
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Anna sudah berada di lorong depan kantor guru. Setiap langkah yang gadis itu ambil banyak pasang mata yang meliriknya. Anna tidak suka tatapan buruk itu. Entah karena panggilan lewat speaker tadi atau karena ia kembali setelah enam bulan tidak menampakkan diri di sekolah. Mata mereka hampir melompat dari tempatnya karena tidak percaya Anna kembali ke sekolah.
Tangan gadis itu terangkat mengetok pintu bertuliskan kantor guru. Saat Anna berdiri diambang pintu, sudah banyak guru memandang kedatangannya dan tidak sedikit guru disana menggeleng-gelengkan kepala melihat Anna. Anna tidak peduli. Ia berjalan ke arah meja dengan papan kecil bertuliskan keuangan disana.
"Selamat pagi Bu," sapa Anna pada Bu Ayu.
"Iya. Selamat pagi, Anna. Duduklah," jawab Bu Ayu melihat sekilas Anna dan kembali dengan kertas-kertas di atas meja beliau.
"Baiklah Anna, seperti yang sudah ibu jelaskan dua hari lalu bahwasanya uang sekolah kamu di semester yang lalu belum dibayar sampai sekarang dan Ibu tidak tahu juga apa yang menjadi alasanmu kenapa hilang selama satu semester ini."
"Kalau tidak salah sebulan lalu ibu dan wali kelasmu pernah datang kerumah, tapi tak ada satupun dirumah saat kami kesana. Kalau ada masalah dirumah, kau bisa cerita pada ibu Anna."
Anna mengembangkan senyumnya. "Tidak ada masalah apapun Bu. Terkait uang sekolah yang memang belum lunas, hari ini saya bayarkan setengahnya dulu Bu. Sisanya akan saya lunasi lagi."
Bu Ayu mengerutkan dahi sembari menatap amplop putih yang Anna ulurkan ke hadapannya. Amplop itu ia dorong kearah Bu ayu. Beliau menatap amplop itu lalu kembali melirik Anna. Walau Anna mendengar beliau mendesah pelan, Anna bisa apa sekarang. Setidaknya setengah uang sekolahnya bisa ia lunasi.
"Dengarkan ibu Anna. Ibu tidak tahu kenapa kamu bisa seperti ini, tapi ibu tidak akan banyak bertanya yang namanya urusan pribadi atau keluargamu sendiri—kalau bukan karena status ayahmu mungkin kepala sekolah sudah lama mengeluarkanmu jauh-jauh hari, jadi surat ini tolong kamu berikan pada ayahmu," kata Bu Ayu sambil mendorong surat bersampul putih padanya.
"...Ibu tunggu kehadiran ayah kamu besok jam sembilan pagi. Banyak harapan ibu semoga ayahmu bisa datang karena bapak kepala sudah meminta ibu tuk menanggung jawabi masalah ini—dan uang ini ibu terima, sisanya ibu kasih waktu seminggu lagi. Kau paham, 'kan?"
"Baik Bu, saya paham. Surat ini akan saya sampaikan juga pada ayah. Permisi Bu..." Anna beranjak keluar dari tempat itu dengan perasaan tak menentu.
Ia berjalan di koridor kelas sepuluh dengan menggenggam surat ditangannya. Kepalanya terus tertunduk sepanjang lorong. Dengan keberanian seperti apa lagi ia memberikan surat ini pada ayahnya? Anna hanya bisa menghela napas sembari menaiki tangga menuju kelasnya.
...🍁🍁🍁...
Sementara di area parkiran sekolah, tidak jauh dari gerbang bagian sebelah kanan--deretan sepeda motor mahal berjejer rapi disana. Tiga laki-laki yang katanya most wanted sekolah ini baru saja tiba dan memarkirkan motor mereka disana.
Di bagian sebelah kanan tepatnya di bawah sebuah pohon rindang—cowok berambut hitam tebal, rahang tegas serta wajah sempurnanya itu tengah melirik sinis pada salah satu temannya.
Siapa lagi orangnya kalau bukan Arkana Malik Arjuna.
