
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
"Lo yakin bakalan lakuin itu sama Anna? Kalau sampai Sean tau lo kembali menganggu Anna, sampai kapan pun Sean bakalan benci sama lo."
"Sean ngga akan pernah tau masalah ini kalau mulut lo gak lancang ngomong sama dia. Sekarang keputusan ada di lo..."
...â˘â˘â˘...
Anna baru saja keluar dari perpustakaan setelah meminta buku paket milik Bu Aurora yang tertinggal. Belum satu langkah menjauh dari pintu, Anna dikejutkan dengan tangan seseorang yang membekap mulutnya dari belakang.
"Hmmppp...! Le-lepas-in!"
Anna memberontak. Ia mencoba melepaskan tangan orang itu dari mulutnya. Hampir saja terlepas, namun tiba-tiba ia merasakan rambutnya ditarik begitu kasar hingga Anna terjatuh di lantai.
Orang itu menyeretnya secara paksa menjauh dari perpustakaan hingga tubuhnya membentur sudut sebuah pintu.
"Lepasin.. lo bisa bunuh gue!"
"Memang gue berencana ingin bunuh lo hari ini juga, Anna! Lo itu parasit di sekolah ini. Sadar diri itu sangat perlu, tapi lo kayaknya gak pernah mikir kearah sana!"
Suara itu milik Ghea, batin Anna.
Tubuh kurusnya di dorong kasar masuk dalam sebuah ruangan yang gelap hingga suara pintu dibanting keras membuat Anna panik. Tangannya yang menyentuh lantai perlahan bergetar.
Gelapnya tempat itu membuat Anna sulit melihat siapa sosok yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Ia mencoba menyesuaikan indera penglihatannya saat benda penerang tidak jauhnya darinya menyala.
"Lo ngapain, hah?! Kenapa lo bawa dia kemari. Gue kan udah bilang kasih pelajaran kecil ajah. Lo tuli atau memang bodoh!"
"Gue ngga tau mau kasih dia pelajaran apa. Gue bingung. Gue takut kalau sampai Sean lihat dan tau gue apa-apain Anna."
"Bodoh! Lo memang gak bisa diandalkan, selalu ngerusak semua rencana gue! Kalau gitu kesempatan ini tidak boleh kita sia-siakan. Ini kesempatan buat lo kasih pelajaran buat Anna. Kalau lo ngga mau, siap-siap dah lo kehilangan Brian."
"Brian?"
"Iya Brian. Cowok Lo! Lo gak lihat cara Brian menatap Anna gimana saat mereka berpapasan di kantin, lorong sekolah bahkan di lapangan. Cowok lo sendiri pada akhirnya bakalan kecantol sama tuh cewek."
"Lihat sendiri. Anna itu cantik, pintar, dan gue yakin Brian bakalan putusan lo demi serbuk berlian seperti dia. Ingat yang dibilang Dion tentang Brian, Brian selalu terpana dengan cewek cantik yang terlihat polos. Lo orang pertama yang bakalan lihat Brian bersenang-senang dengan Anna."
"You know that Brian can do anything for anything he likes!"
"Itu ngga akan pernah kejadian, Ghea! Brian milik gue dan selamanya akan begitu. Siapapun yang mencoba mendekati Brian akan mati di tangan gue," ujar Sera greget.
Ghea tersenyum miring melihat Sera mengatupkan mulutnya. Sementara Anna yang terduduk di lantai yang lembab dan berbau menyengat tampak tidak asing mendengar suara barusan, walau ia tidak terlalu dengar jelas dengan apa yang mereka bicarakan, tapi sejauh ini ia tahu siapa orangnya.
Derap langkah kaki mendekat. Pandangannya fokus ke depan, dimana disana dua orang perempuan yang tidak asing baginya semakin mendekat.
Perlahan Anna yang terduduk di lantai dengan tangan terikat juga seragam putihnya begitu kotor mulai mundur dan mentok ke tembok.
