
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
Jauh dalam pikirannya sekarang Anna ingin sekali pergi dari rumah ini secepat mungkin. Rumah yang katanya tempat berlindung nyatanya seperti tempat penyiksaan bagi Anna.
Kamar yang dulunya tempat ia bercanda gurau dengan sang ayah kini sudah seperti tempat penghukuman untuknya.
Anna pun sampai di depan pintu bercat putih, pintu kamarnya. Ia melirik salah satu kamar yang berjarak dua meter dari kamarnya. Kamar kakaknya yang sudah lama tidak ditempati.
"Apa yang ada disana? Kenapa pintu itu tidak pernah terbuka sekalipun?"
Ayahnya selalu melarangnya memasuki kamar kakaknya. Entah apa yang ada disana, ia tidak pernah tahu. Jelas ia tidak ingin mengambil resiko karena sudah dilarang sebelumnya.
Anna yang hendak memutar kenop pintu kamarnya berhenti saat derap langkah dari arah tangga menyerukan namanya membuat ia menoleh dan mendapati wanita yang ia lihat duduk bersama ayahnya kini berjalan kearahnya.
Anna dengan kasar menepis tangan wanita itu saat mencoba menggapainya tangannya. "Pergi dari rumah ini!" serunya dengan suara parau.
"Maafkan saya. Saya tidak ada maksud datang kemari kalau bukan karena ayahmu yang memintanya."
"Anda bisa menolaknya!"
Anna menoleh dengan tatapan sinis. "Ayah saya sudah menikah asal anda tau saja dan aku adalah putrinya. Apa anda tidak bisa melihat keberadaan saya!"
"Saya akan menggantikan posisi ibumu tidak akan lama lagi, Anna. Mulai hari ini kamu bisa memanggilku dengan sebutan Bunda atau ibu. Kau pasti merindukan sosok ibu, kan?"
Deg!Ā Darah di sekujur tubuhnya mendidih mendengarnya. Ingin rasanya Anna merobek mulut wanita sialan yang mencoba menggantikan posisi ibunya. Ibu tiri maksudnya? Tidak akan mungkin.
"Jangan terlalu berharap pada hal yang belum pasti, jatuhnya bakalan menyakitkan."
"Anda juga memintaku memanggilmu dengan sebutan seperti itu. Ibuku hanya satu dan tidak akan pernah terganti oleh wanita mana pun yang berusaha menggoda ayahku!"
"Kalau boleh aku memohon. Tolong tinggalkan ayahku dan carilah pria yang pantas untuk anda miliki. Saya tau anda wanita baik, jadi tolong menjauh dari ayahku," ucapnya dengan mata menangis yang tidak tertahan lagi.
"Pergi dari sini!"
"Anna..."
"Hentikan! Orang asing tak berhak menyebut namaku seperti itu," sarkasnya membuka pintu kamar lalu membantingnya keras.
Sial! Anna masuk kamar lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Ia merosot jatuh ke lantai dengan isak tangis yang sudah tidak bisa ia bendung. Ia mencengkram kuat rambutnya.
Tangannya meraih vas bunga di atas meja sebelah kirinya kemudian membantingnya kasar ke lantai. Segala benda yang bisa ia raih dari atas meja ia lempar sembarangan.
Perasaannya sama seperti kamarnya, gelap dan berantakan dengan serpihan kaca dimana-mana. Ia meraih telepon disaku celananya, mendial nomor abangnya namun tetap saja tidak ada balasan apapun dari seberang sana. Pada akhirnya ia hanya mengirimkan pesan suara.
[Ayah akan menikah dengan wanita lain bang. Kembalilah untuk Anna. Anna gak akan sanggup jika rumah ini kedatangan orang asing]
Setelah itu Anna melempar asal ponselnya ke arah kasur lalu menekuk lututnya seraya bersandar pada pintu kamar.
"Non buka pintunya..."
Suara Bi Rina dari luar pintu kamar. Air matanya terus membanjiri pipi mulusnya. Dia tidak memperdulikan panggilan itu yang terus menyerukan namanya.
"Buka pintunya Non jangan buat bibi khawatir seperti ini."
Anna membungkam mulutnya dengan punggung tangannya. Rasanya benar-benar sesak. Dadanya seperti diremas begitu kuat.
"Non Bibi mohon..."
"Pergi saja Bi Anna gak mau diganggu siapapun!"
Dengan kasar, Anna menghapus jejak air matanya lalu berjalan ke tempat tidur. Ia melepaskan tas punggungnya juga sepatu putih yang ia kenakan tadi pagi, menyisakan seragam sekolah yang membungkus tubuh gemetarnya.
