In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 50


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Cinta satu malam tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Maksudnya, di usianya yang masih terbilang muda, walau sekalipun ia terlihat ganjen kepada teman laki-laki di sekolahnya, jauh dalam hati gadis itu ia tidak ingin melakukan hal yang tidak bukan bukan tanpa ikatan pernikahan.


Keterkejutan melintas di wajah Sera ketika ia sadar dirinya berada dimana dan apa yang semalam sudah terjadi? Namun siapa sangka, ajakan pacarnya justru membuat gadis itu ingin menghilang saja dari dunia ini.


Mata kecoklatan tampak menghiasi wajahnya yang bulat. Ia mengerjakan matanya untuk menghalau sinar lampu dan rasa pusing yang mengganggu. Tubuh mungil itu bangkit dari tidurnya. Ia mendudukkan diri sambil bersandar pada kepala ranjang.


Awalnya ia melihat ke sekeliling ruangan dengan bingung—bingung karena ia tidak tahu ia ada di mana karena semuanya tampak terasa asing.


"Di mana ini?" gumamnya berharap ada yang menjawab. Sera memperhatikan tubuhnya, kepalanya masih agak linglung untuk menyadari apa yang sudah terjadi padanya. Mungkinkah dia semalam mabuk?


Oh, dia tidak pernah mabuk sampai kehilangan ingatan seperti ini. Jika tidak demikian lalu apa penyebabnya?


Matanya membulat ketika ia menyadari bahwa tubuhnya telanjang di balik selimut. Untuk sesaat dia tidak bergeming, mencoba kilas balik malam tadi atau entah kapan—yang menyebabkannya seperti ini. Tangannya bergerak memegang kepalanya yang terasa nyeri. Baiklah, ini sudah cukup, dia tidak akan berpikir terlalu keras sekarang.


Tangan kirinya masih sibuk memegangi kepalanya sedangkan tangan kanan turun untuk menyibakkan selimut dan ia lebih terkejut lagi ketika melihat banyak bercak darah tersebar secara acak di atas sprei berwarna putih tulang.


"Sialan!" umpatnya meremas kuat selimut putih di atas pahanya.


Sera langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, merogoh tas bahunya, berharap menemukan sesuatu di sana. Sebuah ponsel. Sialnya lagi batre ponselnya habis.


Sera memakai pakaiannya dengan terburu-buru, tidak menyadari pakaian tersebut sudah tak berbentuk dan kusut luar biasa. Ia berjalan ke arah pintu kamar dan membuka knopnya, sepi, ya karena lorong hotel memang selalu sepi.


Ketika ia sudah berada di lobby, seorang pelayan menghampirinya. "Non Sera, ya?" tanya wanita yang wajahnya sudah berkerut.


"Ya. Ada apa?" jawabnya sedikit terkejut.


"Ini untuk anda Nona. Tuan Brian memberikan ini untuk nona."


"Brian? Dimana dia sekarang?!" cetus Sera lantang membuat wanita tersebut mengerjapkan matanya karena terkejut. "Setelah apa yang terjadi dia malah meninggalkanku begitu saja?"


"Maaf, Nona. Saya tidak tahu Tuan Brian pergi kemana selepas memberikan ini pada saya. Bibi hanya diminta memberikan uang ini pada Nona."


"Argh! Sialan kau Brian..."


...•••...


Dua minggu kemudian.


"Gue mau kasih hot news buat lo semua, mumpung lagi enak gosip gue," ujar Ria pada ketiga temannya. Mereka sedang ada di ruangan kelas. Menghabiskan waktu istirahat jam kedua yang tersisa dengan mengobrol hal-hal yang tidak menarik perhatian Anna.


"Berfaedah gak sih? Kalo kagak mending lo gak usah cerita deh," balas Bian.


"Tenang, tenang. Ini bukan sembarang gosip. Gue udah cari tau sendiri dan ini benar-benar fakta terupdate. Ragu sih ceritain ini sama lo semua tapi karena gue ngga ingin gosip ini disimpan rapat terus gue bakalan kasih tau," ujar Ria tersenyum miring menatap satu persatu temannya.


"Dekat, dekat sini," ujar Ria mengerakkan jari tangannya ke depan teman-teman.


Yesi, Kinara, Bian mencondongkan sedikit tubuh mereka, sedangkan Anna yang masih merasa badannya sedikit kurang enak hanya memajukan wajahnya beberapa senti saja.


"Jangan kaget ya—Sera hamil dan itu anaknya Brian," celetuk Ria membuat Anna yang fokus seraya menyeruput nurdinnya langsung tersedak.


Kinara dan Yesi ikut terkejut melihat Anna terbatuk-batuk. Kinara langsung meraih tissue di atas meja dan memberikannya pada Anna yang masih terbatuk. Sementara Yesi membantu gadis itu dengan menepuk-nepuk pelan punggung Anna.


