
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Di jam pelajaran kelima, Sean, Satria dan Arkana bersama-sama keluar dari ruangan osis dan sekarang sedang berada di lorong kelas duabelas. Saat mereka berbelok hendak menuruni tangga menuju lantai dua, seseorang dengan tidak sengaja menambrak keras tubuh tegap Sean membuat map di tangan lelaki itu jatuh dan kertas di dalam map berserak di lantai.
Permasalahannya bukan orang yang menabrak dirinya membuat Sean marah melainkan isi map yang akan dia antar ke kantor kepala sekolah beberapa menit kedepan sudah basah dan tidak terselamatkan lagi satu lembar pun, lantaran minuman dari orang yang menabraknya jatuh dan tumpah membasahi kertas itu semua.
Sedang Sean masih menatap kertas miliknya yang berceceran di lantai. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tugas yang jadi tanggungjawabnya kini tidak tertolong lagi. Bagaimana ini? Ia tiga hari menyelesaikan itu sampai kurang tidur.
"Aish! g--gue minta maaf karena kertasnya jadi basah semua. Maaf ya..."
Anna meraih satu persatu kertas basah di lantai ke atas tangannya. Memungutnya pelan-pelan walau sebenarnya tidak ada gunanya lagi.
"Kenapa tangan lo sampai gemetaran gitu Anna?" Arkana melihat jari tangan Anna bergetar menyentuh kertas basah itu.
Anna? batin Sean ketika telinganya mendengar nama gadis itu diucap Arkana.
Cowok itu langsung menilik wajah gadis di depannya dengan memiringkan kepala. Benar saja dia Anna. Gadis yang ia beri tiga ice cream saat mengantarnya pulang.
Sementara Anna, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat mendengar suara Arkana. Ada Arkana berarti ada cowok yang mengantarnya kemarin. Siapa lagi kalau bukan Sean.
Dengan posisi masih menunduk, Anna mendongak dan membulatkan matanya. Saking terkejutnya, kertas yang ia raih dari rantai langsung robek karena saking basahnya.
Mampus, batinnya dalam hati lalu berdiri tegak sembari mengulurkan kertas yang sudah tidak utuh lagi diatas map. Ia ketakutan menatap wajah Sean yang berekspresi datar dan dingin.
Anna tidak ada niatan untuk menabrak Sean tadinya. Ia hanya ingin menemui cowok itu untuk membicarakan hal kemarin tapi sekarang ia justru berulah.
"Gu--gue tau ini pasti berkas penting, tapi gue benar-benar gak sengaja. Tadi itu g-gue buru-buru jadinya gak sengaja nabrak kakak. Maaf..."
"Gak usah kayak gitu Na. Udah, udah ngga papa kok. Sean ngga mungkin marah sama lo. Dia baik kok," ucap Arkana membuat Anna tenang sedikit. Matanya memandang Sean tanpa berkedip. Terlihat ekspresi Sean datar menatapnya.
"Lo baik-baik ajah, bukan?" Tangan Sean terulur terangkat di udara dan spontan Anna bergerak melindungi bagian wajahnya dengan lengan.
Kelakuannya itu tidak luput dari perhatian tiga cowok yang mengernyitkan dahi menatapnya. Apalagi Sean, ia lebih bingung karena respond Anna yang diluar dugaannya
"Lo—" Ucapan Sean tertahan ketika Arkana berdiri di depannya dan menilik wajah Anna.
"Muka lo pucat bangat. Lo engga papa? Ada yang sakit Na?" kata Arkana mendekatkan mukanya ke depan wajah Anna.
"Kesempatan lo. Gak perlu sampai sedekat itu pastiin keadaan Anna," seru Satria menarik kerah seragam belakang Arkana. Cowok itu pun mundur dari Sean bergeser sedikit.
"Maaf gue buru-buru. Permisi..." Anna berjalan cepat menuruni anak tangga dan berlari menuju kelasnya. Sementara Sean, ia mengepal tangannya dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana abu-abunya.
