
...πDisclaimerπ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...β’β’β’...
Hujan yang turun dengan derasnya membuat orang-orang yang berada di bawah sana sibuk mencari tempat untuk berteduh. Termasuk seorang gadis yang memakai seragam khas SMA yang dibalut dengan jaket hoodie, sedang duduk di halte dekat sekolah.
"Sama sekali nggak! Gua nggak suka sama sikap sok baik dan sok peduli Lo itu!" Dengan kesal ******Anna****** maju satu langkah dan mengangkat dagu Kinara kasar dengan ujung jari telunjuknya.
"Satu hal lagi yang perlu lo tahu. Gua nggak pernah berharap punya teman banyak, tapi nusuk gue dari belakang. Kalaupun bisa mending gue milih hidup sendiri daripada berteman sama orang-orang bermuka dua seperti lo ini!"
Setelah mengucapkan itu Anna berlalu dari sana. Kinara menghapus air matanya yang baru saja menetes. Ia menunduk. Mengapa Anna tega mengatakan itu padanya? Padahal ia sendiri pun sudah terus meminta maaf tapi dia tetap berusaha keras tidak mau memaafkannya.
Suara klakson mobil membuat Kinara dengan cepat menghapus air matanya. Yesi turun dari mobil menatap heran ke arah gadis itu.
"Kenapa?" tanyanya. Kirana menggeleng sebagai jawaban.
"Dari dulu kan gue udah ingatin. Semua orang punya batas kesabaran. Anna itu bukan Ria yang lo hujat sekalipun dia masih tertawa di depan lo. Ini beda dengan Anna Kin."
"Kalau menurut dia lo udah nyakitin perasaan dia kata maaf pun rasanya gak berguna. Anna selalu menganggap semuanya ke arah serius."
Kinara mengangkat wajahnya tersenyum tipis pada Yesi. "Gue akan coba sekali lagi buat minta maaf sama Anna. Gue nggak boleh menyerah kayak gini."
"Baguslah kalau lo sadar. Sekarang masuk, gue antar lo pulang." Kinara mengangguk lalu masuk kedalam mobil.
...πππ...
Esok harinya, masalah yang beberapa hari lalu terjadi tidak membuat Anna merubah cara pandangnya pada Kinara. Sejak saat itu, Anna benar-benar berjalan di lorong kelas dengan tampang dingin yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menunduk dan melangkah mundur.
Sampai tiba-tiba di saat dia berbelok menuju kantin seseorang tidak sengaja menyenggol lengannya. "Maafin gue, An. Maaf, gue tadi buru-buru jadi nggak lihat jalan."
Anna menatap sinis keberadaan Kinara di hadapannya. "Mata lo itu gunanya buat apa, sih? Jalan sebesar ini gak bisa lo lihat?"
"Maaf, Na, gue ngga sengaja," cicitnya dengan suara pelan.
"Maaf, maaf! Lo hitung deh beberapa hari ini lo minta maaf udah berapa kali sama gue? Mulut lo ini nggak capek ngomong maaf terus. Lo pikir gue mau gitu maafin lo, hah?!" Anna bersedekap menatap penampilan gadis itu dari atas hingga bawah.
"Aneh," desis Anna sinis.
Kinara langsung tertunduk sedih mendengar itu. Ia kira ia akan berbaikan dengan Anna tapi nyatanya semuanya hanya harapan kosong. Apa memang Anna sudah sebenci itu padanya?
"Anna? Lo kenapa sih pagi-pagi begini udah marah-marah aja sama Kinara. Dia kan udah bilang juga nggak sengaja loh," ujar Ria datang dari arah belakang.
"Lo mau belain dia yang udah jelas-jelas ngelakuin kesalahan?"
"Gue nggak bela siapa-siapa nih An. Gue cuman kasihan aja sama Kinara. Beberapa hari ini dia udah berusaha buat minta maaf sama lo tapiβ"
"Tapi apa? Gue bisa aja maafin dia tapi omongan dia yang udah terlanjur masuk ke hati gue sampai sakit hati apa bisa ditarik kembali. Ibaratkan lo nancapin paku di tangan gue kalau dicabut pasti ada bekas, kan?"
"Makanya kalau ngomong tuh di pikir-pikir dulu. Dikira omongan dia itu gampang dimaafin? Gue sakit hati asal lo tahu. Becanda pun ada batasnya!"
Ria menghirup udara disekitarnya banyak-banyak. "Nggak ada manusia yang sempurna Na. Tuhan aja bisa memaafkan kenapa kita yang umatnya nggak bisa?"
"Gue bukan Tuhan. Dan lo tau sendiri, Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan pikiran. Jadi sebelum manusia bertindak ada baiknya berpikir kembali."
"Lo memang egois Anna!" Anna langsung tertawa mendengarnya. Tawa itu hanya sebentar sebelum akhirnya Anna memajukan wajahnya lebih dekat ke wajah Ria.
