In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 8


__ADS_3

...๐ŸDisclaimer๐Ÿ...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...โ€ขโ€ขโ€ข...


Pintu kelas XII IPA 1 terbuka lebar, mendapati sosok Sean yang rupawan melangkah masuk menuju mejanya di barisan kedua nomor dua dari belakang barisan dekat pintu. Disana sudah ada Arkana dan Satria yang melirik kedatangannya.


"Lama benar lo rapat osisnya. Bahas apaan disana sampai mau bel istirahat baru balik." Arkana menyapa lebih dulu seraya memainkan pena cairnya di antara sela-sela jari-jarinya.


"Kenapa? Bukannya lo berdua juga anggota OSIS. Enak ya lo berdua gak ikut rapat. Mulai besok engga usah datang biar jabatan lo berdua gue ganti sama siswa lain yang lebih pantas," seru Sean kesal sendiri.


"Sorri, sorri, kayak gak tau ajah lo teman lo ini gimana. Habis dari kantin tadi sarapan sebentar. Niatnya selepas dari kantin kita langsung kesana tapi udah keburu mager bangat jadinya kita langsung ke kelas ajah. Beruntung kelas kita free, Bu Susi ngga masuk hari ini."


"Gue ngga butuh alasan panjang lebar. Intinya kalau lo berdua gak hadir gue gantiin devisi olahraga dan kesenian sama anak lain. Malas gue maklum sama lo berdua setiap ada rapat."


"Jangan gitu lah. Ingat kita berdua ini best friend lo paling kece, masa lo tega begitu sama kita."


"Bodo amat kalau gue," sarkas Sean.


"Ya ampun... Ngomong-ngomong gak ada rencana ke kantin, gue lapar bangat soalnya. Perut gue udah demon dari tadi," ujar Arkana.


Satria disampingnya memutar mata jengah. Arkana pasti cacingan jadi kerjaannya makan terus.


"Bukanya lo bilang tadi lo berdua udah makan di kantin?" ujar Sean mengernyitkan dahi.


"Itu sejam yang lalu, kalau sekarang gue lapar lagi. Namanya juga manusia bentar-bentar pasti lapar. Ngomong ajah habisin tenaga," jelas Arkana.


Sean pun pasrah dan ketiga cowok tersebut berjalan menuju kantin. Setibanya di sana, mereka memasang wajah cengo menatap kantin begitu ramai dan tampak desak-desakan.


"Yakin mau makan di kantin seramai ini?" tanya Sean melihat puluhan siswa memadati kantin.


"Nikmatnya itu justru pas seramai ini bosku. Kayak gak tau ajah kantin Mbak Murti tiap hari gimana."


"Dikantin ini kita bisa cuci mata. Liatin adek kelas yang masih harum bedak baby," lanjut Arkana.


Sementara Satria, ia justru tidak peduli dengan ucapan temannya itu. Ia malah melebarkan matanya mencari tempat kosong untuk mereka tempati sebelum bel masuk kelas berbunyi.


"Disana ada yang kosong," kata Satria. Kedua mata Sean langsung tertuju kemana jari telunjuk Satria terangkat.


"Eh, eh.. lo disenyumin tuh Sean sama cewek dekat pintu kantin. Anjir... fans lo banyak juga ya."


"Lihat dong bang, lihat dulu cantik tuh cewek. Lirik dikit ajah, eelaah. Sayang bangat rezeki lo buang."


"Daripada lo ngomong gak jelas mending lo pesanin makanan sama gue. Gue ke kantin karena permintaan lo bukan untuk ngelirik cewek-cewek."


"Anjir... gue mulu yang disuruh dari kemarin. Udah gue yang pesankan gue juga yang bayar. Lo berdua kira gue orang kaya."


"Ya emang kaya kan. Bokap lo toke sawit jadi apalagi," ujar Satria membuat Arkana kesal sendiri."


"Udah pesanan ajah sana. Hari ini gue yang traktir," ucap Sean dan Arkana langsung mengulurkan tangannya di depan Sean.


