
...๐Disclaimer๐...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...โขโขโข...
Sekarang Anna terlihat berjalan seorang diri di koridor kelasnya. Setelah ia keluar dari kantor guru, wajahnya masih tetap masam, tak ada senyuman yang menghiasi wajah gadis berpita hitam itu.
Sepanjang koridor pun, para siswa yang sejak dulu tidak menyukai keberadaannya terus saja membicarakan dirinya. Anna tidak bisa habis pikir dengan sifat mereka semua. Dirinya juga tidak akan terlalu ambil pusing dengan apa yang sedang terjadi.
Kakinya terus terayun menuju kelasnya, sampai didetik kesepuluh suara lantang dari arah belakang membuatnya menghela napas panjang. Terdengar menghujat namun Anna terus saja mengabaikannya.
"Woahh... Gak nyangka bangat ya bakalan ketemu sama cewek yang dulunya jadi bahan omongan satu sekolah. Nyali lo besar juga."
"Lo tuli apa memang muka tembok lo udah parah?"
Anna terus berjalan. Baginya meladeni hal yang tidak penting, terlebih yang berbicara seorang laki-laki tidak membuat Anna merasa tertarik untuk menyahut ucapan orang itu.
"Sialan! Lo dengar gue gak, sih? Dasar cewek murahan! Pantas ajah lo jadi bahan giliran di sekolah. Siap pake langsung jual mahal. Lagi cari target baru, ya?"
Anna berhenti melangkah. Ia menggertakkan giginya ketika kalimat panjang itu memasuki indra pendengarannya. Ia memejamkan mata sebentar. Apa katanya? murahan? bahan giliran di sekolah? Itu mulut tidak pernah diajarin berbicara apa gimana?
Anna berbalik badan dan melangkah mendekat pada cowok bermulut sampah yang kini menatap Anna dengan senyum meremehkan. Mereka yang berlalu lalang di lorong itu segera berhenti dan memperhatikan Anna setelah gadis itu berhenti tepat di depan cowok tersebut.
Keduanya saling adu pandang. Anna yang bertubuh tinggi tidak merasa kesulitan menatap cowok itu. Sampai bunyi patahan terdengar membuat pekikikan keras di depan kelas.
Anna baru saja melayangkan satu pukulan keras kearah hidung mancung cowok itu. Anna sanggup melumpuhkan lawannya hingga jatuh di lantai dan merintih kesakitan.
"Arrghh!!" rintih cowok itu menyentuh hidungnya yang berdarah. Anna pun berjongkok--mensejajarkan tingginya dengan cowok bernama Radit dan dengan gerakan cepat Anna mencekik lehernya sampai ia kesusahan bernapas.
Mereka yang berada di depan pintu kelas tidak tahu mau melakukan apa karena Anna langsung menatap mereka dengan sorotan mata tajam seolah tatapan itu memberitahu bahwa mereka tidak boleh ikut campur.
"Ngomong sekali lagi! Gue pengen dengar mulut lo ini ngomong langsung di depan muka gue. Cepat!!"
"Akhh! Le-lepasin gue, An. G-gue gak ber-bermaksud buat nyakitin perasaan lo kayak gitu. Gue minta maaf..."
"Gue sakit hati dengarnya walau itu gak betul sama sekali. Kenapa sih di dunia ini orang-orang bermulut sampah seperti lo masih hidup? Kenapa gak mati ajah, hah?
"Memangnya lo tau apa tentang gue? Lo hanya tau gue dari omongan orang yang belum tentu benar."
"G-gue, gue minta maaf..."
"Maaf lo bilang setelah lo nyakitin hati gue? Lo kira segampang itu, hah?" Anna murka dan sudah tidak bisa menahannya lagi.
Cekikan itu terlepas dan digantikan dengan suara tamparan di pipi. "Ini peringatan yang terakhir buat lo. Jangan karena gue setahun lalu ngga bisa marah lo semua bisa seenaknya ngomong sama gue. Sabarnya gue ada batasnya."
"Sekali lagi lo menilai kehidupan gue. Gue pastiin gak hanya leher lo yang sakit tapi mata lo bakalan gue keluarin dari tempatnya. Sialan!!" umpat Anna lalu bangkit berdiri. Perempuan itu berjalan ke arah kelasnya dengan wajah memerah dan tangan terkepal kuat.
