In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 46


__ADS_3

...šŸDisclaimeršŸ...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Angin bertiup kencang di jam pukul sebelas siang. Anna yang sedang duduk melamun di atas balkon terkesiap. Raganya memang ada di sini, tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Ia berdiri membuat rambut indahnya bergerak akibat angin yang sedikit kencang.


"Masih siang tapi udah mendung aja," lirih Anna mendongak menatap langit.


Jari-jarinya menyentuh pembatas balkon lalu menghela nafas panjang. Ingatan gadis itu kembali pada kejadian-kejadian yang telah menimpanya.


Miris sekali, sampai rata-rasanya gadis itu tidak bisa lagi berkata apa-apa untuk segala sesuatu yang sudah terjadi pada dirinya. Kalau bisa berkata jujur sebenarnya Anna ingin menangis sekuat-kuatnya, mengamuk sejadi-jadinya dan berteriak sampai rasa sesak di dadanya menghilang.


Jauh dalam hatinya ia ingin sekarang membalas perbuatan semua orang yang berlaku seenaknya pada dirinya tapi hal itu bukanlah sifatnya. Ia masih bisa bersabar apapun yang akan terjadi, hari ini, esok dan kedepannya.


Ia pasrah. Percuma juga membalaskan dendam pada manusia yang tidak punya hati dan pemikiran. Anna hanya bisa berpikir bagaimana ia akan menikmati sisa-sisa hidupnya mulai hari ini dengan baik dan penuh kenangan.


Begitu seriusnya gadis itu melamun, ia tidak sadar kalau hidungnya meneteskan darah segar yang masih terasa hangat. Sadar karena bagian bawah hidungnya terasa basah Anna menundukkan pandangannya.


Ia tersenyum ketir. Darah itu kian deras mengalir dari hidungnya. Lalu beberapa detik kemudian kepalanya berdengung. Tangan kecilnya memukul kepalanya pelan-pelan seraya memejamkan matanya merasakan sensasi luar biasa di dalam kepala.


Cairan merah yang terus keluar dari hidungnya tak kunjung selesai. Bahkan darah segar itu jatuh ke permukaan baju tidur berwarna putih dengan motif doraemon yang Anna kenakan sampai siang ini. Rasanya sangat malas untuk mengganti pakaiannya, jadi mulai dari ia tertidur sampai siang dengan cuaca mendung, Anna masih betah mengenakannya.


"Kali ini apalagi, Tuhan? Kenapa sampai seberat ini? Kenapa harus aku yang merasakan penderitaan ini? Apa orang lain tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan?"


"Tersenyum di hadapan semua orang benar-benar membuatku lelah..."


"Jika ini masih berlanjut, ku mohon biarkan aku berada di sisi-Mu," ujarnya menitikkan air mata. Anna mengusap hidungnya kasar menggunakan telapak tangannya.


"Bukan ingin menyerah, tapi aku sudah terlalu lelah, Tuhan. Aku tidak punya siapapun untuk tempatku bersandar. Mungkin dengan kematian, mereka akan bahagia."


Setelah berbicara sendiri, mengutarakan semoga seluruh isi hatinya, detik berikutnya mata gadis itu memburam. Dengan kesadaran penuh Anna berjalan gontai memasuki kamarnya.


Gadis itu langsung jatuh menghantam pinggiran tempat tidur. Ia mencengkram kuat sisi tempat tidur. Satu tangannya ia gunakan untuk menjambak rambutnya kuat.


"Hentikan! Ini sangat sakit!! Argh!" Anna menjerit keras. Tidak akan ada yang mendengar jeritannya. Kamar ini di desain kedap suara. Anna bebas mengeluh kesakitan. Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu matanya beralih menatap nakas di sebelah kanannya. Tangan gemetar itu mencoba menarik lalu meraih tablet obatnya.


Sial. Botol berwarna putih di tangannya benar-benar kosong dan tak ada satu butir obat disana. Anna tersenyum meratapi nasib sialnya.


"Aku benar-benar lupa..." Tidak kuat menahan rasa sakitnya, Anna ambruk di atas karpet bulunya. Ia tidak sadarkan diri tanpa ada yang tahu.


...•••...


"Katanya Anna sudah pulang. Gimana kalau kita jenguk dia ke rumahnya," ucap Bian. Cowok itu tengah duduk di tempat duduk Anna sembari mengobrol bersama tiga gadis paling top di kelas mereka.


"Ide yang bagus tuh. Gimana kalau pulang sekolah aja kita kesana. Entar gue sama Ria beli buah tangan buat Anna."


