
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
...🔥[GRUP PENTAS SENI 2023]🔥...
...DIMOHONKAN UNTUK PESERTA YANG IKUT PENTAS SENI BERKUMPUL DI RUANGAN OSIS PAGI INI JAM 8. TEPAT WAKTU. TERIMAKASIH....
Begitulah kira-kira isi chat yang baru saja Sean ketik dan langsung ia kirim di grup pentas seni Starlight High School, yang ia sendiri admin dari grup itu dan mereka hanya cukup membaca tak perlu berkomentar.
...🍁🍁🍁...
Pagi-pagi sekali Sean sudah tiba di depan sekolah. Ia menaiki sepeda motor hitamnya untuk berangkat dan sekarang ia sedang berada di depan gerbang. Karena ia datang begitu pagi gerbang sekolah masih belum terbuka lebar. Ia pun turun dari motor, berjalan ke depan dan membuka pintu gerbang.
Sean mendorong masuk motornya menuju parkiran motor disebelah kiri dekat pohon besar. Setelah itu barulah ia memasuki gedung sekolah dan berhenti diruangan tata usaha untuk mencari kunci ruangan OSIS.
Setelah ia menemukan kuncinya, Sean langsung menaiki tangga menuju lantai empat dimana ruangan OSIS berada. Karena cuaca hari ini di luar sedikit mendung, Sean pun menyalakan lampu ruangan itu agar lebih terang.
Ia mengayunkan kakinya kembali menuju meja dibarisan paling depan, tempat dimana ia selalu memberikan arahan pada anggota osis nya.
Ia taruh tasnya diatas meja lalu merogoh tas untuk mengeluarkan map biru berisikan segala rencana dan peserta yang ikut serta dalam acara pensi nanti.
"Tau gue ah. Syukur nyokap bangunin gue tadi kalau ngga gue mana tau kalau Sean ngechat kayak gitu," kata Arkana berjalan bersama Satria memasuki ruangan OSIS.
"Nah tuh dia," ucap Satria menunjuk dengan dagunya ke arah dimana Sean tengah berdiri di depan sebuah meja. Mendengar namanya disebut, Sean menolehkan kepalanya sebentar lalu kembali dengan aktivitasnya. Ia disibukkan dengan kertas-kertas yang ada di atas meja. Tinggal dua minggu lagi persiapan mereka menuju pentas seni nantinya.
"Chat di grup itu lo kirim pas nyampe disini apa gimana?" Arkana bertanya sambil mendaratkan bokongnya di kursi paling depan sebelah kiri.
"Sebelum gue nyampe diruangan OSIS. Kenapa? Engga suka kalau gue ngasih perintah?" ujar Sean membalik pertanyaan pada Arkana. Arkana hanya mencibikkan bibirnya seraya bermain ponsel disana.
"Niat lo memang mau hari ini ya latihannya?" kata Satria yang melihat-lihat nama peserta pensi.
"Iya. Gue mau lihat penampilan mereka udah sampai mana. Gue lihat juga kelas X IPS 1 mereka langsung diajari Bu Tuti guru kesenian. Kayaknya mereka kasih pertunjukan tari daerah."
"Soal Anna yang bakalan ngisi bagian nyanyi nanti lo udah kasih kabar ke dia?"
Satria kembali mengajukan pertanyaan membuat tangan Sean menyentuh kertas di atas meja tiba-tiba berhenti dan pandangannya jatuh menatap manik mata Satria.
Ia berdecak pelan. Bisa-bisanya ia melupakan gadis yang akan ikut serta untuk pentas seni kedepannya.
"Kenapa?" tanya Satria. "Jangan bilang lo lupa kabarin Anna?"
"Gue lupa. Bentar gue kabari dia dulu."
Sean merogoh saku celananya sambil menjauh dari meja. Melihat itu Satria berdecak pelan. Sembari Sean menelpon Anna, Satria melirik nama Ria disalah satu kertas yang ia pegang. Dance? batinnya.
"Sean?" panggil Satria. Cowok itu berdehem saat Satria memanggilnya. "Ini Ria yang ikut dance Ria temannya Anna itu ngga sih?"
Sean mendesah pelan ketika sosok yang ia hubungi berulang kali tidak mengangkat panggilannya. Merasa tidak mendapat kabar, Sean lantas kembali ke meja dimana Satria berada.
