
...đDisclaimerđ...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...â˘â˘â˘...
Suara dentuman musik menggema di sebuah klub malam di daerah Bandung. Kilatan lampu warna-warni memenuhi seluruh ruangan yang gelap. Semakin malam, suasana klub makin ramai. Banyak anak muda yang datang. Mereka bergerombol bahkan bahkan ikut bergoyang bersama di dance floor.
Brian merapatkan jari jemari nya di tangan Sera, membawa gadisnya duduk di depan sebuah meja bar dan memesankan sebotol red wine. Dengan paras yang cantik, tubuh seksi, kulitnya putih mulus seperti porselenâapalagi dengan dress berwarna merah darah yang melekat ketat di tubuhnya membuat Sera menjadi pusat perhatian sejak kakinya jenjangnya menapak di klub ini.
"Lihat gue! Jangan liatin mereka," cetus Brian ketika melihat gerombolan lelaki mata keranjang di sudut sebelah kanan menatap lapar ke arah gadisnyaâSera.
Tatapan lapar itu membuat Brian geram. Saking posesif nya Brian dan tidak suka gadisnya dijadikan tontonan laki-laki liar, Brian dengan cepat merengkuh pinggang Sera agar lebih rapat padanya. Derit kursi terdengar dengan kasar ketika rengkuhan Brian di pinggang Sera bergerak dengan cepat.
"Mereka masih belum datang?" tanya Sera mengedarkan pandangannya mencari mereka yang katanya teman Brian dan bertemu di tempat ini.
"Tunggu disini! Kalau ada yang macam-macam telepon gue. Ah, iya jangan minum lagi. Ribet bawa lo ke apartemen kalau lo mabuk berat."
"Hmm..." Sera berdehem dengan mata menatap Brian pergi memasuki sebuah pintu yang Sera yakini mungkin disanalah pertemuan mereka malam ini.
Sekarang Sera sendirian. Ia hanya ditemani segelas red wine yang sudah kosong setelah ia tenggang sampai habis.
"Hey, baby... You look so gorgeous." Seorang laki-laki seusianya menyapa lalu tiba-tiba duduk di sebelah kiri kosong tempat Brian duduki tadi.
Sera tidak menyahut. Ia masih sibuk menikmati satu gelas red wine yang kembali dituang di gelas wine ditangannya. Padahal ia sudah tidak kuat lagi menghabiskan red wine itu karena kepalanya sudah pening dan berdenyut-denyut. Bahkan melihat bartender itu pun Sera sudah berbayang.
"Sera." Mendengar namanya dipanggil lembut, gadis muda itu menoleh perlahan ke samping dan mengerutkan kening saat menatap wajah lelaki di sebelahnya.
"Brian?" ucapnya setengah sadar. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya juga ikut mengabur. Mungkin karena ia terlalu banyak minum.
Tanpa aba-aba, laki-laki itu menarik lengan Sera dengan kasar hingga menubruk tubuh kekarnya yang sedang berdiri dan membuat Sera terbelalak dalam setengah sadar. Walaupun mabuk tetapi Sera bisa menguasai dirinya dan hapal betul siapa lelaki kurang ajar yang berani menyentuh tubuhnya.
Tubuh ini bukan tubuh milik Brian. Sera kenal betul hal itu. Ia kenal dengan postur tubuh Brian bahkan pakaian yang Brian pakai juga bukanlah kemeja katun lembut seperti yang ia sentuh barusan.
Wajah laki-laki yang dari tadi ada di dalam pikirannya tiba-tiba berganti menjadi wajah Nathanielâlaki-laki yang mendekatinya akhir-akhir ini tanpa sepengetahuan Brian.
Bau alkohol tercium kuat dari tubuh lelaki itu. Sera sadar dan mulai memberontak ketika Nathan memeluknya erat. Bahkan tubuh berisi Sera direngkuh lebih dalam sampai membuat Sera mendongak, merasakan sesak dengan tubuhnya sendiri.
"Kau? Apa yang kau lakukan! Lepaskan!" seru Sera menyingkirkan tangan laki-laki itu di pinggang rampingnya.