"Okay. Gue bisa bareng sama lo, kan?" tanya Yesi pada Bian. Cowok itu mengangguk.


"Tenang aja, aman kok. Mumpung gue bawa motor hari ini," kata Bian.


"Sebenarnya kalau ada orang terlihat bahagia, apa itu benar dia memang bahagia? Bisa jadi kan dia nutupin sesuatu dari orang-orang terdekatnya."


Tiba-tiba saja Kinara mengucapkan satu kalimat panjang yang menyita perhatian teman-temannya.


"Misalnya, Anna nih. Gue sempat curiga sama dia. Dia jarang banget make make up ke sekolah, sekalinya make foundation yang dipake benar-benar tebal bangat. Bahkan luka lebam di tubuhnya itu buat gue tambah curiga. Apa memang benar selama ini dia selalu disiksa ayahnya."


"Terus juga kemarin, dia sempat kejang kan Ria pas kita temuin dia di gudang sekolah yang ngga ke pake lagi." Ria mengangguk ringan.


"Gue nggak tahu entah kalian juga sadar saat itu. Tapi Anna memang aneh loh. Bahkan dia juga terlalu sering mimisan di sekolah."


"Bukan cuma lo doang Kin, gue—"


"Stop, stop dulu! Kenapa kita malah bahas Anna sih. Gak enak bangat bahas orangnya gak ada disini," tukas Yesi.


"Ih, diem deh Yes. Gue mau cerita serius ini," kata Ria. Bian yang selalu kepo merapatkan kursinya.


"Lo ingat gak pas kita ganti seragamnya Anna di UKS saat dia pingsan di lapangan kemarin. Lo sempat kasih tau ke gue kalau lo liat punggungnya Anna memar, ingat gak?"


"Iya iya, gue ingat. Gue lihat punggungnya Anna pas benerin baju belakangnya tuh punggungnya memang memar kayak dipukul gitu."


...•••...


Akhirnya yang ditunggu semua murid di setiap sekolah tiba. Bel panjang pertanda pelajaran sudah berakhir dan waktunya pulang ke rumah masing-masing menggema sepanjang lorong kelas.


Bian, Kinara dan Yesi serta Ria bergegas turun ke parkiran. Bian berangkat bersama Yesi dan Kinara bersama Ria menaiki motor scooter kesayangan gadis itu.


"Kalau gitu kita duluan ya," ucap Kinara dan dibalas anggukan oleh kedua sahabatnya yang berbelok arah dengan mereka.


Sesampainya di jalan komplek perumahan keluarga Williams, Kinara yang menyadari sebuah mobil ambulance di depan sana segera menepuk pundak Ria. Perempuan itu lantas menghentikan motornya. Kinara langsung turun begitu juga Ria yang mencagakkan motor lalu turun dari atas motor.


"Kenapa ada ambulance di depan rumahnya Anna Ria? Ada yang kecelakaan apa gimana?"

__ADS_1


Lantas karena merasa khawatir, Kinara mengayunkan kedua kakinya berjalan ke arah rumah gadis itu. Di dalam sana, terdengar jeritan yang memanggil nama seseorang.


"Ada apa, sih? Kenapa ribut bangat," gumam Kinara melangkah masuk namun ditahan Ria dengan cepat.


"Lo mau ngapain? Gak sopan bangat masuk gitu ajah."


"Lo gak dengar barusan, mereka teriak-teriak manggil nama Anna. Gue khawatir kalau Anna kenapa-napa."


"Kalian teman satu sekolahnya anak Pak Ryan, ya?" Seorang wanita berusia 40-an datang dan berbicara pada Ria dan Kinara. Keduanya langsung mengangguk.


"Boleh tau Bu, apa yang terjadi? Kenapa ambulance sampai ada di depan rumah teman kita?" tanya Kinara pada wanita tersebut.


"Bi Rina! Ada apa ini? Kenapa rumah begini ramai dan kenapa ada ambulans di depan rumah?"


Leon baru saja datang seorang diri berdiri di dekat Ria dan Kinara. Kedua gadis itu sampai terkagum-kagum melihat Leon.


"Non Anna Den. Non..."


"Kenapa Bi? Anna kenapa lagi?" seru Leon dan karena Bi Rina terlalu lama menjawabnya, Leon langsung berlari menaiki lantai atas menuju kamar sang adik. Bi Rina ikut dan mulai menelan ludah kasar berdiri di hadapan pintu.