"Iya," jawab Sean singkat. Satria tidak percaya kalau orang yang ia sukai justru ikut ikut berperan dalam pentas seni tahun ini.
"Gue bisa ikutan gak sebagai dokumentasinya ajah?"
"Tumben. Biasanya lo ngga suka ikutan hal kayak gini. Apa gue gak salah dengar?"
"Karena dia ikut gue juga ikut."
"Lo bucin juga ya kalau suka sama orang," kata Sean tersenyum pada Satria. Tanpa mereka sadari Arkana mendengar itu semua. Ini berita baik yang harus ia beberkan suatu saat nanti.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda. Satu jam lalu—tepatnya di kediaman Williams, gadis yang terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar ponsel yang ia taruh diatas nakas bergetar bergerak dari ranjang.
Perempuan itu membuka kelopak matanya sedikit sembari mengangkat tubuh yang masih belum sepenuhnya enakan.
Ia menyingkap selimut tebalnya lalu menguap lebar. Wajah baru bangunnya langsung ceria ketika melihat nama tantenya di layar ponsel. Ini pertanda baik, gumamnya dalam hati. Ia dekatkan ponsel itu ke telinga.
"Halo Tante." Ia menekan tombol speaker, menaruh ponsel di tempat tidur lalu mengikat rambutnya cepol.
[Halo, Sayang. Kamu bisa dengar suara tante?]
"Bisa Tan. Suara tante udah kedengaran kok," serunya sambil berjalan ke arah jendela. Membuka jendela kamarnya kalau menghirup banyak-banyak udara pagi ini.
[Kamu baru bangun ya? Maafin Tante pagi-pagi begini hubungin kamu. Tante kangen sama kamu soalnya. Kapan bisa datang kemari sayang?]
Anna mengulas senyumnya. Ia berjongkok di samping ranjang. "Jemput Anna kemari dong Tan. Anna takut kalau pergi kesana tanpa seizin ayah. Kalau Tante mau izinin Anna sama ayah mungkin Anna bisa sabtu ini kesana."
[Begitu ya. Nanti ya Tante hubungin Ayah kamu lewat telepon ya.]
"Seriusan nih Tan?"
[Iya Sayang. Yaudah ya nanti lagi Tante kabarin. Tante mau masak buat adik-adik kamu dulu. Mereka mau berangkat sekolah soalnya.]
"Iya Tan," ucapnya lalu menatap layar ponselnya yang sudah menampilkan durasi mereka berbicara.
...🍁🍁🍁...
"Non Anna, Bibi udah siapin sarapan non. Bibi masuk ya." Suara Bi Rina terdengar dari luar pintu kamar. Wanita paruh bayah itu masuk sambil membawa nampan berisi dua roti lapis di atas piring dan segelas susu.
"Apa ada yang Bibi lewatkan? Kenapa non begitu bahagia? Boleh bibi tahu."
"Tante Sekar bakalan datang kemari Bi. Anna gak sabar pergi kesana. Udah lama juga Anna gak ke Semarang, lama gak pernah mengunjungi rumah Tante Sekar."
Pintu kamar Anna terbanting keras menampakkan Ryan, ayahnya sedang berdiri disana dengan mata memandang kearah dimana Anna dan Bi Rina berada.
Setelah Ryan mengatakan itu, Anna langsung terduduk lemas di ranjangnya dengan tatapan lesu ke arah pintu.
"Selalu saja ayah seperti ini. Kalau kerumah Tante Sekar ajah ngga bisa jadi aku harus kemana?! Apa ayah memang ingin menyiksaku secara perlahan. Tidak bisakah ia melihatku sekali saja merasa senang bahkan bahagia?"
"Aku ingin bebas melakukan segalanya Bi. Dibatasi seperti ini membuatku tidak pernah nyaman. Keluar cari makan enak saja selalu gak bisa. Pulang sekolah lama ajah selalu dicariin. Kapan lagi Anna bisa liat dunia luar dengan bebas."
Wanita paruh baya itu hanya bisa mengusap punggung nonanya lembut. Apa yang bisa wanita itu lakukan selain menuruti peraturan di rumah. Kalau ia mengambil tindakan, mungkin tuannya akan memecatnya tanpa berpikir panjang.