Sera berusaha kabur dari cengkraman Nathan saat laki-laki itu membawanya ke salah satu kamar yang ada di dalam klub. Namun, tenaganya tidak sepadan dengan Nathan dan tidak bisa melawan laki-laki di hadapannya itu.
"Kak Nathan, hentikan!" bentak Sera saat Nathan memaksanya masuk ke dalam kamar. Sera ingin muntah. Ditambah Nathan semakin liar menyentuh tubuhnya.
"Malam ini lo bakalan jadi milik gue, Sera."
"Ngga! Gue akan akan mau sama laki-laki bajingan seperti lo! Lepasin," teriak Sera memberontak.
"Benarkah? Lebih bajingan mana, Brian apa gue? Brian cuman manfaatin lo Ser. Look, where is he? he left you, Sera. Brian jadiin lo sebagai pacarnya hanya untuk menikmati tubuh indah lo ini. Gue lebih pantas ketimbang Brianâcowok Lo yang gak berguna itu. Dia ngga pantas jadi milik lo Ser."
__ADS_1
"Ngga! Jangan racuni pikiran gue dengan omongan sampah lo itu. Brian ngga akan pernah lakuin itu sampai kapan pun. Gue lebih baik mati dari pada harus jadi milik laki-laki sialan seperti Lo ini," kelakar Sera berusaha menguatkan dirinya.
"Hahaha..." Nathan tertawa semakin keras. Menatap jelas wajah indah milik Sera yang selalu jadi dambaan semua orang.
"Kita lihat saja, kalau dia datang kemari buat bawa lo pergi dari tempat ini, gue percaya kalau Brian memang cinta sama lo. Tapi sampai gue menikmati tubuh lo ini dia ngga datang, Lo harus mulai sadar diri."
"BrianâArghhh..." jerit Sera saat Nathan berhasil merobek ujung dress miliknya hingga menampakkan paha mulusnya sampai ke pangkal paha.
Sera mengatupkan bibirnya. Ini tidak bisa dibiarkan saja. Jika ia harus merelakan miliknya bukan Nathanâsi pria brengsek yang melakukannya
"Ngga usah munafik, Sera! Lo sering main bareng sama Brian, kan? Ngga usah sok suci, lo!" Nathan mulai dikuasai amarah karena ucapan Sera barusan.
Dulu Nathan adalah sosok laki-laki yang sangat mencintai Sera walau ia tahu Sera sudah menjadi milik Brian saat itu. Nathan bahkan rela menjadi orang kedua asal bisa bersama Sera. Sera tidak bisa melakukan hal menjijikan seperti itu, apalagi jika harus mengkhianati Brianâlaki-laki yang sudah bersamanya sejak ia kelas sepuluh.
"Lo ngga sadar juga ya! Gue ngga pernah punya rasa sama lo Kak Nathan. Gue cuman cinta sama Brian."
Nathan tersenyum miring. Tubuhnya kian condong kepada Sera. Ia tidak peduli dengan apapun yang gadis itu ucapkan sekarang. Malam ini adalah malam yang cukup berharga untuknya. Sera sudah ada dihadapannya tanpa ada halangan dari Brian.
"Lepasin!! Tolong!" teriak Sera. Namun sepertinya percuma. Siapa yang akan mendengar teriakannya yang sudah jelas kalah dengan dentuman musik di luar kamar.
"Teriak, Sera! Teriak terus sampai pita suara lo rusak! Hahaha... Ngga ada yang bisa nolongin lo, Sweetheart. Lo akan jadi milik gue dan gue yakinâBrian belum melakukan itu pada lo, kan?"
Sera berusaha menghindar saat Nathan mencoba mencengkram dagunyaâhendak mendaratkan kecupan di bibir Sera yang lembut dan berwarna merah merona.
Nathan sudah gelap mata dan dikuasai pengaruh alkohol. Perlakuan Nathan membuat Sera kehabisan tenaga. Dia hanya bisa menangis sesenggukan saat Nathan menyentuh tubuhnya dibagian paha lalu naik ke bagian pinggang atasnya.
Tanpa disangka pintu ruangan didobrak oleh seseorang dengan tiba-tiba. Laki-laki itu berdiri tegap dan terlihat marah menatap dua sosok manusia yang berada di lantai dekat sofa hitam. Tanpa aba-aba, cowok itu langsung menarik Nathan kebelakang sampai membentur sofa lainnya.
