
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
"Suster, tolong!!" Teriak Sean di koridor rumah sakit setibanya mereka disana. Seorang suster yang baru saja melintas dengan membawa brankar di koridor langsung bergegas menghampiri.
Setelahnya Anna yang tidak sadarkan diri segera dibawa ke ruang rawat. Tepatnya ruang Unit Gawat Darurat. Sea hanya bisa menunggu dokter dan para perawat yang melakukan tugas mereka.
Kini ia mengusap wajahnya kasar setelah memilih duduk tidak jauh dari ruang rawat tersebut. Ia tidak mengerti kenapa beberapa kali di sekolah Anna kerap mimisan, ditambah saat Kinara tadi mengangkat seragam gadis itu beberapa luka memar memenuhi tubuhnya. Apa selama ini ia tak pernah merasa aman?
"Kalau Anna sampai kenapa-napa di dalam sana, lo sebagai tunangan dari Ghea harus tanggung jawab atas semuanya. Lo harus jelasin semuanya pada keluarga Anna," ucap Kinara duduk di sebelah Sean.
"Ngga seharusnya Anna mendapat kesialan seperti ini dari Ghea. Ghea suka sama lo bahkan anggap lo sebagai tunangannya. Apa dari semua yang udah terjadi lo ngga bisa mikir buat jauhin Anna?"
"Dia tersiksa Kak Sean. Anna ngga sekuat yang kakak pikirkan...Please, jauhin teman gue," lirih Kinara seraya menangis dengan kepala menunduk.
"Sampai kapan pun gue ngga bakalan bisa jauhin teman lo Kinara, tapi hari ini lo sebagai saksinya. Kalau teman lo sampai kenapa-napa gue janji gue bakalan tanggung jawab. Gue janji..."
"Bagus kalau lo sadar diri..."
Lirikannya teralihkan saat ponsel di sakunya bergetar. Kinara yang masih memperhatikan Sean sampai cowok itu mengangkat teleponnya sedikit mengerutkan keningnya dengan foto di layar ponsel milik Sean.
Setelah beberapa menit berbicara dengan seseorang diseberang sana, suara pintu ruang rawat terbuka lebar mengalihkan perhatian keduanya, menampakkan dokter yang menangani Anna bersama seorang suster datang menghampiri mereka.
"Apa anda keluarga pasien?" tanya dokter itu kepada Sean dan Kinara bergantian. Dokter itu orang yang sama saat menangani Anna beberapa hari yang lalu bersama Arkana dan Bi Rina.
"Bukan, Dok. Kita teman satu kelasnya. Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Sean masih bercampur rasa khawatir.
"Ada baiknya kalian hubungi keluarga pasien sekarang, karena saya tidak mungkin menyampaikan kabar ini pada kalian terlebih kalian hanya teman sekelasnya. Keadaan pasien harus segera di tindak lanjuti."
"Apa tidak bisa mengatakannya langsung pada kami, Dok. Nanti akan kita sampaikan pada keluarganya setelah dokter mengatakan keadaannya," tutur Kinara membuat Dokter itu menggeleng.
Keluarga pasienlah yang boleh tau kondisi pasien sendiri. Bahkan kalau pun mereka keluarga pasien tetap saja yang lebih tau kondisinya adalah orangtua yang bersangkutan.
"Mohon maaf. Sebaiknya salah satu dari kalian menghubungi keluarga pasien karena sekarang pasien sedang koma," ujar sang Dokter membuat Kinara spontan menutup mulutnya tidak percaya.
"Koma? Kritis maksud dokter?" tanya ulang Kinara memastikan ia tidak salah dengar.
"Benar. Pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri saat ini. Seperti yang sudah kalian sampaikan sebelumnya, benturan keras di area perut membawa pengaruh berupa munculnya gejala-gejala yang tidak nyaman pada pasien salah satunya seperti nyeri pada ulu hatinya."
"...dan dia menderita kanker darah," lanjut dokter itu dalam hati.
"Saya lihat juga ada beberapa luka lebam di tubuh pasien. Saya ingin tahu pasti apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu. Untuk itu segera hubungi keluarganya dan minta menemui saya."
"Jika kabar ini terlambat kalian sampaikan, teman kalian tidak akan selamat. Saya tunggu. Permisi." Dokter itu berlalu dan membuat Sea menendang keras tembok di depannya.
"Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sampai begini?"
...â˘â˘â˘...
Pukul 15.15 soreâStarlight High School. Ghea dan Sera memasuki kantor guru dengan kepala tertunduk malu dikarenakan sebelum tiba di depan kantor ini mereka benar-benar digosipin satu sekolah dan berita pembullyan itu dengan cepat menyebar secepat kilat.