"Okey, duitnya mana? Biar gue pesanin. Mau apa ajah?"


"Samain ajah sama pesanan lo."


"Lo juga, Sat?" Satria bergumam pelan membuat Arkana menganggukkan kepalanya.


Setelah Arkana pergi memesankan pesanan mereka, Sean justru tampak sedang mencari keberadaan seseorang membuat Satria yang memperhatikannya berseru.


"Cari siapa lo?" kata Satria kepada Sean yang tampan celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang.


Sean melirik Satria sekilas lalu menggeleng ringan. "Engga ada. Lanjut ajah tuh baca novelnya. Biar lo semakin cerdas. Satria pun berdehem lbuy dan bersandar di kursi yang ia duduki.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Sementara di tempat asing, di depan sebuah pintu toilet. Anna sedang berdiri di depan kaca sembari merapikan penampilannya. Setelah rapi, ia pun keluar dan pergi menuju kelasnya kembali.


Jam istirahat sudah terdengar dua menit yang lalu. Saat ia tiba di kelas, tak ada satu orang pun disana bahkan ketiga temannya itu juga tidak Anna temukan. Mungkin mereka udah di kantin dan ya Anna memang pantas menyendiri.


Perempuan itu berjalan ke arah mejanya. Memasukkan alat tulis serta buku paket dan catatannya ke laci meja lalu berjalan keluar dari kelas. Setibanya di kantin, Anna membuka mulut lebar setelah melihat keramaian penghuni kantin yang membludak.


Pertama kali setelah ia kembali sekolah ini baru yang pertama kalinya Anna lihat kantin seramai ini. Bahkan siswa lain rela duduk di teras kantin menikmati jam pertama mereka.


Anna pun masuk lewat pintu belakang kantin--memesankan makanannya sebentar dan kembali duduk di pojok paling belakang karena disanalah ada satu meja yang kosong. Satu-satunya tempat yang jarang ditempati karena dekat dengan dapur kantin.


Tak lama pesananya datang dan Anna menikmatinya perlahan-lahan. Saat ia mendongak menatap suasana di kantin di istirahat pertama ini, Anna tidak sengaja beradu tatap dengan Sean. Cowok itu menatapnya tanpa berkedip, menaikkan sebelah alisnya dan Anna langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Anna!" seru Ria. Anna mendongak lalu tersenyum lembut. "Ternyata lo disini ya, pantas kita cariin dimana-mana lo engga ada," lanjut Ria menarik kursi kosong di depan meja.


"Ngomong-ngomong lo gak marah lagi kan sama kita?" tanya Yesi menatap wajah Anna dekat.


Melihat Anna yang sedang mengunyah makanannya, karena mulutnya penuh, Anna pun menggeleng membuat Kinara dengan cepat tersenyum. Mereka pun duduk bersama di satu meja. Anna di dekat Ria dan Kinara dengan Yesi.


"Mau makan apa biar gue pesanin," kata Ria yang entah kenapa dia tiba-tiba saja baik seperti ini.


"Menu hari ini apa ya?" Kinara melirik papan menu berukuran besar di depan sana.


"Yahh, itu-itu ajah menunya. Kayaknya gue mau pesan kayak punya Anna ajah Ri. Saosnya dikit ajah ya sama lemon tea dingin jangan sampai lupa."


"Gue juga samain ajah sama mereka tapi saosnya banyakin sama teh putih hangat. Itu ajah," kata Yesi menimpali.


Setelah pesanan sudah diluar kepala, Ria pun pergi memesankan pesanan mereka. Setelah menunggu lima menit, ia datang dengan nampan di kedua tangan.


"Pesanan datang..." kata Ria meletakkan nampan itu diatas meja. Ia meletakkan satu persatu pesanan mereka di hadapan masing-masing.


Awalnya memang semuanya terlihat baik-baik saja, mereka juga begitu tenang menikmati makanan mereka tanpa ada suara atau obrolan ringan disana, sampai dimenit berikutnya saat Anna meraih gelasnya, suara gelas pecah di dekat meja disusul rintihan keras dari mulutnya membuat seisi kantin menoleh.