"Sera...." ucap Anna setelah melihat orang itu adalah Sera. Langkahnya kian dekat juga disusul oleh Ghea yang melipat tangan di depan dada. Sera berjongkok menyamaratakan tingginya dengan Anna.
"Anna, Anna. Peringatan seperti apa sih sebenarnya yang bisa buat lo patuh? gue udah bilang jangan pernah mencuri perhatian semua orang. Gue benci lo di nomor satukan!"
"Sengaja kan lo cari perhatian Pak Malik buat masuk tim basket putri. Lo tahu kalau gue pengen gabung dengan mereka dan hanya satu orang yang dibutuhkan tapi karena lo yang gak sadar diri Salsa lebih milih lo ketimbang gue!"
"Lo salah. Gue sama sekali ngga tahu apa yang lo bilang barusan. Gue cuman disarankan gabung tapi bukan berarti gue setuju."
"Halah, bacot lo!" Sera menjambak kasar rambut Anna sampai kepala gadis itu mendongak.
"Sakit Sera, arghh..." lirihnya.
"Kâkalau lo gak suka gue masuk tim basket putri gue juga gak akan masuk. Kita bisa omongin semuanya baik-baik, Ser tapi bukan begini caranya."
"Gue ngga akan ikut kalau memang lo gak suka Ser. Please apapun yang lo dengar dari Ghea semua itu akal-akalan dia ajah supaya lo benci sama gue. Ingat kita dulu pernah dekat..."
"Tolong jangan begini. Gue tau lo baik, please..."
Melihat Sera yang begitu terpengaruh dengan rasa sakit Anna membuat Ghea mengambil alih. Ghea mendorong kasar tubuh Sera kesamping dan dengan sekali tarikan pada seragam yang gadis itu kenakan, mata mereka bertemu.
Anna limbung dan hampir kehilangan kesadarannya ketika tangan Ghea menyentuh pipinya.
"BANGUN, BRENGSEK!! JANGAN PURA-PURA MINTA DIKASIHANI!"
Ghea meneriaki Anna yang terlihat lemah dengan cara menampar pipi gadis itu secara bergantian kanan dan kiri.
"Bangun!!" bentak Ghea.
"Kenapa berhenti? Harusnya lo pukulin gue sampai puas. Ayo, pukul gue lagi, Ghea!"
"Apa salah gue sama lo? Kalau lo marah karena gue belakangan ini dekat dengan Sean, lo salah. Gue sama Sean cuman sebatas teman untuk acara pensi nanti dan gak lebih..."
"Banyak omong lo!"
"Argh!!" Ghea mendorong Anna sampai kepala gadis itu menghantam dinginnya lantainya.
"Mati ajah lo sana!"
Ghea menendang perut Anna dengan kuat membuat gadis lemah tak berdaya itu terbatuk mengeluarkan darah. Sekali lagi Anna mengeluarkan banyak dari dari mulutnya.
Sudut bibirnya membiru dan tak diduga sesuatu berwarna merah kental mengalir deras dari hidung. Kembali dan kesekian kalinya gadis itu mimisan. Ghea benar-benar perempuan iblis. Mungkin itulah nama yang cocok menggambarkan Ghea saat ini.
Dengan kasarnya, Ghea kembali menampar serta menendang perut gadis itu membuat Anna berusaha bangkit, berlutut dan memohon. Berjongkok seperti ini membuat Anna merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya.
"Please, jangan pukul gue lagi Ghe. Ingat gue se-sepupu lo. Gue ngga pernah ngelakuin hal yang ngga lo suka. Sean ngga akan pernah gue rebut dari genggaman lo, please..."
Sepupu? Mereka sepupu? batin Sera dengan menutup mulutnya saking tidak percayanya gadis itu mendengar perkataan Anna barusan.
