In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 52


__ADS_3

...--DEAR CRUSH! KAPAN SIH PEKA!--...


Grup WhatsApp yang beranggotakan Anna, Yesi, Ria dan Kinara yang sibuk menggibah dalam grup terus saja membuat Kinara memperhatikan ponselnya.


Perempuan itu sedang tengkurap di atas tempat tidurnya. Matanya memang menatap grup chat nya, tapi pikirannya benar-benar tertuju pada sosok Satria. Pemuda yang entah kenapa tiba-tiba mengajaknya jalan dan bodohnya ia sendiri mengiyakan.


Kinara : Woy


Kinara : Gue baru nyampe rumah nih.


Kinara : Parah! Chat gue cuman di read doang


Kinara : Gue sumpahin yang just read jomblo!


Yesi : Hem... Kenapa Kin?


Anna : ?


Ria : Berisik tau ngga!!


Kinara : Hmm. Mentang-mentang lo jalan sok iya kelakuan lo.


Ria : Serah gue lah


"Sejak kelas sepuluh gue udah kenal sama Satria, tapi kenapa baru tadi sore dia ngajak gue jalan ya? Apa jangan-jangan dia orangnya memang gengsian?" gumam Ria masih dengan beban pikirannya.


"Apalagi tadi, gue ngomong apa sih sampai bilang kayak gitu. Kesannya kan gue jadi kayak ngemis cinta... aihh bodo bangat sumpah!" ucap Ria mengumpat dirinya sendiri.


Bagaimana tidak, sebelum Satria berlalu dari depan rumahnya Ria dengan entengnya mengatakan apa boleh ia menyukai laki-laki itu? Seharusnya kan Satria yang mengatakan hal itu bukan dirinya?


"Kayaknya dia memang ngga punya gebetan deh. Kalau punya, kenapa ngajak gue jalan ke taman? Ih... Kok gue malah pikirin Satria sih?" ujar Ria mulai menggila sembari menepuk-nepuk pelan dahinya.


Kinara : Lo ngapain sih Ria dari tadi ngetik mulu gak kelar-kelar. Heboh bangat...


Ria : Biasalah lagi senang. Habis dia ajak calon pacar jalan


Yesi : 🤮🤮🤮


Ria : Kasihan


Kinara : Jomblo nyimak ajah ya. Jangan ditiru kalau belum punya pasangan.


Anna : Mau dong diajak jalan? Kapan ya?


Yesi : Ada kak Sean tuh lagi nganggur. Ajak dong sana. Jangan nunggu mulu.


Ria : Ah iya benar tuh Na. pasti Kak Sean mau. Apalagi orangnya elo, dijamin pasti iya jawabnya.


Anna : Ngga deh entar banyak gosip. Capekk

__ADS_1


Kinara : Bodo amat sama gosip. Entar ada yang nikung, nyesal lo. Gas ajah terus


Anna : Gue udah bilang dia Abang gue!


Ria : Masih Abang-abang an yang gak jelas.


Kinara : Gue udah ikhlas loh kalo lo sama dia


Yesi : so sad... Curhat ya, Mbak?


Kinara : Sialan lo!


Ria tertawa ngakak membaca deretan isi chatan grupnya dengan teman-teman. Apalagi Kinara yang tidak bisa tidak sehari saja membicarakan gosip dalam grup mereka.


...•••...


Sementara di tempat lain di kediaman Williams, yang jelas dirumah Anna. Di dalam nuansa hitam putih itu tampak seorang gadis tengah berkutat dengan buku pelajaran di depannya sesekali membalas pesan-pesan rusuh dari teman-temannya. Anna melingkari setiap jawaban pada LKS nya yang sudah ia kerjakan di buku catatan.


Setelah belajar selama satu jam, semua soal selesai dikerjakan, Anna meregangkan tubuhnya di kursi , mendongak menatap langit-langit kamarnya. Disaat kelopak matanya hampir terpejam, suara ketukan di depan pintu membuat gadis itu terduduk dengan tegak sembari menoleh dan menghela napas dalam.


"Maaf ya Non Bibi ganggu belajarnya lagi," ujar Bi Rina membuka lebar pintu kamar dan melangkah masuk. Wanita itu meletakkan segelas susu hangat di dekat tumpukan buku paket milik Tanaya lalu duduk di tepi kasur.


"Bibi buatin susu kesukaan, Non ini biar lebih semangat belajarnya. Jangan lupa dihabisin ya Non."


"Beres Bi. Makasih banyak ya." Anna meraih gelas itu lalu meneguk habis susu buatan Bi Rina sampai tidak tersisa setetes pun.


"Hemm... Susu buatan Bibi memang selalu enak, the best deh pokoknya."


"Ayah memangnya gak pulang Bi? Sudah seminggu lebih ayah ngga pernah menelepon ke rumah."


"Eh, Bibi sampai lupa Non ngasih tau kalo bapak sebulan ini tidak akan pulang. Katanya ada bisnis di Surabaya yang tidak bisa ditinggal," jelas beliau.


Tiga hari lalu, Ryan menelpon ke rumah dan hanya mengatakan itu saja pada wanita paruh baya itu. "Gitu ya Bi. Karena Anna sejak kemarin khawatir. Engga biasanya kayak gini..."


"Sudah Non, jangan dipikirkan. Ayah non pasti dalam keadaan baik disana. Lagian Bibi malah senang Tuan tidak ada di rumah."


"Bibi..."


"Maaf Non. Tapi sejujurnya Bibi katakan, ada bagusnya kalau Tuan tidak ada dirumah. Non bisa bebas pergi kemana pun tanpa ada larangan."


"Tetap saja Anna khawatir sama Ayah."