"Arrghhh! Panas..." ringis Anna ketika pahanya dijatuhi air panas. Ia bangkit dan membuat Kinara serta dua temannya panik.


"Aih, perih bangat," ucap Anna mengangkat sedikit roknya lalu meniup pahanya yang serasa terbakar karena kejatuhan air panas.

__ADS_1


Sebagian mata beralih menatap ke arah meja mereka. Bahkan Anna yang merintih berhasil membuat semua penghuni kantin yang tadinya tidak peduli langsung memperhatikan gadis itu.


"Upsss! Sorry Anna gue gak sengaja," ucap Sera. Mulutnya berkata maaf tapi raut wajahnya tidak demikian. Sera--antek-antek Ghea yang selalu berusaha mencari gara-gara dengannya.


Anna kesal, sangat kesal saat ini. Ia tidak tahu kenapa gadis sialan itu selalu berurusan dengannya. "Ngapain lo minta maaf, hah? Elo sengaja kan numpahin air panas itu ke paha gue. Iya, kan?"


"Kok lo ngomong gitu sih? Gue memang benar-benar gak sengaja kok," sahut Sera dengan tampang menjengkelkan.


"Lo pikir gue gak tau sama kelakuan busuk lo! Semua orang di kantin ini bakalan liat lo aneh kalau lo baik di depan gue! Apa susahnya bilang iya? Mata gue gak rabun liat kelakuan lo barusan!"


"Baru juga gue masuk sekolah lo udah banyak tingkah ajah. Heran gue lo manusia apa bukan."


"Gila juga ya lo Ser. Kalau jalan tuh pake mata makanya. Kebiasaan bangat jalan kayak orang songong," timpal Kinara. Ia meraih beberapa tissu dan memberinya pada Anna.


"Apaan sih? Gue gak sengaja dah dibilang!"


"Gak sengaja? Jelas-jelas gue lihat lo sengaja tumpahin minuman panas itu sama Anna. Gak mau ngaku juga, hah?"


Kinara mendorong bahu Sera hingga membuat perempuan itu membentur meja milik siswa lain dibelakangnya. Kantin yang tadinya adem-adem saja langsung riuh karena kedatangan Sera.


Beberapa orang mulai memaki mereka yang menganggu ketenangan menyantap makanan. "Sialan! Kalau mau ribut jangan di kantin, anjir!"


"Apaan sih lo? Engga bisa ya ngga main kasar?!" Sera mendorong bahu Kinara kesal membuat Kinara lebih maju mendekat padanya. Kinara tidak pernah gentar jika berurusan dengan keributan seperti ini.


"Lo duluan ya njir yang nyerang Anna!"


"Gue kan udah bilang gue gak sengaja!"


Melihat dua gadis di depannya kian bising saling beradu mulut, Ria yang berdiri di sebelah Anna langsung menarik mundur Kinara dan ia segera berdiri berhadap-hadapan dengan Sera. Wajah sok cantik itu benar-benar membuat Ria ingin mencabik-cabiknya sampai tidak berbentuk.


"Lo memang gak pernah baik sama Anna ya Ser. Apa sih yang buat lo sampai sebenci itu sama teman lo sendiri? Kalau lo merasa Anna itu seperti penghalang, harusnya lo bisa saingi dia bukan malah buat onar gini."


Bagaimana dengan Yesi? Apa gadis itu tidak disana? Big no! Yesi disana memantau keadaan seraya menantu Anna mengeringkan roknya yang basah. Kalau keributan itu sudah diluar batas baru Yesi akan turun tangan.


Kini Kinara berdiri di hadapan Sera dengan jarak satu jengkal. Tinggi keduanya sangat berbeda. Kinara lebih unggul dari Sera. Kedua netra mereka saling beradu, tapi mata milik Kinara lebih tajam sampai membuat Sera mengalihkan pandangannya ke arah lain saking gentarnya.


