In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 11


__ADS_3

...๐ŸDisclaimer๐Ÿ...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...โ€ขโ€ขโ€ข...


Bel istirahat terakhir berbunyi keras dipenjuru lorong setiap kelas. Sebagian siswa memilih untuk keluar membeli makanan dan sebagiannya lagi memilih menetap di dalam kelas, tak terkecuali dengan Anna yang sudah setengah jam lalu menenggelamkan kepalanya beralaskan lengannya.


Sejak mereka ditinggal oleh Bu Aurora untuk belajar mandiri karena ada rapat dadakan di kantor, Anna terus saja menenggelamkan kepalanya karena merasakan kepalanya seperti dihantam palu besar berulang kali.


Sekuat mungkin ia menahan rasa sakitnya karena takut menganggu Kinara disebelahnya. Kinara, teman sebangkunya sejak jam pelajaran tadi sudah sedari tadi menyadari ada yang tidak beres dengan gadis di sampingnya. Perempuan itu perlahan menguncang bahu Anna.


"Apa perasaan gue ajah badan lo hangat An. Kalo memang sakit ayo gue antar ke UKS," ucap Kinara saat Anna mengangkat kepalanya dari atas buku.


"Nanti gue bilangin Ria biar izin sama guru yang ngajar di les terakhir nanti."


"Gak papa Kin gue baik-baik ajah kok," ujarnya dengan sebuah senyuman singkat.


Ia berusaha menegakkan badannya walau seberapa kuat ia menutupinya peluh yang perlahan mulai mengalir dari dahi tidak bisa membuat Kinara bernapas lega dibuatnya.


"Gak papa gimana sih? Lo sampai keringatan gitu, mana muka lo juga pucat bangat kayak zombie. Kalau lo kenapa-napa Yesi bakalan ngamuk lagi sama gue. Ayo, mending gue antar ke UKS."


"Iya gue ke UKS tapi gue sendirian ajah." Kinara mendesah pelan dan tidak memaksa keinginannya lagi.


Anna pun keluar dari mejanya, berjalan perlahan menuju keluar kelas. Kepala gadis itu tertunduk dan tangannya sesekali memijat tengkuk lehernya.


"Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa rasa sakit ini tidak pernah berkurang? Kenapa sakitnya semakin menjadi..." Anna berujar karena merasa sakit di kepalanya bukan sakit yang seperti dulu. Kali ini sakitnya sepuluh kali lipat menyakitkan.


Sesuatu terasa menetes dari dalam hidungnya. "Darah lagi? Mau sampai kapan begini?" gumamnya saat melihat seragam yang ia kenakan terdapat noda merah. Tidak banyak hanya satu bulatan kecil saja.


Anna langsung menutup hidung menggunakan punggung tangannya. Ia berpegangan pada tembok dan berjalan pelan-pelan. Syukur koridor kelas ini sepi jadi tidak ada yang melihatnya mengeluh kesakitan.


"Anna."


Sebuah panggilan dengan suara yang berat dan khas membuat kepala gadis yang sedari tadi tertunduk kini mendongak dan menoleh. Anna melihat sosok Sean yang samar-samar menghampirinya disusul telinganya mulai berdegung dan entah kenapa laki-laki itu semakin mendekat Anna melihat bayangannya semakin banyak. Hingga akhirnya mata gadis itu tertutup dengan sempurna bertepatan dengan jatuhnya tubuh gadis itu di pelukan Sean.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Pintu ruangan UKS terbanting dengan cukup keras. Muncul sosok Kinara dengan mata mengarah ke satu objek yang berbaring di ranjang. "Ya ampun dia kenapa, Imel?" tanya Kinara pada gadis berambut pendek bernama Imel.


"Kata kak Sean kak Anna pingsan tadi di lorong kelas orang kakak, terus dibawa kemari. Untung kita belum pergi dari sini Kak."


"Pingsan? Kak Sean? Terus tuh cowok dimana?" kata Kinara mencari sosok Sean tapi tidak ketemu. Bagaimana bisa Sean bertemu dengan Anna di lorong kelas mereka.


"Lagi ke kantin kak mau minta teh hangat buat Kak Anna. Dispenser di UKS lagi kosong. Paling bentar lagi Kak Sean datang."


