
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
Rooftop Starlight High School saat ini sedang dihuni oleh Satria, Sean, Arkana, Rogan dan Davian. Tempat itu benar-benar rapi dan nyaman. Tiga kursi panjang, satu meja panjang, dua sofa empuk berwarna cokelat tua berada di paling sudut ruangan itu.
Bagian lantainya juga dilapisi karpet berwarna abu-abu. Pada setiap jendela, menggantung pot bunga kecil yang ditumbuhi tanaman seperti kaktus dan Satria sendiri yang kerap menyiram tanaman itu sekalinya ia datang kemari.
Ketika mereka menghabiskan waktu di tempat ini sampai bel pelajaran berbunyi, mereka harus melepas sepatu dan menyisakan kaos kaki saja. Peraturan itu sudah lama dibuat. Tidak ada yang bisa masuk ke tempat ini karena memang hanya ada satu kunci. Itupun Rogan yang memegangnya.
Satria dan Rogan langsung saja berbaring di sofa sesaat setelah mereka melepas sepatu dan meletakkannya di rak yang sudah disediakan. Sementara yang lain duduk dibawah beralaskan tikar.
Satria dan Rogan rebahan di sofa sembari men-scroll InstagramĀ mereka. Rogan me-likeĀ foto ciwi-ciwi yang lewat di berandanya. Sementara Satria, ia hanya sebatas men-scroll lalu membuka twitternya.
"Tumben lo sama Davian bisa datang kemari. Biasanya lo berdua paling gak bisa diajak," ujar Arkana. Cowok itu tengkurap di tikar dengan tangan menahan bahu.
"Biasalah. Kadang gabut, kadang juga banyak tugas dari beberapa guru. Ini ajah kalau bukan karena si kampret sana gue mah mager datang ke sini," balas Rogan mengarahkan dagunya pada Davian yang bermain game dengan Sean.
"Woy, Sean! Gue dengar Anna udah pulang dari rumah sakit. Benaran iya? Pulangnya sama lo?" ucap Rogan dan dibalas gelengan kepala oleh Sean.
Setelah Sean beradu mulut dengan Nathan. Ia langsung pergi keluar dari rumah. Tidak peduli suara teriakan Nathan yang melarangnya pergi saat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Sean tidak akan pernah lagi menuruti perkataan apapun yang Nathan lontarkan. Ia membenci saudaranya itu.
Setibanya ia disana, Sean langsung dikejutkan dengan kedatangan suster yang merawat Anna selama di rumah sakit ini.
"Kamu Sean kan, teman gadis yang berada di ruang rawat nomor 2083?" Ia mengangguk.
"Ada apa, Sus? Apa sesuatu terjadi dengannya?" ujarnya lalu melangkah mengabaikan suster wanita itu yang belum menjawab pertanyaannya.
Belum satu meter pergi, langkahnya berhenti ketika mendengar gadis itu sudah tidak ada di ruangannya lagi.
__ADS_1
"Pasien di ruangan itu sudah tidak ada disana. Sejam setelah kau pergi seseorang pria dan wanita datang menjemputnya. Kami pihak rumah sakit mengetahuinya lewat cctv ruangan itu."
Setelah kabar itu, Sean langsung paham. Mungkin ayahnya yang menjemput Anna pulang. Walau sebelumnya dokter sudah mengatakan gadis itu tidak dibolehkan pulang, tapi Sean tidak mungkin bersikeras, ini bukan haknya.
"Jadi lo gak tau kalau Anna udah balik dari rumah sakit? Hari ini gue juga gak lihat tuh cewek sekolah," ujar Davian melirik Sean lalu kembali fokus menatap layar ponselnya.
Dia salah satu cowok yang selalu memperhatikan keberadaan Anna disekolah setelah mereka mulai akrab satu sama lain.
"Bagi gue, Sat," pinta Arkana sejak tadi berusaha keras meraih jajanan chiki di atas paha Satria. Dua orang itu hanya makan berdua saja tanpa mempedulikan Arkana yang juga ingin chiki itu.