"Baru juga kabar begituan udah kesedak aja Na. Gimana kalo kabar ter-hot yang lain, gue rasa lo pingsan benaran."

__ADS_1


"Santai, santai. Ini masih kabar biasa. Ini kabar memang bisa buat senam jantung, wkwkwk. Gue sekarang mau nungguin keputusan kepala sekolah sih. Dengar-dengar kalau gosipnya sampai ke kepsek pelakunya bakal dikeluarin dari sekolah."


"Dapat kabar begituan darimana lo? Jangan ngadi-ngadi deh Ri. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," kata Bian menyadarkan punggungnya di badan kursi.


"Tau tuh. Bisa-bisa lo kena pidana karena ngerusak nama orang," ucap Yesi menimpali.


"Yaelah. Lo semua raguin gue, ya?" ucap Ria.


"Ngga raguin lo kok, cuman—"


"Sama ajah, gila! Kalau gak percaya ya gak papa, toh bentar lagi gak bakalan lama semuanya bakalan ketahuan. Gue cuman takut si Brian gak ngakuin bayi di perutnya Sera. Kasian bangat tuh cewek freak!!"


"Ngga heran sih lihat dia. Ngapain ajah pun dia pasti mau. Bentar lagi Brian bilang tuh bayinya di gugurin pasti Sera bakalan mau. Rusak memang. Circle dia sih kayak sampah ... kasian."


"Jangan ngomong gitu Ria," kata Anna menegur.


"Kenapa? Biarin ajah lagi Na. Kalau Sera mah gak usah heran lagi."


Dering suara ponsel dari saku roknya membuat Anna langsung merogoh roknya dan menatap layar ponselnya. "Sebentar ya, gue angkat telepon dulu."


"Ini kabarnya yakin cuman lo doang yang tau?" kata Kinara dan diangguki langsung oleh Anna.


"Salah sendiri. Dia ngecek kandungan di tempat Tante gue. Semalam Tante gue nelpon dan bilang kalau salah satu teman sekolah gue ada yang udah berisi. Gue kan yang kepo langsung nanya dong namanya."


Bian, Yesi dan Kinara pun mengangguk paham. Ternyata kabar itu tidak mengandung kebohongan tapi sudah lengkap dengan barang buktinya.


Sedangkan Anna pergi ke bagian belakang kantin. Namun, ponselnya sudah berhenti berdering sebelum Anna menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Kenapa dimatikan, sih?" gumamnya sebal. Ia langsung membuka WhatsAppnya. Di sana ada sebuah pesan di bagian paling atas beranda chat nya.


Abang :


"Kenapa ayah jadi berubah begini?"


Abang :


[Kamu gimana? Sekarang keputusan ada di tanganmu dek. Kalau masih mau tinggal sama ayah, Abang kasih waktu dua minggu saja, tapi kalau ayah masih gak berubah Tante Sekar langsung yang akan jemput. Setuju?]


Iya Bang. Anna setuju.


Sent.


Anna mematikan layar ponselnya dan hendak kembali ke meja. Tepat saat seorang murid perempuan dengan nampan berisi makanan berjalan di belakangnya dan Anna hampir menabraknya—sosok bertubuh tinggi dengan memakai almamater OSIS menarik tangannya keras membuat Anna menubruk dada bidang cowok itu.


Sosok berbadan tegap ada di hadapannya dan orang yang baru saja menghindarkannya dari kecelakaan kecil di kantin.


"Kak Sean."


Anna tidak percaya Sean kembali menolongnya. Cowok itu melihat kedua bola mata Anna yang begitu bulat berkilau dan indah.


"Ngelamunin apa sampai ngga lihat jalan? Kalau kuahnya jatuh lo pasti kenapa-napa," kata Sean melepaskan tangannya dari lengan Anna.


Sean melihat kedua bola mata itu bergerak kesana-kemari. Selama Anna berdiri di hadapannya, Sean justru memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuat dirinya sendiri juga masih merasa tidak menyangka saat dimana ia menemukan fakta tentang Anna lewat ponsel ayah gadis itu beberapa hari yang lewat.


"Kebiasaan lo bangat ya Na cari masalah. Beruntung Kak Sean cepat narik tangan lo. Kalo ngga seragam lo bakalan kotor dan lo kena maki sama kakak kelas lo sendiri," ujar Arkana.


Setelah kejadian itu Sean dan teman-temannya pada akhirnya ikut bergabung di meja yang sama dengan Anna dan tiga temannya.


Melihat Satria ada di meja yang sama dengan mereka, Ria terus saja menutup bibirnya rapat--biasanya ia yang paling cerewet tapi karena Kinara memaksa Ria duduk didekat Satria beginilah jadinya. Dia seperti batu dan mata memperhatikan keadaan sekitarnya. Ria merasa seolah energinya terkuras habis karena sosok Satria yang ketepatan memilih duduk di sampingnya. Dia diapit Arkana dan Satria.