Ruangan bernuansa putih dan beraroma yang tajam menyambut penciuman Anna saat pertama kali membuka matanya. Gadis itu mengedarkan pandangannya dan langsung bertatapan muka dengan petugas PMR yang berdiri di samping ranjang juga ada Kinara disana.


"Kakak udah siuman? Ada keluhan kak?" tanya Imel. Anna menggeleng pelan. Ia dibantu petugas PMR untuk menegakkan badan lalu bersandar di kepala ranjang.


"Gue ngga papa. Kenapa gue bisa disini?" tanya Anna.


"Sean katanya gendong lo kesini karena tadi lo pingsan di lorong kelas. Gue panik bangat dengar itu dari anak PMR jadi gue ngebut datang kemari memastikan keadaan lo. Syukur gak apa-apa."


"Gue juga udah curiga di kelas kalau lo benar kenapa-napa, tapi lo tetap ajah keras kepala gak bisa dibilangin," kesal Kinara mendekat ke sisi ranjang Anna.


Pintu UKS yang tadinya sedikit tertutup kini terbuka lebar, membuat pencahayaan di ruangan itu semakin terang benderang. Anna, Kinara dan kedua petugas PMR menoleh kearah pintu. Disana sudah ada Sean berjalan masuk dengan tangan membawa segelas air putih kearah Anna.


"Syukur lo udah sadar. Nih, diminum dulu," ujar Sean mengulurkan segelas air putih kepada Anna. Kinara yang melihat itu justru senyum-senyum sendiri. Anna menerima baik air putih ditangan Sean. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering saat ini.


"Makasih banyak," ujar Anna. Sean mengangguk dan kembali meraih gelas itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Sorry bangat ya. Tadi lo pingsan jadi langsung gue bawa ajah kesini dengan cara gue gendong. Maaf kalau lo gak suka dengan cara gue."


"Engga apa...."


"Sean! lagi-lagi loโ€”eh, sorry, sorry. Gue kira gak ada orang. Maaf kalau asal masuk," kekeh Tania berhenti di ambang pintu. Gadis itu berjalan masuk dengan senyum lebar dan tangan terangkat melambai ke arah Anna.


"Kita gak jadi makan siang bareng? Lo udah janji ya jangan sampai gue pukul lo," kata Tania menatap garang Sean.


Anna melirik wajah Sean yang menatap Tania begitu lembut. Sean hanya menggerakkan kedua matanya dan tanpa sengaja Sean mendadak menoleh kearahnya membuat kedua mata mereka saling adu pandang.


"Pulang sekolah nanti lo gue antar pulang. Gue bakalan nungguin di parkiran," ujar Sean asal lalu berbalik badan berjalan kearah pintu.


"Ayo ke kantin." Sean menarik tangan Tania keluar dari ruangan itu. Mereka hilang dari depan pintu bersamaan dengan petugas PMR yang menjaga Anna sejak gadis itu pingsan.


Kinara yang mengamati semua kejadian itu lantas mendekat pada Anna. Menatap tepat ke mata Anna. "Lo utang cerita sama gue. Ada cerita apa sampai Sean berani ngajak lo pulang bareng?"


"Gue gak tau," ucap Anna turun dari atas brankar, mengenakan kembali sepatu sekolahnya lalu berjalan ke arah pintu.


"Masa engga tau sih?" tanya Kinara mengikuti langkah Anna keluar ruangan UKS.


"Gue ngga tau Kinara," ucap Anna dengan suara yang lemas. "Lagian siapa yang mau bareng dia pulang, gue gak akan mau..."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di lain tempat, tepatnya di bangku panjang depan kelas Tania, ia sedang duduk bersama dengan Sean. Tania tersenyum-senyum tidak jelas melirik Sean. "Gimana ya? Katanya ngga bakalan mau dekat. Kenapa kok tiba-tiba ngga ada hujan, badai topan lo makin dekat sama Anna?"

__ADS_1


"Bahas yang lain ajah. Gue lagi ngga mood."


"Ngga mood apanya, sih? Baru juga ketemu Anna udah mood-mood an ajah. Emang sih, cowok mana yang ngga betah dekat-dekat sama Anna. Gue kalau jadi cowok mau bangat berduaan terus sama Anna. Cantik, baik hati dan penyayang."


