In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 24


__ADS_3

...šŸDisclaimeršŸ...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Saat ini langit mulai menghitam disusul suara gemuruh petir menyala dan detik berikutnya hujan pun datang membasahi bumi. Anna dan ketiga temannya kini berada di depan pintu kelas dan mereka sudah siap pulang dari sekolah.


"Yakin gak mau pulang bareng sama kita ajah, Na? Hujan loh ini?" ucap Ria mengeratkan pegangannya di tali tasnya. Mereka bertiga berdiri menghadap Anna.


Anna menggeleng pelan. "Gue pulang sendiri ajah hari ini. Katanya kalian buru-buru kan jadi lain kali ajah kita pulang sama. Okey?" sahut Anna sederhana.


Ketiga temannya pun tidak memaksa dan mereka berlalu lebih dulu dari depan kelas, turun ke lantai bawah dengan menerobos badai hujan dengan satu payung bertiga menuju mobil Yesi di bawah pohon rindang parkiran roda empat.


Kini tinggal Anna sendiri berdiri di depan kelasnya. Beberapa siswa lain juga turut memilih menunggu hujan reda di lantai satu depan kantor tata usaha. Anna mendongak dan melipat bibir lesu.


"Kenapa harus hari ini hujan? Kenapa ngga besok ajah pas weekend. Lebih seru," gumamnya pelan.


Anna bukan tidak suka hujan, ia hanya merasa hujan itu membuat beberapa aktivitasnya tertunda. Seperti saat ini dia jadi tak bisa pulang cepat. Apalagi rasa dingin saat hujan itu benar-benar membuat suasana hatinya cepat berubah.


Kembali Anna menghela napas panjang. Kedua tangannya perlahan mengelus lengannya yang mulai merasa kedinginan. Ia melirik lorong kelasnya lalu beralih menatap gedung seni di seberang gedung kelasnya.


Gedung kelas milik seniornya. Sepintas ia jadi teringat dengan Sean, lelaki yang berhasil membuat Anna masih dilanda kebingungan sampai saat ini. Harusnya Anna tidak terlalu memikirkan hal itu, tapi memang ucapan Sean kemarin sungguh membuat Anna ingin mencari tahunya lebih jelas lagi siapa itu Sean sebenarnya.


Apa dia anak laki-laki yang dulu bermain bersama dengan Anna disebuah TK yang tidak dipakai lagi atau kehadiran cowok itu hanya kebetulan saja ada di hidup Anna yang sekarang.


Beberapa detik berlalu, perempuan itu pun memilih duduk di kursi panjang depan kelasnya. Saat ia menatap hujan yang membasahi atap kelas lantai bawah kelasnya, sebuah panggilan masuk mengagetkan dirinya.


Itu adalah panggilan dari nomor seseorang yang ia sendiri tidak kenal. Ia mencoba menghiraukan, tapi nomor itu berulang kali menghubunginya.


"Apa nomor ini nomor ayah yang baru?" ujarnya menatap layar ponselnya. Jemari lentiknya menggeser layar hijau di ponsel lalu mendekatkan ponsel tersebut ke dekat telinga.


"Halo ini dengan siapa?" sapanya berbicara pada sosok diseberang sana. Helaan napas yang ia dengar membuat dahi gadis itu berkerut.


[Kamu dimana Anna? Sudah tiga bulan lebih kau tidak datang ke rumah sakit. Kau tidak ingin sembuh atau bagaimana?]


Hening. Anna mengenal suara itu. Pemilik suara yang hampir membuatnya jantungan setiap ia melakukan pemeriksaan kesehatannya.


Ia sengaja menghilang karena tidak ingin tahu bagaimana kesehatannya terus-menerus. Itu sungguh membuat kepalanya sakit. Ia juga tidak ingin tahu banyak tentang apa yang terjadi dalam dirinya. Biarkan saja seperti itu. Dengan sekuat tenaga Anna akan mencoba bertahan.


"Maaf Om. Anna tidak dengar apa yang Om katakan. Disini hujannya deras..."


Anna dengan cepat memutus sambungan telepon dari pria itu. Ia sengaja mematikan panggilan dari pria itu karena tidak ingin membahas lebih lanjut tentang apa yang ia alami. Anna pun menggigit bibir bawahnya dan menggenggam kuat ponselnya.


