In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 34


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


"Abang!!"


Saat Anna mendengar suara yang tidak asing di belakangnya, ia menoleh dengan perlahan. Matanya tidak bisa berbohong menatap sosok menjulang tinggi di depan pintu rumah.


Laki-laki yang berstatus kakak untuknya sejak ia lahir—kembali dipertemukan dengan waktu yang cukup lama membuat Anna langsung berlari kencang kearah dimana Leon berada.


Pria yang berumur hampir tiga puluh tahun itu membuka lebar kedua tangannya menyambut kedatangan sang adik pulang dari sekolah dan untuk pertama kalinya ia kembali setelah bertahun-tahun tinggal di negara lain.


Dia Leon Andrew Williams. Abang satu-satunya yang Anna punya. Anna yang tadinya berlari tiba-tiba berhenti dengan jarak satu meter dari hadapan Leon.


Anna menatap lekat-lekat penampilan Leon dan tidak melewatkan satu bagian pun dari tubuh Leon yang begitu berkarisma.


"Malah bengong kamu dek, sini peluk abang," ujar Leon mengulas senyum lebar pada Anna. Sedang Anna masih terdiam mematung menatap Leon.


"Udah gak kenal sama Abang lagi ya?" sambung Leon kembali. Namun, Anna tetap diam dengan posisi yang sama. Manik matanya terus fokus pada netra coklat terang milik Leon yang bergerak resah.


Anna menggulum bibirnya. Ekspresi kagetnya berubah menjadi tatapan sendu sepersekian detik. Ia masih belum percaya bahwa Leon sudah kembali ke rumah.


"Abang..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca sambil merentangkan tangannya kemudian memeluk tubuh Leon dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leon yang hangat.


"Abang kapan pulang? Kenapa ngga bilang dulu sama Anna," ujarnya memukul dada Leon dengan keras membuat lelaki itu terkekeh lalu mengusap pelan rambut adiknya.


"Abang ngga sayang lagi ya sama Anna? Seratus kali Anna hubungin nomor Abang sampai hari ini ngga ada balasannya juga—dan sekarang Abang malah tiba-tiba ajah udah ada di rumah. Anna pikir abang kenapa-napa disana," ujarnya menitikkan air mata.


Kali ini Anna benar-benar menangis. Rindunya pada pria itu sudah tidak bisa ia jelaskan lagi. Hidungnya memerah dan kaos yang Leon kenakan ia jadikan tissue untuk hidungnya yang berair.


"Ck! Jorok dek, astaga. Malu sama umur Anna. Masa baju abang jadi lap ingusmu sih," dengus Leon berdecak membuat gadis itu memandang wajahnya.


Leon benar-benar sudah tinggi sekarang, sampai-sampai Anna harus mendongak menatapnya.


Rahang tegas dengan bulu-bulu tipis di wajah Leon membuat Anna memanyunkan bibirnya. Kulit wajahnya juga putih bersih, hidung mancung, bibir pink tipis dan rambut yang dipotong model basic under cut trim yang kedua sisinya dicukur halus dengan bagian atasnya tebal. Sejak memilih bekerja di luar negeri, Leon benar-benar sepuluh kali lipat bertambah tampan.


"Kenapa liatnya sampai begitu? Bola matamu sampai mau jatuh loh," kekeh Leon membuat Anna mencibikkan bibirnya.


"Kenapa Abang ngga kasih kabar kalau mau pulang, hah? Tau kian Anna bisa minta oleh-oleh dari sana."


"Memangnya kamu pacar abang sampai harus hubungin kamu kalau abang mau pulang?" Anna langsung memasang wajah cemberutnya.


"Becanda, Dek, baper amat sih!"


"Perasaan Abang udah hubungin kamu deh dari hari kemarin. Maafin juga gak bisa balas pesanmu cepat. Abang sibuk bangat.."


"Sibuk apanya sih bang sampai balas pesan Anna gak sempat. Tiga bulan Abang gak ada kabar dan gak mungkin dalam sehari Abang gak pegang handphone. Mustahil..."


"Andaikan juga Anna tau abang pulang, Anna bakalan masak sesuatu sama Abang. Abang pasti belum tau kalau Bi Rina udah ajarin Anna masak, Bi Rina..."


"Ganti baju dulu sana," ucap Leon memotong ucapannya membuat gadis itu menyunggingkan sudut bibirnya. "Abang mau ajak kamu ketemu kakak iparmu."