"Ayah kemana, Bi? Kenapa gak ada yang tau Anna pingsan di rumah. Bibi kemana dari tadi hah?!" Suara bentakan menggema dari lantai dua membuat Kinara dan Ria panik di tempat.


"Anna pingsan?" ucap keduanya bersamaan.


"Cepat, Pak! Segera ke rumah sakit. Kalau sampai adik saya lambat ditangani, saya tidak segan-segan menuntut rumah sakit itu."


Sosok pria tampan berkemeja putih berjalan dengan terburu-buru melewati Kinara dan Ria. Gadis itu sempat melirik Anna di gendongan pria itu dengan mata tertutup rapat dan pakaiannya bersimbah darah.


"Pria itu siapa?" tanya Kinara pada Ria yang berdiri disebelahnya. Mereka berdua sama-sama menatap kepergian Anna digendong orang asing itu memasuki mobil ambulance.


...•••...


"Jadi pria yang menggendong Anna tadi, itu abangnya Anna ya Bi?" Kinara berucap pada Bi Rina. Wanita itu memasang wajah sedih menatap nona mudanya dibawa menuju rumah sakit.


Belum juga 24 jam ia keluar dari rumah sakit, Anna sudah dibawa kembali kesana. "Benar Non. Dia Leon abangnya non Anna. Tuan muda Leon baru seminggu ini kembali setelah beberapa tahun berada di luar negeri."


Kinara dan Ria mengangguk paham. "Pantas saja Anna sejak kelas sepuluh tidak pernah bilang dia punya Abang, tampan lagi..." ujar Kinara dengan kalimat akhir yang membuat Ria mencubit lengan gadis itu.


"Gak bisa banget lo lihat yang bening-bening."


"Namanya gue punya mata," sahut Kinara membuat Ria menyunggingkan bibirnya ke atas.


Beberapa jam setelahnya. Anna membuka matanya perlahan ketika mendengar suara ribut di sekitarnya. Badannya serasa dihantam batu berukuran besar. Nyeri di kepalanya juga sudah mereda. Ia baru menyadari dirinya berada di rumah sakit.


"Kesalahan apa yang adikku perbuat sampai ayah tega memukulnya seperti itu? Kalau ayah keberatan Anna tinggal bersama ayah, biarkan Anna tinggal dengan Tante Sekar."


"Ayah gak pernah mikir ya. Gimana rasanya jadi Anna saat Ayah mukul dia seperti itu—sampai lebam begitu ayah! Ayah udah gak punya hati nurani lagi, hah?!"


"Jaga nada suaramu, Leon! Apa bertahun-tahun belajar di negeri orang, ini yang kau pelajari disana, hah?! Tidak ada sopan mu sama sekali berbicara dengan orangtuamu!"


"Sopan? Ayah meminta Leon berbicara sopan pada ayah sementara ayah sendiri tidak demikian? Lihat dirimu ayah. Apa pantas orang sepertimu dipanggil ayah setelah melakukan hal seperti ini pada Anna?!"


Leon benar-benar marah menatap pria yang sudah merawatnya sejak kecil dulu. Tidak disangka-sangka ternyata selama ini rasa pahit yang justru ia terima setelah ia kembali ke rumah.


Ryan yang geram pun mengangkat kepalan tangannya, namun terhenti di udara ketika Sekar menahan tangan pria itu. Wanita yang jadi kakak kandung dari istrinya, Naura, menepis tangan pria itu dengan kasar.


"Kau ingin menghajar anak darah dagingmu di hadapan calon menantumu sendiri?" ujar Sekar geram lalu Ryan melirik keberadaan Alice yang berada di dekat jendela kaca.


Perempuan itu hanya bisa menutup mulut karena Leon memang meminta dirinya untuk tidak ikut campur.


Ryan yang tahu Leon dalam waktu dekat ini akan menikah melirik Alice. Perempuan itu memandang dengan tatapan sedih. Sedih bukan karena melihat calon Ayah mertua dan calon suaminya bertengkar, melainkan mereka bertengkar di hadapan putri dan adiknya yang sedang dirawat.


"Harusnya kau bisa menjaga privasi keluargamu Ryan, terlebih ini di rumah sakit! Putrimu sedang terbaring lemah di ranjangnya dan bisa-bisanya kau membuat keadaan bertambah buruk!" cetus Sekar.


Wanita yang mengenakan pakaian berwarna cream, rambut disanggul, dan sepatu hak tinggi berukuran tujuh centi itu berdiri disebelah Leon tepat didepan Ryan. Keduanya saling pandang pada Ryan.