Beberapa teman sekelas Radit keluar dan langsung menolongnya untuk berdiri. "Ngapain sih lo gangguin Anna lagi? Gue ajah sebagai perempuan sakit hati dengarnya Dit. Itu kan udah jadi masa lalu dan dia juga baru balik."
"Tau nih si Radit mulutnya gak bisa di jaga."
...๐๐๐...
Setibanya di dalam kelas, Anna langsung berdiri di sisi mejanya yang tengah ditempati Kinara. Anna masih dalam keadaan marah dan tidak ingin ada orang yang berdiri di dekatnya.ย
"Minggir, gue mau duduk!" Anna bersuara di hadapan Kinara. Para penduduk IPA 1 yang kebanyakan berada di kelas langsung menoleh kearah Anna berada. Mungkin nada bicara Anna barusan cukup berbeda dari biasanya.
"Kenapa tuh?" ucap seorang gadis yang berada di sudut kelas sebelah kanan dari pintu.
"Engga tau. Pas Anna Anna masuk dia udah langsung ngomong begitu sama Kinara."
Mereka satu kelas memperhatikan interaksi Kinara dan Anna. Kinara mendongak menatap Anna yang menatapnya lebar.
"Kenapa, An? Lo kok datang-datang tiba-tiba dengan wajah seram gitu? Kenapa lagi?" tanya Kinara meletakkan penanya diatas meja.
"Gue gak papa. Gue pengen duduk sendiri. Bisa pindah tempat?" seru Anna dingin membuat Kinara mengerutkan dahi.
"Ada masalah apa, sih? Tadi lo bilang gue duduk sama lo, sekarang malah nyuruh pindah. Gue gak paham deh Anna."
"Gue bilang pindah ya pindah! Lo semua berisik bangat tau gak. Kepala gue sakit dengar lo semua ngomong."
Suara bentakan Anna yang lantang membuat Kinara keluar dari meja. Ia terkejut dan menatap Anna yang menjauhkan semua alat tulisnya dari meja.
Yesi yang sedang asik dengan Ria bergerak dari kursinya. Ia mendekati Kinara yang tengah berdiri seraya menatap Anna. "Pindah ke meja gue ajah Kin," seru Yesi dan menarik tangan Kinara menuntutnya ke arah mejanya.
"Padahal mereka temanan loh. Kok bisa jadi begitu ya."
"Tiba-tiba Anna jadi ganas begitu. Gue merinding dengar suaranya. Dulu dia ngga begitu. Balik sekolah malah jadi esmosian."
...๐๐๐...
Selepas jam pertama selesai, kini penghuni kelas sebelas IPA 1 sedang menunggu pergantian jam pelajaran yang akan dilanjut dengan mapel matematika. Pelajaran yang paling dibenci rata-rata anak sekolah karena memang mereka merasa matematika itu cukup menguras tenaga dalam dan membuat otak mereka keriting.
__ADS_1
Diandra berusaha keras menarik-narik buku tugasnya dari tangan Gio. Ia benci dengan orang yang seenaknya menyalin hasil kerjanya tanpa tau perjuangan sang empunya mengerjakannya.
"Balikin buku tugas gue, Gio! Gue bilangin sama Bu Eva ya lo nyalin tugas gue."
"Sabar dikit napa, Ndra. Tinggal nomor lima kok. Sesama teman gak boleh pelit loh, entar kuburan lo sempit."
"Bian! Lo gak bisa sedikit lebih tegas lagi gak sih sama Gio. Dia ini udah sering nyontek tugas gue, lo malah nyantai ajah!"
"Balikin bukunya Gi," ujar Bian dari meja guru. Cowok itu sedang membersihkan dan merapikan meja guru yang sedikit berantakan.
"Sabar, sabar. Tinggal dua soal lagi."
"BIAN!" kesal Diandra menghentakkan kaki di lantai. Bian pun berdecak kasar dari meja guru. Ia bangkit dan berjalan tiga langkah lalu menarik buku tugas Diandra.
"Tugas rumah dikerjakan dirumah, bukan di sekolah Gi. Mau jadi apa lo kalau setiap hari nyalin punya orang terus?"
