
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Beberapa detik berlalu keadaan lapangan yang tadinya riuh kini hening tiba-tiba. Sampai suara tepuk tangan oleh Pak Malik dari pinggir lapangan membuyarkan keadaan dan mereka yang berada disana mulai bersorak ria memuji Anna.
Anna tersenyum lebar sebentar. Ia sedikit terharu menatap wajah bahagia teman-temannya ke arah dirinya. Semua orang yang berada dipinggir lapangan mulai mengerumuni Anna.
"Anjir! Anna bisa lempar bolanya sejauh itu? Gak nyangka gue. Gak bisa dibiarin nih, saingan gue ini," ucap Gio dengan senyumannya.
"Hebat bangat Na" kata Kinara menepuk-nepuk pelan pundak gadis itu. "Kalau gini terus nilai lo bakalan aman sama Pak Malik. Lo bisa juga jadi kapten basket pas kelas duabelas nanti."
Ria yang kesenangan melihat aksi temannya itu langsung bergelanyut manja di lengan Anna. "Mau dong diajarin sama lo Na."
"Parah lo Na! Kok gue baru tahu ya lo bisa main basket. Itu tadi gak benar, kan?" ujar Kinara.
"Sejak kelas sepuluh dia udah jago kali main basket. Makanya kalau ada jam olahraga tuh diperhatiin jangan cuman cowok ajah lo liatin," serang Yesi bersidekap memandang Kinara. Cewek itu langsung memasang wajah masam pada Yesi.
"Iya deh iya. Gue terus yang lo salahin, Yes! Kapan sih gue benar di mata lo."
"Gue gak nyalahin lo kok, gue cuman bilang doang," balas Yesi membuat Ria mendesah karena kelakuan kedua temannya.
"Lo berdua kenapa sih? Apa-apa diributin. Ini tuh harusnya kita semangatin Anna karena bisa masukin bola dari luar garis bukannya berantam," sambung Ria.
"Dih, lo juga sama," ujar Kinara. Lagi-lagi gadis ini memang selalu seenaknya berbicara. Untuk saja Anna yang sudah paham segera menengahi.
"Udah. Kenapa sampai ribut terus sih?"
"Woy Anna! Gue gak mimpikan lihat lo bisa sehebat itu lempar bola basket dari garis lapangan. Gila sih, parah loh Na," ucap Evi datang. "Secara ngga langsung lo jadi saingan berat Kak Salsa, kapten basket putri."
"Bangga gue, bangga bangat punya teman yang mahir main basket. Lo doang loh Na," cecar Bian. Disaat Bian terang-terangan mengatakan itu semua perempuan langsung menatap sinis kearahnya.
"Jadi maksud lo kita-kita ini gak berguna gitu maksud lo Bian?"
"Sudah anak-anak. Sekarang baris kembali," perintah Pak Malik pada semua siswanya. Setelah mereka semua berbaris dengan rapi diikuti dengan Naya dibarisan perempuan paling depan.
"Nah sesuai janji bapak tadi kalau bisa memasukkan bola ke ring bapak akan batalin tugas kamu. Jadi karena kamu berhasil yang tadi itu akan bapak buat nilaimu untuk ujian hari ini ya."
"Iya Pak. Terimakasih banyak," jawabnya senang. Bian meliriknya lalu menatap Pak Malik.
"Mau bergabung dengan tim basket putri?" tanya Pak Malik kembali. Anna yang tidak menyangka akan diminta bergabung dengan tim basket putri yang paling diagungkan setiap ada perlombaan basket pun masih terdiam.
Sejak ia masuk ke sekolah ini, memang itu yang ia inginkan tapi desas desus banyak yang ingin gabung kesana membuat Anna kembali memikirkannya. "Bagaimana Anna mau bergabung dengan tim basket putri yang babak ketuai?"
"Gabung ajah Na. Lumayan tuh," kata Bian.
"Iya-in ajah kali Na gak perlu mikir segala. Kalau lo ikutan, kelas kita makin terkenal," ujar Sammy yang berjongkok di barisan depan karena kecapean.