"Ada yang aneh ngga sih pas Sean ngangkat tangan, Anna refleks nutupin mukanya. Biasanya itu karena ketakutan, 'kan? Dikiranya lo kayak mau mukul dia."
"Tremor maksud lo?" sambung Satria.
"Iya tremor maksud gue. Responnya dia tadi cepat bangat loh, sumpah. Gue sampe ternganga liatnya. Apa iya Anna punya Tremor?"
Satria dan Arkana yang bingung serta menerka-nerka kebenarannya tidak membuat Sean ikut menyahut pembicaraan mereka. Justru laki-laki itu merasa ada yang janggal dengan Anna.
"Gue tinggal dulu lo berdua disini. Gue mau ketemu Tania dulu." Sean angkat kaki dan pergi dari hadapan Satria juga Arkana.
"Kan, kan. Pasti mereka ada hubungan spesial," tebak Arkana melihat kepergian Sean.
...•••...
Sean mengayunkan kaki jenjangnya di lorong kelasnya menuju kelas Tania di paling ujung. Ia harus memastikannya. Tania satu-satunya yang bisa ia tanyakan tentang hal ini.
"Eh, Sayang Tania, mau ngapain kesini?" Tania yang keluar dari kelas terkejut melihat keberadaan Sean bersandar di pembatas depan kelasnya. Sea memasang wajah berkerut menatap Tania.
"Tumben..." ucap Tania.
"Gue mau ngomong empat mata sama lo. Sekarang juga..." hardiknya meraih pergelangan tangan Tania.
"Tapi bentar lagi Bu Indah datang. Nanti ajah deh pas istirahat. Gue juga kebelet nih mau ke toilet."
"Ini tentang Dean," ujar Sean tiba-tiba.
"Dean?" ulang Tania dan langsung menarik tangan Sean menjauh dari depan kelasnya. "Kenapa dengan Dean? Dia udah balik?"
Ah sial, batin Tania dalam hati. Terkutuk lah dia yang mengatakan itu di hadapan Sean. Ia tidak sengaja mengatakan kalimat terakhir yang mengandung sebuah pertanyaan untuk Sean tanyakan padanya dan Tania bisa pastikan apa yang ia ucapkan akan Sean katakan.
"Balik? Jadi selama ini lo tahu keberadaan Dean itu dimana?" tanya Sean dengan sebelah alis terangkat. Tania masih memilih bungkam.
"Bu--bukan. Maksud gue tadi..."
"Jelasin semua yang lo tahu tentang Dean. Apapun itu katakan semua. Gue tadi ketemu Anna di depan ruang OSIS. Wajahnya pucat dan tampak ketakutan saat gue mau nyentuh dia untuk memastikan keadaan dia. Apa yang terjadi sebelumnya sama Anna?"
Sean menatap dingin wajah gadis itu. Tania meneguk salivanya susah-susah saat netra hitam itu menerobos tatapannya.
Tania mulai menceritakan segala yang ia tahu tentang Dean. Mereka berada sudah lorong kecil antara gudang kelas dua belas dan perpustakaan.
"Lo mau dengar yang mana dulu?" tanya Tania.
"Terserah." Tania pun lantas menghirup udara banyak-banyak. Pada akhirnya ia harus mengatakan semuanya pada Sean.
"Seminggu setelah mereka putus, Anna udah gak pernah sekolah lagi begitu juga dengan Dean. Cowok itu sering terlihat dimana-mana tapi sejak masalah itu Dean gak pernah kelihatan dimana pun biasa cowok itu nongkrong. Kabarnya dia pergi keluar negeri entah alasan apa."
"Gue yang takut Anna kenapa-napa saat itu karena udah gak pernah masuk sekolah lagi terpaksa gue diam diam datang kerumahnya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya."
"...Saat itu gue berada di teras rumahnya Anna. Gue kira suara ribut dari dalam rumah itu suara kucing ternyata bukan. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri Dean lagi mukulin Anna. Gue syok bangat saat itu."