"Ya ampun tinggal satu soal lagi pun. Gue kan gak tiap hari nyontek kayak gini. Kebetulan gue semalam ada acara di luar jadi gak sempat ngerjainnya."
"Acara apaan?" tanya Bian.
"Gak ada tuh Bian. Akal-akalannya ajah itu, sok-sok an alasan ada acara. Semalam gue lihat dia nongkrong di depan warung Mang Soip sama anak-anak lain kok. Bohong itu dosa Gi," kata Diandra membuat Bian langsung menoyor kepala cowok itu.
"Apapun alasannya lo gak boleh nyontek. Hargain kerja keras Diandra ngerjainnya," tegas Bian memberikan buku tugas milik Diandra ke dalam tangan gadis itu.
"Makan tuh tugas lo. Pelit bangat jadi orang," ledek Gio kembali ke tempat duduknya.
Tiba-tiba saja, Diandra memukul kepala Gio dengan buku tulisnya. "Gak tau malu bangat ya lo. Udah nyontek malah nyolot! Harusnya ngomong maaf kek atau apa. Ini malah sok-sok an."
"Ngapain gue bilang makasih sama orang pelit kayak lo. Lain cerita kalau gue dapat semua baru gue bilang makasih Diandra. Ini gak, tinggal satu lagi malah heboh."
"Anjir mulut lo lemes amat Gio! Gue gak habis pikir cowok kayak lo mulutnya kayak emak-emak di pasar--heboh!"
Gio tidak menyahut lagi dan langsung duduk ikut bergabung dengan kumpulan cowok di sebelah kiri.
"Lain kali lebih galak dikit, Ndra. Jangan lembek amat jadi cewek," ujar Bian mengingatkan lalu beranjak dari meja gadis itu menuju meja guru dan kembali merapikan meja tersebut.
"Perasaan gue tiap hari galak kok jadi cewek. Emangnya galak itu harus gimana lagi. Teriak-teriak kayak Hulk gitu?" gumam Diandra melirik ke arah meja Anna.
Diandra sebenarnya masih takut menemui Anna karena masalah tadi yang Anna ribut dengan Kinara tanpa sebab, tapi kalau bukan dengan Anna mau sama siapa lagi ia meminta tolong.
Disana Anna sedang sibuk sendiri dengan buku soalnya. Ia duduk di kursi depan meja Anna yang kebetulan kosong. Diandra pun berdehem membuat Anna menatapnya dingin.
"Sibuk gak, An? Kalau gue ganggu bentar, boleh?" tanya Diandra memasang wajah penuh harapan besar pada Anna.
Anna yang melihat keberadaan Diandra di dekat mejanya lantas menggeleng pelan lalu kembali menatap bukunya. Diandra gerak cepat meletakkan buku besarnya di hadapan Anna, menimpa buku soal yang sedang Anna kerjakan membuat gadis itu mengerutkan dahi dan memandangnya.
"Bantuin gue dong An, please.. tadi gue kena amuk Kak Sean karena laporan keuangan yang gue kerjakan masih salah. Bantu periksa sebentar, boleh, kan? soalnya sebelum bel mesti gue kasih sama kak Sean. Ini laporan untuk acara pensi nanti. Please..."
"Besok-besok gue traktir es krim kesukaan lo deh. Mau ya, please?" ujar Diandra mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Bentar gue cek dulu," kata Anna menggeser buku soalnya lalu menarik buku besar bendahara milik OSIS dihadapannya.
Setelah mengamati satu persatu pemasukan dan pengeluaran yang ada barulah Anna menemukan kesalahan gadis itu. "Lo hitungnya pake apa kok bisa salah jumlah kayak gini?"
"Biasalah pake kalkulator, tapi tetap ajah salah kata kak Sean. Gue ngga tau salahnya dimana. Dari semalam gue udah cek berulang kali gak ada yang salah."
"Jelaslah salah, Ndra. Ini pengeluaran malah lo masukin ke pemasukan. Seharusnya lo lebih teliti menempatkannya dimana. Namanya juga pengeluaran," jelas Anna.
"Mana?" ujar Diandra melihat jari telunjuk Anna di buku besarnya. Ia menepuk jidat merasa kesalahan sebesar itu pun tidak bisa dilihat matanya.
"Salahnya disini doang?" Anna berdehem lalu memberikan buku itu ke tangan Diandra.