Lelaki bernama Sean itu tengah menatap hingar temannya yang begitu bebal mendengar ucapannya. Pemuda yang menjabat sebagai wakil seksi bidang prestasi akademik, seni, dan olahraga di sekolah.
Arkana. Cowok berkulit putih, bertubuh jangkung, hidung mancung dan manik mata berwarna cokelat terang, rahangnya tegas dan alis tebal benar-benar menggambarkan sosok Arkan yang cool dan tampan.
Sayangnya, dari semua keunggulan yang ia miliki, Arkana termasuk cowok yang urakan dan selalu membuat wara-wiri dimana-mana. Datang ke sekolah berpenampilan suka-suka. Tidak jarang guru-guru disekolah memarahi cowok itu.
Berbeda dengan pemuda yang berdiri di sebelah motornya. Satria saqeel Devara. Mengikuti devisi yang sama di sekolah dengan Arkana--dia ketuanya--seksi bidang prestasi akademik dari satu tahun lalu.
Dia anak dari pebisnis terkenal yang memiliki cabang perusahaan dimana-dimana, serta ibunya yang berkarir sebagai guru di salah satu SMA Swasta di luar kota.
"Mulut gue berbusa tiap hari ngomong sama lo ya Ar. Kayaknya gue ngomong pun kurang berguna buat lo dengarin," ucap Sean pada sosok Arkana yang menoleh dan mengerutkan dahi menatapnya.
"Apa masalah lo ngomong gitu sama gue?" Arkana mendelik. Satria yang sudah tau seperti apa kelanjutannya kembali sibuk dengan handphonenya.
"Knalpot motor lo ini apa gak bisa diganti lagi? Lo mau buat gue diceramahi terus sama guru-guru?"
"Ah, sorry mas bro. Gue lupa kemarin gantinya. Lusa kemarin adik gue tanding makenya motor ini. Entar sore gue ganti deh, serius." Sean menaikkan sebelah alisnya, kurang percaya kalau Arkana mengatakan kata keramat itu.
"Seriusan dah. Gue memang lupa gantiinnya. Kenapa lo gak ingatin gue sih, Sat. Lo tadi pagi kan datang ke rumah gue." Satria mendengar namanya dibawa-bawa mengabaikannya dan sibuk dengan ponselnya.
"Sialan lo, Sat!" kesal Arkana.
"Awas ajah kalo gak diganti. Langsung gue kurangi point lo seratus," ungkap Sean tak peduli.
"Anjir! Ngeri bangat. Jangan bawa-bawa point gue lah, Mas Broo. Gue capek banyakin point gue buat dapat hadiah dari Bu Joley lo malah ngurangin."
"Makanya ganti. Stress gue lama-lama ngomong sama lo. Batu bangat kalau dibilangin. Kalau siswa lain liat lo pake ginian ke sekolah gue bisa dibilang pilih kasih!"
"Yaelah gitu ajah lo permasalahin. Entar sore, tar sore gue ganti. Janji dah gue. Kayak cewek ajah gue lo buat ngomong janji."
"Jelas gue permasalahin lah. Knalpot motor ini cocoknya di pakai balapan bukan ke sekolah. Lo kira sekolah ini milik bokap lo."
"Santai ajah kali ngomongnya, jangan nyampe sama bokap gue. Selow. Sama-sama enak kita," kata Arkana yang menunjukkan muka tidak sedap.
__ADS_1
"Gak ada yang enak ngomong sama lo memang. Kalau lo gak mau dengar gue ya terserah lo ajah. Gue cabut dulu. Gue ada rapat dadakan pagi ini."
Setelah Sean pergi, Arkana langsung meninju lengan Satria dengan keras membuat handphone ditangannya hampir mendarat di tanah kalau Satria tidak cepat meraihnya.
"Gegara lo ini. Masih pagi juga udah kena semprot si kutu kupret." Satria hanya berdehem lalu berjalan ke gedung sekolah.
"Lah, tungguin gue anjir. Punya teman gak ada peduli-pedulinya sama gue," cetus Arkana berlari mengejar Satria.