Saat ia berdecih pelan, seseorang yang berdiri didekat tiang kelas XII IPS 1 tersenyum memandangnya. Anna sendiri tidak sadar kalau sejak lima menit lalu ia sudah diamati orang itu.


"Aku capek... benaran capek." Anna lagi-lagi menghela napas beratnya. Ia mendongakkan kepala menatap langit-langit koridor kelas lalu kedua kakinya ia luruskan kedepan.


"Jadi rindu masakan Bunda. Dulu kalau lagi hujan begini Bunda sering masakin mie kuah, tapi sekarang Bunda udah jauh bangat. Anna boleh nyusul bunda gak sih ke atas sana?"


Tanpa sadar hujan yang tadinya deras mulai perlahan mereda dan Anna menyudahi kegiatan menatap langit yang mendung. Ia mulai berdiri dari tempatnya, mengeratkan pegangannya di tali tasnya--berjalan di lorong kelas menuju lantai satu.


Arloji ditangannya sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tak terasa ternyata sudah lama ia duduk sendirian di depan kelas. Anna mengeluh sebentar ketika tas yang ia gendong di punggung menyentuh luka di bahunya. Rasanya begitu perih. Karena merasa tidak enak ia pun melampirkan tasnya dengan sebelah bahu.


Manik matanya beralih menatap kepergian siswa lain yang sejak tadi juga menunggu hujan berhenti. Langkahnya menuntun hingga berhenti di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


Kembali ia mengalihkan pandangannya ke arah halte tepat di depan sekolah. Banyak siswa yang ternyata juga sedang menunggu jemputan disana dan sudah menaiki angkutan umum. Mungkin itu angkutan yang terakhir dan Anna sudah telat. Ia ketinggalan angkot.


Setelah keadaan mulai sepi dan jalanan depan sekolah juga tidak terdengar kendaraan lain lalu-lalang, gadis itu dengan tenang berjalan di atas trotoar sambil menikmati udara segar yang membawa aroma hujan menerpa wajahnya. Ia mengulas senyum tipisnya.


Saat gerobak mie ayam lewat di depan matanya Anna mulai merasa lapar. "Ya ampun, sabar ya. Bentar lagi kita pulang dan semoga Bi Rina masak enak hari ini. Tenang, tenang," ucapnya mengelus perut ratanya.


Tiiiinnnnn!


"Astaga Tuhan, jantungku." Anna mengelus dadanya berulang kali ketika dikejutkan oleh klakson motor seseorang. Wajahnya yang setengah kesal menoleh menatap sosok yang berada diatas motor.


Orang yang baru saja mengejutkan dirinya adalah Arkana, cowok itu mengedarkan pandangannya ke sekitar membuat Anna juga ikut melihat sekelilingnya.


"Berani bangat lo jalan sendirian di tempat sepi begini Na. Kalau ada yang nyulik lo, gimana?" kata Arkana.


Anna masih belum menjawab karena ia sudah lebih dulu sebal pada cowok itu. Teganya ia mengagetkan dirinya yang sedang jalan sendiri.


"Minta maaf dong Kak udah bikin orang kaget," ujarnya mendelik pada Arkana. Cowok itu pun terkekeh karena memang tau kesalahannya.


"Sorry ya kalo lo terkejut. Lagian tuh kalo jalan sendiri jangan melamun," balas Arkana membuat gadis itu justru menekuk garis bibirnya.


Arkana yang memandangnya pun merasa heran. Setelah itu ia mengulurkan sebuah helm kepadanya dengan maksud mengajaknya pulang bersama.


"Kenapa? kakak mau ngapain?" tanya Anna melirik helm di tangan Arkana.


"Menurut lo gue kasih helm beginian buat ngajak lo masak? Lo tolol apa pura-pura gak tau. Bisa juga lo ya buat gue kesal. Jarang nih ada orang yang buat gue kesal, biasanya gue kesal paling sama Sean. Gue antar lo pulang, ayo buruan."


"Gue belum mau pulang, Kak. Kakak duluan ajah," elaknya lembut lalu kembali mengayunkan kakinya berjalan.