Mau Pak, teriaknya dalam hati. Namun untuk saat ini Anna benar-benar tidak ingin dirinya mengikuti kegiatan apapun. Ia harus dapat izin dulu dari ayahnya.
"Nanti saya pikirkan lagi Pak." Jawaban yang ia berikan cukup membuat teman sekelasnya kecewa.
"Yahhhhh!"
"Sayang bangat Na lo ngga jawab iya. Kesempatan emas nih buat lo juga kelas kita," kata Gio dari barisan tengah.
"Secepatnya ya. Tim putri kita membutuhkan pemain tambahan untuk pertandingan di bulan Mei nanti."
"Baik Pak. Nanti saya sendiri yang akan kabari bapak."
"Iya iya. Jangan sampai lupa. Jadi berhubung sisa waktu kita tingg lima belas menit lagi, bapak akhiri saya ujian kita hari ini ya. Terimakasih untuk kerjasama yang luar biasa ini. Kalian lanjut kembali latihan. Bapak izin ke kantor lebih dulu."
Pak Malik berbalik arah ke kantor guru. Sementara siswanya yang tinggal di lapangan mulai mencar mencari tim masing-masing menghabiskan waktu yang tersisa. Takkan mereka biarkan waktu limabelas ini terbuang begitu saja.
"Gak ikutan main sama kita, Na?" Kinara memanggilnya lantaran gadis itu berjalan ke pinggir lapangan.
"Kalian ajah gue mau balik ke kelas."
"Gak mau gue temanin?" tutur Ria. Anna langsung menggeleng membuat Ria paham. Gadis itu pun ikut bergabung dengan Kinara sementara Anna keluar dari lapangan dan berjalan di lorong kelas sepuluh menuju kelasnya di lantai dua.
Sebentar saja ia kena panas matahari, kepalanya sudah berdenyut-denyut. Entah kenapa rasa sakit yang tadinya cukup membuatnya keleyengan sekarang semakin menjadi dan disaat ia berjalan sendiri di lorong kelas sepuluh, matanya tidak sengaja melihat Sean tengah berjalan kearahnya dan tatapan itu membuat perempuan itu tidak nyaman.
"Tunggu, Anna. Gue mau ngomong sebentar sama lo." Sean mencekal pergelangan Anna sebelum gadis itu pergi dari hadapannya.
"Lepasin!!" seru Anna menepis tangan Sean di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lo kenapa?" Pertanyaan yang selalu tiba-tiba membuat Anna tidak mengerti tentang bagaimana sifat Sean ini sebenarnya. Ia memang serius peduli atau cuman sekadar ingin tahu saja?
"Bisa ngga sih lo jangan nanyak gue ini kenapa? Kalo gue gak mau ngomong sama lo apa perlu lo tanya kenapa?" sarkas Anna menggebu.
"Perlu bangat buat gue. Apa itu juga salah sama lo? Kemarin kita ngga ada masalah seingat gue. Kenapa sekarang lo malah jutek begini? Seolah-olah gue melakukan kesalahan fatal sama Lo."
"Harusnya gue yang nanyak lo kenapa? Ada urusan apa lo sama gue? Kalau gak ada yang penting gak usah sok dekat, gue risih."
"Oh, atau jangan-jangan ini karena masalah tadi. Masalah gue buat kertas-kertas lo basah semua. Iyah? Gue kan udah minta maaf. Kalo niatnya sekarang mau marah-marah please urungkan dulu. Gue lagi gak berminat."
Bukannya melihat mata gadis itu, Sean justru melihat kalung yang Anna kenakan di lehernya bahkan tak hanya kalung, pita merah yang memang Anna pake sejak jam olahraga tadi, mengikat rambutnya membuat Sean jadi kepikiran sesuatu. Kerutan itu semakin tebal saat ia mengamati wajah Anna.
"Siapa lo sebenarnya?" Pertanyaan yang tidak Anna duga akan keluar dari bibir Sean membuat Anna mendongak dan menatap lurus ke mata Sean.
"Lo aneh bangat tau ngga. Barusan lo marah-marah, kemarin lo ngasih gue ice cream, tadi juga tangan lo hampir nyentuh kepala gue dan sekarang lo malah nanyak siapa gue. Sebenarnya mau lo apa?"