Mendengar kata kakak ipar Anna malah tertawa terpingkal-pingkal sambil mengusap sisa air matanya yang tertinggal di sudut mata.


Ia melirik wajah Leon lalu kembali tertawa ngakak. Lain hal dengan lelaki itu, ia justru bingung apa dia salah berbicara sampai adiknya ngakak seperti itu. Anna cekikikan sambil menahan perutnya karena saking seriusnya ia tertawa.


"Hey! Why are you laughing at me?"


"Look at you, Brother..." Anna mengangkat tangannya mulai dari samping kepala kakaknya sampai ke bawah badan.


"Anna ngga percaya kalau Abang punya pacar. Perempuan mana yang tertarik dengan tampang Abang yang membosankan ini. Hadeh... bercandanya gak lucu."


Anna meledek membuat pria itu langsung merogoh sakunya dan mendekatkan ponsel di tangannya tepat di wajah sang adik sebagai bukti bahwa ia tidak salah bicara.


"Look. She is prettier than you."

__ADS_1


Leon berujar sambil meledeknya dengan menjulurkan lidah. Melihat gambar di layar ponsel Abangnya, Anna langsung membelalakkan matanya kemudian menatap manik mata abangnya.


"Halahh. Pasti Abang dapat foto ini dari google, iya, kan? Ngaku ajah deh bang masa tampang Abang pas-pasan bisa dapat kakak ipar secantik itu, bule lagi."


Lagi-lagi Leon dibuat kesal sendiri. Ia memutar bola matanya malas.


Kalau perhatikan lagi, pacar abangnya itu sepertinya bekerja sebagai pramugari. Tampak dari tatanan rambut juga pakaian yang ia kenakan.


"Anna gak akan percaya semudah itu sebelum Anna lihat langsung. Kalau cuman modal foto doang semua orang juga bisa Bang," ujarnya berdelik lalu berjalan masuk ke rumah.


"Sok-sok an pacaran sama bule. Abang kan jelek, ya kali bule sana gak mikir pacaran sama Abang," gumam Anna berbicara sendiri memasuki rumah.


Sementara Leon dengan jelas mendengar itu justru mengusap wajahnya kasar kemudian berkacak pinggang menatap punggung adiknya menaiki anak tangga menuju kamarnya


...•••...


Beberapa jam kemudian, mobil Audi A5 warna putih milik Leon tiba didepan sebuah perumahan megah. Bukan rumah seperti biasanya, melainkan mansion mewah yang membuat gadis disebelah Leon mengatupkan mulutnya.


Anna masih belum percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini. Ia juga tidak bisa berbohong. Ia terperangah. Mulutnya juga tidak bisa berkata-kata. Ia terkagum-kagum saat mobil milik sang abang berhenti di depan gerbang tinggi menjulang berwarna keemasan.


Saat pintu gerbang itu terbuka lebar, Anna langsung buru-buru menurunkan kaca mobil dan terkesima saat dibagian depan pintu utama mansion itu terdapat kolam air mancur setinggi dua meter.


Sedang di kedua sisi mansion itu berjejer kursi panjang yang mengkilat. Mereka tidak salah rumahkan, ini seperti di cerita dongeng saja. Mansion megah, pohon-pohon tinggi yang menjulang mengitari mansion tersebut.


Anna tiba-tiba saja mencubit lengan Leon dengan kuat sampai mengalihkan tatapan pria itu kepadanya. "Abang yakin kakak ipar tinggal di rumah sebesar ini? Bagaimana bisa rumah sebesar ini hanya dihuni dua puluh orang saja. Pasti Abang ngibulin Anna ya, kan?"


Leon langsung menyumpal mulutnya dengan tangan besar miliknya. Merasa susah bernapas perempuan itu dengan segera menepisnya kasar. Menyesal sudah Leon mengajak adiknya ini kemari.


"Berasa jadi princess ya bang datang kemari. Anna baru tahu loh kalau di kota ini ada rumah sebesar ini."


"Kayak anak rumahan ajah kamu ngomong gitu. Memang ayah gak pernah ngajak kamu jalan-jalan?"


"Ayah?" Anna terdiam dan memikirkan semua yang ia alami selama ini.


"Ayah kan sibuk kerja jadi ngga waktu buat bawa Anna sekedar jalan-jalan. Gak papa juga kalau..."