"Sat, Satria bangsat!" panggil Arkana.
"Woi Satria!" teriak Arkana kencang tepat di telinga cowok itu membuat Satria dengan cepat menampol pipinya. Untung tidak keras kalau tak pipi Arkana mungkin akan memerah.
Satria menatapnya. "Panggil gue dengan cara kayak gitu gue habisin lo." Arkana pun langsung terkekeh dan pura-pura menepuk-nepuk pelan almamater yang Satria kenakan.
"Ngomong-ngomong Anna katanya udah masuk hari ini. Gue dengar tadi dari adik kelas kita."
"Terus?" ucap Satria.
"Temanin gue ketemu tuh cewek. Rindu bangat jailin dia kayak dulu," kata Arkana tersenyum lebar membuat Satria pergi begitu saja tanpa ada tanggapan sama sekali.
"Kebiasaan bangat lo Sat kalau gue ngomong lo diam ajah. Kayak sakit jiwa lo...."
...🍁🍁🍁...
Kini Sean sudah berada di koridor kelasnya sendiri. Ia berjalan seorang diri disusul sorak-sorai menyerukan namanya kian menggelegar. Ia tetap tersenyum ramah pada siswa-siswi yang ia lewati dan mencoba menyapanya.
Dengan langkah yang tidak terlalu terburu-buru, cowok itu akhirnya sampai di depan ruangan OSIS. Tangannya berhasil membuka pintu, pandangannya jatuh pada tiga orang yang duduk di kursi paling tengah. Mereka menoleh dengan kompak.
"Panjang umur lo bang, baru juga kita omongin lo udah datang ajah," ucap cowok beralis tebal yang duduk paling pinggir barisan kedua dari depan, panggil saja dia Rio.
"Kemana yang lain? Kenapa hanya kalian bertiga aja disini?" tanyanya menatap ketiga anggota OSIS dari devisi yang berbeda.
"Mereka on the way katanya. Paling juga bentar lagi datang," ucap perempuan dengan rambut kunciran kuda berpitakan pita warna hitam.
Setelah menunggu kurang lebih lima menit, satu persatu anggota OSIS mulai masuk keruangan. Semua anggota OSIS duduk pada tempatnya, mengalihkan semua mata mengarah kedepan dimana Sean berdiri.
"Semuanya sudah ada di ruangan ini?" tanyanya menatap lima belas anggota OSIS dari divisi yang berbeda. Gabriel selaku seksi bidang sastra dan budaya berseru menyahut ucapannya.
"Arkana sama Satria belum hadir bang. Tadi gue lihat mereka di kantin dekat parkiran."
"Oke. Sebelumnya gue minta maaf karena mendadak pagi tadi kasih kabar buat kita rapat osis sekarang. Kita lanjut pembahasan kita yang sempat tertunda."
"Bagaimana dengan proposal yang gue minta untuk dikerjakan kemarin? Sudah selesai? Bendahara Osis dimana? Diandra mana, Diandra?"
"Disini Kak." Diandra yang dipanggil mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Laporan keuangan untuk tiga bulan terakhir sudah saya rekap dan ini pembukuannya Kak."
"Coba bawa kemari, Diandra." Diandra bangkit dari duduknya lalu melangkah maju menghampiri Sean. Ia mengulurkan buku besar itu ke arah Sean. Cowok itu langsung meraihnya dan menatap sebentar jumlah uang yang tercatat disana.
Sean sekilas terlihat menggelengkan kepala menatap bendahara OSIS yang ia pilih langsung. "Selesai rapat gue perlu ngomong sama lo ya."
Gadis berwajah oval di depannya mengerutkan dahi. Apa kesalahannya? Semua pasang mata di sana menoleh padanya seolah berkata, 'lo buat salah apa lagi kali ini?'
"Lo bisa balik duduk, tapi duduk disamping Gabriel ajah," kata Sean dan langsung dituruti gadis itu duduk di sebelah Gabriel.
"Lo ada salah sama Kak Sean?" bisik Gabriel setelah ia duduk disebelahnya.