Sera mendekat pada Ghea. "Jadi selama ini gosip itu benar? Anna benaran sepupu lo. G-gue... gue gak nyangka lo bakalan kayak gini sama sepupu lo sendiri, Ghea! Gueâgue ngga bisa kalau harus terusin ini lagi."
"Pantas ajah dari dulu lo ngga seenaknya sama Anna karena ini alasannya. Lo bersaudara..." Ghea berdecak kasar. Ia mendongak tajam melihat Sera yang kebetulan masih memandangnya.
"Kenapa? Kenapa kalau Anna itu sepupu gue? Semua yang gue lakuin dari dulu sama ini cewek sialan karena gue benci. Gue ngga ingin dia selalu dibanggakan orangtua gue di hadapan gue."
"Lo benaran iblis, Ghea!" cetus Sera.
"HAHAHAA!!"
Ghea tertawa begitu keras sampai suara tawanya memenuhi ruangan itu. Tawanya yang tidak pernah Sera dengar seperti itu membuat Sera memundurkan langkahnya. Ia sempat melirik Anna yang menggeleng pelan kepadanya.
"Kalau gue tahu lo berdua masih punya darah yang sama, gue ngga mungkin mau lakuin hal serendah ini sama Anna. Gue juga masih punya hati nurani..."
"Jadi sekarang pikiran lo udah mulai terbuka?" ucap Ghea bangkit dan saling berhadapan dengan Sera. "Mau dia saudari gue itu bukan urusan gue atau urusan lo!"
__ADS_1
"Lo engga lihat Anna udah selemas itu. Bahkan kayak orang sekarat. Dia bisa mati kalau lo pukul dia lagi. Kita bisa masuk penjara kalau sampai Anna kenapa-kenapa."
"Kalau Kinara tau kita ngelakuin hal ini, dia bakalan laporin kita sama keluarganya. Tantenya seorang polisi."
"Gue gak peduli! Minggir! Menyesal gue punya teman yang gak punya pendirian kayak elo ini!" berang Ghea mendorong tubuh Sera menjauh darinya.
"Sialan! Bangun woy!! Jangan pura-pura pingsan lo!" Ghea menepuk-nepuk kuat pipi Anna. Tak ada pergerakan dari gadis itu, hanya ada helaan napas yang tersendat-sendat.
Sera mulai bingung. Ia harus berpikir mencari cara agar ia bisa menghentikan Ghea yang mulai brutal menyakiti Anna. Sera semakin panik, jari tangannya ia gigit karena panik melihat Ghea mulai merobek-robek seragam Anna secara acak. Seragam atas Anna sudah rusak karena Ghea, mengekspos tank top yang Anna pakai hari ini.
Gue harus apa? batin Sera panik.
Melihat Ghea berdiri dan langsung menendang perut Anna, Sera sekuat tenaga mendorong tubuh Ghea hingga membentur sebuah meja dan jatuh di lantai. Melihat perbuatan Sera yang membantu melindungi Anna, Ghea mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
"Brengsek!!"
"M-maaf Ghe. Anna bisa mati. Anna masih manusia bukan binatang yang bisa lo siksa sesuka lo!"
...â˘â˘â˘...
Kinara yang sejak tadi menunggu kedatangan Anna sampai sekarang belum menampakan batang hidungnya. Sudah hampir satu jam gadis itu tidak kembali bahkan bel istirahat yang berbunyi lima menit lagi membuat Kinara sejak tadi berdiri di ambang pintu kelas mulai gelisah.
"Apa Anna ketiduran di perpus sampai setengah jam gak balik dari sana?"
"Ngawur," sahut Ria.
"Jadi kenapa belum balik juga sampai sekarang?" cetus Kinara. Ria hanya mengedikkan bahu.
"Kita cari Anna sekarang. Bisa jadi Ghea dan Sera gangguin Anna lagi."
"Yok Lah," jawab Ria.