Dress yang dipakai Sera sudah compang-camping karena ulah Nathan yang begitu brutal pada gadis kesayangan Brian tersebut.
"Brian, maaf..." Sera masih sempat berucap dengan lembut. Matanya semakin memerah dan detik kemudian cairan bening di sudut matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Tangan yang terjulur ke depan diraih lembut oleh Brian. "Sssttt... gue disini. Lo aman sekarang."
...â˘â˘â˘...
"Iya gue tau gue memang gak sepolos Sera atau siapapun yang lo pikirkan sekarang."
"...Tanpa melibatkan Sera dalam masalah ini gue ingin lo balaskan dendam gue ke gadis sialan itu. Kalau lo bisa, gue bakalan kasih apapun yang lo mau..."
"Apa rencana lo?"
Segala rencana yang sudah gadis itu rampung dalam kepalanya ia sampaikan pada Brian dengan rinci. Sempat Brian menolak, tapi tawaran yang semakin menggiurkan di depan mata membuat Brian kalap. Ia juga butuh uang untuk kesembuhan adik perempuannya yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Deal?" ujar gadis itu mengulurkan tangan ke depan Brian. Tanpa berpikir terlalu lama, Brian langsung menjabat tangan gadis itu tapi dengan ekspresi wajah yang datar. Setelah itu Brian keluar dari sana. Ia tidak sendirian keluar dari ruangan itu melainkan bersama teman lamanya dulu, Reza.
"Gue penasaran, secantik apa gadis yang jadi korban lo selanjutnya," kata Reza. "Kalau hadiahnya sebesar itu, dia pasti gadis yang cantik."
Kekehan temannya itu membuat Brian menilik dengan ekspresi tidak biasa. Jika bukan karena biaya pengobatan operasi sang adik, Brian tidak akan mau menerima pekerjaan berbahaya ini. Apapun demi uang akan ia lakukan. Jika harus mati demi kesembuhan adiknya Brian rela melakukannya.
__ADS_1
"Mau ke sana, ngga?" tanya Rezaâtemannya yang datang ke klub untuk menghabiskan seharian suntuk.
"Ngga. Gue mau turun cari cewek gue dulu."
Sesampainya di lantai bawah, Brian tidak menemukan keberadaan Sera di meja bar, tapi tas gadisnya masih ada di tempat itu. Brian mengumpat dalam hati. Ia kehilangan jejak Sera.
Ada banyak kamar dalam klub dan rata-rata kamar yang ada di dalam klub kondisinya tertutup. Biarkan saja orang-orang menyebutnya gila karena mendobrak setiap pintu kamar yang tertutup, apalagi mendengar sumpah serapah yang ditujukan padanya.
BRAK!!
Brian mendobrak pintu kamar terakhir dengan sekuat tenaga. Benar saja. Ia menemukan keberadaan Sera sedang dilecehkan oleh seorang pria dewasa yang cukup membuat Brian mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Lelaki yang tampak tidak asing di mata Brian. Emosi Brian memuncak, ditariknya laki-laki itu dan memukulnya tanpa ampun. Ada untungnya ia meminum alkohol tadi, ia bisa bebas memukul laki-laki brengsek yang akan menyentuh miliknya.
Setelah laki-laki itu terkapar, Brian segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Sera yang mengekspos pangkal paha serta bagian atas dress yang sudah robek menampakkan dada atasnya.
"Ssstt... gue ada disini. Lo bakalan aman," ucapnya lembut. Gadis itu terdiam sejenak di dalam pelukan Brian.
Setelah berniat membawa Sera keluar dari tempat terkutuk itu, Brian sempat merasakan pusing bukan main di kepalanya. Minuman yang ia teguk tadi kenapa bisa mengambil alih pikirannya dan tubuhnya juga tiba-tiba seperti terbakar.
Tidak ingin hal lain terjadi di tempat ini, Brian langsung menggendong tubuh mungil Sera keluar dari klub menuju mobilnya. Kurang dari sepuluh menit, mereka tiba di apartemen Brian.
