
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
"Sialan! Brengsek! Argh!"
"Gue bakalan hancurin hidup lo kalau lo masih berkeliaran di samping gadis gue!"
Laki-laki yang mengumpat kasar itu menendang kursi kayu di hadapannya. Setelah ia kembali dari rumah sakit, ia langsung melampiaskan kekesalannya pada benda mati tersebut. Beberapa temannya yang berada disana memandang heran padanya.
"Kenapa lagi lo? Pulang-pulang malah kayak orang kesetanan. Kenapa?"
"Bukan urusan lo semua. Gak usah banyak nanyak," sahutnya lalu duduk di salah satu kursi disana.
"Palingan masalah cewek," ujar salah satu diantara mereka. Dia adalah Dion.
"Gue paling ngga suka lihat milik gue di dekatin kayak gitu. Gue masih berharap banyak tapi kalau lihat dia maju lebih dulu rasanya percuma."
"Masalah Anna lagi?" ucap Slamet. "Udahlah, Anna cuman masa lalu lo doang, Dean. Biarin dia bebas jalani hidup dia."2
"Masa iya mau minta balik lagi. Gak iya bangat dah. Lagian kita penasaran kenapa bisa lo putusin cewek cantik kayak Anna dulu. Mana dia banyak di rebutin di sekolah lagi katanya," timpal Dion.
"Kalau bukan karena lo suka sama tuh cewek gue juga bakalan kejar dia sampai hari ini," lanjutnya panjang lebar.
"Mantan lo yang sekarang udah jadi incaran banyak orang. Nyesal dah lo mutusin Anna," kelakar Dion kembali membuat Dena mendesah kasar.
"Seandainya gue jadi lo gue bakalan tetap pertahankan tuh cewek sampai gue bisa belajar mencintainya. Perjuangan dia buat dapatin lo ngga semudah yang dibayangkan. Dia beda dari perempuan lain De," kata Slamet duduk seraya kedua kakinya bersilang di atas meja.
Laki-laki yang baru saja datang dan merusuh di tempat itu tidak lain adalah Dean, mantan pacar Anna.
Dean yang mendengar kabar bahwa Anna masuk rumah sakit tidak bisa tinggal diam begitu saja. Ia langsung terbang dari London hanya untuk melihat keadaan Anna. Ia harus tau kabar gadis itu dan setiap hari ada satu atau dua orang suruhannya untuk mengawasi gadis itu dari jauh.
Tidak disangka kedatangannya ke rumah sakit justru membuat matanya sakit dan hatinya hancur. Sean yang menggenggam tangan dan mencium kening perempuan itu membuatnya gerah dan tidak sabar ingin memukul cowok saat itu juga. Namun, mengingat ia berada dimana, Dean lekas pergi dari tempat itu.
"Setengah tahun lo menghilang dan sekarang lo kembali kumpul sama kita dengan pembahasan yang sama. Jangan harap banyak de. Biar yang lalu itu berlalu seperti angin."
"Yes... biarin Anna bahagia dengan jalannya sendiri. Lo gak kasian lihat tuh cewek tiada hari tidak dibully," ucap Dion.
"Kemarin dia disekap sama Ghea di gudang sekolah. Lo kenal anaknya Pak Hendra, kan? Perempuan yang dulu berteman dekat dengan cewek lo si Theresia."
Ghea? Anak Pak Hendra?
Siapa yang tidak mengenal perempuan itu. Sejak ia masih senior disana, Dean sudah berjalin hubungan dengannya diam-diam. Bahkan bodohnya lagi, ia yang masih berstatus pacarnya Anna, mantan Theresia saja tega berselingkuh di belakang gadis itu bersama Ghea. Dan sampai hari ini Ghea dan Theresia tidak tahu kalau dulu Dean pernah punya hubungan dengannya.
"Gimana sama Theresia? Udah punya anak berapa sama tuh cewek. Jelas kan hubungan lo sama dia?"
Theo angkat suara. Cowok yang baru saja menghisap dalam-dalam rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya menoleh menatap Dean.
"Cewek gila itu bentar lagi mau mati. Nyusahin hidup gue ajah bisanya. Nyesel gue pernah suka sama cewek penyakitan kayak dia. Gue ngga akan bisa punya anak dari cewek mandul kayak dia..."
"Mandul? Ngomong apa lo barusan?" sarkas Slamet menegakkan badannya di kursi.
__ADS_1
"Rahimnya diangkat dan gue gak punya harapan untuk melanjutkan hubungan dengan tuh cewek. Gue gak tertarik. Buat apa gue lanjutin hubungan serius kayak gitu toh gue gak akan bisa punya anak dari dia."
"Itu pilihan lo sejak dulu," ucap Dion tersenyum miring.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat ya. Dulu lo sampai segitunya puji dia di depan Annaāsekarang malah lo ngatain istri lo kayak gitu. Makanya dengarin teman lo kalau ngomong," kata Slamet geleng kepala.