"Abang benaran sayang sama Anna?"


Leon mengangguk pelan. "Lebih dari yang kamu bayangkan. Apapun itu semampu Abang akan Abang berikan terlebih jika itu membuatmu bahagia. Abang rela jika harus mengorbankan hidup abang."


Anna menggulum bibirnya lalu menggenggam erat jemari Leon. Beberapa detik kemudian pegangan mereka terlepas, Leon mengusap lembut puncak kepala Anna membuat Anna tersenyum manis menatap wajah Leon dari samping. Setelah itu, Anna mendekatkan tubuhnya pada Leon. Ia membisikan sesuatu di dekat telinga pria berkaos putih lengan pendek tersebut.


"Abang ngga curiga sama kakak ipar?" Leon menaikkan sebelah alisnya. Ucapan apa yang baru saja adik perempuannya itu katakan?


"Apa yang mau dicurigai. Abangmu ini sudah lama pacaran dengannya, delapan tahun loh... kamu tau kan hubungan delapan tahun itu selama apa," kata Leon menekan ujung kalimatnya.


Delapan tahun? Apa itu bisa dipercaya? dan mereka sudah menjalin hubungan selama itu. Kemana saja Anna saat itu?


Perempuan itu kembali menegakkan tubuhnya di jok duduknya. Ia berdehem percaya dengan ucapan abangnya. Kadang juga hubungan lama tidak menjamin ke pelaminan.


Mobil pun berhenti di dekat seorang pria yang menunduk hormat dengan kedatangan mereka. Leon menurunkan kaca mobil.


"Selamat sore, Tuan Leon. Mari silahkan masuk. Nona Alice baru saja kembali dari perjalanannya, beliau sudah menunggu kedatangan Anda," ujar seorang satpam menunduk hormat pada mereka.


"Baik, terimakasih Pak. Selamat bekerja kembali."


"Heh? Tuan Leon? Apa kalian seakbrab itu?"


"Yes, baby girl. Siapa yang tidak mengenal abangmu yang tampan ini? Kau juga pasti kagum kan saat melihat Abang kembali? Mengaku saja..."


"Oh, God. You're so confident..."


Memang tidak bisa akur keduanya saat disatukan bersama seperti keadaan sekarang. Anna yang sejak kecil memang selalu usil dan Leon kerap berusaha sabar menghadapinya, tak jarang membuat Leon memberi gadis itu hukuman kecil.


Umur yang terpaut beda jauh tidak membuat Anna harus menjaga image di depan abangnya.


"Abang bakalan usir kamu kalau kamu ngeledek abang lagi dek. Lihat saja..."

__ADS_1


"Oh, come on. Jangan mengancam adik sendiri, Tuan Leon yang terhormat. Tidak kah kau rasa darah yang mengalir dalam dirimu sama denganku. Oh, kau saudara yang tidak berperasaan."


Leon membulatkan matanya mendengar adik perempuannya berbicara seperti itu. Ia menepuk pipinya meyakinkan kalau gadis di depannya adalah adiknya sendiri.


Kalau bukan adikku sudah lama ku jadikan boneka gantung, batinnya.


Keduanya pun turun dari mobil. Leon dengan cepat menggandeng tangan mungil milik Anna setelah ia lebih dulu turun dan menghampiri Anna.


Mereka masuk ke dalam mansion milik Alice, calon tunangannya. Kenapa harus saling menautkan tangan? Karena Leon sudah hapal betul bagaimana tingkah adiknya itu kalau sudah berada didekatnya. Namun, belum sempat ia mengetuk pintu rumah, tiba-tiba saja tangan Leon disentak kuat oleh Anna.


Pegangan Leon terlepas. Leon mengerutkan dahi dan bagaimana dengan Anna? Apa yang ia lakukan? Kemana gadis itu?


Gadis nakal itu kini tengah berlari ke arah seekor anak anjing yang sudah menatapnya sejak mereka masuk di sebuah taman mini tak jauh dari kolam air mancur.


"Anna! Oh, ayolah An..."


"Astaga... Apa yang kau lakukan Anna! Kembali kesini, jangan buat abang malu. Kembali berdiri di samping Abang Anna, cepat!" seru Leon meneriaki Anna yang sudah sibuk menggendong anabul berbulu lebat disana.