"Ngga kayak disebelah gue. Tiap hari emosian. Gue jarang bangat tuh disenyumin kayak tadi. Ah, entahlah gue ini siapa..." kata Tania melirik Sean lewat sudut matanya.


"Dengar ngga sih dari tadi gue ngomong," ujar Tania mencubit lengan Sean. Cowok itu mah biasa ajah karena Tania juga tidak keras mencubitnya.


"Gue dengar cuman malas ajah ngerespon. Entar salah lagi gue juga yang lo tonjok."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Beberapa jam kemudian, bel pertanda pulang mengalun disepanjang koridor kelas. Membuat setiap ruangan kelas riuh dengan suara gemuruh para siswa yang heboh mendengar bel panjang itu berbunyi.


Saat ini Anna sedang berdiri di parkiran kendaraan roda dua. Ia sebenarnya tadi berniat kabur, sayangnya Sean tiba-tiba saja seperti setan muncul di parkiran dengan mata melotot menatapnya.


"Niat bangat mau kabur. Tau gak kalau cowok itu yang dipegang janjinya. Kalau gue asal ngomong ajah gue bukan laki-laki namanya," kata Sean berdiri di hadapan Anna.


"Gue bisa pulang sendiri Kak. Engga perlu diantar," sahut Anna tidak enak hati menerima begitu saja tawaran Sean untuk pulang bareng.


"Gue udah janji loh, masa iya lo nolak ajakan gue begitu ajah."


"Tapi kanโ€”"


"Engga ada tapi-tapian. Pokoknya lo gue antar pulang. Tunggu disini awas lo kalo pergi."


Ancaman Sean barusan membuat Anna menghela napas berat. Entah apa yang terjadi pada cowok itu. Satu hari ini ia begitu berbeda. Belum saling mengenal tapi Sean seolah sudah akrab dengannya. Anna juga sedikit tidak asing dengan Sean tapi ia tidak boleh terlalu perasaan.


"Anna..." Ria memanggil namanya ketika ketiga perempuan itu baru saja datang entah dari mana.


"Kita pergi duluan ajah ya. Kayaknya lo sama Kak Sean ada janji pulang sama. Kita tunggu dirumah lo ajah ya. Bye, bye, An hati-hati ya..."


Kinara menarik tangan Yesi dan Ria pergi ke parkiran roda empat yang dimana hari ini katanya Kinara membawa mobilnya ke sekolah. Anna hanya bisa mendesah pelan seraya memajukan bibirnya karena ketiga temannya meninggalkan dirinya pulang bersama Sean.


Sekarang Anna melangkah ke arah dimana Satria, Rogan, Davian dan Arkana berada. Empat sahabat Sean sedang mengobrol diatas motor masing-masing.


"Senang ngga An diantar sama Sean. Pertama kalinya loh Sean mau ngantarin cewek."


"Hah? Jangan bilang gue juga orang pertama yang naik diatas motornya?" Satria dan Rogan kompak mengangguk.


"Kakak pasti bercanda. Ngga mungkin bangat gue orang pertama yang naik di motor Kak Sean."


"Gak percayaan bangat sih An. Tuh Sean nya datang, tanyain ajah sama dia tuh..."


Sean datang dengan wajah bingung ketika namanya disebut Rogan. Cowok itu langsung berjalan kearah dimana motornya berada. Memasukkan kunci motornya ke lubang kunci.


"Ini si Anna ngga percaya kalau kita bilang dia orang pertama yang naik motor lo," sahut Rogan. Sean pun melirik ke arah Anna lalu menganggukkan kepala tanda yang dikatakan Rogan barusan benar adanya.


"Mau pake helm apa, ngga?"


"Gue belum bilang iya kenapa malah lo kasih helm," ucap Anna memasang wajah datar.


"Gak perlu lo jawab iya atau gak. Gue yakin lo pasti mau gue antar pulang. Nih pake..." Anna berdecak pelan. Ia dengan rasa terpaksa menerima uluran helm itu karena malu juga dilihat teman-teman Sean.


"Punya siapa ini?" tanya Anna lembut sambil menatap helm dengan motif beruang di helmnya.


"Punya saudara gue. Kalau lo risih gak perlu dipake. Gimana? Mau pake apa ngga?"


