In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 29


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


"Eh..." Anna terkesiap saat Sean menarik lengannya cepat, membuat perempuan itu langsung menabrak tubuh Sean kedua kalinya. Posisi seperti ini membuat Anna bisa merasakan kedua tangan Sean mendekapnya begitu erat.


"Kalau kenyataannya nanti lo benaran adik gue lo bakalan terima gue di hidup lo ngga?" Pertanyaan yang Sean berikan kepada Anna di dekat lehernya membuat bulu kuduknya bergidik ngeri.


"Lo ngapain, hah? Gila ya lo!" kelakar Anna mendorong tubuh Sean kuat agar menjauh darinya. Namun, Sean kembali memeluknya, merengkuh pinggang Anna sampai Anna kesusahan bernapas. Baru lima detik kemudian Sean melepaskan pelukannya dan mengatur jarak pandangnya pada Anna.


"Lo masih belum ingat sama gue, ya? Cara apa yang bisa gue buat supaya lo bisa ingat, hm?"


...🍁🍁🍁...


"Anna! Ampun deh Na. Apapun itu lo beruntung Na kalau benaran Sean ngelakuin itu sama lo," kata Ria.


"Gue iri sama lo. Kalau gue jadi lo ya gue ngga bakalan secepat itu pergi dari sana. Di nyamanin ajah dulu di peluk cogan kayak Kak Sean, rezeki bangat, elahh," lanjut Ria pada gadis dibelakang kursinya.


"Gimana-gimana tadi akting gue mantep poll kan. Pasti tuh sih Ghea kesenangan liat kita marah sama lo," kata Kinara antusias.


Ya. Semua yang terjadi di kantin tadi sudah Kinara rencanakan bersama teman-temannya. Memang mereka tidak tahu tentang foto itu tapi rencana mereka tetap berjalan seperti yang mereka harapkan. Kinara memberi usulan dan ternyata yang mereka duga benaran terjadi.


"Sorry ya Na. Jangan masukin hati ya omongan kita tadi, kata Yesi sambil menyeruput nurdin di tangannya.


"Gak papa. Lagian lo semua juga gak asik main tinggal sendiri. Dia udah nangis karena Kak Sean tadi. Foto itu bukan gue tapi dirinya sendiri," jelas Anna membuat Ria dan Kinara menganga.


"Gue udah tau." Bian datang dan duduk di seberang meja Anna dan Kinara. Anna pun menoleh dan menunggu Bian kembali berbicara.


"Sepertinya gue bakalan buka lowongan buat edit foto yang mulus. Masa mereka yang liat foto itu gak bisa bedain foto asli atau editan, mana tuh foto kupingnya hilang sedikit."


Kinara tertawa ngakak sampai terpingkal-pingkal mendengar Bian berbicara. "Iya loh, masa lo bertiga gak lihat dengan jeli. Lo juga Na masa mau ajah dipermalukan di kantin. Kalau gue jadi lo gue bakalan sumpal tuh mulut si Ghea sampai gak bisa ngomong lagi."


"Iyalah tuh. Jadi gimana Na sama Kak Sean, gue dengar dia meluk lo pas diruangan OSIS. Hoki bangat ya lo."


"Dia yang meluk gue. Bukan gue duluan," cetus Anna kepada Kinara.

__ADS_1


"Sama ajah itu Na, yang penting lo dipeluk dah. Senang kan lo," tawa Bian membuat Anna menggeleng pelan. Sungguh heran melihat ke absurd an teman sekelasnya.


Pada akhirnya Anna bisa melihat senyuman puas semua orang-orang yang berada sekelilingnya. Walau tak mudah sampai ditahap ini, Anna masih harus bersyukur melihat Ria, Kinara bahkan Yesi kembali mempercayainya.


...🍁🍁🍁...


Pulang sekolah Sean dan kedua temannya Satria juga Arkana tidak pulang lebih awal. Mereka kini nongkrong seraya menikmati nasi goreng di warung samping minimarket dekat sekolah. Warung yang berjualan di pinggir jalan itu begitu padat akan pengunjung jam-jam dua kebawah seperti ini. Arkan dan Satria sedang berebut tempat duduk agar lebih dekat dengan jendela.


"Baru ini nasi goreng terenak yang gue makan. Mana lengkap lagi sama toping-topingnya," puji Arkana memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Apa yang gak enak lo bilang. Makan di mana pun bahkan selagi gratis bakalan enak Ar," ledek Satria menenggak minumannya.