Hampir lima belas belas menit lamanya Anna berada di dalam kamar mandi. Ia sedang menangis sekaligus merasa emosi melihat situasi yang terjadi di rumah ini. Sementara Bi Rina yang sudah berada di depan pintu kamarnya tak ia hiraukan. Beliau sudah tiga kali mengetuk pintu kamar itu mengingatkan gadis di dalam sana untuk segera turun karena waktu terus berjalan. Takut gadis itu terlambat ke sekolah.
"Non Anna? apa non belum selesai juga. Ini sudah hampir jam setengah delapan lewat non!"
"Non Anna!!" seru Bi Rina sekali lagi. Anna yang merendam dirinya dalam bathup bangkit dengan tubuh menggigil.
"Sebentar lagi Bi sebentar lagi Anna keluar. Anna lagi beresin kamar," ucapnya bohong.
"Baik Non!"
Sekarang Anna berdiri di depan cermin, memandang tubuhnya yang dipenuhi luka lebam yang belum juga sembuh termasuk luka dibagian punggungnya. Anna sedikit berbalik, menatap punggungnya di kaca. Bekas cembukan ikat pinggang ayah dan cakaran Ghea waktu itu masih terlihat disana membuat Anna menghela napas panjang.
"Kalau begini terus punggungku tidak akan pernah sembuh. Aku akan merasa kesakitan setiap hari," ucapnya pada dirinya sendiri.
Tubuhnya yang dulu berisi sekarang sudah terlihat kurus dengan kulit putih pucat bagaikan mayat hidup. Wajahnya yang beberapa minggu ini terlihat ceria tiba-tiba menjadi murung.
Anna menutup pintu kamarnya lalu berjalan menuruni tangga. "Bibi udah masukin sarapannya ke dalam bekal ini. Nanti sampai di sekolah non jangan lupa sarapan ya."
Dengan langkah gontai Anna berjalan menuju gang persimpangan rumahnya tempat biasa ia menunggu angkutan umum datang. Sesampainya di halte pertama depan kantor pos, Anna duduk di sana sembari memainkan tali tasnya.
"Bukannya dia siswa yang aku tolong di kantin kemarin-kemarin ya?" gumamnya melirik perempuan berpita biru berjalan ke arah halte tempat dimana ia duduk. Ternyata perempuan itu tinggal satu komplek dengannya dan Anna baru menyadari itu hari ini.
__ADS_1
Angkot yang ditunggu pun menampakkan wujudnya. Anna langsung bangkit dan sedikit mengibaskan rok yang ia kenakan, tanpa ia sadari perempuan yang satu sekolah dan tetangga kompleknya tidak memilih ikut menaiki angkot yang sama dengannya.
"Lo gak ikut naik?" serunya pada perempuan di halte. Gadis itu diam dan mengalihkan tatapannya pada angkot di belakang angkot yang mereka tumpangi.
"Kenapa lo nolongin dia kemarin, Anna? Lo belum tahu ya kalau perempuan yang lo tolong itu, satu sekolah kita sama sekali gak ada yang peduli bahkan mengganggapnya seperti sampah," kata siswa dengan nametag Reline. Angkotan yang Anna naiki sudah melaju di jalan.
"Lain kali kalau mau cari aman di sekolah jangan semudah itu libatin diri lo sendiri. Lo gak belajar dari masalah lo setahun lalu," ujar perempuan berambut ombre sebahu padanya.
"Benar tuh Na. Kita gak pernah benci sama lo. Masalah yang terjadi antara lo, Theresia bahkan Ghea sekalipun kita sebenarnya ada niat membantu, tapi lo tahu sendiri posisi kita disekolah apa dibanding mereka semua."
"Semua orang di sekolah tau bakalan gimana nasibnya kalau berurusan sama Ghea, tapi masalah kemarin lo yang mukul dia, gue acungin empat jempol, lo terlalu berani sama Ghea."
Anna terdiam. Disatu sisi ia tahu mungkin masih ada yang peduli dengannya tapi disisi lain ia juga takut kalau mereka hanya ingin tahu masalahnya tanpa ada niatan membantu. Itu yang selalu membuat Anna ketakutan.
"Mang, berhenti di perempatan ajah ya," serunya dengan suara paraunya. Dia sudah tak peduli banyak pasang mata diangkot yang menatapnya aneh karena turun bukan di depan sekolahnya.