"Theresia sejak sekolah menengah pertama udah dicoba sana sini jadi wajar dia penyakitan. Pelajaran ajah buat lo, lain kali jangan jadiin cantik tolak ukur buat serius..."
"Diam! Gue ngga ada hubungan sama tuh cewek. Sejak gue tahu dia penyakit HIV gue ngga kepikiran lagi buat lanjutin pernikahan itu. Gue udah sejak lama lepasin itu perempuan dan bahkan gue bakalan gugat cerai Theresia," ujar Dean penuh penekanan.
Dean memang sudah menikah dengan Theresia selepas mereka selesai masa SMA. Inilah salah satu alasan Dean menghilang tanpa jejak. Menikahi putri orang kaya yang nyatanya masa depannya tidak sebagus nasib keluarga sang gadis.
"Gila.. maksud lo Theresia kena penyakit berbahaya itu. Sialan tuh cewek. Mana gue pernah lagi main sama dia."
"Anjing! Lo main sama dia yang udah jelas Dean mau married sama tuh cewek. Wah, parah lu jadi teman," dumel Slamet memancing perkara di antara mereka. Asik kan kalau melihat keributan kecil yang ia buat.
"Tinggal hitung hari dah lu, Dar. Siapin dana buat Daren yang bentar lagi selamat jalan."
"Anjing mulut lo!" lontar Daren.
Dean sibuk mengembuskan asap putih dari mulutnya dengan sebatang rokok yang terselip disela-sela jarinya. Ia tidak ingat kapan ia mengantongi rokok itu di saku jaketnya.
Pandangannya benar-benar kosong untuk saat ini. Terselip kenangan-kenangan yang tidak terlalu banyak bersama Anna, namun membuat dirinya tidak bisa berhenti memikirkan gadis lemah yang kini terbaring di brankar rumah sakit.
Melihat Dean kembali merokok setelah enam bulan lalu berniat untuk menjauhi hal yang merusak paru-parunya membuat Slamet mengerutkan dahi. Kemarin ditawari rokok mahal pun cowok itu tidak mau tapi kenapa sekarang...
"Merokok bisa merusak paru-paru lo. Niat itu jangan setengah-setengah lah De, kasian adek lo yang tiap hari ingatin lo jangan sampai merokok lagi." Dean tidak menjawab. Slamet langsung menarik kasar rokok yang terselip di bibirnya membuat cowok itu mengumpat kasar.
"Brengsek lo! Balikin rokok gue," cecar Dean geram melihat Slamet.
"Jaga kesehatan. Lo sakit kita juga yang rugi kasih waktu buat lo. Mana utang rokok lo yang dulu belum lunas lagi," kata Daren padanya yang menegak habis teh manis yang Slamet buatkan untuknya.
"Lo mau kemana?" tanya Daren tiba-tiba begitu melihat Dean bangkit dari tempat duduknya dan menyambar kunci motor cowok itu dengan cepat.
"Rumah sakit. Gue ngga bisa diam terus kayak gini! Gue harus liat dia. Gue ngga sanggup kalau Anna sampai kenapa-napa. Gue jadi nyesel pertemuan pertama kita kayak begitu."
Satu kalimat yang lolos dari mulutnya membuat semua orang membuka mulut lebar tidak percaya.
"Rumah Sakit? mau ngapain lagi lo ke rumah sakit?" Slamet penuh selidik memandang Dean.
"Kedatangan lo sejak awal ketemu dengan Anna di depan rumahnya udah buat dia trauma De. Jangan lo kira selama ini tuh cewek ngga menderita. Dia sakit-sakitan dan katanya punya tremor itu karena lo jugaāapa yang Lo perbuat sebelum lo pergi benar-benar membuat mental Anna jatuh sampai kedasar," lanjut Slamet.
"Lo pikir kelakuan terakhir lo bertemu dengan Anna yang hampir lo ingin memperkosa tuh cewek ngga buat dia menderita. Anna kena mental, Dean. Stop mengurus kehidupan gadis itu!"
"Siapa lo yang harus gue dengarkan?" sahut Dean. Ia menatap tajam ke arah Slamet. Keduanya saling lempar pandangan tidak menyenangkan membuat beberapa teman di tempat itu menggelengkan kepala.
"Gue sahabat lo! Harusnya lo kembali ke tempat ini buat menebus kesalahan lo bukan malah mempertambah masalah. Sean udah mencoba membuat Anna melupakan masalah lalunya."
"Kalau kedatangan lo kemari cuman buat Anna menderita dan buat perjuangan Sean sia-sia seperti itu, gue bisa pastiin gue orang paling depan yang bakalan ngehajar lo lebih dulu!"