"Salahnya cuman dibagian itu. Lagian sejak kapan pengeluaran dimasukin ke pemasukan. Jelas-jelas disitu udah lo catat biaya kegiatan pensi berarti masuk pengeluaran," jelas Anna akurat.
"Ah, iya, iya kok gue baru ngeh. Bodoh bangat gue. Any way, makasih banyak ya. Gue memang selalu kurang teliti. Bentar ya gue perbaiki dulu," ujar Diandra meraih buku besarnya lalu beranjak kemejanya dibarisan paling depan berhadapan dengan meja guru.
...๐๐๐...
Suara sepatu yang tidak asing di telinga sang ketua kelas terdengar nyaring dari luar ruangan. Segera cowok itu bangkit lalu mengintip dari celah pintu yang sedikit tertutup. Kehebohan pun spontan menggelegar dalam kelas. Bian menarik napas panjang lalu berteriak.
"Guru woi, guru! Bu Eva udah datang. Buru balek ke tempat masing-masing!"
"Bubar woy, bubar!" teriak Bian mengatur teman sekelasnya yang berlari-lari kesana kemari menuju meja masing-masing.
"Woy Kiran, rapiin tuh kursi! Lo tuh perempuan tapi kelakuan kayak laki-laki ajah."
"Minggir, anjir! Halangin jalan gue ajah lo!"
"Lo yang halangin jalan gue. Meja lo disono malah nangkring di meja gue. Sana lo..."
"Sana lo!"
"Lo yang sana!"
__ADS_1
"Evi, Bastian! Gue lempar penghapus juga ya lo berdua. Gak di luar di kelas juga ada aja kelakuan lo berdua."
"Teman lo nih lambenya kayak pantat ayam. Ngerocos aja," ujar Evi memandang Bastian sinis.
"Idih, mending kayak gitu. Daripada lo sok kecentilan sama cowok kelas sebelah."
"Halahh, lo cemburu bilang ajah kali. Gak usah ngode-ngode gitu," kekeh Evi.
"Jijik," sahut Bastian bergidik ngeri lalu kembali ke bangkunya. Setelah itu seisi kelas langsung dilanda keheningan secepat kilat saat kehadiran Bu Eva, salah satu guru paling garang di sekolah melangkahkan kaki di depan pintu.
"Selamat pagi semuanya!"
"Pagi Buuu!" seru semua siswa di dalam kelas.
Setelah Bu Eva masuk dan meletakkan tasnya di atas meja, beliau dengan cepat meraih spidol dari saku blazer yang sudah ia siapkan dari kantor guru. Beliau berbalik badan menghadap white boardโmenuliskan satu buah soal matematika.
Sontak suara riuh dari belakangnya membuat guru muda itu menoleh menatap tiga puluh dua siswa satu kelas itu.
"Ya ampun Bu, kenapa kita langsung dikasih soal sih Bu. Materi ajah belum ibu bahas udah langsung tancap gas ajah," ujar laki-laki di kursi paling belakang barisan ketiga dari kanan. Sebut saja dia Gery.
"Justru pagi-pagi begini enak jawab soal. Sebagai pemanasan dulu. Ayok, dikerjakan soalnya," ujar Bu Eva tersenyum lebar. Senyuman lebar yang justru mematikan bagi siswanya.
"Siapa yang bisa jawab satu soal di depan papan tulis ini ibu akan kasih nilai A dan tidak ikut ulangan bulan depan. Ayo, ada yang berniat," ucap Bu Eva lagi lalu menatap bergantian siswa di hadapannya.
"Ngadi-ngadi nih Bu Eva. Baru juga menit-menit awal udah ngerjain soal ajah," bisik perempuan di pojok barisan ketiga pada teman sebangkunya.
"Kenapa di dunia ini harus ada pelajaran matematika. Kepala gue kan jadi pusing tujuh keliling. Bosan bangat tau Bu belajar melulu," kata Obi, curhat.
"Memangnya cuman kamu doang yang bosan, Obi? Ibu juga lebih bosan dengar curhatan kamu yang bosan belajar setiap saya masuk. Lihat diluaran sana banyak yang ingin sekolah, lah kamu malah ngeluh."
"Orangtuamu yang biayain sekolahmu. Kamu hanya datang kemari dan belajar dengan bagus bukan malah mengatakan yang tidak seharusnya. Bosan itu bukan jawaban seorang siswa kelas sebelas."