Ia berjalan ke kamar mandi dengan sisa tenaga yang ia punya. Menyalakan keran lalu tak lama ia masuk ke bathtub berisikan air yang memenuhi bathtub dan merendam diri sampai ujung kepala.
Setelah itu ia menarik kepalanya, bersandar di tepi bathtub. Udara malam memasuki ruangan itu dari sebuah lubang ventilasi, membuat Anna yang berendam dengan air dingin perlahan gemetar dengan bibir yang memucat.
Merasa sudah tenang dengan apa yang ia lakukan, gadis itu bangkit dan menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Ia meraih baju tidur doraemonnya lalu dibalut dengan hoodie berwarna cream.
Setelah merasa hangat dengan pakaian tebal yang ia pakai, Anna pun merangkak kecil ke atas tempat tidurnya lalu membaringkan tubuhnya. Tidak lupa ia menarik selimut sampai sebatas dada, memejamkan matanya sebisa mungkin. Ia lelah.
Beberapa menit kemudian gadis itu menutup matanya bersamaan dengan napas teratur pertanda ia sudah tertidur dan bermimpi indah. Sampai satu jam berlalu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang Anna rindukan.
__ADS_1
...ā¢ā¢ā¢...
Tiga hari kemudian pada pukul tujuh lewat tiga puluh pagi, Anna berjalan seorang diri di sepanjang koridor menuju kelasnya. Pagi ini ia tiba di sekolah begitu cepat tapi tidak begitu bersemangat. Kantung matanya membengkak karena semalam ia menangis. Dalam tidurnya sekalipun, air matanya tetap jatuh membasahi bantalnya. Anna mengetahui itu ketika ia bangun tadi pagi dan melihat betapa kacaunya ia semalam.
Semua orang yang Anna lewati mulai sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara pagi ini. Sesampainya di ruangan kelas ia menyimpan tasnya lalu mengambil topi menuju lapangan upacara.
Kali ini gadis tersebut memilih berbaris di barisan paling belakang, sedangkan Kinara, Ria dan Yesi berdiri di depannya.
Awalnya Anna masih terlihat baik-baik saja ketika upacara bendera dimulai sampai penaikan bendera. Namun, disaat kepala sekolah memberikan arahan dari depan, ia perlahan merasakan pandangannya berkunang-kunang ditambah kepalanya terasa amat sakit.
Ia merintih pelan sembari menggenggam erat lengan Kinara di depannya. Ia merunduk sambil meletakkan kedua tangannya di lutut.
Kinara yang merasakan pegangan Anna semakin kuat pun menoleh kerahnya. Gadis itu mengernyitkan keningnya ketika mengamati wajah gadis itu begitu pucat. Seperti tidak ada darah saja yang mengalir di wajahnya.
"Kenapa, Na?" ucapnya. Saat Kinara sudah jelas melihat wajah Anna pucat ia terkejut.
"Astaga muka lo pucat bangat. Lo sakit ya? Mau gue antarin ke UKS, ngga?" ujarnya ketika menyibak rambut panjang Anna yang menutupi wajahnya.
Anna menggeleng. "Gue nggak apa-apa Kin, mending lo lihat ke depan deh nanti kepala sekolah negur kita," ucapnya dengan suara sedikit bergetar membuat Kinara kembali berbalik badan melirik kearah depan.
Tapi Kinara yang gampang khawatir mulai panik karena tangan Anna memegang lengannya terus bergetar dan sedikit lembab.
"Gue antar ke UKS ajah, ya?" Sekali lagi Kinara bertanya namun gadis itu kekeh menolaknya.
"Ini masih pagi lo Na tapi keringat lo banyak bangat. Lo gak sehat, pasti lo gak dalam keadaan baik. Gak bisa gini, ayo gue antar ke UKS."
Anna mengangkat wajahnya. "Pak Kepsek liatin kita Kin. Hadap depan cepat."
Napas Anna tercekat. Ia benar-benar tidak sanggup lagi berdiri. Kakinya lemas namun masih mampu menopang berat tubuhnya. Ia tidak boleh menunjukkan rasa sakitnya di hadapan semua orang. Ini cukup bahaya.
Anna sedikit menunduk. Ia mencoba memijit kepalanya yang begitu sakit. Peluh di keningnya juga kian bertambah membuatnya cemas dengan dirinya. Dadanya juga sesak tak tertahan.