"Aku juga baru tau bahwa selama ini kamu menyiksa Anna seperti itu. Pantas saja, ketika seminggu lalu aku menghubunginya untuk datang ke rumah, Anna memintaku untuk izin lebih dulu padamu!"


"Ini alasan kenapa Anna mengatakan itu. Kelakuanmu yang begini benar-benar membuat Anna terkena mental, Ryan! Dia takut dengan ayahnya yang ringan tangan!"


"Kau tidak ingat masalah yang dulu sampai membuat Anna didiagnosis mengalami tremor karena Dean, mantan pacarnya dulu. Kau mengulangi hal yang membuat putrimu sendiri menderita!" tandas Sekar membuat Ryan menatapnya dalam-dalam lalu mata itu melirik sebentar ke arah ranjang.


"Anna akan menderita gangguan jiwa jika kau masih seperti ini terus."


"Tak perlu mengurusi ku. Ini masalah keluargaku dan kau tak ada hak ikut campur dalam masalah ini!"


"Tak ada hak katamu? Aku Tante mereka Ryan. Selagi anak dan putrimu lahir dari rahim adikku mereka tetap akan jadi urusanku!" Ryan kalah telak. Senjata inilah yang membuatnya tidak bisa berkutik.


"T-tante..." lirih Anna dibalik alat bantu pernapasan yang menutupi hidung serta mulutnya. Sontak Sekar berbalik badan menghampiri Anna yang berusaha berbicara banyak lagi.


Leon juga sama, pria itu mendekat ke sisi ranjang gadis itu menggenggam tangan mungil sang adik lalu mengelus lembut puncak kepalanya.


"Jangan berisik Bang. Kepala Anna sakit..."

__ADS_1


Leon menoleh ke arah ayahnya yang memandang Anna lekat. "Kalau ayah masih menganggap Leon putra kesayangan ayah, Leon mohon sangat agar ayah keluar dari ruangan ini. Keberadaan ayah tidak akan membantu Anna cepat sembuh."


"Leon, sudah," ucap Sekar.


"Tidak bisa Tan."


"Ayah akan keluar," cetus Ryan membuat Leon melirik kepergian ayahnya lalu setelah itu ia menatap Anna yang menatapnya dengan tatapan sendu.


Terbesit rasa sakit hati juga kecewa dalam hatinya ketika melihat gadis kecil yang cerewet berbaring diatas ranjang dengan lemah.


Leon mengusap kepala gadis itu lembut. Alice yang berdiri di samping Leon mengusap punggung tangan Anna memberinya semangat bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini.


"Ada yang sakit? Perlu Abang panggilkan dokter?" Anna menggeleng. Gadis berwajah pucat itu meraih jemari Leon, menautkan jari-jari tangannya di jemari pria itu. Sangat kecil ditangan Leon yang cukup besar.


"A-abang gak boleh kasar sama ayah. Semua ini sepenuhnya bukan salah ayah juga. Anna—"


"Abang tidak suka kau berbicara seperti itu Anna. Jangan mencoba membela ayah yang jelas-jelas sudah salah. Dia memukulmu, berkata kasar dan kau masih membelanya?"


"Abang..." lirih Anna menatap sendu Leon.


"Abang sudah putuskan, setelah kau sehat, kau akan tinggal dengan Tante Sekar. Tidak ada penolakan dan jangan membantah."


Anna menghela napas, memalingkan wajahnya kearah lain lalu kembali menatap Leon. Ingin sekali ia mengatakan sesuatu, tapi niatnya itu ia sudahi dengan mengunci rapat-rapat bibirnya. Kalau Leon sudah memasang wajah aslinya, Anna tidak bisa berkata apapun. Ia pasti menurut.


...•••...


"Anna?" Panggilan dari arah pintu membuat Anna yang terbaring di ranjang menoleh. Begitu pun Alice dan Leon yang duduk di sofa.


Ruang rawat Anna ini sudah berganti dan itu adalah paksaan dari Leon. Ia merasa Anna harus benar-benar di rawat sebaik mungkin dan Leon memilih ruang VVIP untuk adiknya. Mereka yang berada di ambang pintu kamar ruang rawat Anna ialah Kinara, Ria, Yesi dan Bian.


"Izin masuk ya, Kak Leon. Kita-kita mau jenguk Anna sebentar," tutur Kinara melangkah masuk. Langkahnya disusul oleh Ria, Yesi dan Bian.