Saking khawatirnya pada Anna, Kinara memberanikan diri bertanya pada Bu Mega, wanita paruh bayah yang selalu berjaga di perpustakaan ini sedang duduk di mejanya sambil membaca buku.
"Permisi, Bu," sapanya sopan.
"Ada apa Kinara?"
"Mau nanya sebentar Bu. Tadi ibu lihat Anna ngga datang kemari. Katanya dia tadi mau ambil bukunya Bu Aurora Bu."
"Anna? Iya, iya. Dia tadi datang kemari meminta buku paket Bu Aurora yang ketinggalan, tapi maaf Kinara, setelah itu ibu tidak lihat dia pergi kemana. Memangnya untung apa mencarinya? Mungkin saja di ada di kantin kan sudah jam makan siang," kata Bu Megha.
"Ah, begini Bu, saya dan teman-teman sudah mencarinya bahkan ke kantin juga tapi Anna tidak ada. Kalau begitu saya permisi ya Bu. Terimakasih banyak."
"Sama-sama, Nak Kinara."
"Tuh bocah kemana lagi sekarang? Asik hilang Mulu kerjaannya," kata Anna. Di depan pintu perpustakaan, Kinara mengeluarkan ponselnya dari saku rok berniat menghubungi gadis itu.
Dicoba beberapa kali tidak ada respon dari sang empunya, bahkan setelah sekian banyak ia mencoba tiba-tiba saja ponsel gadis itu tidak aktif lagi.
"Kinara!" Yesi dari ujung lorong memanggilnya seraya gadis itu berlari menghampiri. "Gimana? Anna ada di perpus?" tanya Yesi.
Kinara menggeleng pelan membuat Yesi menghela napas panjang. "Ponselnya juga tiba-tiba gak bisa dihubungi. Tadi masih bisa tapi sekarang udah gak aktif lagi. Aneh gak sih? Apa ini ulah Ghea lagi?" tebak Yesi asal.
"Ngga mungkin juga kan Anna di culik siang-siang bolong gini. Dia memang hobi bangat ilang-ilang," lanjut Ria.
"Kita harus cari kemana lagi?" kata Yesi berkacak pinggang sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru sekolah.
Kinara yang tidak semudah itu putus asa kembali mencoba menghubungi nomor Anna namun hasilnya tetap sama ponsel gadis itu tidak aktif.
"Heh? Ngapain sampai-sampai ke mereka sih? Gak usah. Anna pasti ada disekitaran sekolah," ucap Ria.
"Dimana lagi kita cari?" tanya Kinara sedikit kesal pada Ria. Seolah ia tidak khawatir pada Anna yang menghilang sejak tadi.
"Masa bodoh. Gue harus minta tolong Kak Sean. Selalu dia OSIS dia pasti mau bantu. Akhir-akhir ini juga mereka dekat." Kinara langsung mendial nomor telepon cowok itu.
"Oh, sialan. Kenapa telponnya tidak diangkat!"
"Iya kali cepat-cepat ngangkat telepon lo, Kin. Emangnya dia kenal sama nomor lo," kata Ria.
"Aish, diam deh ah."
Sudah hampir sepuluh kali Kinara menelpon tetap saja tidak ada balasan di seberang sana, ia terus mencoba, tidak menyerah ini kali yang ke sepuluh ia hanya berharap cowok itu mengangkatnya, dan benar saja sosok itu mengangkat panggilannya.
Ia bernafas lega dan mulai mendekatkan ponsel itu ke telinga. "Halo Kak. Ini gue Kinara."
"...."
"Gue juga udah berulang kali hubungin nomornya tapi enggak diangkat juga. Please.. bantu kita cari Anna Kak."
"...."
"Gimana? Apa kata Kak Sean?" ucap Yesi.
"Mereka bakalan bantu cari," sahut Kinara membuat Yesi bernapas lega.
...â˘â˘â˘...