"Iya memang gue egois. Karena keegoisan inilah gue bisa tau mana yang sebenarnya pantas buat jadi teman gue." Setelah mengatakan semuanya Anna berlalu begitu saja. Melihat Anna sudah menjauh, Ria menatap Kinara.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kali ini lo harus hindari Anna dulu. Cara dia lihat lo tadi memang dia masih marah sama lo" kata Ria dan Kinara mengangguk.
...πππ...
Bukannya masuk kelas karena bel telah berbunyi Anna malah naik ke atap sekolah. Bukan pertama kalinya, dia memang sering datang ke tempat ini. Tempat yang sunyi udara yang sejuk serta pemandangan awan yang bergumpal di atas sana sudah cukup menenangkan perasaannya.
Sejujurnya, dia ingin sekali memaafkan Kinara tapi mengingat semua kejadian yang terjadi apalagi tentang ucapan gadis itu membuat dirinya merasa sulit untuk memaafkannya sekarang ini.
__ADS_1
Perempuan itu pun menghembuskan nafasnya perlahan. Ia melangkah mendekati dinding pembatas yang hanya sebatas dadanya-- kepalanya juga merunduk melihat objek yang berada di bawah sana.
Anna tersenyum lebar. Disana ada ********Kavin******** dan teman-temannya yang sedang latihan basket. Entah mengapa melihat Kavin mampu membawa ketenangan tersendiri di dalam hatinya.
Anna mengundurkan langkahnya saat tiba-tiba Kavin mendongak lalu melihat ke arahnya lalu tak lama kemudian sebuah pesan masuk dalam ponselnya.
Kavin :
[Setan mana sih siang-siang begini ngelamun sambil liatin gue?]
Anna :
Gue ngga liatin lo. Gak usah percaya diri.
Kavin :
[Masa sih?]
Anna :
Hemm...
Kavin :
[Mending lo turun. Jangan ampai gue kesana nyeret lo]
Anna :
Mau dong diseret cowok ganteng
Kavin :
[Jijik Lia. Cepat turun!]
Kavin sudah tidak melihat keberadaan gadis itu disana. Sementara Anna ia berdecak kasar menuruni atap sekolah dan berjalan di lorong kelasnya.
...πππ...
Anna saat itu sedang dihukum karena melewatkan jam pelajaran di kelasnya dan diluar itu ia kedapatan membolos di kantin oleh wakil ketua OSIS. Sebagai ganjaran dari apa yang Anna lakukan, gadis itu dihukum menghormat bendera di tengah lapangan dengan cuaca yang terik diatas sana.
Sudah dua jam lamanya ia menghabiskan waktu di tengah lapangan ini, sejak itu pula dia tidak beranjak dari tempatnya. Sebenarnya ia bisa saja kabur tapi Anna akan membuktikan kepada semua orang kalau ia tidak selemah itu.
"Kalau Arga tahu lo hukum dia. Arga bakalan marah sama lo Gibran."
"Gue ngga peduli tanggapan siapapun apalagi Arga. Sekalipun itu Dean, itu cowok juga gak ada pedulinya dengan Anna. Dia justru santai pacaran dengan Theresia sementara Anna ada di lapangan berjemur."
"Lagi pula memangnya Anna itu siapanya Arga? Bukan pacarnya, kan? Lagian gue heran kenapa Arga sampai sebegitu peduli sama tuh cewek! Gak ada hal menarik yang gue lihat dari Anna. Selain dia murahan dia cuman pandai menggoda lelaki di sekolah ini."
"Iya memang bukan siapa-siapanya Arga. Omongan lo juga sampai kebanggaan Gib. Sejauh yang lo lihat sendiri di sekolah, masalah apapun yang terlibat sama gadis itu, Arga selalu peduli. Dia bakalan berdiri di barisan paling depan demi Anna. Kalau lo sampai kena amuk Arga, gua nggak bakalan ikutan buat belain lo."
"...Dia memang bolos saat jam pelajaran keempat, tapi bukan berarti lo bisa menyiksa dia sampai berjam-jam di bawah terik matahari sepanas ini. Kalau dia kenapa-napa lo bisa tanggungjawab, nggak?"
"Aturan tetap aturan Fred." Fredy membuang nafas kasar. Matanya melihat keberadaan Anna yang masih berdiri di depan tiang bendera.
Sementara dibawah sana, Anna beberapa detik yang lalu hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Kinara tidak menahan bahunya. Kinara datang hendak menawarkan air mineral untuknya tapi Anna mengusirnya dengan kasar.
"Gue nggak butuh lo di sini. Pergi!" usir Anna pada Kinara yang berdiri disebelahnya.
Pegangan Anna di lengan Anna pun terlepas. Tanpa berkata apapun Kinara pergi dari sana. Anna hanya berdecih pelan menatapnya. Ia menyeka peluh yang bercucuran dari dahi. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk berdiri tegak dan pandangannya pun perlahan mulai mengabur sebelum akhirnya semua berubah menjadi gelap.