"Ngomong-ngomong maaf Non kalau Bibi lancang, tapi sejak Bapak pergi non selalu baik-baik saja. Biasanya Bibi selalu lihat non nangis dan jadi tempat amukan Tuan. Bibi sedih sebenarnya lihat non dipukul terus, Bibi ngga kuat..." lirih Bi Rina menyeka air matanya.


Anna langsung bergeser tempat ke sebelah Bi Rina, mengelus punggung wanita renta itu dengan lembut.


"Anna gak apa-apa kok. Bibi jangan sedih. Kalo Bibi sedih gini entar Anna juga ikut sedih. Bibi mau Anna nangis kayak kemarin lagi?"


Bi Rina langsung mendongak, meliriknya lalu menggeleng tanda wanita itu tidak ingin. Setelah itu, beliau menyentuh kedua tangan Anna, menggenggam erat jemari kurus itu dan membuat Anna menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Bibi setiap hari berdoa pada Tuhan, agar non selalu diberi berkat yang banyak. Bibi juga ngga lupa meminta pada Tuhan, agar tuan bisa berubah dan menjadi ayah yang baik untuk non. Berjanjilah agar selalu baik-baik saja, sehat dan panjang umur."


"Sebelum Bibi bersama yang di atas, Bibi ingin lihat non selesai sekolah, bisa kuliah lagi, sekalipun menikah Bibi ingin lihat juga."


"Ibumu, Naura, sangat menyayangimu Non. Ibumu tidak akan bisa melihatmu menangis. Mungkin kau tidak ingat waktu kau berusia 4 tahun--kau jatuh dari tangga--ibumu langsung memarahi Bibi saat itu."


"Anna boleh nanya sesuatu Bi?"


"Apa kecelakaan beberapa tahun lalu, Bunda memang tidak selamat?" Bi Rina terdiam seraya melirik ke arah lain.


Genggaman yang tadinya rapat di tangannya kini mengendur membuat Bi Rina membenarkan duduknya agar tidak terlalu menyerong pada Anna.


"Apa yang Anna tidak ketahui Bi? Ayah bilang Bunda memang meninggal pasca kecelakaan mobil waktu itu, tapi kenapa pihak polisi tidak menemukan adanya jasad Bunda di dalam mobil."


"Apa Bunda masih hidup?"


"Kenapa Bibi diam? Apa Bibi tau sesuatu tentang Bunda atau kecelakaan sembilan tahun lalu?"


Wanita itu berbalik badan seraya kepada merunduk menggenggam tangan mungil Anna dengan begitu erat.


"Maafkan Bibi Non. Bibi tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan yang menimpa Non, Tuan, dan mending Nyonya Naura. Bibi saat itu sedang pulang kampung."


"Bibi bohong!" seru Anna penuh tekanan. "Walau umur Anna saat itu masih berusia tujuh tahun, tapi aku masih ingat saat Bibi melambaikan tangan pada padaku. Bibi juga yang nyiapin dress putih untuk aku pakai malam itu."


"Sejak keanehan ini terjadi, mulai dari jasad Bunda yang tidak ketemu, Ayah menutup kasus itu secara mendadak, semua foto Bunda juga menghilang bahkan ayah berubah kasar dan itu dimulai sejak Bunda pergi!"


"Setiap Anna bahas tentang Bunda Bibi selalu berusaha mengelak untuk membahasnya. Memangnya ada apa Bi?"


"Aku juga ingin tahu, apa yang ada di dalam kamar bang Leon. Kenapa pintu itu selalu ditutup rapat? Apa yang ada disana? Kenapa hanya Bibi saja yang dibolehkan ayah masuk ke kamar itu?"


"Maaf Non, Bibi tidak tahu apa-apa."


"Tidak mungkin Bibi tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Bibi dua puluh empat jam di rumah tapi kenapa bibi bilang tidak tahu?"


Suaranya yang sedikit meninggi membuat Bi Rina menundukkan pandangannya. Melihat sikapnya yang tidak disengaja, membuat ia langsung menyentuh kedua pundak wanita itu.


"Maaf Bi. Anna gak bermaksud ngomong keras begini. Aku cuman ingin Bibi jujur sama saja. Setelah Anna kembali di malam kematian Bunda, Anna melihat Ayah berbicara dengan Bibi."


"Apa yang sebenarnya ayah katakan? Jangan bilang Bunda meninggal karena rencana ayah?"


Bi Rina mendongak menatap Anna. Pupil wanita itu membesar seperti terkejut mendengar apa yang ia katakan barusan. Apalagi mulut yang tak bersuara lagi membuat Anna tahu satu hal bahwa ada yang tidak beres dengan masalah ini.


Setelah Bi Rina meninggalkan kamar—Anna juga tidak mendapatkan apa yang ingin ia ketahui, ia pun berdiri di depan pintu balkon kamarnya. Ia menatap nyalang ke arah luar kamar sembari menggigit ibu jarinya dengan pikiran yang bercabang-cabang. Perempuan itu mencoba mengingat kembali setiap detail ingatan masa lalunya disaat Bundanya meninggal.


"Saat itu juga ayah tidak sedih sama sekali setelah Bunda meninggal dan bahkan sehari setelah kejadian itu kasus kematian Bunda begitu cepat ditutup. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?"


Ponsel miliknya yang diletakkan di kasur bergetar, segera ia berjalan dan meraih benda pipih menyala itu. Ia kira itu sebuah panggilan, nyatanya hanya alarm pengingat jadwal minum obat untuk malam ini.


Sesaat setelah ia meletakkan kembali ponselnya, benda itu kembali berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari Dr. Alexander muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


[Besok jangan sampai lupa. Datang tepat waktu. Jangan selalu menghindar lagi. Kamu bukan anak kecil lagi Anna. Mari bersikap lebih dewasa dan lihat sekitarmu]


- to be continued -


__ADS_2