"Belilah sono, biar tau harga," balas Satria seraya menjauhkan chiki itu dari tangan Arkana yang sekali lagi mencoba meraihnya.
"Kayak bocah lo berdua," sahut Rogan meraih chiki di tangan Satria. Cowok itu merampasnya dan membuat Satria berdecih.
"Astaga, pelit bangat lo Gan," ujarnya kesal.
"Sana beli. Gue beli ini pakai uang jajan gue kemarin, lahh lo datang tinggal minta doang. Enak bangat hidup lo," cecar Rogan membuat Arkana berdecak keras.
"Anjir lo! Sana, beli di kantin," sungut Rogan bangkit dari sofa dan bergabung dengan Sean juga Davian duduk di tikar. Rogan bersandar di pundak Sean sembari mencuri-curi pandang ke arah cowok itu.
"Lo ganteng juga ya dilihat dari jarak dekat begini. Lo gak belok, kan?"
"Bangsat!" umpat Sean menyingkirkan Rogan dari pundaknya.
"Canda gue mah. Lo cepat bangat sensinya."
"Tadi gue juga bilang apa. Beli tuh chitato, elo mah beli frestea doang," seru Satria dari sofa yang beradu mulut dengan Arkana.
"Halah, bilang ajah lo berdua pelit. Gue tandai lo berdua. Kalau datang ke rumah gue gak bakalan gue izinin makan makanan rumah. Mau datang beli makan sendiri," tandas Arkana ngambek lalu berbaring di sofa sembari memainkan ponselnya.
Sebuah kantong plastik jatuh di wajah Arkana yang fokus menatap layar ponselnya sesekali bibirnya berceloteh tak jelas. Satu kantong plastik jajanan yang dilempar oleh Sean ke arahnya.
__ADS_1
"Buat lo. Makan tuh jajan. Itu ajah sampai lo ngambek," sindir Sean membuat Arkana langsung menegakkan badan dan terkekeh.
"Seriusan nih?" Sean berdehem pelan dan Arkana spontan berdiri berjalan kearah cowok itu. Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi.. Arkana mengecup pipi cowok itu secepat kilat.
Sean yang tak merasa itu seperti ciuman langsung menoleh menatap datar ke arah Arkana yang mengangkat jari tangannya berbentuk peace.
"Woah.. gak benar nih woy! Pipi lo gak suci lagi Sean. Gawat nih kalau sampai cewek lo tau Arkana yang lebih dulu ambil kesempatan langka ini."
"Gak punya cewek dia mah. Aman itu masih-an," kekeh Satria.
"Cari dong Bro. Masa lo doang yang belum punya. Satria ajah yang takut sama cewek udah punya gebetan tuh si Ria"
"Enak loh Sat punya gebetan kayak Ria. Menang banyak lah tiap hari. Udah pernah begituan gak?"
Rogan mendelik membuat Satria langsung melempar kaleng kosong di tangannya. Rogan menangkap kaleng kosong itu seraya tersenyum miring.
"Gue gak kayak lo ya. Tiap hari servis mulu..."
"Anjir, servis lo, Gan?" ledek Arkana.Ā Mampus gak tuh si Rogan. Berkat Satria, Arkana bisa membalasnya.
"Victory gue, anjir! Kalah lagi lagi lo Sean. Payah lu..." nyinyir Davian sambil bangkit berdiri saking senangnya bisa mengalahkan Sean yang selalu bisa mengalahkannya.
"Baru juga sekali lo menang," ucap Satria menyindirnya membuat Davian mendelik tidak suka.
"Gue patut bangga dong pastinya. Lo semua mana ada yang bisa ngalahin Sean, sekalipun belum ada. Cuman gue doang nih..."
Davian mencubit seragamnya berbangga hati. Padahal baru ronde pertama tapi cowok itu sudah keenakan bukan main.
Obrolan mereka terus berlanjut sambil mereka menghabiskan jajanan dari Sean tanpa saling rebut lagi dan akhirnya terhenti oleh bel masuk berbunyi.
- to be continued -
__ADS_1