
...๐Disclaimer๐...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...โขโขโข...
Anna tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia sempat berpikir Sean itu sosok yang pernah ia kenal sebelumnya, nyatanya bukan. Laki-laki itu berbeda dengan orang yang pernah ia jadikan teman dimasa kecilnya. Mata yang membuat Anna menyukai anak kecil bernama prince, panggilan khusus Anna pada anak itu sewaktu mereka berusia tujuh tahun.
Anna masih mengingat semua kenangan itu bahkan sampai detik ini. Terkadang ia juga merindukannya. Sejak pindah ke Bandung Anna tidak pernah bertemu dengannya lagi. Anna segera membuka plastik putih pemberian Sean sebelum ia pergi dan Anna kini tersenyum senang menatap isinya. Tiga buah Cornetto dich chocolate, kesukaannya.
"Pacarmu Anna?"
Suara dari arah belakangnya membuat Anna berbalik badan. Wanita yang berdiri di depan pintu rumah, berpakaian formal, tersenyum lebar padanya sambil kedua tangan terbuka lebar.
"Tante Sekar!" Anna segera berlari menghampiri wanita di depan pintu rumah sana.
Ia memeluk tubuh hangat itu dengan begitu erat, menghirup aroma khas yang selalu Tantenya pakai di kainnya, mengingatkan aroma yang sama seperti milik Bundanya dulu.
"Kenapa Tante ngga bilang kalau mau datang hari ini ke rumah. Anna kan bisa jemput sepulang sekolah."
Sekar itu kakak kandung dari Bundanya dan bekerja sebagai guru swasta di salah satu SMA di kota Surabaya. Beliau memiliki tiga orang anak dan suaminya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan di kota Surabaya. Bundanya yang lembut justru berbanding terbalik dengan Sekar. Wanita itu tegas, disiplin tinggi dan tidak bisa neko-neko.
"Tante tidak mau merepotkan mu, Sayang. Lama kita tidak bertemu, kau sudah setinggi ini ya," ucap Sekar sambil mengusap puncak kepala Anna yang masih betah mendekapnya.
"Jadi laki-laki tadi siapa mu? Pacarmu, ya?" Belum sempat Anna menjawab, suara Kinara sudah lebih dulu menyahut dengan lantang.
"Namanya Sean, Tante! Dia itu Ketua OSIS di sekolah kita, sekaligus calon pacar Anna Tan"
"Heh? Bu--bukan Tan itu ngga benar. Anna masih belum mau pacaran kok. Gak ingin juga," kata Anna sembari melirik sinis ke arah Kinara.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita masuk ke dalam," ajak Sekar pada empat gadis cantik yang berdiri di hadapannya.
Saat memasuki rumah, mereka langsung tertarik dengan sebuah lukisan besar di sebelah kiri ruang tamu. Apalagi Kinara yang suka sekali memanjakan matanya dengan hal-hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Jadi Anna secantik itu turunan dari mamanya ya. Gak nyangka ayahnya Anna bisa dapatin hatinya beliau," kata Kinara.
"Namanya juga cinta. Cinta bisa mengubah segalanya," sahut Diandra berjalan di sebelah Yesi.
"Kalau semua barang-barang antik ini dijual, gue rasa gue paling kaya di kota ini," tutur Kinara lagi saat ia menyentuh guci berwarna biru dengan corak naga di dekat lemari tua berisikan benda-benda antik berukuran sedang dalam lemari.
"Sebenarnya kita kerumah Anna buat belajar kelompok atau mengamati barang-barang dirumahnya?" tandas Yesi melipat tangan di depan dada dan bersandar di tangan tangga rumah.
Ia melihat Kinara masih berkeliling ke setiap sudut rumah Anna dan itu cukup menjengkelkan bagi Yesi. Sedangkan dua temannya lagi sudah duduk di sofa menunggu Anna ganti seragam.
"Apa salahnya sih lihat-lihat sebentar. Udah lama juga gue ngga kemari. Dulu iya tiap hari datang tapi sejak saat itu udah gak pernah."
"Tapi kan harus izin dari pemilik rumah dulu Kin. Gak sopan kayak gitu dirumah orang. Kayak rumah lo ngga ada kayak gitu."
"Iya sih lo benar juga," kata Kinara menyudahi kegiatan pengamatannya dirumah Anna.