Sebuah ruangan besar penuh aura lelaki yang kuat terbentang di hadapan Sera ketika tubuhnya yang ramping digendong memasuki kamar. Tubuh gadis itu diturunkan ke atas ranjang besar berlapis satin mewah berwarna hitam.
Gadis itu mabuk hingga lemas. Dressnya telah dilucuti dan Brian dihadapannya telah menanggalkan satu persatu kain Sera dengan tidak sabaran.
"Dibagian mana dia nyentuh lo?" Sera tidak menjawab. Sera justru memancing Brian dengan suaranya yang merdu. Lelaki mana yang bisa tahan. Brian normal dan suara ******* kecil Sera berhasil meracuni pikirannya.
"Brâbrian..." desah Sera berupaya mengumpulkan akal sehatnya. Kedua tangannya menyilang menutupi bagian depan tubuhnya yang hanya memakai bra. Seakan tidak peduli dengan protesnya, kedua lengan laki-laki itu berayun turun menarik tungkai Sera ke tepi ranjang dan membukanya lebar.
Suara pekikan Sera malah membuat Brian semakin menggila. Tubuhnya menindih tubuh Sera. Jari-jari pria itu mencengkram rahang Sera sebelum ******* bibirnya dengan gairah tak tertahan. Bibir Brian hangat dan basah ketika menggulum bibirnya tanpa ampun. Ia merasa mulutnya memar namun kian mendamba.
Tanpa sadar tangannya merambat naik mengagumi keindahan setiap lekuk otot tubuh Brian yang kencang. Brian tidak bersuara ketika melepaskan bibir mereka yang bertaut, tatapan matanya tajam berkabut dan nanar memandangi tangannya sendiri yang menyentuh tubuh Sera dengan gerakan intim.
Napas Sera seakan tercekat di tenggorokan. Ia menahan nafas. Mulutnya membuka ketika sebuah erangan keluar tak tertahan. Jemari Brian menyusuri tungkainya dan membelai bukit kewanitaannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Brian amat menikmati apa yang diperbuatnya pada Sera.
"Kau melakukannya dengan baik, Sera," ucap suara itu dengan nada berat dan serak. Sera tidak pernah membayangkan akan mendengarkan suara ini keluar dari mulut Brian dengan tubuh mereka saling rapat di atas ranjang.
Sera membasahi bibir bawahnya. "Lakukan, kumohon..."
Kemana akal sehat Sera sekarang? Dimana Sera yang pemalu dan suci itu? Minuman keras yang ditenggaknya malam ini telah membuatnya lepas kembali. Kedua tangan Brian menyentak milik Sera dengan kasar. Resleting celana Brian diturunkan. Sera menutup kedua matanya. Tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rasa perih menyayat tubuhnya ketika sesuatu yang besar kembali dan keras menghantam pintu kewanitaannya. Sera memekik kesakitan. Menyadari Sera yang masih perawan, Brian mundur dan memasuki perlahan. Tidak menyerah bahkan tidak ingin menghentikan apa yang mereka sudah mulai, Brian memulai gerakan erotis nya.
"Hentikan, Brian..." Desah Sera dengan putus asa. Ia meremas kuat punggung Brian yang panas menyapu telapak tangannya.
"Rileks, Sera." Suara Brian sama mendesak dengan gairahnya. Meskipun berusaha, Brian kesulitan memperlakukan Sera dengan lembut. Ia terpaksa menahan kedua tangan Sera yang berusaha meloloskan diri dari bawah tubuhnya.
Sera memaki nikmat ketika Bryan memasukinya lagi dengan satu kali dorongan kuat. Nyeri yang awalnya terasa menyiksa berubah menjadi letusan kenikmatan yang mengguncang sekujur tubuhnya. Sera melengkungkan tubuh ketika gairah liar menerjangnya. Hantaman tubuh Brian membuat ranjang bergetar hebat.
__ADS_1
Tubuh Sera menggelepar, mulutnya tidak henti mengerang dan gairah yang tidak sanggup ditanggung. Hingga Brian menarik tubuhnya dari Sera tepat waktu, setetes air mata jatuh dari sudut mata Sera. Begitukah rasanya kehilangan keperawanan? Sakit dan nikmat menyiksa sekaligus.
- to be continued -