Terlebih lagi saking hebohnya sekolah memutuskan untuk memulangkan siswa lebih cepat dari sebelumnya. Nyatanya kebanyakan siswa malah masih setia menunggu keputusan kepala sekolah untuk Sera dan Ghea. Sebagian mereka ada yang memilih pulang dan sisanya menunggu parkiran sekolah.
"Ada baiknya sih mereka di keluarkan dari sekolah. Bukan cuman sekali dua kali mereka kayak gitu sama Anna. Beberapa siswa lain juga pernah ikut mereka ganggu."
"Mentang-mentang dia anak komite sekolah seenaknya ajah membully anak orang. Gak habis pikir bangat, sumpah!"
"Dikira bully itu gak buat mental down..."
"Banyak yang pindah sekolah karena kelakuan mereka. Ya... gak aneh lagi sih, bokapnya komite sekolah, Tin."
"Kasian Kak Anna. Gue jadi ngeri lihat dia berdarah gitu di gendong Kak Sean tadi."
"Jadi Sera nurut ajah dong ya pas Ghea nyuruh dia buat bawa Anna ke gudang sekolah. Bodoh dipelihara."
__ADS_1
"Kena mental ngga tuh si Ghea. Bokap nya komite sekolah anaknya tugasnya bikin malu bokapnya. Miris.."
Beberapa kali Ghea menjadi bahan gosip di sekolahnya. Sampai-sampai ia dibuat muak sendiri dengan orang-orang yang selalu tampil baik dihadapannya namun membicarakan aibnya di belakang.
Seperti mereka tidak pernah melakukan kesalahan saja. Namanya juga manusia. Apa ada orang yang tidak akan membicarakan kesalahan kita? Tidak ada. Nyaris seribu kebaikanmu akan lupa dengan satu kesalahan yang kau lakukan.
"Udah, Ghe, mending kita masuk. Ngga akan ada keajaiban buat balikin semuanya. Anna udah masuk rumah sakit," ujar Sera.
"Semuanya ini karena lo, sialan! Gue bilang kasih pelajaran kecil ajah tapi lo malah maksa bawa dia kesana. Jadinya gue kebawa emosi. Sialan lo memang!"
"Kenapa lo nyalahin gue sekarang? Lagian lo ngga mikir. Lo juga ngga bilang sama gue kalau Anna itu saudari lo!"
"Gue juga udah berusaha yakinkan lo untuk tidak menyerang Anna secara berlebihan. Jadi, gue mohon tolong kita gak usah saling dekat kali."
Keduanya akhirnya memasuki ruang kepala sekolah yang sudah ada guru BK, orangtua siswa yang bermasalah dan ketiga teman Anna, juga Satria ikut juga di sana.
"Baiklah, sekarang kita selesaikan masalahnya," ucap bapak kepala sekolah.
Tangan beliau mengambil beberapa kertas yang berisikan segala perkara yang pernah kedua gadis itu lakukan di sekolah ini. Beberapa orangtua siswa yang anaknya pernah mengalami pembullyan dengan Ghea dan Sera ikut hadir di kantor kepala sekolah.
Suasana atmosfer seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Ya, Ghea bisa merasakannya. Begitu ia menoleh pada ayahnya, gadis itu tidak melihat sorot mata pria itu seperti membelanya kali ini. Ria yang duduk manis seraya menatap Ghea dan Sera ngin sekali angkat bicara.
"Memalukan sekali..." tutur seorang wanita dengan pakaian formal berwarna putih tengah melirik ayahnya Ghea yang kebetulan duduk di depannya dan dibatasi sebuah meja panjang terbuat dari kaca.
"Kali ini kau tidak akan bisa membela putrimu ini lagi, Hendra. Putrimu yang malang ini akan merasakan penderitaan semua siswa yang pernah di-bully nya," sambung wanita disebelahnya.
"Mohon tenang, Ibu-ibu. Jangan saling menyalahkan. Keputusan untuk kedua siswa akan saya putuskan," ujar Pak Atmaja.
"Dari yang saya terima dari beberapa siswa yang pernah mendapatkan pembullyan dari siswa kami Ghea. Masalah ini bukan lah masalah yang pertama. Putri anda hampir sering melakukan perundungan kepada adik kelasnya," tutur Pak Atmaja pada Hendra, ayah Ghea.
"Beberapa kali guru BK mendapati perlakuan putri anda bersama temannya melakukan perundungan dan itu tidak menyesuaikan tempat. Saya sebagai kepala sekolah tidak mengerti kenapa putri anda bisa sejauh ini pada temannya sendiri."
"Beberapa bulan lalu juga saya sudah layangkan surat panggilan orangtua pada Anda, Pak Hendra, tapi entah kenapa Anda tidak pernah datang sejak saya memberi surat itu pada putri anda."
Pak Hendra menoleh menatap Ghea. Kalau ada surat panggilan orangtua dan surat itu tidak sampai ditangannya, maka Ghea yang harus disalahkan.