Di sisi lain, Satria yang melihat raut wajah Sean mendadak berubah langsung menyudahi aktivitasnya bermain game pada ponsel miliknya.
"Siapa?" tanya Satria mematikan ponselnya.
"Kinara. Katanya Anna hilang dan dia udah satu jam-an nggak balik ke kelas."
"Iya terus, lah lo mau kemana?" ujar Arkana saat melihat Sean bangkit dari kursi.
"Bantu cari tuh cewek. Kalau lo semua gak mau nolongin ya udah gak usah."
"Lucu amat dah. Masa tuh cewek bisa hilang mendadak di sekolah. Mungkin tuh cewek pulang kali.. sakit perut," ucap Rogan masih sempat ngelawak.
Melihat tatapan tajam seorang Sean, Arkana langsung bangkit berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya yang masih tidak percaya melihat Sean pergi.
"Sean kayaknya mulai suka deh sama Anna. Apapun yang menyangkut gadis itu khawatirnya dia selalu berlebihan," ucap Rogan.
"Sean ngga akan pernah punya rasa sama Anna. Gue bakalan bilang hal penting ini sama lo. Percaya atau ngga yang jelas Anna dan Sean itu adik kakak."
Rogan menganga dengan mata melebar. Ia masih belum berkata-apa tapi detik berikutnya.
"April mop udah lewat loh. Ngga usah bercanda ah. Lo ngga pantas becandain gue Sat."
"Apa lo pernah lihat gue bercanda? Gue juga jarang ngomong seserius ini bahkan sama lo..."
...â˘â˘â˘...
"Tinggal gudang sekolah yang belum kita cek!"
__ADS_1
Pintu gudang sekolah yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar ketika Sean menendangnya keras. Suara isakan tangis dari gudang itu sempat membuat ketiganya takut di lorong kelas yang sudah jarang dilalui.
Sean yang tidak percaya cerita takhayul seperti itu langsung saja mengambil ancang-ancang merusak pintu berwarna coklat di depan mereka.
Pintu tua yang sudah usang dan tak layak pakai. Mereka berjalan menaik deretan tangga yang sudah usang menuju lantai atas. Betapa terkejutnya ketiga cowok itu mendapati Ghea dan Sera berada di tempat seperti ini dengan pencahayaan yang mengandalkan beberapa ventilasi kecil di setiap sudut tempat itu.
Mereka juga tidak kalah terkejut ketika melihat seseorang dibalik tubuh Ghea yang sudah tergeletak dan keadaan memprihatinkan. Seragam yang sudah tidak pada kondisi layak untuk dipakai membuat Arkana menutupi wajahnya.
"Gila tuh Sera sama Ghea! Mereka ngapain Anna itu sampai seragamnyaâ"
"Jaga mata lo," ucap Satria ketus. Sementara Sean, ia sudah mengepalkan tangannya sampai kukunya memutih saking tidak sanggupnya lelaki itu melihat pemandangan di depan matanya.
"Lo sentuh dia sekali lagi, gue bakalan ajuin surat keluar lo dari sekolah! Sialan lo berdua!"
Ghea menoleh dan terkejut menatap Sean, Satria dan Arkana berdiri di depan pintu gudang. Ghea memasang wajah pucat dan ketakutan ketika sorot mata Sean benar-benar mengintimidasi dirinya.
"Sean.... G-gue bisa jelasin semuanya."
Ghea berjalan ke arah Sean dan mencoba meraih tangan lelaki itu namun Sean langsung menepisnya kasar. Sean langsung mencekik leher Ghea--mendorongnya hingga punggung gadis itu menambrak tembok di belakangnya.
Kilatan amarah membara dibalik matanya. Tangan yang terkepal langsung melayang ke sisi kepala Ghea hingga mengalihkan perhatian Sean dan Arkana. Ghea memejamkan matanya sebentar lalu dengan hati-hati menilik wajah Sean di hadapannya.