"Anna?" panggil Bu Eva membuat gadis yang tertunduk di bangku belakang mendongak ke depan kelas. Matanya bertemu dengan manik hitam Bu Eva. Beliau tersenyum kearahnya.
"Kau sudah balik sekolah lagi? Kenapa tidak pernah masuk? Ada masalah apa, Nak?" Lagi-lagi pertanyaan itu, batin Anna.
Semua pasang mata yang berada diruangan itu mengarah kepadanya. "Tidak ada Bu. Anna tidak apa-apa," jawabnya.
"Baiklah. Kau saja yang mengerjakan soalnya. Bisa, kan?" Anna mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Berjalan ke arah meja guru lalu meraih spidol berwarna hitam disana.
Tiga temannya yang memilih pisah tempat duduk dengannya mulai memperhatikan Anna mengerjakan satu soal matematika di depan.
"Eh, ngomong-ngomong gue dengar tadi Anna mukul Radit, anak kelas sebelah. Kenapa tuh? Ada masalah ya?
"Seriusan lo? Trus, trus gimana?" tanya perempuan berpakaian ketat di barisan ketika nomor lima dari belakang.
"Gue nanyak gila!"
"Yang dibelakang tolong suaranya!" seru Bu Eva dari depan.
"Iya Bu. Maaf..."
Beberapa detik memandangi soal di hadapannya akhirnya tangan gadis itu perlahan mulai menuliskan rumus dan angka satu persatu. Setiap tangannya menuliskan angka, Bu Eva terus saja menganggukan kepala.
"Maaf kalau salah Bu."
Setelah itu Anna kembali ke tempat duduknya. Beberapa detik berlalu bahkan hampir satu menitan Bu Eva memandangi hasil pekerjaan gadis itu. Tulisan tangan yang indah dan rapi.
"Bagus sekali, Anna Ibu senang dengan jawabanmu ini. Kamu dapat nilai A dari ibu ya. Minggu depan kamu tidak perlu ikut kuis dari ibu. Begini yang buat ibu senang masuk kelas ini. Siswanya pada cerdas."
"Terimakasih Bu," sahutnya setelah kembali duduk di bangkunya kemudian kembali menatap buku pelajarannya.
"Benaran Bu jawaban yang Anna kerjakan udah benar?" tanya Luna gadis yang duduk dibarisan sebelah kiri paling depan. Luna ini salah satu gadis yang berada di daftar hitam Anna sejak ia sekelas dengannya mulai dari kelas sepuluh.
Luna itu biar wajahnya polos tapi mulutnya itu benar-benar berbisa. Ia mau saja melakukan apapun untuk terlihat baik di depan semua orang.
"Benar. Sekarang salin soal dan jawaban di papan tulis ke dalam catatan kalian. Awas kalau tidak disalin. Minggu depan akan ibu periksa."
Anna yang sibuk mengerjakan soal tiba-tiba panik saat setetes darah dari hidungnya jatuh di atas kertasnya. Ia buru-buru merobek kertas itu lalu memasukkannya dalam tas.
Tak disangka, sosok Diandr yang menatapnya tiba-tiba mengulurkan dua helai tissue ke arahnya.
"Mending lo izin ke toilet, takut tissue yang gue kasih gak cukup nahan mimisan lo," ujar Diandra.
"Bu?" Diandra mengangkat tangan. Bu Eva yang sedang berjalan-jalan dari meja ke meja menoleh padanya.
"Ada apa, Diandra?"
"Anna ngeluh sakit perut Bu. Katanya dia lagi datang bulan. Boleh izin ke toilet Bu?"
"Boleh, boleh. Silakan Anna, jangan ditahan-tahan kalau memang perutnya sakit," balas Bu Eva.
Setelah Anna menerima izin keluar dari Bu Eva, gadis itu langsung keluar dari kelas dengan peluh berkumpul di keningnya. Kaki jenjangnya mulai menyusuri lorong kelas menuju toilet di ujung sana. Sesampainya di dalam toilet, ia langsung mengeluh kesakitan.
__ADS_1
Ia berjongkok di bawah wastafel sembari meremas kuat-kuat rambutnya. "Kenapa sakit sekali!!"
- to be continue -