"Kinara! Itu Anna pingsan, Kin!" Teriakan dari lantai atas sontak mengagetkan Kinara yang masih berada di pinggir lapangan. Ia pun berbalik badan dan melihat Anna sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Tolong! Panggilin anak PMR! Anna pingsan!" Teriak Kinara pada orang-orang yang berlalu lalang di lorong kelas.
"Biar gue yang bawa ke UKS!" Suara berat itu adalah suara milik Kavin. Tanpa aba-aba cowok itu langsung menggendong tubuh Anna lalu membawanya ke UKS diikuti Kinara dan beberapa anak PMR lainnya.
Setibanya di UKS salah satu anggota PMR yang berada di sana pun memeriksa keadaan dia melihat gejala serta kondisi tubuh gadis itu, membuat cewek dengan nametag Mira mengecek berulang kali.
__ADS_1
"Gimana Mir? Dia nggak apa-apa, kan?" tanya Kinara. Di ruangan ini hanya ada mereka bertiga karena Kavin telah keluar saat membawa dia ke UKS.
"Mira, kenapa diam aja, sih? Gimana keadaannya?" Tegur Kinara saat Mira melamun menatap Anna.
"Ah, iya. Dia gak papa kok Kin paling bentar lagi bangun. Mungkin karena efek dijemur tadi di lapangan, kan cuaca juga panas bangat."
"Syukur deh kalau dia nggak apa-apa. Oh, iya, jangan bilang sama dia ya kalau gue tadi ada di sini. Gue gak mau Anna marah lagi sama gue."
"Aman. Lo tenang ajah."
Cukup lama Anna pingsan dan sekarang dia sudah sadar. Saat ini, Kinara duduk memperhatikan Yesi tampak membujuk Anna untuk makan namun gadis itu terus saja menolak.
"Kalau lo orang asing gua nggak bakalan mau sabar membujuk lo makan," kata Yesi meletakkan sendoknya diatas mangkok berisi bubur ayam untuk beri pada Anna.
"Gua nggak minta lo sebaik ini."
"Ih, keras kepala bangat si lo. Makan nih, pegal tangan gue lama-lama."
Akhirnya Anna pun membuka mulutnya perlahan. Satu sendok bubur ayam masuk ke mulutnya. Begitu seterusnya sampai mangkok berisikan bubur ayam itu kosong tak tersisa.
"Gini kan enak lihatnya. Gue puas kalau lihat lo habisin makanan ini. Jadi gue nggak sia-sia bawa makanan sejauh ini dari kantin belakang ke UKS cuma demi buat lo doang."
"Jadi sekarang mulai perhitungan sama gue?"
"Siapa bilang?"
"Barusan lo uraikan sendiri." Yesi mendelik. Untung saja kesabarannya tidak setipis tisu dibagi dua, ia masih kuat menghadapi sifat Anna yang kadang semena-mena.
"Bisa diri, kan? Kelas kita kayaknya udah masuk," ujar Kirana.
"Gue itu pingsan karena kelaparan bukan karena kaki gue patah," hardik Anna pada Kinara.
"Santai dong Na. Lo kayak mau makan Kinara ajah. Udah deh mending lo berdua baikan ajah. Gak lucu bangat lu berdua ribut kayak anak kecil."
"Gue ngga peduli. Biarin ajah dia capek minta maaf. Bukan urusan gue juga," ucap Anna tega begitu menohok hati Kinara yang memandangnya dari depan pintu UKS.
"Eh, gue belum tau. Tadi yang bawa gue ke UKS lo ya? Gue gak nyangka lo kuat juga gendong gue."
"Apaan? Gila gue gendong lo dari lapangan ke UKS. Bisa-bisa gepeng gue balik ke rumah."
"Jadi?"
"Kavin yang gendong lo. Boro-boro gueβangkat galon ajah gue gak bisa."
"Lo gak bisa angkat galon?"
"Hina ajah terus An. Gue tau kok isi kepala lo sekarang."
"Sejak kapan lo jadi cenayang?"
"Sejak Sehun Exo jadi member termuda di grupnya."
"Dih, anak K-Pop."
"Iya dong. Gue itu exo-l. Lo mau tau bias gue siapa?" celetuk Yesi sembari merangkul pundak Anna menuju kelas.
Sedangkan Kinara ikut berjalan di belakang dengan wajah sendu. Pikirannya masih berkelana kemana-mana. Entah dengan cara apa lagi ia bisa mendapatkan kata maaf dari Anna.
"Gak mau tau gue. Gak suka KPop soalnya."
"Boong lo. Buktinya merchandise milik Lisa blackpink ada tuh gue lihat di tas lo."
"Terserah lo deh."
"Dih, katanya gak suka KPop kok malah punya barang milik Lisa dari Blackpink."
- to be continued -
__ADS_1