
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
Sean memandang datar gadis di hadapannya. Sejak bel istirahat ketiga berbunyi keras, gadis berambut sebatas bahu dengan ujung rambut bercat pirang bergelombang, terlihat tengah duduk di hadapannya sembari mulutnya tak henti membujuk dirinya untuk mengantarnya pulang sepulang sekolah nanti.
"Dengarin dulu omongan gue, please," ujar Ghea mencoba meraih tangan Sean namun cowok itu dengan cepat bangkit berdiri dari kursi yang ia tempati.
"Masalah kemarin-kemarin itu gue minta maaf bangat. Kalau bukan karena kesal gue gak mungkin lakuin itu sama Anna. Habisnya lo tahu sendiri kan lo itu tunangan gue jadi wajar gue gak suka kalau lo dekat sama cewek lain," ujar perempuan itu.
"Lihat deh tuh si Ghea sampe mohon-mohon gitu buat harga dirinya turun bangat," bisik dari salah satu anggota OSIS yang masih membereskan kertas HVS bekas coretan Sean tadi.
"Tau tuh. Gak malu bangat ya depan kita kayak gini ngemis perhatian sama Kak Sean."
"Jelas-jelas Sean dah bilang mereka gak ada hubungan apa-apa sampai ngomong tunangan. Dia berharap apa gimana?"
Anggota OSIS lain yang baru saja selesai berbincang dengan Sean begitu ilfil menatap kelakuan Ghea yang tiada hari tidak mengganggu cowok itu.
Ghea selalu memaksa dan selalu merasa ingin diperhatikan. Setelah semuanya beres, mereka bergegas pergi dari sana, sebelum rasa mual menganggu mereka karena tingkah Ghea tak tahu malu.
"Soal kemarin gue marah-marah di ruang OSIS atau masalah sama Anna di kantin dan di lapangan juga gue mohon maaf. Gue ngaku salah tapi jangan marah lagi, okay," mohon Ghea padanya. Mata gadis itu mencoba berbicara namun Sean enggan menatapnya.
Sean terdiam dan malah sibuk memainkan ponselnya. "Sean, ayo dong jangan marah lagi. Maafin ya, please...."
"Oii, Ghea! Kalo gue jadi lo ya mending gue balik ke kelas daripada gue ngomong capek-capek tapi nggak ditanggapin bikin malu doang," kata Arkana si mulut pedas.
"Balik aja sono lo Ghe. Ngapain juga adek kelas kayak lo datang sendirian ke kelas kakak kelas lo sendiri. Apa ngga malu lo, kecuali lo benaran pacaran sama Sean kita ngga masalah," ucap Rogan bersandar di tiang pintu.
"Terserah gue dong, gue kan nggak ngomong sama lo pada jadi nggak usah ikut campur," sarkas nya membuat Arkana berdecak sebal. Rogan yang tipekal cowok yang tidak suka basa-basi langsung memutar bola mata malas.
"Udah balik ke kelas ajah Ghe. Jangan sampai satu kelas ini ngusir lo kasar," ucap Satria yang baru saja keluar dari dalam kelas.
"Gue ngga mau Kak Satria sebelum Sean maafin gue," kata Ghea melirik Seab yang tak peduli dengan keberadaannya disana sejak tadi. Ia justru disibukkan dengan ponsel di tangannya.
"Mau ya Kak. Entar gue tungguin di parkiran sekolah ya. Kita pulang bareng."
"Gue rasa nih cewek urat malunya udah putus semua," tutur Arkana seraya menyeruput esnya lalu disambung gelak tawa oleh Rogan.
"Lo berdua bisa diam gak!" Ketus Ghea garang. Bahkan gadis itu sudah siap ingin mencabik-cabik wajah sok manis milik Rogan dan Arkana.
"Pergi, Ghe!" Sean angkat suara membuat Ghea langsung memandanginya. Raut wajah gadis itu langsung berubah lesuh.
"Jawab iya dulu baru gua pergi, kalau nggak gua gak mau," kekeuh Ghea terus memaksa ingin pulang bersama cowok itu. Sean menata Ghea tajam membuat gadis itu meneguk salivanya kasar.
"Pergi!!" tukasnya dengan nada meninggi membuat Ghea mau tak mau pergi dari sana sebelum cowok itu benar-benar mengusirnya kasar.
"Dikasari dulu baru tuh bocah minggat," ucap Arkana menatap kepergian Ghea di koridor kelas.
"Sejak kapan lo tunangan sama bocah freak itu. Gue yang ketinggalan info atau gimana?" tanya Rogan.
...ā¢ā¢ā¢ ...
Setelah bel panjang berbunyi pertanda berakhirnya pembelajaran hari ini, seluruh siswa-siswi Starlight High School mulai riuh sepanjang lorong kelas sampai area parkiran.