"Sumpah kalau lo sendiri yang lihat kejadian itu lo bakalan mikir sama kayak gue. Tapi karena gue tahu Dean itu memiliki kepribadian ganda gue urungkan niat buat nolongin dia. Gue takut Dean lakuin hal sama ke gue."
__ADS_1
"dan di hari kedua gue kesana, gue juga lihat Dean hampir memperkosa Anna dirumah gadis itu sendiri. Nasibnya—ayahnya datang tepat waktu. Lo pasti mikir ayahnya ngusir Dean dan bawa Anna kerumah sakit, salah. Om Ryan mengusir Dean begitu saja dan Anna—dia dipukul ayahnya sendiri. Miris bangat kan jadi Anna."
"Gue lihat itu semua dengan mata kepala gue sendiri sampai suara kesakitan Anna yang menggema dari rumahnya benar-benar buat gue..."
Tania tidak melanjutkan ucapannya. Ia menarik napas begitu panjang. Terasa sesak mengatakan itu kembali pada Sean. Sebenarnya tak sanggup untuk menceritakan hal ini karena memang ia tidak kuat.
"Berbulan-bulan gue berusaha lupain kejadian yang gue lihat sendiri tapi ngga bisa sama sekali. Suara rintihan Anna masih terngiang dalam kepala gue hingga detik ini. Gue—"
"Stop, udah ceritainnya. Bisa-bisa lo nangis karena ceritain itu sama gue."
"Memang gue udah nangis gila. Lo juga ngapain sih minta diceritain. Gue udah berusaha lupa malah lo ungkit lagi," kata Tania menyudahi ceritanya lalu mengusap kedua matanya yang sedikit berair.
"Sorry, sorry. Nanti gue beliin mie ayam depan sekolah buat lo," kata Sean dengan jokes yang tak ada lucunya menghibur Tania agar tidak jadi menangis.
"Janji?"
"Iya janji. Yaudah lo masuk kelas sana. Gue lihat Bu Indah udah masuk lima menit lalu."
"Hah? Ih, gara-gara lo ini..." kesal Tania berlari kencang menuju kelasnya. Sean tertawa melihatnya namun tawa itu langsung sirna ketika pikirannya terngiang karena penjelasan lebar Tania tadi.
"Jadi selama ini lo udah semenderita itu? Pantas Tania maksa gue buat dekatin lo. Ini yang dia maksud sebelum gue menyesal?"
...•••...
Ruangan XI IPA 1—di depan kelas sudah ada Kinara, Yesi dan Ria yang tampaknya sedang bergosip ria. Mereka langsung menyudahi kegiatan mereka setelah melihat Anna berjalan di ujung lorong kelas.
"Darimana ajah sih Na. Lo selalu ajah main tinggal?" tanya Ria.
"Anna! Oi, Anna! Kesambet setan tau rasa lo Na," sarkas Ria menyenggol pelan bahu perempuan itu.
"Hah? Iya, kenapa?" ujar Anna terbata. Ia melirik Ria yang memutar bola matanya malas menatapnya.
"Lo ngelamunin apa, sih? Siang-siang gini banyak setan lo yang lagi cari mangsa. Lo mau lo salah satunya?" timpal melipat tangan di depan dada, sambil bersandar di pintu.
"Engga ada kok. Gak lagi ngelamunin apa-apa."
Bagaimana kalau Kak Sean tau kalau gue ada keanehan. Gue panik. Gue kira dia—aih, bodoh bangat si Anna, ucap Anna berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati
"Anna!" seru Ria menggoyangkan lengan Anna yang kembali terdiam dan melamun.
"Ah, apa?"
"Apa sih Na kayak gitu lagi? Cerita dong kalau ada masalah. Apa yang lo pikirin," tandas Ria lagi lagi ia kesal sendiri melihat Anna.
"Bukan apa-apa. Maaf ya..."
"Iya gak papa deh. Sekarang kita ada olahraga jadi buruan gih lo ganti seragam lo. Entar telat lagi. Malu kalau sampai kena hukum lari lapangan sana Pak Malik."
Anna pun mengangguk. Ia berlari masuk ke dalam kelas. Meraih baju seragam yang ia taruh di laci meja. Setelah itu berlari kecil menuju toilet untuk mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga.