"Lo itu ya gak bisa gak berulah. Akui kesalahan lo sebelum gue permaluin lo dikantin ini. Jangan buat gue beberin kelakuan busuk lo yang gak semua orang tau!"


"Iya, memang gue sengaja numpahin tuh minuman panas ke pahanya Anna karena satu alasan, gue ngga suka itu cewek balik lagi ke sekolah ini! Puas lo!!" kata Sera.


"Wajah sialan itu seharusnya ngga pernah muncul di hadapan semua orang. Dia itu pembawa sial dimana-mana!"


"Sialan lo!" umpat Kinara kesal. Perempuan itu menarik kerah seragam Sera kuat. "Mau lo apa sih? Mau berantam? Ayo, gue ledenin lo sekarang juga."


"Udah Kinara!" Yesi berseru keras lalu menarik mundur tubuh Kinara dari hadapan Sera membuat Yesi maju dan berdiri hadap-hadapan dengan Sera.


"Gue masih biarin lo bertingkah seenaknya, tapi kalau sampai ketiga kalinya lo berulah gue gak segan-segan patahin tenggorokan lo itu," ucap Yesi tegas membuat Sera yang bergidik ngeri langsung diam.


"Ayo Kin bantuin gue bawa Anna ke uks," ucap Yesi pada Kinara. Masalah masih belum selesai. Sera yang memang tipekal orang bebal justru kembali berseru lantang di kantin.


"Dasar bermuka dua. Udah tau dikhianati masih aja berteman. Lo itu persis seperti tong sampah--menampung segala yang buruk dan gak berguna!"


Anna yang berjalan dibantu oleh Yesi langsung menepis kasar tangan gadis itu. Yesi diam seraya melirik raut wajah Anna yang mengetat dan marah.


"Mau apa lagi lo dari gue? Mulut lo itu apa ngga capek ribut mulu sama gue? Dari dulu sampai sekarang lo gak ada istirahatnya untuk gak berkoar di belakang gue. Apa hidup lo gak bisa tenang kalau gak ribut sama gue?"


"Itu lo tau! Gue mau lo itu pindah dari sekolah ini. Gue gak suka lihat lo masih ada disini dengan wajah yang sok cantik itu."


"Bokap lo ngasih duit berapa sama gue sampai gue harus nurutin kemauan lo? Kalo lo engga suka gue sekolah disini mending lo yang pindah. Engga ada hak lo ngatur kehidupan gue. Kalau risih mending lo yang pergi!"


Keributan yang kian memanas itu membuat penghuni meja panjang di barisan depan kantin dekat pintu mulai memperhatikan.


"Pasti masalah ini bakalan sampai ke ruang BK. Gue jamin seratus persen," ucap Arkana.


"Santai ajah Sean. Matanya gak usah sampai melotot gitu. Mereka mah udah biasa ribut dimana-mana," kata Rogan setelah melihat ekspresi Sean menatap keributan di kantin barusan belakang.


"Tapi asik juga sih liatin mereka ribut. Gue tim Anna dulu deh kali ini," timpal Davian.


"Lo itu harus banyak sadar kalau lo memang manusia. Wujud lo jelas manusia tapi kelakuan sama sifat lo kayak sampah tau gak!" cecar Anna menggebu-gebu membuat Sera naik vitam.


"Apa lo bilang?" kelakarnya.


"Apa hah? Apa suara gue kurang jelas buat lo sadar diri? Lo tuh cewek freak yang gak tau malu," ujar Anna lantang.


"Udah An. Gak penting ledenin orang kayak dia. Udah gak usah dipermasalahkan lagi. Jarang ada manusia yang sadar diri," ucap Yesi kembali membuat Sera yang sendiri di tengah keramaian itu menggeram.


"Engga tau diri ya lo, sialan!" geram Sera bernapas dalam-dalam.


"Ngaca lo sesekali Anna. Lo itu benalu dihubungan orang. Pantas sih lo diputusin kak dean karena kalakuan lo. Muka lo gak sebanding sama hati busuk lo itu! Murahan!!"