Ia mencoba menarik nafas berulang kali, mencoba bertahan dengan sakit menyerang kepala juga dadanya, tapi cairan kental berwarna merah yang keluar dari hidungnya membuat Anna melirik kedepan dan spontan menutup hidungnya dengan jari telunjuknya.
Ya Tuhan. Kali ini apa lagi, cemasnya dalam hati. Semakin ia menutup dengan jarinya, darah itu semakin banyak keluar sampai menetes di seragamnya hingga merembes jatuh di lapangan.
Seseorang yang bertugas menjaga keamanan di barisan belakang sudah sejak tadi memperhatikan dirinya. Betapa terkejutnya dia mendapati orang yang sedari tadi ia tatap tengah mimisan. Darah segar itu beberapa tetesan terjatuh tepat di depan sepatu Anna.
Siapa lagi yang memperhatikannya kalau bukan SeanāKetua OSIS yang sedang melaksanakan tugasnya. Cowok itu bertugas menjaga barisan paling belakang khusus kelas sebelas.
"Sepertinya Anna kurang enak badan deh Tan. Liat ajah tuh Sean noleh ke dia terus."
Belum selesai Tania berucap, Sean sudah berlari kearah dimana Anna berdiri menahan sakitnya. Sesampainya disana, Sean tanpa banyak berbicara langsung menarik Anna.
"Ikut gue ke uks!"
Suara berat itu cukup jelas di telinganya, secepatnya Anna menoleh pada tangan kokoh berurat di lengannya dan akhirnya Anna ambruk di pelukan Sean.
Ambruknya Anna di pelukannya membuat Kinara refleks berbalik dan panik. Paniknya bukan lagi karena melihat temannya pingsan tapi karena darah yang terus mengalir dari hidung gadis itu hingga mengotori lapangan.
"Anna!"
"Gue bilang juga apa Na lo batu bangat sih dibilangin!"
Pekikan Kinara yang cukup keras dari belakang membuat barisan kelas mereka spontan menoleh. Suara kepanikan itu membuat kepala sekolah yang tadinya berbicara di depan sana terpaksa mengakhiri pidatonya.
"Anna? Dia mimisan lagi?" tanya Ria memperhatikan wajah pucat gadis itu.
"Darahnya gak berhenti juga, Kak. Bagaimana ini?"
Kinara yang sudah panik tidak kuasa melihat cairan kental yang terus saja keluar dari hidung sahabatnya. Tissu bekas mimisannya bahkan sudah banyak terletak di tanah.
"Bu! Ada yang pingsan!"
"Siapa yang pingsan?" seru Bu Aurora dari podium utama.
"Anna Bu. Siswi kelas XI IPA 1!"
"Segera bawa ke UKS. Tolong anak PMR hari Senin segera melakukan tugasnya," ucap guru wanita dari depan lewat microphone.
"Semua siswa kami jangan berkerumun di sana! Semuanya bubar dan silahkan menunggu guru mata pelajaran di kelas masing-masing!" teriak kepala sekolah lewat microphone.
"Ih, darahnya sampai banyak gitu. Dia kenapa sih?" ujar seorang perempuan yang ketepatan siswa dari samping kelas Anna.
Sementara Anna dalam dekapan Sean menggenggam erat lengan cowok itu membuat Sean bertanya-tanya.
__ADS_1
"Badan gue sakit Kak..."
Sean mendengarnya walau suara yang keluar dari mulut Anna terdengar samar-samar. Sampai akhirnya Anna memejamkan mata dan tak sadarkan diri di dekapan Sean.
"Sekarang lo ke koperasi, Kin, belikan seragam baru buat Anna dan bawa ke UKS. Cepetan! Uangnya nanti gue ganti," tandas Sean kemudian membopong tubuh gadis itu menuju UKS.
Beberapa orang yang menatap kepergian Sean menuju UKS di perhatikan sebagian orang yang masih berada disana. Tak terkecuali Ghea yang mengepalkan tangan di depan lapangan basket.
"Minta tolong bersihkan ya," kata Yesi pada beberapa adik kelas yang sempat melihat kejadian dimana Anna jatuh pingsan. Mereka pun langsung mengangguk dan pergi ke arah toilet untuk menyiram bekas darah milik Anna di lapangan.
...ā¢ā¢ā¢...
Dua jam berlalu, Anna membuka matanya perlahan dan memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing dengan tenaga seadanya. Ia mencoba bangun dan duduk ditepi brankar. Ia sedikit merasa aneh dengan tubuhnya, rupanya seragam ini bukan seragamnya lagi. Kemana seragamnya pergi?