...•••...
Anna sedikit menyipitkan mata karena terik matahari yang bersinar terlalu terang tepat di atas kepala. Gadis dengan pakaian olahraga berwarna biru langit juga celana training senada itu tengah berdiri di tengah-tengah lapangan basket.
"Woy buruan ke lapangan!! Lama bangat lo semua!" Teriak Bian, sang ketua kelas, berdiri disamping kanan Anna sambil berkacak pinggang.
Sudah lima menit lalu Anna berdiri menunggu temannya yang lain untuk bergabung. Namun, sampai sekarang hanya lima orang yang masih ditempat sisanya entah dimana.
"Jelas gak sih kita olahraga nya. Panggilin yang lain woy, buru!!" Teriak Bian pada siswa yang duduk dipinggir lapangan.
"Tunggu Bian!" teriak seorang perempuan.
"Ngapain sih lo semua di ruang ganti? Waktu lima belas menit itu apa gak cukup buat ganti seragam? Darah tinggian mulu gue jadi ketua kelas. Sumpah capek woy!"
"Gue kayak lagi nungguin artis ajah setiap mata pelajaran olahraga. Buruan baris!"
"Sabar dikit napa Bian. Kita juga capek lari-lari kemari. Lagian masih ada yang ganti baju di kelas," ujar Cece, perempuan keturunan Tionghoa.
"Seenggaknya gue udah ingatin lo semua jauh sebelum istirahat kedua bunyi. Makanya kalau dibilangin tuh didengerin jangan iya iya ajah," kesal Bian bukan hanya pada Cece tapi mereka yang ada di lapangan.
Bian melirik Anna yang berdiri disebelahnya. "Mana teman-teman lo? Biasanya bareng terus."
"Gak tau. Tadi di kelas masih sama tapi pas gue selesai ganti baju mereka udah gak ada lagi di depan pintu kelas. Kirain mereka udah di lapangan." Bian menghela napas. Kebiasaan ciwi-ciwi di kelasnya kalau mau olahraga kudu ke kantin dulu beli minuman.
"Eh gimana sama bokap lo? Bokap jadi datang hari ini kemari?" tanya Bian yang memang tau masalah gadis itu.
"Bokap engga akan datang. Gak papa Bin gak usah dipikirin, ini tuh masalah gue."
"Harusnya lo gak bisa bilang gitu Na. Suka duka kita bersama. Kita ini satu tim satu kelas."
"Any way, lo mau kerja paruh waktu, ngga?" tanya Bian tiba-tiba.
"Gue ngajar les," jawab Gio yang memang berdiri disebelah Bian.
"Nyahut ajah lo. Gue gak nanya sama lo " Balas Bian. Sebenarnya ia ingin bertanya pada Anna tapi malah Gio yang lebih dulu menjawab.
"Kerja paruh waktu, ya? Boleh. Mau kapan?" tanya Anna mulai tertarik dengan tawaran Bian.
"Kalau nggak salah mulai besok deh. Lo tau kan cafe yang dekat Toko Roti Arcy. Itu cafe punya kakak gue. Dia cuman cari pegawai untuk ngisi jadwal Jumat dan minggu doang. Gimana?"
Penawaran yang Bian ajukan pada Anna langsung mendapat anggukan setuju. Masuk dua kali seminggu mungkin Anna tidak masalah. Ia juga bosan dirumah dan kebetulan Jumat dan Minggu ayahnya selalu tidak ada di rumah. Ini kesempatannya.
"Jadi cafe yang dekat toko roti itu milik Kak Regal? Gue baru tau."
"Baru-baru ini kok cafe itu jadi milik Kak Regal. Kalau bulan-bulan lalu itu masih jadi hak milik bokap. Ayah gue akhir-akhir gampang bangat capek, jadi cafe yang cukup jauh dari rumah itu dipindah tugaskan sama Abang gue."
Anna mengangguk mengerti. "Semoga gue nyaman kerja disana ya. Mohon bantuannya ya Bian."