"Lo bilang apa barusan, hah? Ulangi gue mau dengar lebih jelas!" Kali ini Kinara yang menyahut. Gadis itu tak kalah kesal melihat Sera.


"Gak usah ikut campur!" desak Sera mendorong Kinara kasar. Perempuan itu melangkah mundur sembari menatap mata Sera yang marah.


"Kak Theresia itu miliknya kak Dean. Lo datang-datang malah ngerusuh hubungan orang. Lo kira elo secakep itu, hah?"


"...Harusnya lo gak pernah datang ke sekolah ini. Lo awal dari semua masalah yang terjadi antara Theresia dan Dean bahkan semua masalah di sekolah ini lo dalangnya!!"


"Gue gak pernah ngerusuh hubungan orang. Gue nyatain perasaan gue sama kak Dean karena kak Dean langsung yang bilang kalau dia gak ada hubungan dengan kak Theresia."


Sera tertawa pelan. "Mungkin lo belum kenal kak Dean sebelumnya. Asal lo tahu kak dean mau terima perasaan lo karena lo cuman dimaanfatin doang, Anna!"


"...Lo cuman dijadiin bahan giliran sama teman-temannya. See, lo gak lihat kenapa teman-temannya kak Dean suka gangguin lo selama ini. Iya karena ini, karena bagi mereka lo bisa dimainin!"


"Omongan lo tolong dijaga Sera! Sebahagia apa sih lo jatuhin Anna kayak gini? Kenapa ada perempuan punya mulut setajam lo ini. Sama-sama perempuan tapi suka bangat memakai sesamanya," kata Yesi memperingatinya.


"Apa memangnya? Gak usah sok belain Anna deh. Lo gak ada bedanya sama gue. Bukannya lo juga yang dulu nuduh Anna yang engga-engga? Malu juga kan lo sekarang, ngemis pertemanan sama orang yang pernah lo jatuhin dengan omongan lo sendiri."


Yesi tertohok. Begitu juga dengan Kinara dan Ria yang tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka malah telak karena ucapan Sera yang memang benar adanya dan itu hanya kesalahpahaman semata di tahun lalu.


"Diem kan lo. Yang gue bilang barusan memang fakta. Cewek gak tau malu kayak kalian ini gak pantas dekat-dekat sama Anna. Lo bertiga bakal jadi parasit di kehidupan dia--gak pantas sama sekali!"

__ADS_1


"Bisa gak sih lo itu jangan suka urusin hidup orang. Lo digaji berapa sampai setahu itu tentang hidup gue?" Anna berucap. Ia bahkan tidak paham kenapa Sera mencampur adukkan masalah ornag lain dan menghubungkannya dengan dirinya.


"Kenapa? Memang benar kan yang gue bilang barusan. Elo itu bisanya cuman ngerusak hubungan orang. Semua orang yang berada di dekat lo itu mana pernah peduli sama lo. Lo nya ajah yang kepedean mereka dekat sama lo."


"Gue juga urusin hidup lo bukan karena gue peduli, tapi gue cuman mau lo jangan betingkah. Gue benci sama orang yang betingkah."


"Teman lo sendiri ajah ngekhianti lo. Bokap lo juga gak ada tuh gue lihat peduli sama lo, jadi pantas dong gue terang-terangan ngomong gitu di depan semua orang. Lo itu ngga pernah dianggap ada, Anna. Sadar dong, sadar!"


"Bahkan kematian Bunda lo juga semuanya karena ulah lo yang egois. Benar, kan? Mending lo mati ajah atau pindah sekolah sana daripada nyusahin hidup semua orang."


"Arrghh!!" Anna menampar pipi Sera dengan keras sampai membuat seisi kantin terkejut dibuatnya. Napas Anna naik turun sebab Sera membicarakan yang tak seharusnya ia bicarakan dihadapan semua orang.


Tak cukup dengan tamparan sekali, Anna langsung menjenggut rambut panjang milik Sera dengan sekali tarikan kuat, membuat sorak-sorai di kantin mulai menggelegar dan riuh.