Anna tidak menjawab. Tangannya langsung memasangkan helm itu di kepala. Sedangkan Sean yang sudah menyalakan mesin motornya pun menggeleng menatap gadis disebelahnya yang tampak kesusahan memasang klip helmnya.


"Sini gue bantuin." Sean menarik pinggang ramping Anna agar lebih dekat padanya. Anna yang diperlakukan seperti itu langsung merasa gugup. Jarak mereka berdua begitu dekat sampai Anna bisa melihat wajah bersih Sean yang begitu mulus.


"Alamak modus bangat lo Sean!" seru Arkana melihat keuwuan Sean membantu gadis itu memasang klip helmnya.


"Punya pacar makanya," sindir Rogan pada Arkana.


"Emangnya lo punya?"


"Ya belum punya sih," tawa Rogan membalas. Sok iya mengatai dirinya pacaran ia sendiri pun masih jomblo ngenes.


"Udah. Sekarang lo naik," titah Sean melirik Anna lewat ekor matanya. Anna pun mengangguk patuh dan naik ke atas motor besar dan tinggi meilik Sean dengan bantuan pundak cowok itu.


"Bagusin roknya," ujar Sean ketika melihat rok abu-abu Anna sedikit tersingkap, mengekspos pahanya yang mulus.


Anna yang melihat perhatian kecil Sean padanya langsung menyelipkan roknya di bawah paha. Wajar Anna kesusahan duduk seperti ini karena inilah pertama kalinya ia naik motor.


Ponsel disaku jaket Sean berbunyi pertanda sebuan pesan masuk. Sebentar ia merogoh sakunya dan mengecek siapa sosok yang mengirimkan pesan itu padanya.


[Gue dengar-dengar Anna katanya suka bangat makan es krim. Goodluck ya antarin Anna. Take care baby]


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Sepanjang perjalanan pulang tidak ada percakapan diantara keduanya. Sean fokus menatap jalan lurus di depannya, sedangkan Anna menggulum bibirnya ketika membaca pesan lewat WhatsApp dari Kinara. Ya, gadis itu sedang membaca pesan lewat ponsel miliknya.


Bagimana ini ya? Apa bisa mampir sebentar dulu ke mini market beli cemilannya, batin Anna.


Anna memberanikan diri menempuk pundak Sean sebanyak tiga kali. Motor milik Sean tiba-tiba saja melambat. Lewat spion motor, Anna melihat Sean membuka kaca helmnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya Sean menolehkan kepala


"Hmm ... itu..."


"Ngomong aja gak usah ragu."


"Bo--boleh gak sebentar mampir ke minimaret. Gue mau beli cemilan buat kerja kelompok nanti sama teman-teman."


Anna melihat kepala Sean mengangguk. "Boleh bangat. Sekalian gue juga mau beli sesuatu titipan nyokap."


Setelah obrolan singkat itu, motor Sean kembali melaju dengan kecepatan standar. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah minimarket.


"Bisa, ngga?" tanya Sean melihat Anna hendak melepas helmnya.


"Bisa kok. Engga mungkin dibantu dua kali cuman gara-gara kayak gini. Tuh.. bisa, kan?" Sean mengangguk dan Anna langsung menaruh helm itu di stang motor.


Tanpa ba-bi-bu, Anna masuk meninggalkan Sean yang masih diatas motor. Cowok itu mengikuti Anna masuk ke tempat perbelanjaan mini tersebut.


Setelah memilih cemilan untuk mereka makan nanti Anna pun ikut antri di depan kasir dengan Sean berdiri di belakangnya. Ia pikir Sean akan menunggunya di parkiran, nyatanya cowok itu justru ikut masuk bersamanya.


Anna sangat gugup ketika punggungnya bersentuhan dengan tubuh depan Sean. Antrian semakin mendesak dari belakang, membuat Anna terdorong pelan ke depan. Untung Sean sigap menahan lengannya.


Hari ini Anna sudah terlalu banyak melakukan kontak fisik dengan Sean. Lelaki yang baru hari ini ia kenal lewat teman sekelasnya selebihnya Anna tidak tahu seperti apa kehidupan Sean selama ini.