"Minggir!" Dean mendorong bahu Slamet cukup kencang tetapi Slamet masih mencoba bertahan. Kali ini Daren ikut bergabung berdiri di samping Slamet yang juga menghadang langkah kaki cowok beralis hitam itu.
"Jawab dulu pertanyaan gue. Ada urusan apa lo ke rumah sakit lagi? Bukannya lo udah kesana barusan. Jangan bilang lo mau nyerang Sean. Ngga ada akal lo kalau sampai main tangan sama Sean yang udah baik jagain mantan lo sejauh ini," kata Slamet memperingati kembali.
__ADS_1
"Lo tau ngga apa alasan Sean masuk sekolah itu? Lo tahu ngga?!" bentak Slamet.
"Mantan cewek lo lagi sekarat. Kalau lo masih sayang sama Anna, jangan sekarang. Selama ini lo udah buat hidup dia susah jadi jangan persulit situasinya."
Slamet kembali mengingatkan, bagaimana kelakuan sahabatnya itu tempo hari pada gadis itu. Bahkan disaat Anna terpuruk sekalipun di hadapan Dean, cowok itu tetap saja bergeming tidak peduli dengannya.
Dean justru memutar bola matanya malas, ia ingin cepat pergi dari sini. Semua kejadian di depan matanya benar-benar tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Bukan urusan lo kan. Minggir!"
Jawabnya dingin tak lepas juga dengan kedua tangannya yang diarahkan untuk memiringkan tubuh kedua sahabatnya agar ia bisa lewat.
Sementara itu Daren dan Slamet terdiam membeku. Dean menjadi lebih tak tersentuh bahkan di matanya sama sekali tak terpancar rasa kehangatan meskipun sedikit, meninggalkan rasa kebingungan.
Daren dan Slamet serempak mengalihkan pandangan mereka saat suara deruman motor menghiasi telinga keduanya. Suara itu semakin menjauh seiring dengan kepergian Dean dengan motornya ke rumah sakit.
"Kali ini kita harus ikut campur. Jangan sampai Dean buat ulah di rumah sakit. Anna baru melewati masa kritisnya. Gue ngga ingin tuh bocah balik lagi seperti dulu," kata Slamet dengan aura dinginnya.
"Lo tahu Anna sedetail itu?"
"Yah, karena Anna sahabat Kinara, adik perempuan gue."
"WHAT?" pekik Daren.
Slamet langsung mengenakan jaket kebanggaan mereka. Begitu juga dengan anggota lainnya yang bersiap menuju motor mereka yang terparkir di bawah sebuah pohon.
Slamet ingin merubah kelakuan Dean kejalan yang benar dan tidak boleh sia-sia begitu saja. Tidak menunggu lama lagi, semua anggota sudah berdiri dari tempat duduk masing-masing.
"Kita cabut!"
...ā¢ā¢ā¢...
Di tempat lain, Sean sedang berjalan dengan cepat di koridor rumah sakit setelah beberapa menit lalu ia mendapatkan kabar dari dokter di rumah sakit bahwa Anna sudah sadar dari komanya.
Sean yang tadinya ingin memesan kopi di luar sana untuk mengurangi rasa kantungnya menunggu gadis itu bangun benar-benar sudah tidak bisa ia tahan lagi, segera ia menyusuri lorong rumah sakit.
Langkahnya terhenti begitu ia sampai di kamar rawat perempuan itu dan benar brankar yang tadinya ditempati oleh perempuan itu kini sudah kosong.
Kemana Anna pergi?
Anna tidak ada di tempat, namun suara dari kamar mandi membuat cowok itu merasa lega. Mungkin gadis itu sedang berada di dalam sana. Sean pun memilih duduk di sofa menunggu Anna keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Anna yang tidak tahu keberadaan Sean disana melangkah perlahan dengan wajah yang masih pucat seraya memegangi tiang infusnya dengan hati-hati. Namun, di saat langkah ketiga, tubuh gadis itu oleng dan dengan sigap Sean bangkit, menahan bobot tubuh Anna dengan merengkuh pinggang gadis itu dengan erat.
"Hati-hati! Lo baru siuman jangan banyak gerak dulu. Untung gue datang cepat," seru Sean membuat Anna di pelukan cowok itu menelan salivanya kasar.
Matanya terbelalak lebar melihat Sean begitu dekat dengannya. Adegan ini membuat Anna jantungnya berdegup kencang. Ditambah Sean berbicara di dekat telinganya membuat gadis itu merinding seketika.
Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja dan Anna sendiri bisa merasakan aroma yang hangat dari tubuh Sean.Ā Jadi begini rasanya ada disaat kita butuh, gumamnya dalam hati.
"Udah puas liatin muka gue?" godanya berjalan sambil membantu Anna menuju ranjang. Anna yang sadar ulahnya ketahuan langsung kikuk dibuatnya.
"Kenapa lo yang datang dan bukan ayah gue?"
__ADS_1
- to be continued -