"Ah! Lepasin rambut gue!" teriak Sera memekik keras. Suara keras Sera benar-benar memenuhi seisi ruangan itu sampai-sampai mereka jadi pusat perhatian.


"Sekali lagi lo nyebut tentang bunda gue, gue pastiin gue hancurin tuh mulut lo sampai lo ga bisa lagi komentarin hidup gue. Gue lebih tau gimana orang-orang didekat gue ketimbang lo ngomong sampah yang bakalan rugiin diri lo sendiri!"


"Le-lepas!!" rintih Sera tak tertahan.


"Bisa mampus kita kalau ada anggota OSIS yang lihat Anna ngejambak Sera," ucap Ria.


"Biarin ajah. Udah resikonya punya mulut gak bisa dijaga. Lagian siapa suruh dia bawa-bawa Bundanya Anna yang udah meninggal. Gue udah pasti ngelakuin hal sama kayak Anna lakukan pada Sea," sahut Kinara melihat pertikaian Sera dan Anna yang sudah seperti hiburan di tengah kantin.


"Lepasin! Arggghh!! Lo gila Anna, lo udah gila!"


"Iya, gue memang udah gila. Gue bakalan lebih gila kalau ada yang bawa-bawa orangtua gue. Bunda gue udah meninggal dan lo tau itu, Sera!!"


"Seenaknya lo ngomong kayak gitu di depan gue. Seharusnya lo bisa bersyukur ibu lo masih hidup. Kenapa gue yang gak punya ibu lagi lo maki-maki hah?!" tandas Anna dengan suara bergetar seperti gadis itu hendak menangis tapi tidak.


"Argghhhh! Tolong... tolongin gue. Jauhin cewek gila ini dari gue, tolong!" Sera meronta ketika Anna semakin kuat menarik rambutnya.


"Ahhh!!" pekik Anna ketika seseorang menjambak rambut belakangnya. Otomatis tangannya yang menarik rambut Sera terlepas.


"Ghea, tolongin gue Ghe. Tanaya udah gila main serang gue. Arrghhh, kepala gue..." kata Sera mundur beberapa langkah ketika genggaman Anna terlepas digantikan rambut gadis itu dijambak oleh Ghea.


"Anjing! Lo ngajak duel?!"


Kinara kini ikut-ikutan menyerang Ghea ketika melihat gadis itu menjambak rambut Anna. Aksi saling jambak itu benar-benar membuat suasana dikantin semakin riuh tak terelakkan.


"SIALAN LO! LO KIRA GUE GAK BISA NGELAWAN LO, HAH?!" Kinara mendorong tubuh Ghea hingga mereka membentur meja dan jatuh di lantain. Kinara terduduk di perut Ghea dengan tangan yang masih menjambak rambut panjang milik Ghea.


Kinara sempat berdecak kasar bahkan mengibas rambut panjangnya hingga mengekspos bagian kerahnya yang dua kanci atas seragam sudah terbuka.


"Gila tuh si Kinara, sempat-sempatnya tuh cewek tebar pesona."


"Gue bakalan ada di kubunya Kinara sih."


"Lo dalang dari masalah yang terjadi antara gue sama Anna dulu Ghea. Lo biang dari semua masalah ini. Seandainya mulut sampah lo ini gak nuduh gue, Anna gak mungkin semarah itu sama kita. Ini sebagai gantinya karena lo udah buat gue musuhan sama Anna!"


Kinara melayangkan tangannya tepat di pipi mulus Ghea sebelah kanan. Ringisan kasar keluar dari mulut gadis itu membuat Kinara senang bukan main. Bahkan suara teriakan dari ambang pintu kantin yang menggema tidak membuat mereka berhenti saling pukul.


Mereka yang berkerumun langsung membuka jalan ketika Bu Cindi datang. "Hentikan Ghea, Kinara!! Hentikan!!" teriak Bu Cindi yang lantang dan melengking membuat Kinara menoleh dan langsung berdecak kasar.