"Ngapain lo turun di sini Na?" tanya Reline. "Lo mau bolos ya?" Anna menghiraukannya.
"Kamu sekolah di Pelita Harapan kan, kenapa turun disini? Sekolahmu masih jauh loh dek," ujar ibu-ibu yang duduk di pojok belakang sebelah kanan.
"Engga papa kok Bu. Saya lagi nungguin teman saya soalnya kita berangkat sama ke sekolah."
"Hubungi saja temanmu itu. Tidak papa kalau menunggu sebentar."
"Ah, gak papa Bu. Saya masih bisa menunggu angkot lain. Permisi Bu." Angkot yang ia naiki berhenti di pinggir jalan. Ia turun dan merogoh sakunya memberi uang sepuluh ribu rupiah sisa uang jajannya kemarin.
"Anak sekolah zaman sekarang ya alasannya nungguin teman tau-taunya malah pacaran." Anna cukup jelas mendengarnya dan melirik ibu yang duduk di sebelahnya tadi sekilas, kemudian angkot itu melaju dari hadapannya.
"Namanya juga manusia. Kalau dia gak berkomentar negatif rasanya ada yang kurang," gumam Anna berbalik menatap tempat dimana ia turun.
🍁🍁🍁
📍Olivia's Cafe.
Begitulah papan nama cafe berjarak dua meter di tempatnya berdiri saat ini. Anna melangkahkan kakinya memasuki cafe tersebut. Sepagi ini mungkin tidak ada Cafe yang sudah buka, tapi cafe yang baru saja ia datangi sudah buka walau masih begitu sepi. Takut-takut ia melangkah, perempuan tersebut justru disambut hangat oleh seorang pelayan laki-laki yang baru saja keluar dari kafe itu.
"Maaf, dek. Kita satu jam lagi baru buka," ujar laki-laki berbadan jangkung, berkulit putih dan rambutnya yang dicepol serta memakai apron berwarna hitam memandangnya. Anna yang mendengar itu hanya terdiam saja tanpa menatap balik sosok yang berbicara dengannya.
"Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini. Kau masih anak SMA dan apa kau tidak sekolah?" tanyanya.
Anna hanya menatapnya tanpa berkata sedikit pun. "Ada baiknya kau kembali ke sekolah sekarang. Orang-orang disekitaran tempat ini akan berpikir aneh kalau melihatmu disini sepagi ini ditambah kau pakai seragam sekolah."
"Boleh ya Kak aku duduk disini sebentar." Anna membuka suara, sengaja mengalihkan pembicaraan. Cowok yang memegang kain lap ditangannya itu menatap bingung.
"Kakak berjaga sendirian?"
"Kenapa kau tidak sekolah? Apa orangtuamu tidak marah kalau kamu tidak masuk? Kamu ini anak perempuan tidak baik membolos."
Anna lagi-lagi diam. Ia malah mengamati area cafe tersebut kemudian tangannya bergerak membuka tas sekolahnya. Mengeluarkan bekalnya untuk ia santap sekarang juga. Lelaki itu tidak paham apa maksud kedatangan gadis ini kemari. Ia juga membuka bekalnya yang berisikan nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya serta tiga sosis goreng dan nugget dengan potongan kecil-kecil tertata rapi di atas meja.
Sementara laki-laki yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya justru masuk ke dalam cafe lalu keluar lagi dengan segelas air hangat di tangan dan meletakkannya di atas meja.
"Kak Theo nggak mau ikut sarapan?" tanyanya menelan makanan yang baru ia kunyah lalu memandang cowok tersebut. Cowok bernama Theo itu mengerutkan dahinya, apa orang dihadapannya ini cenayang?
"Kamu mengenalku?" tanyanya. Tangan gadis itu terulur menunjuk dada sebelah kanan cowok itu. Disana sudah jelas badge namanya tertempel. Theo menepuk jidatnya pelan.
"Sorry aku lupa sampai ngga sadar namaku ada di bajuku."
Anna mengangguk pelan tanpa meliriknya. Ia hanya fokus menghabiskan sarapan enak yang Bibinya buat untuknya.
Theo mengambil gambar gadis itu diam-diam. Setelah itu ia mengutak-atik ponselnya seraya mencuri pandang pada gadis di depannya. Hingga setengah jam berlalu, tiba-tiba suara deru motor memasuki area parkir kafe.
- to be continued -
__ADS_1