Ghea yang tadinya hendak pergi karena sudah dijemput sopir pribadi mendadak putar arah ketika ia tidak sengaja melihat Anna hendak menaiki motor Erlangga di area parkiran khusus sepeda motor.
"Eh Ghe itu tunangan lo tuh," ucap Sera pada Ghea. "Tapi kok... Kenapa Sean bareng sama Anna juga. Lihat tuh Anna ada disana. Gila... Jangan bilang mereka mau pulang bareng. Bukannya harusnya lo ya Ghe disana."
__ADS_1
Ghea menolehkan pandangannya ke arah parkiran. Memang benar disana ada Seab bersama teman-temannya dan jangan lupa Anna juga berdiri diantara ketiga cowok itu.
Perempuan itu melihat Sean dan Anna saling tatap dan tersenyum juga bahkan Ghea yang notabenenya tunangannya saja sekalipun tidak pernah naik di atas motor laki-laki itu.
Pemikiran itu membuat Ghea geram. Melihat itu Sera kembali memanas-manasi keadaan. "Kalau pun Sean bareng sama Anna pulang nya mestinya lo dikasih tau dong Ghe. Tunangannya kan lo?"
Ghea mengangguk. Ia pun mengepalkan tangannya kuat sampe telapak tangannya tercetak jelas tusukan bekas kukunya tadi. Ghea yang sudah berada di dalam mobil keluar begitu saja menghampiri Anna dan Sean di parkiran bersama dengan temannya yang lain.
"Lo apa-apaan sih Kak, ngapain lo bareng sama cewek aneh ini pulangnya? Harusnya gue yang lo antar, kok malah dia."
"Gak tau diri bangat sih. Dia kan bisa pulang sendiri nggak mesti lu antarin!" Ghea melirik keberadaan Anna yang berdiri di dekat Satria dan Arkana sementara Sean sudah naik di atas motornya.
"Lo jugaāKapan sih ngerti posisi lo sebenarnya dimana? Apa sampe mulut gue ini berbusa dulu biar lo paham kalau Sean itu tunangan gue. Jauh-jauh bisa ngga, sih?"
"Mending lo yang diam, Ghe! Sibuk banget ngurusin urusan orang lain," kata Arkana bersiap menaiki motornya setelah mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
"Lo tuh yang diam, gua nggak ngomong sama lo ya! Kenapa selalu lo ikut campur sama urusan gue. Suka lo sama gue?" tandas Ghea membuat Arkana langsung menertawainya.
"Dih, mulutnya nggak sopan. Bisa-bisa gue mati cepat kalau sampai ada rasa sama cewek model nya kayak lo. Udah sok cantik, banyak gaya, hidup lagi!!" kata Arkana tegas di setiap kata yang ia ucapkan membuat Ghea geram terlihat dari sorot matanya menajam.
Satria bergerak dan berjalan kearah Sean. "Mending lo antarin Anna dulu pulang, habis itu ke rumah gue ya. Kalau anak orang kaya kan biasanya ada jemputan, jadi ngga masalah kalau ditinggal. Iya gak, Ar?"
"Yoi, Bro," sahut Arkana tertawa.
"Naik, Na. Entar kepala lo pusing lama-lama disini," kata Satria mencolek lengan perempuan itu.
Ann jla yang memang tadi diam saja langsung bergerak menaiki motor Sean begitu saja. Bahkan Ghea yang berdiri di dekat motor Sean seolah keberadaannya ia hiraukan saja dan naik santai ke atas motor.
"Gue ngga mau lo antarin dia!" Ghea mencegat kepergian Erlangga dengan menarik jaket cowok itu sampai tepisan kasar di tangannya membuat Ghea marah besar.
"Gue cabut duluan."
Kali ini Anna memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang Sean dengan erat, sontak Ghea yang berdiri disana mengepalkan tangan dan napasnya memburu.
"Hati-hati antarin pulang anak orang!"
"Liat ajah lo apa yang bakalan gue buat sama Lo!" Ghea bergumam dan tak sadar kalau Arkana serta Satria tengah menatapnya sinis.
"Selama kita masih ada lo ngga bakalan bisa sedikitpun menyentuh Anna dengan mudah Ghe. Lo harus lihat lawan lo siapa ajah," ucap Arkana.
"Kita liat ajah sampai mana lo semua lindungi gadis sialan itu. Milik gue gak bakalan jadi milik orang lain!" Ghea berlalu meninggalkan Satria dan Arkana yang tampak biasa saja tapi tidak dengan isi kepala mereka.
....
Sementara Sean dan Anna yang belum jauh dari lingkungan sekolah, tiba-tiba berhenti di bawah sebuah pohon besar pinggir jalan. "Lepas helmnya," ujar Sean lewat kaca spion. Anna yang rada-rada dengar pun mencondongkan badannya lebih dekat.
"Lo bilang apa barusan?" tanyanya.