"Sera yang bawa Anna ke gudang sekolah, Pak, bukan saya!" tegas Ghea dan tangan besar milik Ayahnya dengan cepat mendarat di pipinya.
"Ayah tidak memintamu untuk berbicara Ghea. Jangan buat ayah marah dan merasa malu karena sikap kurang ajar mu ini."
"Saya hanya menuruti apa yang Ghea katakan Pak. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan mohon beri kesempatan sekali lagi pada saya."
"Diam! Kalian benar-benar siswa yang tidak beradap! Bikin malu sekolah terutama kamu, Ghea. Ayahmu komite di sekolah ini justru kamu yang mencoreng wajah ayahmu. Bagaimana bisa saya mendapatkan siswa seperti kalian ini!"
Kepala sekolah menggebrak meja kantornya dengan kasar. Dia menatap kedua siswinya dengan tajam.
"Sementara untuk kasus kali ini hanya kasus yang seharusnya bisa dibicarakan dengan baik, tapi semuanya berujung dengan salah satu siswa bernama Anna masuk rumah sakit dan itu ulah kalian berdua!"
Bu Aurora melipat kedua tangannya di atas dada. "Anak ini memang sulit diingatkan, Pak. Dia juga berulang kali melawan setiap saja mengajar di kelas. Saya sudah angkat tangan, Pak. Saya benar ngga tahan dengan sikap pembangkangnya," ucap beliau.
"Lo dengar? Lo memang dari dulu sampai sekarang taunya ngebully orang doang. Lo ngga pernah bisa terima keberadaan orang lain yang lagi bahagia. Seandainya lo yang di posisi Anna saat ini, gimana?" tutur Ria membuka suaranya tanpa diminta.
"Gue dengar lo sepupu sama Anna. Apa darah yang mengalir di dalam diri lo itu gak berdesir setelah melukai Anna?"
"Hentikan, Ria Anjelina!"
"Mohon maaf, Pak. Saya ingin semua orang tau bagaimana kelakuan Ghea selama ini dibalik gelar yang ayahnya punya di sekolah ini."
"Maaf Om, tolong perhatikan anak Om agar tidak melukai teman saya atau bahkan siswa lain disekolah ini. Anna juga pantas bahagia."
Ghea memandangnya dengan tatapan menusuk. Sialan! Ia menunduk malu. Tidak berani menatap orang-orang yang sedang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ditambah saat ini ia duduk di dekat ayahnya membuat pergerakan Ghea jadi terbatas.
"Mohon Pak, kita sangat berharap banyak kepada bapak agar memberikan hukuman setimpal pada Ghea, jika kita bisa memberi saran, mohon untuk men-drop out Ghea dari sekolah ini."
Ghea menganga bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja Ria katakan di hadapan kepala sekolah, para guru dan beberapa orangtua siswa disana.
"Baiklah Ria. Keputusan ini biar bapak yang menentukan. Tolong kamu duduk di tempatmu," ucap Pak Atmaja.
__ADS_1
"Sebagai inti dari pembicaraan kita sekarang. Saya selaku kepala sekolah yang tidak bisa membiarkan pembullyan ini terulang kembali. Sekolah terpaksa melakukan drop out kepada kedua putri Anda."
"Lakukan yang pantas untuk mereka yang melanggar peraturan sekolah. Parasit yang berada di sekolah tidak seharusnya mendapat sanjungan baik di tempat seperti ini."
Pintu ruangan dimana mereka melakukan rapat terbuka lebar dengan kedatangan dua pria yang tidak asing memasuki tempat itu.
Ryanâayah Anna tiba-tiba saja memasuki ruangan tersebut membuat semua orang menatap kedatangannya. Ryan berdiri di hadapan Hendra, teman bisnisnya. Tidak ada hubungan bisnis disaat sedang dihadapkan pada situasi yang berbeda.
"Sekali lagi saya tahu putrimu menyentuh satu helaian rambut putri saya, kau akan tahu akibatnya Hendra. Ini peringatan pertama sekaligus yang terakhir," ucap Ryan membuat beberapa pasang mata mengarah pada mereka.
"Putri saya lebih membutuhkan keberadaaan saya Bapak Kepala Sekolah. Permisi..."
Pria itu berjalan lalu membuka pintu kemudian menutupnya sedikit kasar. Helaan napas panjang jelas terdengar dalam ruangan itu. Apalagi kini Hendra tengah menatap ekspresi sang putri yang kini mulai memerah. Ghea menangis dalam diam.
Setelah rapat keputusan itu selesai, Sera dan kedua orangtuanya pulang dengan perasaan marah, sementara Ghea dengan langkah takut mengikuti ayahnya keluar dari kantor kepala sekolah menuju mobil mewah yang terparkir di depan sana. Sepanjang jalan kedua anak dan ayah itu terdiam satu sama lain.