__ADS_1
"Aman Na. Lo pasti nyaman kok disana." Bian menepuk bahunya lalu menoleh dengan senyum tipis. Ketika Anna bergerak beberapa langkah tiba-tiba saja ia oleng.
"Eh eh, lo engga apa-apa?" Bian menahan lengan Anna saat gadis itu oleng ke kanan. Cowok itu menatap wajahnya yang begitu pucat. Seperti tak ada darah yang mengalir disana.
"Mending lo disana ajah dulu Na. Lo duduk ajah di kursi sana. Muka lo juga pucat bangat. Kalau kurang enak badan jangan dipaksain."
"Gak papa gue sehat-sehat ajah kok."
"Jangan batu dibilangin. Kalau gak nanti gue permisiin sama Pak Malik kalau memang lo gak sanggup ikut ujian siang ini."
"Gak papa. Panggil teman yang lain ajah biar baris keburu Pak Malik datang kita belum pemanasan juga."
"Lo bisa lihat sendiri dari tadi gue ngapain. Mereka gak dengar gue Na. Kayak radio rusak-rusak. Lihat sendiri disana, jalan ajah kayak siput. Giliran bel bunyi heboh minta tambahan waktu," ucap Bian
"Bentar gue tinggal kesana ya," kata Bian meninggalkan Anna di tengah lapangan bersama teman yang lain.
Gadis itu menarik napas panjang. Kepalanya kembali terasa sakit. Rasanya seperti dipukul palu yang besar. Perlahan ia menyeka peluh yang berkumpul di keningnya sesekali ia berpindah posisi tepatnya pada bayangan seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Mending lo istirahat. Benar kata ketua kelas baiknya lo duduk ajah kalau kurang enak badan. Yang namanya dipaksa ujungnya gak bakalan baik. Siang ini cuaca juga lagi panas-panasnya.
Anna menengadah seraya menyipitkan matanya menatap sosok jangkung disebelahnya. "Kenapa? Jangan bilang lo gak kenal gue? Woahh, gak benar nih kalau lo gak ingat siapa gue? Gue duduk di belakang kursi lo. Beberapa hari ini gue sakit jadi kurang tau lo udah balik sekolah."
"Sammy?" tebak Anna.
"Good girl. Gue kira lo ngga bakalan ingat gue karena lo dah lama gak sekolah. Setengah tahun ini kemana ajah?"
"Gue ngga kemana-mana kok."
"Yakin? Tapi gue juga ngga mungkin maksa buat lo cerita. Sekarang intinya lo udah balik gue udah senang," ucap Sammy.
"Anna!!" Teriakan Kinara yang keras dan melengking membuat Anna dan Sammy menolehkan pandangan mereka. Ria langsung melayangkan tatapan tajam pada Sammy.
"Ngapain lo dekat-dekat sama Anna? suka ya lo sama teman kita?" ujar Ria.
"Dekat-dekat gini malah dibilang suka? Yakali gue pacaran sama satu kelas."
"Gue masih nanya, ngegas ajah lo!"
"Terserah lo dah!"
"Eh, Na, kata Pak Malik tadi hari ini lo ngga usah ikut ujian basket dulu. Bian katanya ngelapor makanya lo dapat izin gak ujian hari ini," ujar Kinara. Gadis itu berbicara sambil mencepol rambut panjangnya tinggi-tinggi.
"Bian tuh sekalinya perhatian, perhatian bangat yah orangnya. Gue demen nih sama yang peka," kekeh Ria.
Berbeda dengan Anna, gadis itu justru menatap kedatangan Bian tengah berjalan ke lapangan tengah. Cowok itu tersenyum padanya dan Anna tentunya menarik sudut bibirnya melengkung.
Kepergian Bian tadi ternyata untuk menemui Pak Malik di kantor guru. Ia pasrah dan duduk di salah satu kursi di bawah pohon sembari menatap teman sekelasnya yang sudah mulai menyusun barisan. Ia juga tidak ingin membuat temannya khawatir kalau ia pingsan di tengah lapangan.