__ADS_1
Derap langkah kaki menuruni tangga membuat Yesi menoleh. "Maaf ya lama," ujar Anna menghampiri teman-temannya yang sudah duduk diatas karpet.
"Gak kepanasan make baju kayak gitu? Pake baju bebas ajah pun gak papa kali. Gak perlu sesopan itu bareng kita," ujar Ria.
"Gak papa make beginian. Yang namanya nyaman mau gimana lagi? Jadi sebelum kita mulai kerkom kalian mau minum apa?"
"Apa ajah deh yang penting dingin-dingin ya minumannya," ujar Kinara meraih tasnya ke atas meja.
"Okey tungguin ya." Anna berjalan ke arah dapur dan disaat itu juga Sekar mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang membuat Anna tidak bersemangat.
"Kata Bibi sebelum pergi belanja tadi, ayah kamu sudah seminggu tidak pulang. Apa benar begitu?" Anna mengangguk sembari menaruh satu persatu gelas ke atas nampan.
"Ayah dua hari lalu sudah menghubungi Bibi Tan, kata ayah banyak pekerjaan yang harus diselesaikan disana. Kalau belum selesai ayah belum bisa pulang."
"Anna juga tidak masalah kalau memang ayah gak pulang karena pekerjaan."
"Tante jadi ragu dengan ayahmu, tapi sudahlah mungkin hanya perasaan Tante saja. Sekarang kau antarkan kue ini sama minumannya ke teman-temanmu. Mereka pasti lapar dan haus."
๐๐๐
"Kayaknya si Siti anak kelas sepuluh yang suka pacar-pacaran di belakang taman baru putus deh sama Akbar. Lihat deh sw nya," ujar Ria setelah melihat sesuatu dalam ponselnya. "Sayang bangat, kan. Belum juga genap sebulan dah putus ajah."
"Cinta monyet itu. Pacaran kok sama cowok yang ceweknya dimana-mana. Bodohnya lagi lo semua tau gak, katanya si Siti itu udah gak perawan lagi," timpal Kinara membeberkan satu fakta yang belum semua orang tau.
"Ekhem... Tante gue bisa dengar Kin. Suara lo pelanin," ujar Anna datang dengan nampan di tangan.
"Ohh iya, sorry yaa..." ucap Kinara meminta maaf pada Anna karena ucapannya barusan.
"...tapi for your information. Gue tuh sebenarnya paling malas ngerjain tugas lo guys. Lo pada tau kenapa? Rasanya kalau dengar tugas itu bawaannya pengen tidur ajah ditambah lagi situasinya kayak gini, Anna nyiapin cemilan sebanyak ini," ujar Kinara mengambil tiga cookies di atas piring. Perempuan itu mendongak menatap langit-langit rumah. Lampu gantung yang besar dan megah itu tampak indah dan pasti mahal.
Yesi yang sudah menuliskan nama kelompok mereka di kertas HVS langsung mendelik melihat kelakuan Kinara. "Hidup di keluarga mewah seperti ini gimana sih rasanya, An?" Yesi, Ria, Diandra, dan Anna yang mengerjakan tugas pun menatap Kinara yang sejak tadi asik bercerita sama sekali tak membantu. Gadis itu masih menengadah sambil menyilangkan tangan depan dada.
"Kayak lo engga gitu juga Kin," ucap Ria.
"Gue bakalan kasih tau rasanya gimana kalo lo bantuin kita ngerjain tugas kelompok ini. Kapan siapnya sih kalau kita doang yang ngerjain," omel Anna dan Kinara justru memamerkan senyum lebarnya dan menatap mereka bergantian.
"Tau tuh. Mana gue pusing sendiri," sambung Diandra menggosokkan kepala penanya ke kepala.
"Lo juga Ria. Makanan sebanyak ini gak bakalan kemana. Tenang ajah, lo bisa bawa semua kerumah bila penting," sindir Yesi lembut.
Sosok yang dibicarakan pun langsung melirik sembari mengusap sudut bibirnya. "Ah iya iya. Mana biar gue bantu sebagian," kata Kinara menarik buku catatan Diandra.
Dua jam berlalu dan kini jam sudah menunjukkan setengah lima sore, kelima gadis itu pun meregakkan badan berbaring di atas karpet. "Akhirnya selesai juga tugas kelompoknya. Moga ngga sia-sia kita ngerjain tugas bahasa Indonesia ini," ucap Ria.