Kinara dengan seragam acak-acakannya duduk di atas Ghea, sedangkan Ghea sudah babak belur di bawahnya. Sudut bibir gadis itu terluka karena ulah Kinara.


"Hentikan, Kinara!!" Bu Cindi menahan pergelangan tangannya yang hendak menampar wajah Ghea kedua kalinya. Melihat mata melotot Bu Cindi mengarah padanya, Kinara langsung bangkit dan menjaga jarak dari Ghea.


Sialan, batin Kinara.


"Ya Tuhan, apalagi ini! Hentikan Anna, Sera!"


Bu Cindi menarik Anna untuk menyudahi perkelahian itu. Saat ditarik paksa oleh Bu Cindi, Anna langsung menyentak tangan beliau, hampir tidak bisa menahan emosinya.


Anna langsung melayangkan tinjunya ke wajah Sera, melukai pipi gadis itu memar dan Sera ambruk di lantai dengan kesadaran yang tinggal setengah.


"Anna!! Ya Tuhan apa yang kau lakukan?!" Bu Cindi langsung menarik tubuh Anna kasar dan membuat gadis itu mundur beberapa langkah.


Napasnya sudah tidak beraturan dan penampilannya bukan seperti seorang siswa SMA lagi. Rambut Anna yang tergerai sudah tidak beraturan, seragamnya juga sama, keluar dari rok dan begitu kusut.


Anna yang sudah fokus lantas melirik keadaan sekitar lalu merintih sebentar ketika bahunya begitu nyeri. Sial pasti lukanya kebuka lagi, batinnya.


"Bakalan gawat sih nih kalau sampai mereka berempat masuk keruang BK."


"Gila sih pukulan Anna barusan bisa buat memar pipi Sera kayak gitu. Tuh lihat pipinya Sera."


"Apa yang buat kalian sampai adu pukul seperti tadi? Ini sekolah loh, Nak, bukan ajang untuk perkelahian. Kalian itu perempuan bukan anak laki-laki!"


"Sera duluan Bu yang menghina Anna. Saya gak akan tinggal diam kalau teman saya dimaki begitu Bu sampai bawa-bawa orangtua segala!" terang Kinara mengancing seragam sekolahnya.


"Benar-benar kalian berdua ya. Tidak baik berkata seperti itu pada teman yang tidak memiliki ibu lagi. Kalian paham?" kata Bu Cindi pada Ghea dan Sera.


"Terlebih kau Ghea. Berapa kali lagi Ibu katakan jangan buat ulah di sekolah. Kamu sudah sering ibu biarkan agar tidak terkena surat panggilan, tapi sekarang kau malah buat ibu bingung sendiri."


"Ada apa ini?! Ada apa?" tanya Pak Robert. "Apa yang terjadi dengan kalian ber-empat. Seragam dan wajah kalian..."


Pak Robert menggeleng heran. Ucapannya menggantung di udara takkala melihat penampilan empat siswanya sudah acak-acakan. Ini pertama kalinya ia melihat siswa perempuan adu pukul di sekolah.


"Panggilkan Sean dan anak OSIS lain kemari. Harusnya ini tugas mereka. Kenapa sampai lolos begini? Apa tidak ada anggota OSIS yang berjaga di kantin?" ucap Pak Robert menatap satu per satu siswa yang ada di sekitarannya.


"Saya disini Pak." Sean datang dan berdiri di samping Pak Robert. Cowok itu begitu tampan berdiri diantara siswa lain yang mengerumuni Anna dan ketiga gadis yang ribut tadi.


"Apa yang kau kerjakan Sean? Kenapa bisa ada perkelahian di kantin? Bukannya anggota osismu bidang keamanan selalu bertugas?"


"Maaf Pak..."


Pak Robert menghela napas kasar. "Kalian yang buat onar di kantin ikut saya ke ruang BK sekarang juga!" suruh Pak Robert menatap mereka bergantian.


"Awasi mereka sampai ke ruang BK, Sean."


"Baik Pak."

__ADS_1


- to be continue -


__ADS_2