"APA YANG LO LAKUIN SAMA ANNA, HAH? APA YANG LO PERBUAT?!"
Kembali Sean mencekik Ghea, hingga kuku tangannya hampir menusuk leher Ghea. "Argh!! Lepasin Sean!! Argh!!"
Ghea memberontak berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan besar Sean dari lehernya.
"Anna!"
Kinara berteriak dari ambang pintu yang ternyata ketiga gadis itu benar-benar menyusul Sean sejak tadi.
"Ya Tuhan! Anna, apa yang terjadi?" Kinara memperhatikan semua bagian tubuh Anna yang sudah tidak dalam kondisi baik.
Kinara juga mulai panik setengah mati melihat Anna meringkuk kesakitan dan tangan meremas perutnya. Seragam sekolah yang tampak rapi tadi pagi kini sudah berlumuran darah bercampur kotoran di lantai yang basah dan lembab.
Tidak hanya itu, Kinara juga kembali memperhatikan tubuh gadis itu penuh luka lebam-lebam membuat Kinara jadi ikut naik vitam
"Aish! Sialan!!"
Kinara melirik ke arah Ghea--gadis itu sekarang tidak berkutik di hadapan Sean. Entah karena ia sudah tertangkap basah atau memang benar-benar takut karena Sean melihat kejadian ini. Kinara berjalan kearah dimana Sean masih berdiri di hadapan Ghea.
"Minggir, Kak!!" Sean melirik dan melepaskan cekikannya dari leher gadis itu.
Kinara dengan kuat menampar pipi mulus Ghea lalu menarik kerah seragam perempuan itu dengan sekali tarikan. Iris mata Kinara membulat sempurna di bawah pencahayaan yang remang-remang.
"Benar-benar kelakuan setan ya kelakuan lo! Lo apain Anna, hah! Berani-beraninya ya lo sentuh Anna dengan tangan kotor lo ini. Dasar cewek murahan! Brengsek lo jadi perempuan! Engga ada hati lo jadi manusia!"
"Liat ajah. Kalau sampai dia kenapa-napa, gue janji bakalan aduin lo sama nyokap gue biar lo berdua dipenjara sekalian! Sekalipun lo anak komite sekolah gue ngga akan takut!"
"Binatang lo!!" cecar Kinara mendorong tubuh Ghea dengan kuat membuat gadis itu menggeram di tempatnya.
"Jangan Kin, jangan! Gue minta maaf." Gadis yang menyentuh lengan Kinara sekarang ialah Sera. Sera mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca menatap Kinara.
"Gue ngga bermaksud melukai Anna. G-gue cuman nurutin perkataan Ghea aja. Gue cuman disuruh bawa Anna kemari selebihnya Ghea yang berbuat," terang Sera.
"Minggir lo! Gue pastiin bakalan balas perbuatan lo berdua. Gue gak akan tinggal diam..."
Kinara berbalik badan, mendekat pada Anna yang begitu menyedihkan di lantai yang dingin, basah dan berbau.
"Anna? Lo bisa dengar suara gue?" tanya Satria menepuk pipi gadis itu.
"Anna? Ini gue Kinara. Buka mata lo kalo lo dengar gue Na."
Gue masih hidup, batin Anna. Tak ada respond sama sekali. Mata gadis itu masih terbuka tapi tidak dengan suaranya yang tidak terdengar sama sekali.
"Are you okay?" Panggil Arkana menepuk-nepuk pelan lengan Anna. Anna dengan mata setengah terbuka menatap langit-langit ruangan dimana ia berada.
"Sakit..." lirih Anna dengan mata yang sesekali terbuka dan memejam. Melihat bibir Anna berkata dengan gemetar Kinara dengan cepat berjongkok memeluk tubuh gadis itu erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafin gue. Harusnya gue ngga biarin lo sendirian tadi. Maafin gue... maaf," ucap Kinara merasa bersalah.