Ada sedikit kemarahan terdapat dalam kalimat Anna. Entah itu Sean rasakan tapi raut wajahnya menunjukkan cowok itu seolah tak merasakannya.
"Kalung itu punya lo? Dapat darimana?" ujar Sean mengabaikan ucapakan Anna sebelumnya. Anna yang mendengar Sean berbicara seperti itu refleks menyentuh bandul kalung yang melingkar di lehernya.
"Pita merah yang lo pakai juga? Darimana lo dapat itu? Gue ingat dulu gue pernah kasih kalung dan pita yang sama lo pake ini ke seseorang. Kalau gak salah saat itu gue berumur delapan tahun."
"I--ini barang milik gue," jawab Anna menatap ke mata Sean. Menunjukkan kepemilikannya pada barang yang ia pakai.
"Lo yakin itu barang milik lo?" tandas Sean mengernyit.
"Lo sebenarnya mau ngomong apa, sih? Ngga mungkin barang orang lain gue pake ditubuh gue. Semalam gue temuin ini di kotak peninggalan bunda gue. Puas?!"
"Kalo itu barang memang milik lo kenapa lo ngga ingat sama gue? Gue prince Anna, gue teman semasa kecil lo yang buatin pita itu hanya untuk lo doang dan kalung yang lo pake itu hadiah ulang tahun lo yang ketujuh dari Bunda gue. Lo ngga ingat itu sama sekali?"
Anna masih menutup rapat bibirnya. Ia tidak mengerti tentang apa yang Sean katakan barusan dan Anna juga tidak ingat semua kejadian di masa lalunya tapi nama prince cukup membuat Anna ingat satu kata itu.
"Kalo lo ngga percaya lo bisa lepas pita itu sebentar dan lihat tulisan di belakangnya. Lo bakalan tau siapa pemilik pita itu," kata Sean.
Anna dengan gampang menuruti perkataan Sean. Kemudian tangannya langsung terangkat ke atas kepala, melepaskan ikatan pita di rambutnya lalu dihadapan Sean ia membalik pita itu dan benar saja tertulis nama 'Sean' disana.
"Gue ngga kenal sama lo."
...🍁🍁🍁...
Berharap Anna akan mengatakan dia mengenal Sean justru tidak terucap lewat bibir gadis itu. Anna langsung pergi dengan mengatakan ia tak mengenal Sean. Sakitnya hati Sean langsung membawanya ke tempat Tania.
Sean kini berada di taman belakang sekolah setelah sepeninggal Anna di koridor kelas sepuluh, cowok itu langsung pergi ke kelas Tania dan mengajaknya kemari.
"Lo bego ya. Bukannya lo udah tau itu kalau dia putrinya Tante Naura. Wanita yang selamat dari kecelakaan beberapa tahun lalu karena bantuan keluarga besar lo."
"Keluarga lo yang udah selamatin nyawa Bundanya Anna. Gue udah bilangkan lambat laun lo pasti bakalan tau siapa itu Anna dan lihat tanpa perlu banyak waktu, Anna sendiri yang kasih petunjuk itu sama lo."
"Gue harus apa sekarang?" Bodohnya Sean bertanya kelanjutan masalah ini.
"Bodoh bangat lo. Ya lo tinggal bilang sama Anna kalau Bunda dia masih hidup. Beres..."
"Engga semudah itu Tan."
"Kenapa? Anna berhak tahu Bundanya masih hidup, Sean. Mau sampai kapan lagi kita semua menutupi masalah ini dari Anna. Gue udah jelasin semuanya sama lo."
"Lo pindah kemari karena lo penasaran kan Anna siapa yang sekolah bareng sama gue. Sekarang lo udah lihat Anna itu adalah anak kecil yang pernah jadi tetangga lo puluhan tahun yang lalu sekaligus sahabat lo sewaktu kecil."
"Lo ngga ingat pesan Tante Naura? Ingat ingat lagi apa yang Tante Naura pesanin sama lo. Lo harus pertemukan Anna dengan beliau tanpa Ayahnya ketahui."