Sementara gadis itu tidak peduli dengan ucapan Leon. Ia malah sibuk menggendong dan mengajak bermain anak anjing berwarna putih berbulu lebat itu. Tidak susah menjinakkannya, Anna memang pecinta binatang.


Pintu dibelakang Leon terbuka lebar, menampakkan seorang gadis berwajah baby face keluar dari sana dan langsung mengecup lembut pipi Leon sebelah kiri. Tubuh ramping dengan tinggi satu meter tujuh puluh lebih berdiri disebelah Leon.


"Biarkan saja dia bermain disana."


Suara dari belakangnya membuat Leon menoleh. Lelaki itu tersenyum lebar. "Sayang..." kata Leon lembut sambil meraih pinggul Alice lebih dekat padanya. Kemudian mengecup lembut bibir Alice sesekali melirik Anna agar tidak melihat aksinya barusan.


"Apa dia Anna, adik perempuanmu yang sering kamu ceritakan padaku?"


"Yeah, she's the girl I often tell you about."


Leon berdehem dan lagi-lagi ia menggeleng heran menatap kelakuan absurd adiknya bersama seekor anak anjing disana.


Anna duduk diatas rumput bahkan sesekali berguling-guling seperti anak dibawah umur dengan anjing yang terus menjilati wajahnya. Perempuan itu begitu cepat akrab dengan anjing kesayangan milik Alice. Berkali-kali jatuh di atas rumput hijau dan kembali bertingkah layaknya anak dibawah umur.


Leon dan Alice menghampiri Anna yang sedang bermain dengan anak anjing milik Alice.


"Kamu boleh membawanya pulang kalau kamu mau Anna. Namanya Toro."


Alice berujar dan membuat Anna yang duduk di kursi taman sembari mengelus anjing di pangkuannya dengan cepat menurunkannya di atas rumput.


Anna terkejut saat manik matanya adu pandang dengan manik mata milik Alice yang berwarna abu-abu. Disaat bersamaan, Anna juga melirik Leon. Pria yang terlihat menatap balik tatapan sang adik hanya bisa mengulas senyum lebar. Tangan Anna dengan cepat terulur tepat di hadapan Alice.


"Saya Anna, adik bang Leon yang paling cantik. Pria songong sedunia disamping kakak. Hehehe..."


Perkenalan Anna barusa dengan diselipi sindiran ringan untuk abangnya langsung terkekeh. Setelah mengatakan itu di depan kakaknya juga dihadapan calon kakak iparnya, Alice.


Helaan napas berat terdengar dari bibir lelaki itu membuat Anna menggulum bibirnya seraya menahan tawanya. Anna baru percaya kalau calon kakak iparnya jauh lebih cantik dari foto yang kakaknya tunjukkan padanya.


Pantas saja bang Leon buru-buru nikah orang calonnya ajah secantik ini, batinnya.


"Bajumu Na..."


Anna merunduk menatap dress putihnya yang sudah kotor dipenuhi lumpur dan rerumputan kecil.


"Kita sudah janji dari rumah agar selalu rapi sampai disini, tapi kamu... lihat dress mu kotor kan..."


"Sudah, Sayang, tak apa. Anna bisa berganti dengan pakaian yang ada dirumah. Maid akan memberinya baju ganti."


"Kali ini Anna setuju dengan Kak Alice. Asal Kak Alice tau Anna sangat jarang sekali keluar rumah, sekalinya keluar malah dimarahi Abang sendiri. Anna kan jadi sedih kak," mewek Anna memurungkan wajahnya di lengan kakak iparnya sembari meledek abangnya yang menatapnya kesal.


"Kau lihat anak ini. Apa yang gak buat aku cepat darah tinggian lihat kelakuannya seperti itu. Aku marah pun rasanya percuma," ucap Leon menatap Alice lalu kembali memandang Anna.


"Kakak cantik dan baik hati, Anna boleh masuk ke rumah kakak?" ucapnya pada Alice. Matanya berbinar berharap Alice mengiyakan. Wanita itu lantas mengangguk pelan.


"Boleh, Sayang. Ayo, kakak temanin lihat-lihat rumah kakak." Saat Anna berjalan beriringan dengan Alice, ia sempat-sempatnya menjulurkan lidah kepada Leon Lagi-lagi Leon menggeleng heran dengan tingkahnya.


"Benar-benar tidak berubah. Dari kecil sampai sekarang kebiasaan meledeknya tidak berkurang sedikitpun!"

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2