Ria membawa parsel buah dan Yesi membawa makanan kesukaan gadis itu yaitu cake rainbow dua kotak. Anna yang melihat Yesi mengangkat sedikit bawaannya membuat Anna tersenyum lebar.


"Masuk saja. Kalian bisa duduk disini," ujar Leon bangkit dari duduknya, mempersilahkan mereka duduk disebelah Alice. Sementara Leon meraih parsel dan plastik putih berisi makanan untuk sang adik, meletakkannya di atas meja.


Leon melirik Anna yang sejak tadi menatap cake rainbow di atas nakas. "Mau makan ini?" tanya Leon padanya.


"Mau..." Binar mata gadis itu membuat Leon langsung membuka kotak kue itu dan mengulurkan sepotong cake kepada Anna diatas sebuah piring kecil. Namun sebelum itu, Leon mencoba membantu Anna untuk duduk tegak diatas ranjangnya.


"Kalian pulang sekolah langsung ke kemari?" Alice membuka percakapan diantara mereka yang duduk di sofa setelah memandang interaksi Anna dan Leon.


"I-iya Kak," jawab Bian lebih dulu.


"Aduh, aku lupa mengenalkan diriku ya. Aku Alice—"


"Calon kakak ipar ya?" potong Bian langsung menjabat tangan perempuan itu. Lembut sekali, gumam Bian dalam hati. Alice tersenyum lebar karenanya dan disusul anggukan kepala.


"Modus, modus," tutur Kinara memukul tangan Bian yang lama menjabat tangan wanita cantik di dekat mereka


"Yaelah.. gue mah bukan modus, anjir! Gue baru pertama kali liat bule bening kayak gini."


"Selama ini lo liat bule yang kayak mana?" seru Ria heran pada Bian yang mengatakan hal begituan.


"Ya seperti kakak ini," kekeh Bian malu-malu kucing melirik Alice di sebelahnya.


"Ish, gaya lo Bian sampai ngeblush gitu. Gak bisa bangat mata lo liat perempuan cantik," ucap Kinara.


"Terserah gue lah. Namanya juga mata. Mata digunakan untuk melihat hal-hal yang indah."


"Diem deh lu berdua. Berisik amat dari tadi," ucap Ria menenangkan keadaan.


"Jadi kira-kira kapan nih Kak sahnya jadi kakak ipar? Bolehlah kita satu kelas diundang ke acara nikahan Kakak," kata Kinara.


"Tentu boleh dong. Bulan depan tanggal 21 ya. Jangan sampai lupa," balas Alice. Perempuan itu bangkit dari sofa, menghampiri Leon yang tengah memberikan Anna segelas air minum. Leon melirik kekasihnya dengan dahi berkerut.


"Sekarang?" tanyanya. Perempuan itu mengangguk. "Bukannya fitting baju pengantinnya kata mereka lusa?"


"Kata mama lebih cepat lebih baik." Anna tersenyum kecil melihat interaksi kakak dan calon iparnya begitu menggelitik. Ya. Anna berharap semoga sampai hari H acara abangnya bisa berjalan lancar. Itu yang sangat Anna harapkan.


"Ehm.. Abang boleh minta tolong buat kalian jaga adik Abang disini dulu. Kita ada urusan sebentar di luar. Boleh, kan?" Leon menatap satu persatu teman-teman Anna yang duduk di sofa.


"Aman Bang, aman. Anna aman kok kalau ada kita," jawab Bian cepat membuat Leon tersenyum.


"Terimakasih banyak ya. Nanti kalau ada waktu kita ketemu lagi Abang akan kasih kalian hadiah satu-satu."


"Wes, makasih banyak Bang." Leon memganguk dan menggenggam tangan Alice mereka keluar bersama dari ruang rawat Anna. Tapi sebelum Leon benar-benar pergi, ia sempat-sempatnya mengecup puncak kepala sang adik membuat suara seruan ke-irianĀ terdengar di kamar itu.


"Gemes bangat sih. Ahh... Bunda Ria pengen punya Abang," serunya membuat Leon tertawa lalu detik berikutnya mereka menghilang di balik pintu.


"Enak ya punya Abang. Disayang, dimanja, diperhatiin. Gue mah, mana bisa kayak gitu. Udah nasib anak pertama begini..." Ria menghela napas panjang. Ia anak tunggal ayah dan ibunya.


"Abang gue Abang lo juga," sahut Anna begitu pelan berbicara membuat Ria menoleh dan mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2