"Kau membuat ayah malu, Ghea!" Pria yang masih membelakangi putrinya itu angkat suara seraya melirik Ghea dari kaca mobil.
...â˘â˘â˘...
đKediaman Ghea
"Apa yang kamu lakukan Ghea! Kenapa sampai seperti ini kelakuanmu di sekolah? Apa yang kurang papa kasih untukmu, hah! Tidak bisakah kau tidak membuat ayah banyak pikiran?"
Hendra melempar tas kantornya ke sofa lalu berkacak pinggang di depan putrinya yang tertunduk takut karena ayahnya benar-benar marah karena ulahnya. Pria yang baru saja sembuh dan kembali dari rumah sakit itu menghela napas panjang menatap putrinya.
"Sadar kau Ghea, sadar. Perkelahian itu kelakuan anak laki-laki dan kau ini anak perempuan. Jauhkan pikiran, karena Ayahku Komite sekolah aku bisa seenaknya. Jangan berpikir seperti itu!" ucap Hendra tegas di hadapan Ghea.
"Sudahlah, Mas. Ghea mungkin salah dan tidak kepikiran kalau Anna akan sampai terluka seperti itu," bela Anita, ibunya Ghea.
"Jangan ajarkan anak seperti itu, Anita. Kalau anak itu salah perlu dibina lagi. Kau harusnya mengajarkan dia bagimana cara tanggung jawab yang sebenarnya. Kalau sampai jawabanmu selalu seperti itu anak ini akan terbiasa berlindung di bawahmu."
"Annaâputrinya Ryan dan mendiang Naura masuk rumah sakit dan sekarang sedang koma. Apa kau bisa memastikan itu semua dalam keadaan baik-baik saja?" kelakarnya membuat Anita melirik Ghea.
Ghea menatap sendu sang ibu lalu kembali menundukkan kepalanya. "Mereka keluarga kita dan anak malang itu sama seperti Ghea. Sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Ayah mana yang tidak terluka mendengar putrinya masuk rumah sakit?"
"Om Ryan ayah..." cetus Ghea tiba-tiba dan mendongak menatap sang ayah.
"Apa maksudmu?" tanya ayahnya dengan alis terangkat.
"Om Ryan tidak pernah menganggap Anna itu seperti anaknya sendiri. Anna sendiri yang mengatakannya di depanku dan semua siswa di sekolah dan ada sesuatu yang mama juga sembunyikan kan dari Ghea?"
Anita kebingungan. Kemana arah bicara mereka sekarang. "Mama selingkuh kan sama ayahnya Anna. Iya, kan?"
"Kenapa pembicaraanmu lari kesana?" tanya Hendra.
"Ghea seperti ini sama Anna karena Ghea ngga suka milik Ghea diambil orang lain. Bibi seminggu yang lalu kirim video mama berada di rumah bersama ayahnya Anna. Mama selingkuh!"
"Ghea sakit hati Ma. Disaat bersamaan karena ulah mama, ayah sampai masuk rumah sakit pada saat itu!"
Hendra menggelengkan kepalanya. Rupanya putrinya itu melihat sesuatu yang membuat dirinya salah menduga.
"Ghea Sayang. Kamu salah sangka, Nak. Mama sama Om Ryan tidak punya hubungan apa-apa. Yang kamu lihat itu bukan seperti bayanganmu."
"Tanyakan saja pada Ayahmu kalau kamu tidak percaya. Semua yang mama lakukan bersama Ayahnya Anna itu hanya urusan bisnis. Perusahaan milik Ayahnya Anna akan bangkrut dan ayahmu meminta mama membantu mereka."
"Ayahnya datang ke rumah ini hanya untuk meminta bantuan bukan untuk melakukan hal yang sampai membuatmu berpikir mama mengkhianati keluarga ini!"
"Kau tidak tahu sekarang Anna seperti apa Ghea. Tanpa kau sadari Anna tidak memiliki apa-apa lagi. Semua habis ayahnya jual. Anna tidak pernah seberuntung kamu saat ini."
"Sejak kecil dia tidak punya ibu dan sekarang perusahaan ayahnya juga akan bangkrut. Mama menolongnya dan bukan melakukan hal buruk seperti yang kamu pikirkan."
"Tetap ajah Ghea ngga suka lihat dia. Mama ngga tahu gimana Ghea berusaha dekat sama Sean dan dia dengan santainya bisa sedekat itu. Mama udah tau jelas, Sean itu akan jadi tunangan Ghea."
"Siapapun yang berusaha mengambil milik Ghea, Ghea bakalan buat dia menyesal seumur hidup," tandas Ghea menyelonong pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.
- to be continued -
__ADS_1