"Kenapa gak nunggu disana ajah, kasian yang ngantri kalau lo gak beli apa-apa," kata Anna melirik Sean sebentar.


"Gue beli kok, tuh..." Sean menunjuk lewat dagunya. Cowok itu saat masuk ke dalam minimarket ia segera kebagian tempat dimana ice cream berada lalu memperhatikan Anna dari jauh--sedang memilih jajanan ringan di rak bagian snack.


"Belanjaannya mau disatukan ajah?" ucap kasir perempuan itu.


"Pisah Mbak," kata Anna cepat.


"Totalnya sembilan puluh ribu rupiah, Mbak." Belum sempat ia mengeluarkan uang dari saku roknya, Sean sudah lebih dulu mengulurkan kartu debitnya pada pegawai kasir itu.


Merasa tidak nyaman dengan ulah karena ulah Sean barusan, Anna pun menoleh dan hampir saja bibir gadis itu mencium pipi Sean kalau Anna tidak cepat-cepat memundurkan wajahnya.


Jantungku, batin Anna ketika kelakuannya barusan tidak diperhatikan cowok itu.


"Kembaliannya di donasikan ajah Mbak."


"Terimakasih Mas. Selamat berbelanja kembali."


Kedua kalinya Anna dibuat melongo menatap Sean berjalan lebih dulu darinyaโ€”cowok itu menenteng plastik jajanan milik Anna dan miliknya sendiri menuju motornya yang diparkir rapi disana.


"Naik," titah Sean pada Anna yang sudah bisa memasang helmnya. Perempuan itu naik dengan bantuan pundak Sean.


"Sini-in belanjaannya," ucap Anna mengulurkan tangannya dari sisi pinggang Sean. Namun genggaman hangat di pergelangan tangannya membuat Anna dengan kasar menarik kembali tangannya


"Gue ajah," jawab Sean. Cowok itu langsung menyalakan motornya dan berlalu dari depan minimarket.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya tak berbicara sama sekali. Sean fokus dengan jalanan, Anna justru sibuk menghitung pepohonan yang mereka lalui sore ini sepanjang jalan pulang.


"Lewat sini gak tadi lo bilang?"


"Iya sebelah kanan," jawab Anna ketika Sean kembali bertanya lokasi rumahnya.


Motor sport hitam itu memasuki komplek perumahan elit dan berhenti di depan sebuah rumah mewah sebelah kanan.


"Kapan-kapan gue ganti uang lo tadi. Makasih banyak juga ya udah ngantarin pulang," ucap Anna setelah turun dari atas motor dan menerima plastik jajanannya dari tangan Sean.


"Engga perlu di ganti dan sama-sama. Tapi sebelum gue pergi bsa gue ngomong sebentar?" Anna lantas menganggukkan kepala.


"Lo bisa ngga ikutan nyanyi buat pensi tiga minggu lagi. Gue butuh peserta yang bisa nyanyi untuk pentas seni nanti. Kata teman gue si Satria lo bisa nyanyi. Gimana?"


"Iya," jawab Anna singkat, jelas dan padat.


"Iya?" tanya Sean mengulang jawaban gadis itu. Anna lantas mengangguk.


"Thanks bangat ya udah bantu. Besok gue kabarin lagi kapan bisa latihannya."


"Iya. Gue masuk duluan ya. Hati-hati pulangnya." Anna berbalik tanpa menunggu kepergian Sean lebih dulu tapi suara Sean kembali terdengar membuat Anna lantas berbalik badan kembali menghadap Sean.


Cowok itu mengeluarkan plastik putih yang entah apa isinya itu ke arah Anna. "Buat lo. Katanya lo suka itu jadi gue beliin buat lo tadi."


"Iniโ€”" Belum selesai berbicara ucapan Anna sudah dipotong oleh teriakan seseorang dari halaman rumahnya.


"Anna, yuhuyyy!" seru Kinara dari teras rumah Anna. Mereka sudah tiba lebih awal dari Anna.


"Gue balik ya. Jangan lupa dimakan."


"Iya. Hati-hati Kak."


Sepasang kakinya kembali terayun setelah menatap kepergian Sean dari depan rumah. Ia memasuki halaman rumah dan bergabung dengan keempat temannya.


"Pacarmu Anna?"


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2