"Engga tau. Tapi semalam udah gue cek lagi kok gak ada yang salah sama yang gue kerjain."
"Ya udahlah gak papa," ucap Gabriel seraya menepuk pundak gadis itu pelan.
"Disini gue lihat masih ada dua kelas yang belum lunas iurannya. Ini gimana kejelasannya?" Diandra menggaruk kepalanya dengan pensil ditangan.
"Itu kak—mereka gak mau bayar karena gak ada uang katanya. Sebenarnya itu bukan sekali dua kali Kak, dibulan Juli juga kelas itu selalu lama bayar Kak, alasannya juga sama terus."
"Alasan itu. Padahal minggu lalu kelas ini yang maksa biar PENSI nya dipercepat. Giliran uang iuran ditagih banyak alasannya ya," balas Sean sedikit jengkel.
"Proposal untuk kita kasih sama Pak Atmaja mana? sudah selesai?" ujar Sean kembali. Segala pekerjaan masing-masing panitia pentas seni ia sebutkan satu persatu dari depan.
"Mana orangnya ini?" seru Sean kembali. Kali ini suaranya agak meninggi membuat semua panitia terkejut.
"Bukannya Ghea ya yang urus masalah proposal kemarin saat kita jumpa di cafe minggu lalu," kata Tania pada teman disebelahnya.
__ADS_1
"Seingat gue juga dia yang diminta ngerjain."
"Itu tuh dia. Duduk paling depan tapi pura-pura gak dengar."
"Orang lagi diskusi dia entah ngapain."
"Gak heran sih."
"Lo semua dengar gue ngomong gak? Mana yang ngerjain proposalnya?!" celetuk Sean mulai kesal. Lagi mode serius jadi senggol sedikit dia bakalan ngamuk.
"Ghea yang mengerjakan proposalnya, Sean. Itu dia tuh, sibuk main handphone. Orang-orang udah tegang dia mah santai ajah," ujar Tania dari barisan paling belakang. Perempuan itu melirik sinis ke arah Ghea.
Sean yang mencari keberadaan Ghea pun langsung mengerutkan dahi melihat gadis itu masih fokus dengan ponsel ditangan--mengabaikan keadaan yang sedang terjadi di ruangan itu.
Sementara Ghea yang sedang dibicarakan tidak bergeming sama sekali. Matanya tetap fokus pada ponselnya. Sampai gembrakan di atas meja mengangetkannya juga anggota OSIS lainnya. Mata gadis ity langsung beradu dengan manik hitam Erlangga. Cowok itu berdiri di sisi meja di hadapan Ghea.
"Mana proposalnya?" Sean mengulurkan tangannya di depan wajah Ghea. Ghea yang sama sekali tidak mengerjakan apa yang ditugaskan menggulum bibirnya.
"Oh, proposal... pro-proposalnya.. anu... G-gue..."
"Belum selesai?" potong Sean dan Ghea langsung mengangguk cepat.
Sean menghela napas panjang sambil berkacak pinggang. Waktu mereka sudah tidak banyak. Proposal belum siap. Uang iuran bulanan belum lunas. Sebenarnya bagaimana?
"Apa diantara kalian semua tidak ada yang bisa bantu Ghea ngerjain proposal ini dari kemarin?" berang Sean.
Tania mengangkat tangannya tinggi. "Instruksi ketua OSIS. Kita bukan tidak mau membantu. Ghea itu kan orangnya terlalu percaya diri, jadi kemarin kita udah nawarin bantuan tapi dia tetap ngotot bisa ngerjain sendiri. Alhasil, dia gak ngerjain kita juga yang ikut salah."
Tania tersenyum miring menatap Ghea yang menatapnya benci. Sean pun terdengar berdecih pelan.
"Kali ini gue maklumi kesalahan lo. Satu jam sebelum pulang sekolah nanti proposal itu sudah ada di tangan gue. Gue ngga mau tau gimana pun caranya itu harus selesai hari ini," ujar Sean dan diangguki Ghea.