Arkana menghela napas berat. Kalau bukan karena Sean memintanya baik seperti ini untuk mengantarkan gadis itu pulang, Arkana tidak akan mau capek sendiri karena Anna menolak ajakan pulangnya.


"Kenapa sih berubahnya sampai kayak gini? Dulu lo gak kayak gini disekolah bahkan kalau diajak ngobrol pun gak jutek-jutek amat. Apa yang buat lo berubah Na?"


"Apa harus semua hal perlu ada jawabannya Kak? Bahkan setiap orang yang berubah karena keadaan, apa perlu mereka tahu alasan kita berubah? Kalo kita kasih tau juga orang-orang belum tentu bersimpati. Banyak orang cuman penasaran ajah, jadi gak penting bangat Kak."


"Sekali ngomong ajah lo buat gue tegang ya. Maaf lah kalau gitu, gue cuman bingung ajah sama perubahan lo—drastis Na."


"Yaudah yok gue antar lo pulang. Jangan tolak ajakan gue lagi. Ini jalan bukan depan sekolah lagi dan lo tau pasti banyak preman yang berkeliaran di sini. Buruan," tutur Arkana.


"Buruan, Anna. Lo doang yang buat gue memohon dua kali. Kalau ada preman gue ngga jamin lo selamat." Tanpa berpikir lama Anna menerima uluran helm dari tangan Arkana.


"Buat apa sih Kak? Gue bisa sendiri bawanya..." Kembali Anna menghela napas panjang ketika Arkana berusaha meraih tas yang ia peluk ditubuh depannya.


"Pegangan sama gue. Gue takut lo terjengkang karena gak pegangan. Lagian lo duduk kayak lagi di angkot."


Benar saja. Posisi duduk Anna sekarang menyamping dengan tangan memegang erat tas hitam milik Arkana. Anna sempat tersenyum tipis melihat banyaknya gantungan tas menggantung di tas Arkana.


"Udah belum?" tanya Arkana. Anna yang sibuk merapikan roknya menyingkap langsung mengangguk pelan.


"Udah tapi jalannya pelan-pelan ajah ya."


"Sepp. Pegangan, jangan sampai lupa." Anna pegangan pada ransel hitam milik Arkana sesekali ia memainkan mainan tas cowok itu.


Sepanjang jalan pulang tidak ada percakapan apapun yang terdengar. Sampai di depan gerbang rumah, kedatangan mereka disambut oleh Bi Rina yang sedang berbincang dengan Mang Dodi.


"Non Anna kenapa lama sekali pulangnya? Bapak sampai marah-marah karena Non belum pulang dari tadi," kata Bi Rina memberitahu Anna yang hendak turun dari motor Arkana yang cukup tinggi baginya. Ia pun panik dan tidak bisa menutupi kecemasannya di saat Arkana meliriknya.

__ADS_1


"Makasih bangat ya Den udah antar non Anna sampai rumah."


"Sama-sama Bi," jawab Arkana tersenyum. Sementara itu Anna melepas helm di kepalanya dan menggantungkan helm itu di stang motor Arkana lalu meraih kembali tas sekolahnya dari pelukan cowok itu.


"Makasih banyak ya. Kakak hati-hati di jalan."


Arkana mengangguk lalu menurunkan kaca helmnya. Anna tidak lupa melambaikan tangan pada cowok itu kemudian berlari cepat memasuki rumah. Belum juga Anna berada di dalam rumah, Ayahnya sudah berdiri di ambang pintu dengan iris tajam memandang kedatangannya.


Setelah ditampar keras oleh ayahnya, Anna ditarik paksa masuk kedalam rumah seraya memegangi pipinya yang panas.


"Darimana saja kamu, hah? Kau tidak lihat jam berapa sekarang? Anak gadis mana yang pulang sekolah sampai jam setengah enam begini? Kau ingin tetangga rumah kita mengatai ayah tidak bisa mengurus anak perempuannya?"


"Maafin Anna Ayah. Anna bisa jelasin kenapa Anna pulang lama. Tadi di sekolah hujannya deras jadi Anna menunggu sampai reda dulu di depan kelas."


"Alasan kamu saja! Bilang saja kamu pacaran di luaran sana makanya lama pulang. Iya, 'kan?"


"Anna gak bohong Ayah. Disekolah hujannya deras dan kebetulan Anna gak bawa payung hari ini."


