
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
Dorongan keras dari Ghea membuat Anna mengeluh kesakitan karena keningnya berdarah terkena sudut meja yang tajam. Kenapa selalu keningnya yang terluka? Ini sangat menjengkelkan.
Anna pun mengangkat pandangannya menoleh sinis pada Ghea yang tersenyum meremehkan. Tania yang memang tidak ada takutnya karena dia anggota OSIS paling disegani langsung bangkit dan mendorong tubuh Ghea. Melakukan hal yang sama sampai Ghea terjatuh di bawah meja.
Tidak sampai disitu, Tania menuangkan segelas orange Juice di atas kepala Ghea yang ia raih dari meja sebelah membuat Ghea mengamuk seperti singa kelaparan.
Kegaduhan di kantin itu menarik perhatian tiga laki-laki yang baru saja memasuki kantin. Siapa lagi kalau bukan Sean, Satria dan Arkana.
"Ada yang lagi ribut tuh," kata Arkana berusaha melihat siapa yang sedang dikerumuni orang-orang disana.
"Lah ... kayaknya tuh bocah gak bisa jauh-jauh dari masalah deh. Tuh Sean, Anna ribut lagi sama tunangan lo. Ada Tania juga tuh disana," ujar Arkana.
Sean pun memalingkan mata ke arah kerumunan yang begitu ramai di tengah kantin. Saking antusiasnya, Bu kantin juga berada disana membuat Sean semakin penasaran.
Sedangkan di kerumunan itu, Tania langsung berbalik badan menghampiri Anna. Luka di kening karena benturan di sudut meja itu membuat darah segar milik Anna jatuh hingga mengalir ke pelipis.
"Hidung lo juga berdarah Na, kita ke UKS ya sekarang biar sekalian gue obatin luka di kening lo," ujar Tania.
Anna menggeleng. Ia menolak pergi dan memilih tetap berada di tempatnya. Ia tidak terima jika harus dipermalukan seperti ini dihadapan semua orang. Dengan mengandalkan kedua tangannya di tepi meja, gadis itu bangkit dan kembali menyerang Ghea.
Belum sempat ia memulai aksinya, muncul tiga orang laki-laki disamping keduanya. Sosok Sean berdiri menjulang di hadapan Ghea dan Tania. Cowok itu berdiri di depan Tania, tepatnya cowok itu tengah berdiri menghadap Ghea. Ghea tidak menyangka kalau Sean akan datang ke kantin di belakang kelas mereka, mengingat cowok itu selalu makan dikantin lantai atas.
"Ngga bisa ya sehari aja lo dalam kondisi baik gue liat? Semalam lo udah luka dan sekarang ribut lagi sama Ghea. Hidup lo gini amat Anna," ujar Arkana dan Anna yang sadar kalau Arkana yang tahu betul apa yang terjadi padanya langsung menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Arkana yang paham maksud gadis itu langsung mengangguk dan menutup mulutnya.
"Jangan halangin gue, Sean!" amuk Tania menyentuh lengan kekar cowok itu. Tanpa berbalik Sean melirik lewat ekor matanya.
__ADS_1
"Minggir!" ketus Sean membuat Tania mendengus lalu mundur dan berada di dekat Anna.
"Jadi sekarang selain kerjaan lo menghina keluarga orang lo juga butuh kerjaan tambahan dengan menjadi cewek murahan seperti di foto itu. Itu lo sendiri, kan? Jago juga lo ngedit foto begituan," terang Sean.
Cowok itu terdengar terkekeh mengejek dengan singkat dan kembali memasang wajah sedatar mungkin. Sontak kerumunan di kantin pun kembali menegang. Banyak pro-kontra yang saling berseru disana.
"Ma-maksud lo apa? Kenapa lo ngomong gitu Kak. Gue ini tunangan lo, gak baik nuduh tunangan sendiri kayak gitu. Harusnya lo belain gue bukanâ"
"Berisik, anjir!" hardik Sean dengan alisnya hampir menyatu dan wajah berubah merah padam.
Semua orang yang berada disana termasuk Anna dan Tania tidak menyangka kalau Sean akan mengatakan itu pada Anna. Sekalipun itu terdengar kasar bagi perempuan, Sean tidak peduli. Jika sudah melewati batas tidak ada yang bisa menghentikan amarahnya.
"Lo pikir lo siapa diri lo ngeklaim gue jadi tunangan lo, hah?! Gue gak pernah setuju dengan pertunangan yang dipaksa dan gue lebih tau tabiat lo selama ini gimana, Gheaâgue memang bukan cowok baik tapi gue juga mikir berulang kali jadiin lo tunangan gue setelah apa yang udah lo lakuin dengan Dean."
"Buka mata lo lebar! Ngga capek apa selama ini lo jadi piala bergilir di sekolah ini bahkan sekolah lain juga lo dipake demi uang yang nilainya gak seberapa dibanding harga diri lo. Gue tahu siapa asli lo sebenarnya. Buka tuh topeng lo!"