"Kesimpulan rapat kita hari ini, tolong setiap kegiatan yang akan diselenggarakan diumumkan ke setiap kelas. Satu kegiatan bisa diikuti tiga atau lima orang. Laporkan semuanya ke ketua pentas seni pas jam istirahat kedua."
"Tapi Kak, Kak Arhan lagi gak masuk hari ini. Katanya dia sakit," ujar Diandra--bendahara OSIS. Arhan Ketua pentas seni yang bertanggungjawab secara keseluruhan terkait kegiatan acara tersebut.
"Kasih ke gue laporannya biar gue yang kasih ke dia pulang sekolah nanti. Sekian rapat kita pagi ini, terimakasih atas kerja samanya."
Semua anggota OSIS kecuali Diandra dan Tania beranjak dari tempat. Mereka langsung bergegas menuju kelas masing-masing. Diandra merasa gugup ketika Sean menatapnya lekat. Cowok itu berjalan ke arah meja yang ia tempati.
"Kenapa bisa salah begini?" Sean menjatuhkan laporan ditangannya ke atas meja. Ia melipat tangan di depan dada. Telunjuknya menunjuk laporan.
"Sekali liat ajah gue pastiin laporan lo ini udah salah. Coba liat Tan," ujar Sean melirik Tania.
"Udah gak papa. Namanya juga bendahara pasti ada kesalahan sedikit. Gak melulu benar terus, kan."
"Justru itu..." balas Sean sengit. "Karena dia bendahara harusnya lebih teliti, itu kan tugasnya dan jurusannya juga!"
"Udalah ah. Diandra lo pilih jadi bendaraha OSIS kan karena kemauan lo juga. Jangan salahin dia sepenuhnya. Emangnya lo pikir jadi orang yang tiap hari megang uang enak?"
Tania menepuk pundak gadis disebelahnya. "Anna teman sekelas lo, kan? Minta tolong sama dia ajah buat periksa laporan ini. Dia mahir kalau soal hitung-hitungan begini. Gue lihat juga dia udah kembali sekolah."
"Iya Kak. Nanti Diandra tanyakan. Kalau gitu saya permisi Kak. Sekali lagi maaf ya Kak Sean, permisi..." Perempuan beranjak keluar dari ruangan osis.
Tania yang bersandar di kursi kayu sambil tangan terlipat di dada menarik napas panjang ketika Sean mendekat kepadanya. Tubuh mereka hanya berjarak dua jengkal saja. Satu tangan Sean terangkat di sis kepala Tania.
"Gue dengar Anna udah balik sekolah. Lo gak mau ketemu sama dia? Entah kenalan gitu siapa tahu dia bisa kenal lo karena lihat muka tampan lo ini."
Tangan Sean yang sempat berada di belakang telinga Tania, mengelus pipi perempuan itu lembut langsung turun ke samping celana abu-abunya.
"Dia pasti gak ingat sama gue. Gak perlu juga cari masalah terus."
"Coba dulu temuin dia baru ngomong pelan-pelan. Lagian Anna baik kok orangnya," ucap Tania meyakinkan Sean yang mungkin ini lah awal pertemuan mereka nantinya.
"Saat ini Anna butuh kita dan semakin lo ngulur waktu kesempatan itu ngga akan datang lagi. Lo ngga dengar gosip di sekolah ini. Bagaimana mereka semua memperlakukan Anna sejak setahun lalu."
"Lo udah sehat, kan?" ucap Sean mengalihkan pembicaraan.
"Jangan alihin permbicaraan. Temui dia sekarang, ya?" kata Tania. Bukannya menjawab, Sean justru berbalik badan ke arah meja dimana tasnya berada.
Cowok itu menyusun semua dokumen penting diatas meja lalu memasukkan ke dalam tas. Setelahnya, Sean berjalan melewati Tania hingga pintu ruang OSIS terbantik sedikit keras.
__ADS_1
"Cuman lo yang bisa bantu Anna Sean. Lo yang dia punya saat ini. Kalau lo masih diam di tempat, Anna akan menderita selamanya..."
- to be continue -