Segala peralatan sekolah yang berserak di meja dan lantai mulai mereka rapikan ke dalam tas. "Boleh ngga An kalau gue sekali-kali nginap di rumah lo ini. Tau kan bokap nyokap gue jarang dirumah. Boleh, ngga?"
Bukan ingin menolak tapi kalau sampai Kinara menginap disini dan disaat bersamaan ayahnya mengamuk Kinara pasti akan ketakutan dan bahkan tidak akan mau kemari lagi.
"Boleh. Kasih tau ajah kapan mau nginapnya."
__ADS_1
"Kinara doang yang boleh? Kita bertiga juga ngga boleh ya?" kata Ria tidak terima
"Aduh, iya iya boleh boleh. Kapan pun kalian nginap gue bolehin."
"Nah gitu dong," balas Ria senang.
"Eh, by the way yang bawa tugas ini siapa minggu depan?" tanya Yesi.
"Lo ajah Yes gue takut kelupaan." Anna menyahut sambil merapikan buku dan alat tulisnya.
"Iya lo ajahlah Yes. Entar gue ingatin kalau udah hari H nya," kata Ria. Yesi yang memang tidak pernah beralasan langsung mengangguk.
"Kotak pensil lo ini jangan lupa dibawa lah Kin," kata Ria mengingatkan gadis itu. Kinara pun melirik dan langsung tepok jidat meraih kotak pensilnya di atas meja.
Mereka berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Tante Sekar, kita izin pulang ya," seru Ria berjalan dari ruang tamu ke arah pintu rumah. Disusul Yesi, Diandra dan Kinara.
"Tunggu sebentar ya!" Mereka yang hendak keluar tertahan setelah mendengar kata bentar dari Tantenya Anna. Wanita kepala tiga itu melangkah keluar dari arah dapur dengan menenteng tiga paper bag hitam.
"Ini kuenya jangan lupa dibawa. Tante masak ini tadi buat kalian bawa pulang. Ini buat kamu Ria. Tadi Tante lihat kamu lahap bangat makan kue buatan Tante."
Sekar memberikan satu persatu paperbag berisi kue buatan buatannya. "Hehehe, makasih banyak ya Tan."
"Ya ampun Tan. Kita jadi nyusahin Tante ya jadinya," ucap Kinara.
"Sudah tidak apa-apa. Sering-sering datang ya kemari. Nanti kalau Tante kebetulan dirumah, Tante masakin kue yang lain juga."
"Oaaalah Tan, makasih banyak loh Tan. Kita jadi segan nih nolaknya," ujar Ria dengan terkekeh pelan.
"Iya iya sama-sama Sayang. Yasudah kalian pulang sekarang ya. Tante lihat kayaknya udah mau turun hujan. Ayo, Tante antar sampai depan rumah."
Setelah Anna dan tantenya mengantar keempat gadis itu hingga depan rumah Anna masih berdiri di depan gerbang bersama dengan Sekar yang melihat Anna. "Apa teman-temanmu tadi selalu baik padamu? Seingat Tante mereka pernah jadi musuhmu."
"Sejauh ini mereka baik denganku Tan. Tidak tahu kedepannya gimana lagi. Anna juga udah maafin mereka dari lama walau sesekali masih ada kesalnya Tan."
"Tidak papa Sayang. Namanya manusia pasti sering berubah. Yang penting ini bukan pertama kalinya kamu hadapi hal seperti ini. Tante yakin kamu kuat. Ayo kita masuk. Tante lihat tadi di kulkas ada ice cream? Punyamu?"
"Dikasih Kak Sean Tan."
"Loh? Kalian udah dekat ya? Katanya cuman teman tapi udah ngasih makanan ajah ya."
"Anna gak tau juga tadi Tan. Tiba-tiba ajah dia ngasih kantong plastik isi ice cream itu sama Anna. Segan juga nolaknya karena dia udah ngantarin Anna sampai rumah."
"Iya iya tapi jangan keterusan ya Sayang. Engga tau kita motifnya dia bagaimana. Takut loh Tante, Sean itu kayak Dean, mantan kamu sebelumnya."
"Mudah-mudahan engga ya, Tan," ucap Anna mengulas senyum begitu tipis kepada Sekar.
Setelah mengatakan itu, pikiran Anna berputar ke memori yang lama setahun lalu saat menjadi korban tuduhan tak bersalah dari ketiga temannya. Ingatan lama itu kembali terbesit di pikirannya.
- to be continued -
__ADS_1