Apa yang baru saja terjadi, batinnya berusaha mengingat kenapa dia bisa ada di ruang UKS. Ah, Anna ingat sesuatu. Dia pingsan di lapangan dan... siapa yang bawa gue kesini?
"Istirahat aja dulu, jangan terlalu dipaksain. Kalau masih sakit berbaring aja."
Suara yang terdengar dari dalam ruangan yang sama membuat Anna menoleh mencari keberadaan sosok tersebut. Ia menoleh ke bangku tunggu dan mendapati Sean keluar dari balik sebuah tirai. Cowok itu mendekat kearahnya.
"Lain kali kalau tahu sakit jangan ditahan-tahan, makin lo tahan itu sama aja menyiksa diri lo sendiri."
"Gue yang bawa lo kemari dan jangan salah paham sama gue soal seragam lo yang kayaknya kurang nyaman lo pakai."
"Seragam kotor bekas mimisan lo udah ada sama Kinara. Mereka juga yang ganti seragam lo bukan gue."
"Makasih," ucap Anna singkat, jelas dan padat membuat Sean bergeming sesaat.
"Itu ajah?" ucapnya.
"Jadi gue mau ngomong apa lagi? Lo kan marah sama gue jadi ngga mungkin gue ngomong panjang lebar. Takut lo ngga suka."
"Lihat gue dulu," ujar Sean duduk di ranjang. "Lihat gue Anna!"
"Gue ngga mau. Jangan maksa!"
"Siapa yang maksa? Kalo ngomong sama orang hargai dong dengan liat orangnya."
"Terserah gue. Kalau gue ngga suka ya ngga suka jangan maksa," sahutnya memutar bola matanya.
Tanpa mereka duga, tiba-tiba pintu UKS terbuka menampakkan Ria datang bersama dengan seorang cowok. Siapa lagi kalau bukan Bian. Cowok paling heboh dan antusias dalam segala situasi terlebih jika itu melibatkan teman sekelasnya.
Ria mendekat kearah dimana Anna berada lalu spontan menekan kedua pipi gadis itu dengan telapak tangannya membuat Anna memanyunkan bibirnya yang sedikit pucat.
"Lo bikin gue khawatir tau gak sih. Apalagi Kinara dia ngga mau ikut kesini karena kebayang-bayang sama mimisan lo sebanyak itu."
"Gue juga ikutan takut lo kehabisan darah karena mimisan lo tadi. Untung ada Kak Sean yang gendong lo kesini kalau nggak.. ah, nggak tau deh."
"Gue nggak papa. Gue udah baikan, gue mau ke kelas," ujar Anna acuh namun lengannya ditahan oleh Ria.
"Apanya nggak apa-apa," ujar Ria galak. "Jangan terus-terusan bilang gak apa-apa. Buktinya lo mimisan dan pingsan. Jangan sok kuat, Anna. Keadaan lo tadi buktiin kalau lo ngga dalam keadaan baik."
"Mending lo disini dulu sampai benar-benar baik. Bu Aurora juga udah paham karena keadaan lo tadi."
"Engga bisa Ria, gue harus ke kelas!"
"Batu bangat sih lo. Udah disini ajah!" tegas Ria melototkan matanya membuat Anna menurunkan bahunya pasrah.
"Kita balik ke kelas ajah, Ri. Ada Kak Seanyang bisa jagain Anna. Yuk!!"
Bian menarik pergelangan Ria keluar dari ruangan UKS. Berbeda dengan Anna, gadis itu menoleh kemudian tersadar kalau hanya mereka berdua saja yang ada di ruangan UKS ini.
"Pikiran lo pasti aneh-aneh, bukan? Daripada lo berpikir aneh tentang gue mending lo gue antar ke kelas."
"Ngga perlu! Gue bisa jalan sendiri."
"Jangan ngelawan terus!'
"Gue ngga ngelawan ya Kak Sean yang terhormat! Sana lo balik ke kelas."
"Masih marah?"
"Tau ah gelap..."
"Masih terang Anna, jangan ngawur ngomongnya" ucap Sean melirik Anna yang berjalan di lorong kelas sepuluh.
__ADS_1
"Terserah gue mau ngomong apa. Gak usah dikoreksi!!" Anna berjalan cepat-cepat namun langkahnya justru bisa Sean imbangi berkat kaki jenjangnya. Cowok itu terkekeh sambil berjalan di sebelah Anna menuju lantai atas.
- to be continued -