"Woi, Gio! Kita masih pemanasan, ngga?"
"Lah mana gue tahu. Tanya Bian tuh dia asisten Pak Malik, jangan nanyak sama gue."
"Alahh, diem ajah lo semua! Dari tadi gue udah bilang baris ya! sok ngartis lo semua!" seru Bian.
"Dih gitu ajah lo ngambek," ujar Johan.
"Lambemu..." balas Bian. "Pokoknya gue gak mau tahu ya kalau Pak Malik sampai marah kalau ditanya kenapa gak pemanasan! Urusan lo semua itu, gue dah malas."
"Udah woi semuanya baris! Empat banjar!" perintah Gio memberi instruksi. Sementara di pinggir lapangan Pak Malik baru saja datang dari kantor dan menghampiri Anna yang duduk sendirian di bawah sebuah pohon.
"Anna?" Pak Malik datang dan mengulurkan air mineral padanya. "Kamu duduk disini saja ya sambil mengamati jalannya ujian basket. Bapak gak bisa ikutkan kamu kalau sedang tidak sehat. Tadi Bian kasih tau bapak."
"Iya Pak gak apa-apa Pak. Kalau saya tidak ikut ujian hari ini nilai saya gimana ya, Pak?"
"Buat makalah saja ya untuk materi minggu lalu. Kumpulnya besok, bisa?"
"Bisa Pak."
"Kalau begitu makalahmu antarkan besok pagi ke kantor di meja bapak ya." Anna mengangguk dan Pak Malik kembali ke lapangan untuk memulai ujian basket siang ini.
"Baik anak-anak sebelum kita mulai ujian praktek hari ini, kita melakukan pemanasan dahulu ya. Kamu Bian kamu maju pimpin pemanasannya."
"Gantian napa, Pak? Perasaan saya mulu yang jadi pemandu pemanasan setiap olahraga."
"Sudah. Kamu maju cepat!"
"Ditolak gak ada nilai, ngeri amat nasib gue," ujar Bian melangkah ke barisan depan lalu mulai menghitung memulai pemanasan.
Setelah lima belas menit melakukan pemanasan mereka pun mulai melakukan ujian praktik. Satu persatu murid bergantian untuk memainkan bola basket. Kurang satu jam mereka berhasil menyelesaikan ujian dengan baik.
Mereka semua mendapat nilai yang cukup memuaskan di ujian kedua ini. Sementara gadis yang menyendiri di pinggir lapangan sembari memperhatikan jalannya ujian praktek mulai jenuh ditempatnya sampai tiba-tiba...
"Anna, awas!!!"
Perempuan itu menoleh dan membulatkan matanya saat bola basket melambung tinggi ke arahnya. Refleks gadis itu menangkap bola tersebut--nyaris ia terjatuh saat kakinya tidak pada posisi yang benar.
"Astaga Anna, gue minta maaf. Puji Tuhan lo gak kena bola dari gue," ujar Kinara panik menghampiri Anna yang berdiri memeluk bola basket.
"Udah gak apa-apa. Aman kok," ujar Anna. Sekarang gadis itu berjalan ke arah lapangan membuat semua orang memperhatikan dirinya.
"Kalau bola ini bisa masuk ke ring disana, saya gak perlu lagi ya Pak ngerjain makalah saya?"
Pak Malik menaikkan sebelah alisnya disusul senyuman khas dari wajah beliau. "Baiklah. Kau tidak perlu lagi bapak tugaskan membuat makalah kalau kau bisa memasukkan bola di tanganmu dari tempatmu berdiri sekarang. Ayo lakukan." Anna mengangguk dan mulai memantulkan bola berulang kali ke lantai.
"Bapak yakin? Anna itu udah terkenal loh pak mahir main basket. Bapak jangan lupa kejadian di kelas sepuluh bahkan dua sekolah kalah telak lawan sekolah kita karena permainannya," ujar Bian pada Pak Malik disebelahnya.
"Tidak masalah, Bian. Bapak sudah lama juga tidak melihatnya bermain."
__ADS_1
- to be continued -