"Sakit, Kin. Gue ngga sanggup lagi." Anna berbicara sambil meremas kuat tangan Kinara yang memeluk tubuhnya. Melihat Anna kesakitan gadis itu tidak tega.
Anna melirik ke arah Sean ketika cowok itu berdiri pas di belakang Kinara. Tangannya terangkat di udara dan Kinara yang menoleh lantas bergeser. Sean mengambil alih Anna dari dekapan Kinara. Anna menggapai jemari Seanâmenggenggamnya dengan erat seraya menitikkan air mata.
"Tolongin gue... Argh!!!"
Beberapa detik kemudian Kinara memundurkan badannya ketika mendapati Anna kejang-kejang dalam dekapan Sean. Sean yang melihat tangan gadis itu gemetar spontan mengumpat kasar.
Sean tidak peduli dengan situasi yang ada di depannya. Ia mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada Anna. Dengan hati-hati tangannya menyibakkan seragam gadis itu hingga memperlihatkan kaos putihnya.
Sekarang Anna sudah tidak mengenakan seragamnya lagi, hanya ada tank top hitam yang membungkus tubuh ringkihnya.
Sean, Yesi, Satria, bahkan Kinara sendiri terkejut sekaligus panik dengan mulut ternganga melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Anna mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ini dari ayahnyaâgue lihat sendiri ketika gue antarin dia pulang. Dia gadis malang yang seharusnya bisa mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang yang peduli dengannya. Sayangnya masih banyak orang yang dengki sampai menginginkan Anna lenyap. Mereka ngga tau Anna butuh dukungan."
"Anna memang egois. Dia perempuan yang tidak ingin diperhatikan. Dia lebih memilih menahan sakitnya sendiri," jelas Arkana panjang lebar membuat keadaan di ruangan pengap itu semakin tidak menentu. Kinara kian histeris. Tangisnya meluruh. Yesi datang dan menguatkan gadis itu.
"Pakaikan jaket gue."
Rogan mengulurkan jaket kulitnya pada Sean. Dengan cepat Sean membungkus tubuh Anna dengan jaket milik Rogan. Sementara Arkana ini kali kedua ia melihat tubuh gadis itu dipenuhi luka lebam. Perutnya membiru dan beberapa luka memar tercetak di pinggangnya.
"Tolong...." Anna berseru kembali. Tangannya berpindah menarik rambutnya kasar.
"Argh.. Sakit! Bunda ... ini sakit sekali!! Please, bawa gue pergi jauh dari tempat ini. Ini sangat menakutkan."
"Arrghhh ... Sakit... Tolong..!"
Sean dengan cepat menggendong tubuh Anna keluar dari gudang. Anna kehilangan kesadarannya saat Sean setengah berlari membawa gadis itu keluar dari gudang. Tangan yang tadinya melingkar di lehernya kini terjatuh lemas.
"Brengsek!" umpat Sean sekuat tenaga setengah berlari membawa Anna. Mereka harus ke rumah sakit sekarang.
Beberapa siswa yang melihat Anna memuntahkan darah di pundak Sean panik bersamaan. Seragam yang Sean pakai juga sudah berlumuran oleh darah milik Anna. Muntahan itu juga jatuh di lantai marmer lorong kelas membuat beberapa orang yang melintas melotot tidak percaya.
"Ih, kenapa tuh si Anna?"
"Itu Anna kakak kelas kita bukan, sih? Kenapa dia sampai seperti itu?"
Sampai semua pasang mata mengarah ke arah Ghea dan Sera keluar dari gudang yang tampak berjalan sambil kepala menunduk. Bu Aurora kini sudah berada di depan kelas XI IPA 1.
"Kalian ikut ibu ke kantor kepala sekolah. Kalian akan disidang karena melakukan perundungan pada teman kalian sendiri."
- to be continued -
__ADS_1