"Anna udah menderita cukup lama, Sean. Dia pasti masih sedih karena kehilangan Bundanya begitu cepat. Dia juga dikelilingi oleh orang-orang yang tidak peduli dengannya. Kalau lo masih berdiam terus seperti ini, gue nggak bisa jamin Kalau Anna masih mau bertahan hidup."
...🍁🍁🍁...
Dari ujung lorong mereka berjalan, Arkana melihat sosok yang ia cari dengan langkah lebar berjalan ke arah mereka. Map berwarna biru dan merah di genggamannya tampak kusut dan sesekali terlihat tersenyum ramah pada siswa yang menyapanya di koridor kelas.
"Darimana ajah lo? Semua tempat udah kita jalanin lo engga ada dimanapun?" tukas Arkana mengamati Sean yang tampak tidak memperhatikan dirinya berbicara.
"Dengar ngga sih lo Sean?" kata Arkana menggoyangkan lengan cowok itu kasar.
"Gue baru balik dari perpus," jawab Sean.
"Gak yakin gue?"
"Kalau gak yakin itu urusan lo!" Sean berlalu begitu saja membuat kedua cowok itu mengikutinya dari belakang.
"Masih ajah tuh anak bohong sama kita. Jelas-jelas adik kelas tadi bilang dia ketemuan sama Anna. Berdosa bangat."
__ADS_1
Arkana dan Satria berjalan beriringan dengan Sean di koridor kelas. "Lo habis ketemuan sama Anna?" tanya Satria. Cowok itu langsung berhenti dan melirik Satria.
"Lo ada rasa sama Anna ya?" Pertanyaan yang sama yang Sean dengar dari mulut kedua temannya.
"Berisik lo berdua!" hardik Sean.
"Jujur ajah kali. Ada urusan apa lo sama Anna? Kalau bukan karena rasa suka apa lagi?"
"Kalau gue bilang apa untungnya sama lo berdua. Urusan gue bukan urusan lo juga, kan?"
"Anjir! Ngomong tuh jangan seenaknya. Punya masalah hidup apa lo?" tutur Satria tampak emosi.
"Ribut juga ujungnya..." Arkana menyender ke tembok seraya menatap tatapan tajam antara kedua temannya.
"Masalah lo masalah kita juga Sean, jangan sampai lo lupa," ucap Satria. "Omongan lo barusan jangan sampai gue dengar lagi."
"Gue harus apa?" pungkas Sean tidak tahu lagi harus mengatasi siatuasi ini seperti apa lagi.
"Maksud lo gimana?" tanya Arkana turun dari pembatas kelas dan serius memandang wajah Sean yang tampak kebingungan.
"Sebenarnya... Argghh—gue ngga bisa bilang ini sama lo berdua. Gue yakin lo pada ngga percaya dengan omongan gue."
"Bilang dulu njir. Gimana kita bisa percaya kalo lo belum bilang. Kita berdua bukan seminggu atau dua bulan berteman jadi kasih tau lo kenapa sebenarnya?" kata Arkana.
"...Anna itu adik gue," terang Sean dalam satu tarikan napas.
Satu kalimat mengejutkan itu membuat Arkana menganga dan Satria memasang wajah serius. Matanya sampai lupa berkedip saking tidak percayanya ia dengan ucapan Sean.
"Hahaha, lo pasti bercanda ya, kan, pasti bercanda ini mah. Ini bulan berapa sih, Sat? Bukan april mop kan sampai nih bocah becandain kita," kata Arkana menepuk lengan Sean pelan.
"Dia anak yang hilang yang pernah gue ceritain sama lo berdua. Gue gak lagi bercanda. Gue udah pastiin semuanya. Gue lihat sendiri kalung dan pita merah yang Anna pakai hari ini. Gue sendiri juga syok, gue kira semua yang gue tahu tentang Anna bakalan bohong ternyata dia memang adik gue."
"Gue harus gimana sekarang? Gue masih ngga nyangka kalau pertemuan gue sama dia dengan cara seperti ini. Kalau Anna tau dia itu adik gue, gimana?"