"Terserah gue lah. Sibuk bangat lo sama penilaian gue. Emangnya lo yang makan ajah pun milih-milih. Makanya kalau jadi orang jangan punya alergi an, gak sebebas gue kan lo, kasian..."


"Serah lo deh," ketus Satria meneguk habis teh manisnya yang mulai dingin. Sedangkan Sean laki-laki itu begitu disibukkan dengan ponselnya sejak mereka datang kemari.


"Senyum-senyum ajah lo Ar. Cerita dong ke kita jangan pelit bagi kebahagiaan. Mentang-mentang lo bebas tadi meluk Anna. Gue juga mau kali, masa lo doang yang bisa."


Sean mendelik. Kenapa mereka bisa tahu? "Gue sama Satria gak sengaja lihat lo meluk Anna tadi. Gue juga sempat dengar lo bilang ke Anna untuk mau jadi Abang buat dia. Otak lo geser ya gue rasa."


"Memang gue abangnya, kan?"


Suara motor yang menggema mengalihkan mata Satria ke arah depan sekolah. Ia tidak salah lihat bukan?


"Itu Dean bukan sih, Ar? Iya kan itu Dean kan Arkan," ujar Satria. Mendengar nama Dean, Sea  langsung menengok ke arah jari telunjuk Satria.


Jadi dia Dean yang yang mereka maksud. Cowok sialan itu, gumam Sean dalam hati.


"Dia ngapain kesana? Mau sekolah lagi?" ucap Arkana. Satu kakinya diatas kursi dan kepalanya menoleh menatap Dean di depan gerbang sekolah.


"Sialan. Punya nomor Anna ngga lo berdua?"


"Buat apa? Lo kenal Dean?" tanya Arkana.


"Itu dia Dean mantan pacar Anna setahun lalu kan. Itu Dean yang semua orang maksud, kan?" Arkana mengangguk.


"Udah lama juga gue ngga lihat tuh cowok. Dia pergi kemana selama itu?" sambung Satria.

__ADS_1


"Punya nomornya ngga lo?" Suara Sean yang sedikit membentak membuat Satria menengadah menatap Sean.


"Gue ngga punya nomornya tapi Ria ada." Arkana langsung tertawa.


"Cielah, sedingin-dinginnya lo Sat, nomor si ria lo simpan juga ya. Sejak kapan lo punya nomornya. ah jangan bilang lo sering kontek-kontekan sama tuh cewek."


Tidak mungkin kan menyimpan nomor cewek tapi gak pernah saling menghubungi.


"Berisik lo Ar. Lo mau ngomong biar gue telpon?" Satria menyalakan ponselnya. Sea  pun mengangguk. Ia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.


Panggilan tersambung. 


[Halo Kak.]


Suara Ria yang terdengar membuat Sean langsung mengambil alih ponsel itu dari tangan Satria. Arkana yang mendengar suara gadis itu langsung cepat menyiku perut Satria.


"Suara gebetan lo halus juga ya kalau lagi teleponan. Bisa juga tuh suaranya buat gue tidur," kekeh Arkana dan Satria langsung meninju perut cowok itu, tidak keras sama sekali.


"Ria bukan? Ini gue Sean."


[Oh iya, Kak. Iya gue Ria, ada apa ya kak]


"Anna tadi pulangnya bareng sama lo ngga?"


[Iya kak sampe rumah malahan kita antar. Anna itu kan ngga boleh pulang lama dari sekolah takut ayahnya marah. Dia udah di rumah kok kak. Memangnya kenapa?]


"Ngga, gue cuman nanya ajah. Thanks ya. Sekalian kirimin gue nomornya kalau ada sama lo."


Panggilan terputus sepihak membuat Satria jengkel.


Sean langsung mematikan sambungan teleponnya membuat Satria langsung menyambar ponselnya dari tangan cowok itu dengan kasar.


"Asal lo matiin ajah. Dia belum selesai ngomong, njir!" umpat Satria memasukkan ponselnya dalam saku.


"Jadi ceritanya ada yang kakak adek nih," goda Sean melirik Satria dengan tampang tidak tahu apa-apa.


Entah karena malu atau ketahuan, Satria langsung memiting leher cowok itu membuat Sean dan Arkana langsung tertawa terbahak bahak. Sore mereka pun dibungkus dengan lawak tawa ketiganya

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2