"Ayah tidak peduli mau hujan atau apapun kau harus tetap sampai di rumah tepat waktu. Dan ini apa?!"


Kertas ulangan milik Anna tiga hari lalu mendarat di lantai. Kertas ulangan matematika dengan nilai 90 nyaris sempurna dimata orang lain tapi tidak dengan ayahnya sudah berceceran di lantai dengan ulangan mata pelajaran yang lain.


"Nilai apa ini? Kau belajar apa dari kemarin? Kenapa nilaimu menurun begini? Ayah sudah katakan nilaimu harus sempurna Anna!"


"Kalau nilaimu begini terus Ayah tidak yakin akan kalau ayah akan menyekolahkan kamu lagi Anna. Cukup kau membuat Ayah malu sampai hari ini. Ayah sudah bilang tugasmu itu belajar dan membuat harum nama keluargamu. Apa sulitnya mendapat nilai sempurna dari semua mata pelajaran?!"


"Anna udah berusaha dapatin nilai seperti yang ayah mau tapi beberapa hari ini Anna gak sanggup ayah. Anna juga butuh istirahat, akhir-akhir ini kepala dan badan Anna juga sangat sakit. Anna ingin..."


"Ingin apa?" terang Ryan memotong ucapannya. Gadis itu pun terdiam dan menundukkan pandangannya ke lantai.


"Kau ingin putus sekolah, biar ayah lakukan. Kalau tidak ingin sekolah lagi itu gampang buat ayah. Ayah tidak perlu capek-capek menyekolahkan kamu dengan biaya mahal kalau hasilnya begini."


"Apa susahnya mendapat nilai seratus di semua mata pelajaran. Kau tidak lihat anak Pak Bambang, keluarga yang tinggal di depan rumah kita ini. Anak-anaknya semua diterima di dua Universitas ternama di luar negeri, sementara kau entah bagaimana nasibmu nanti."


"Itulah kenapa Ayah membencimu. Kau tidak bisa diandalkan. Kenapa tidak kau saja yang pergi saat itu bukan malah Bundamu..."


Anna mengangkat pandangannya. Kali ini matanya melotot menatap sang ayah. Bahkan ia yang sudah sering mendengar itu rasanya hari ini lebih sakit dan tidak bisa ditahan lagi. Sampai-sampai Anna mengepal tangan di sisi roknya.


Ayahnya mengerutkan dahi ketika melihat Anna bangkit dan berjalan ke arah dapur. Ditangan gadis itu sudah ada pisau. Ryan terbelalak saat Anna meraih tangannya.


"Lakukan sekarang ayah kalau ayah ingin Anna hilang dari hadapan ayah," ujar Anna dengan mata tidak tenang memandang Ryan.


"Apa masalahnya kalau Anna mendapat nilai seperti itu? Ruginya ayah dimana? Harusnya ayah sadar dengan semua hal yang ayah lakukan pada Anna. Apa Ayah pernah menanyakan Anna udah makan? Apa ayah juga pernah menanyakan keadaanku? Sekalipun ayah tidak pernah mengkhawatirkan Anna! Semuanya tidak pernah ayah, tidak pernah!"


"Ayah benci kan padaku? Ayah juga tidak berharap kan kalau aku ini jadi putri ayah lagi. Lakukan sekarang ayah ... kalau ayah lakukan itu ayah tidak akan terbebani lagi seumur hidup. Ayah akan selamanya bahagia tanpa rasa malu lagi!"


"Ayo, Yah lenyapkan Anna dengan tangan ayah sendiri!" Anna menggenggam kuat pisau yang ada ditangan ayahnya.


"Lakukan, Ayah!" teriak Anna dan Ryan yang terkejut mengangkat tangannya tiba-tiba dan menggores pergelangan Anna membuat tangan kiri gadis itu berdarah. Darah dari pergelangannya menetes ke lantai.


"Arghh...." ringis Anna bersimpuh di lantai sambil menggenggam erat tangannya yang luka.


"Anna..." panggil Ryan. Pria itu sempat berjongkok dan menyentuh pundak Anna. Namun, sepersekian detik pria itu menjauhkan dirinya. Ia menjaga jaraknya dengan Anna yang mulai kesakitan.


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2