"Helmnya lepas!" Anna yang tidak banyak bertanya pun langsung melepas helmnya. Tiba-tiba saja ia membulatkan matanya ketika tangan besar milik Sean menyentuh tangannya.
"Gue ngga macam-macam kok, sini-in tangan lo," ujarnya membuat Anna mengulurkan kembali tangannya. Betapa kagetnya gadis itu saat Sean menaruh tangannya di pinggang.
Gue ngga mau. Apaan sih!"
"Tadi ajah gue ngga bilang lo langsung meluk ajah. Kenapa? Mau panas-panasin Ghea?" Anna tidak menjawab. Ia justru mengalihkan matanya ke arah lain.
"Pegangan disini. Gue mau ngebut soalnya."
"Di sini kan bisa ngga perlu meluk pinggang loh juga kali," ucapnya memegang erat tas cowok itu.
__ADS_1
"Yakin mau pegangan di situ?" tanyanya mencoba meyakinkan keputusan gadis itu sampai akhirnya Anna patuh dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sean.
"Good girl..." ucapnya. Sean pun melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Angin menerbangkan helaian rambut milik gadis itu. Ide brilian seorang Sean benar-benar berhasil.
Perempuan yang duduk di jok belakangnya sekarang tersenyum lebar. Sebentar-sebentar Anna merentangkan kedua tangannya menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya lalu kembali memeluk pinggang Sean dengan erat.
"Pegangan Na. Gue mau ngebut..."
"Kenapa? Apa ada yang ngejar kita dari belakang?" seru Anna tepat di bahu Sean. Cowok itu lantas menggeleng. Lelaki itu baru saja menyalip sebuah truk besar membuat Sean melajukan kecepatan motor sport nya. Hal itu langsung membuat Anna mengembangkan senyumnya.
Apa sekarang ia tersenyum?
"Anna?"
"Iya?" sahut Anna.
"Gue mau bilang sesuatu sama lo!"
"Gue ngga dengar lo ngomong apa.." teriak Anna keras
"GUE MAU BILANG SESUATU SAMA LO!" Sean berteriak agar gadis itu dapat mendengar suaranya jelas.
"Mau bilang apa!"
"Apapun yang terjadi nantinya jangan benci ya sama gue. Gue janji akan selalu ada buat lo. Lo harus ingat itu ya. Jangan sampai lo lupa!"
Setelah mendengar perkataan Sean yang cukup begitu jelas, Anna pun melirik lewat kaca spion lalu tersenyum seraya mengedipkan matanya tanda iya mengerti.
"Gimana? Senang?" tanyanya menatap Anna yang tak hentinya mengulas senyum. Gadis itu tersenyum lebar.
"Gue sengaja biar lo ngerasain gimana enaknya naik motor ngebut-ngebutan. Jadi kalau lo lagi sedih bilang sama gue. Gue bakalan hibur lo semampu gue."
"Buat apa?"
"Nggak buat apa sih, heheh,"
"Gue suka kalau liat lo senyum kayak gini. Jangan jutek lagi ya. Mulai hari ini lo harus banyak senyum. Apapun yang orang lain katakan, apapun yang terjadi hari ini, esok atau kedepannya hadapin dengan senyuman seperti ini."
"Sedih boleh kok tapi sewajarnya ajah. Bahagia itu jauh lebih menenangkan..."
"Eh..." ucap Anna ketika tangan besar Sean mendarat di puncak kepalanya. Usapan lembut itu membuat Anna gugup tak berani menatap Sean kembali.
"Sorry ya sampai rambut lo berantakan gini."
" Gak papa kok. Oh iya, makasih banyak udah ngantarin pulang."
"Sama-sama. Gue izin pamit ya."
"Tunggu." Anna menahan tangan Sean yang hendak menancap gas motor. Cowok itu pun menoleh. "Lo masih mau ke tempatnya kak Satria? Bentar lagi hujan loh. Apa gak sebaiknya lo pulang ke rumah."
"Lo khawatir?"
"Ya engga lah. Gue cuman bilang doang."
"Gue kan cowok nggak mungkin gue takut sama hujan apa lagi sakit. Harusnya lo yang khawatir sama diri lo sendiri. Jaga kesehatan jangan sampai sakit."
Mendengar kalimat terakhir keluar dari bibir Sean, Anna terdiam sebelum suara Sean yang berat memasuki indera pendengarannya.
"Gue balik ya." Anna mengangguk pelan membuat Sean segera berlalu dari sana. Perempuan itu terus saja menatap kepergiannya yang sudah hilang di belokan simpang komplek perumahannya.
__ADS_1
"Ekhem!" Sebuah suara dari belakangnya membuat Anna berbalik badan. Tatapan yang tadinya berbinar kini perlahan sendu saat melihat sosok yang ia tunggu sejak lama sudah kembali.
- to be continued -