lagi, anjir! Habisin gue dengan tangan besar lo itu! Lo kira sepuasnya lo mukul gue sebutan buatan lo itu bakalan hilang, gak akan! Pecundang kayak lo ini harusnya gak pernah ada di dunia ini! Kelakuan lo lebih-lebih dari binatang!"
"Lo balik kerumah karena lo nyesal sama kelakuan lo, iyah? atau lo mau berulah lagi?"
Tak tanggung-tanggung, laki-laki itu mendekat dan kembali menghajar Sean dengan satu bogeman mentah. Wajah memerah dengan geraham yang bergemeletuk geram.
"Gue gak pernah ngajarin lo ngomong sekasar itu, Sean! Lo mau dihargain tapi gak bisa ngehargain gue balik!"
Sean menghentakkan kedua tangan cowok itu. Ia maju dua langkah. Jarak dirinya dengan Dean hanya satu jengkal. Dengan jarak yang begitu dekat Nathan bisa merasakan deru napas sang adik begitu memburu dan tatapan yang tajam, sungguh menusuk pandangan Dean.
"Bacot lo udah basi!" ucapnya penuh penekanan di setiap kata yang terlontar.
"Cari tau defenisi menghargai dulu baru ngomong. Kayak udah benar ajah kelakuan lo selama ini. Hidup gue bukan urusan lo sejak lo buat masalah, jadi mending lo sekarang pergi dari rumah ini. Pria sekarat itu pasti gak betah kalo lo lama pulang."
Cowok itu menatap tak percaya padanya namun kilatan marah itu masih menyala nyala di kedua matanya. "Secepatnya lo bakalan menyesal, Sean," ujar Nathan dengan napas yang tak teratur.
"Bukan cuman gue tapi lo juga bakalan menyesal. Seandainya gue bisa mutar waktu gue pengen lo ngga pernah kenal dengan keluarga gue. Gara-gara lo semua impian gue sejak kecil hancur dan berantaman," lanjut Sean dalam hati.
Nathan berjalan gusar menuju ke arah depan, melewati pintu besar rumah dan menuju motor ninjanya yang terparkir di pelataran rumah. Ia menghidupkan motornya, tanpa basa-basi langsung pergi meninggalkan Sean dengan suara deru motor yang menggema seantro rumah. Cowok itu berdecih. Ia mengepalkan tangannya lalu menendang udara kosong disekitarnya. ****! umpatnya.
__ADS_1
- to be continued -