Jleb!! Ghea menegang sambil menggenggam erat rok abu-abunya. Ia menatap Sean tak percaya. Kilat matanya terlihat jelas di mata cowok itu, kesal dan malu. Ini kesekian kalinya ia dipermalukan demi membela perempuan lain.
Air matanya meluruh membasahi pipi, mengalir dengan sendirinya lalu dia berlari keluar dari kantin dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ghea bahkan tidak tahu apakah besok dia masih mempunyai muka atau tidak untuk datang sekolah.
Kini Anna dan Sean berdua saja di ruang OSIS. Melihat Anna terluka dibagian dahi dan juga mimisan di kantin tadi membuat Sean dengan cepat menarik tangan gadis itu keruangan OSIS. Sean duduk di kursi panjang dekat jendela sementara Anna di dekat ranjang berdiri dengan wajah polosnya.
"Sini lebih dekat sama gue. Kening lo terluka itu." Sean menepuk kursi panjang yang ia duduki saat ini. Anna yang memang sejak tadi tak bersuara mengangkat dagunya, melirik keberadaan cowok itu sebentar.
Anna berdiri dan melangkah mendekati Sean. Ia duduk dengan kepala merunduk. "Kenapa lo nolongin gue lagi?" ucap Anna dengan bibir bergetar. Ia menatap Sean dengan mata lelah.
"Gue salah lagi, ya? Lo sendiri yang bilang kalau gue benar-benar peduli jangan setengah-setengah. Ini gue datang buat buktiin kalau gue gak akan pergi ninggalin lo."
"Jangan marah sama gue kalau gue terlalu kasar sama tuh cewek. Demi kebaikan lo gue rela cari tahu siapa orang yang berfoto dengan cowok itu. Dia bukan lo dan gue percaya sama lo."
"Lo kenal Dean?" tukas Anna pada Sean.
__ADS_1
Cowok itu menggeleng pelan seraya sibuk dengan peralatan medis di pangkuannya. "Arkana dan Satria yang cerita kalau dulu lo pernah dekat sama kakak kelas kita yang namanya Dean. Gue ngga tau sama sekali tentang dia tapi mereka yang cerita."
Kedua pundak Anna menurun lemas. "Kirain lo kenal sama kak Dean."Â Sean meraih hansaplast dan perlahan menutup luka di kening gadis itu.
"Lo memang secinta itu sama dia?"
Pertanyaan spontan keluar dari mulut seorang Sean membuat Anna terkejut. Tangan Sean yang masih berada di dahinya tidak sulit bagi Anna untuk melihat wajah cowok itu.
"Sama kak dean? Ah.. bukan sih cuman sekedar suka ya walau gue lebih dulu nyatain perasaan gue sama dia, dulunya."
"Dimana-mana cowok yang nembak perempuan, Anna. Lebih baik dikejar daripada mengejar."
"Yakin menunggu itu membuahkan hasil selalu? Gak ada yang pernah bilang kalau perempuan gak boleh ungkapin perasaannya sama orang yang dia suka. Kalau gue suka ya bakalan ngomong lah, masa diam ajah."
"Mending sekarang lo pergi sana tenangin Ghea. Dia kan tunangan lo. Dia lebih butuh lo kalau gue ngga papa sendirian disini. Udah biasa juga."
"Aww... Lo kenapa nyubit lengan gue?" rintih Anna menatap Sean sinis karena mencubit lengannya tiba-tiba.
"Lo tuli ya. Gue udah bilang dia bukan tunangan gue! Perlu gue ceritain sama lo kenapa sampai Ghea bilang dia tunangan gue?"
"Ngga perlu. Gak penting juga gue tau," ungkap Anna membuat Sean langsung memiting kepala gadis itu membuat tubuh Anna langsung menempel di dada bidang cowok itu. Perlakuan Sean yang spontan membuat Anna melototkan matanya. Apa-apaan ini?
"Eh, ngapain sih? Mesum bangat. Lepasin ah bisa-bisa gue mati lo buat!" Anna menepuk tangan Sean yang berada dibawah dagunya.
"Maaf, maaf. Habisnya lo yang gak mau percaya sama gue" sahut Sean merutuki kelakuannya barusan. Cowok itu lantas menjauhkan lengannya dari dada dibagian bawah dagu gadis itu.
"Iya iya gue percaya. Puas kan, yaudah sana minta maaf sama Ghea," kata Anna kembali melirik Sean. Sekarang ini Anna sudah berani melirik cowok itu cukup lama.
"Ada lo yang perlu gue tenangin dulu."
"Lo bilang apa sih?" ujar Anna gugup dan tak berani menatap Sean seperti tadi lagi. Nyatanya ucapan Sean barusan benar-benar membuat Anna merasa malu.
__ADS_1
"Eh..."
- to be continued -