Arkana diam tapi isi kepalanya bekerja memikirkan ucapan Sean. Adik? Kalung dan pita? Mereka juga sudah hampir tiga tahun mengenal Anna dan kabar ini kenapa baru terkuak setelah Sean datang dan Anna berubah?
"Tunggu sebentar. Otak gue mendadak beku karena omongan lo yang serasa ngga masuk akal. Lo masih baru disini sekitar baru enam bulanan dan lo bilang apa tadi—Anna adik lo karena lo lihat dia pakai kalung dan pita pemberian Bunda lo?"
Sean mengangguk. "Bundanya Anna kan udah lama ninggal karena kecelakaan dan masalah—"
"Biar gue yang jelasin," potong Satria memberi penjelasan pada Arkana agar cowok itu paham apa sebenarnya maksud Sean.
"Lo ingat cerita Sean yang udah lama di ceritain tentang keluarganya dia. Bundanya pernah bilang kalau Sean punya adik perempuan tapi anak itu diculik."
"Sadar gak sadar namanya orangtua pasti kenal anaknya dong... dan nyokap nya teman kita ini beranggapan Anna itu anak mereka yang hilang. Kebetulan Sean hari ini lihat kalung dan pita yang Anna pake, jadi kesimpulannya Anna itu adik kandung Sean."
"Ada kemungkinan juga Anna bisa jadi adiknya Sean tapi bukti itu masih belum akurat dan yang tau kebenaran ini pasti bokapnya Anna atau ngga abangnya."
"Tapi Sat, Anna kan selama ini tinggal sama orangtuanya. Kok bisa mereka ketemu Anna? dan lagi-lagi cuman karena benda itu lo berhasil menyimpulkan sesuatu yang belum pasti benar?" ucap Arkana.
"Itu yang mau gue cari tahu Ar. Lo ngga paham-paham juga ya. Capek sebenarnya ngomong sama lo," kata Sean. Cowok itu berjalan meninggalkan keduanya.
"Kan, gue ditinggal mulu. Siapa sih yang mau percaya dengan omongan seperti itu? Kayak ngelantur..."
...🍁🍁🍁...
Arkan dan Satria keluar dari kelas. Kedua cowok itu kini berdiri di pembatas depan kelas mereka. Mereka berdua sesekali ikut memperhatikan kelas lain yang sedang olahraga di lapangan.
"Gue dengar Arga bakalan tinggal sementara waktu di luar negeri. Penyakitnya makin hari makin gak jelas katanya. Padahal gosip kemarin bilangnya dia cuman kecelakaan, patah tulang doang."
"Bukan patah tulang. Itu cuman pengalihan aja sebenarnya. Arga menderita kanker otak kalau gak salah."
"Nah itu dia banyak kabar yang bilang dia patah tulang karena kecelakaan. Gue dengar kabar dia juga gak mau kemoterapi."
"Banyak duit juga memang gak kemana ya. Kalau udah nyangkut penyakit beginian uang sebanyak apapun gak ada gunanya juga."
"Ya memang. Harta, tahta mah gak berguna," ucap Satria dan diangguki Arkana. Disaat Arkana menurunkan pandangannya ke arah lapangan dibawah sana--kerumunan di lapangan semakin menjadi.
"Lah, bukannya itu Anna ya?" ujarnya menunjuk kerumunan di lapangan. Satria yang terpancing langsung memicingkan mata mencari keberadaan gadis itu. Tidak sulit menemukan Anna diantara lautan manusia disana. Gadis yang kerap mengenakan bandana di kepalanya cukup mudah mengenalinya.
"Woy Sean! Buruan kesini, ada yang ribut tuh di lapangan!"
"WOY SEAN!" teriak Arkana melirik pintu namun tak melihat Sean keluar dari kelas.
"Gue rasa si Ghea ini memang batu ya kalau dibilangin. Dia udah kena kartu merah dari kepala sekolah sekarang bertingkah lagi."
Sementara di dalam kelas, Sean yang hendak menutup buku besar itu langsung menghentikan pergerakan tangannya. "Apa lagi?" tanyanya berdiri di antara kedua temannya.
__ADS_1
"Bukannya itu Anna?"
- to be continued -