__ADS_1


"Boleh ngobrol sebentar pulang sekolah nanti?" kata Satria menoleh pada Ria dan berbisik pelan pada gadis itu. Ria yang terkejut karena wajah Satria begitu dekat dengannya merasa gugup betul.


"N—ngobrolin apa?" ucap Ria gugup. Ia berusaha menahan sekuat mungkin menatap mata Satria yang memandangnya. Aneh, tapi benar jantung gadis itu berdegup kencang saat ini.


Ria sebenarnya canggung duduk di dekat Satria. Ini pertama mereka saling duduk dengan lengan yang saling bersentuhan. Aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh Satria benar-benar membuat Ria nyaman dan tenang.


"Gue mau ngajak lo jalan-jalan ke taman pulang sekolah nanti. Lo mau, gak?" Tanpa banyak berpikir seperti perempuan lainnya, Ria mengangguk dan membuat Satria tersenyum manis kearahnya.


Kenapa ia baru sadar kalau netra Satria berwarna cokelat terang dan begitu indah ditatap. Pantas saja semua siswi di sekolah ini selalu menggilainya.


"Iya-in ajahlah Ria. Masa ajakan Kak Satria gak lo mau-in. Rezeki tuh," seru Kinara tiba-tiba. Tanpa sadar semua pasang mata yang ada di meja itu mengarah kepada mereka berdua.


"Cie... yang mau ngedate nih. Kiw kiw kiw..." ledek Arkana membuat Satria menggaruk leher belakangnya karena merasa malu dan tertangkap basah.


Apalagi Sean--cowok yang mendukungnya sejak awal kini senyum-senyum menatapnya membuat Satria seolah merasa diledek tertangkap basah.


Bunyi bel masuk pergantian pelajaran membuat seisi meja itu langsung keluar dari tempatnya. "Jam 4 sore ya. Gue tunggu di depan rumah lo," kata Satria langsung melangkah pergi bersama kawanannya. Cowok itu di rangkul Sean sembari senyum-senyum tak jelas.


"Sejak kapan lo dekat sama Satria?" ujar Anna menepuk bahu gadis itu pelan.


"Hah? Engga ah. Baru juga tadi kita ngobrol. Belakangan ini gak ada sama sekali."


"Yakin?" ujar Anna.


"Iya Na. Lagian dia ngapain sih kayak buru-buru amat ngajak jalan."


"Iya gak papa dong. Itu malah lebih baik. Entar lo diambil orang kan sayang." Karina menimpali membuat Ria tersenyum tipis.


"Gimana lo sama Kak Sean?" Kali ini Kinara yang bertanya kepada Anna. Gadis itu langsung syok mendengarnya


"Gue? Engga ada yang spesial tapi sejak gue dirawat di rumah sakit seminggu itu gue jadi ada hubungan dekat sama dia. Hubungan kakak adek doang."


"Lo anggap dia sebagai Abang lo?" Anna menganggukkan kepalanya sambil mengulas senyum.


"Karena kalau diingat-ingat lagi kalau setiap kita jumpa dia selalu bilang 'lo masih ngga ingat gue? Lo mau ngga jadi adik perempuan gue? Dari situ gue anggap dia jadi Abang gue dan gak pengen lebih. Ngga ada rasa suka juga."


"Sekalian jalan kita ngobrol," kata Kinara menggandeng lengan milik Yesi keluar dari kantin yang sudah mulai sepi.


"Gue ngga percaya kalau lo ngga naruh hati sama Kak Sean. Seganteng itu lo mau jadi adek tuh cowok—kayak ngga masuk akal. Dan ya, secara tiba-tiba dia ngomong gitu. Apa memang benaran lo adiknya, Na? Muka lo juga mirip-mirip sama Kak Sean..."


Anna menghentikan langkahnya. Ketiga temannya langsung melirik dirinya dengan dahi mengerut.


"Awalnya juga gue ngerasa kayak gitu dan wajahnya Kak Sean ngga asing juga gue lihat. Makanya pertama dia datang ke sekolah, gue kok ngerasa kenal gitu. Tapi, yaudalah. Apapun itu nantinya gue terima-terima ajah."


"Malahan bagus Na. Kalau memang Kak Sean benaran Abang lo. Tapi—"


"Udah ah ngga usah dibahas lagi. Suka bangat jadiin hidup Anna sebagai bahan obrolan," sela Yesi melanjutkan kembali langkahnya. Begitu juga ketiga temannya berjalan beriringan di koridor kelas.


"Bokap masih sering marah sama lo?" tanya Kinara. Sesekali gadis yang menguncir rambutnya tinggi itu berpitakan pita berwarna biru melirik Anna.


"Ngga lagi. Karena sejak dari rumah sakit gue ngga pernah liat bokap lagi dirumah. Pas gue berangkat sekolah, bokap gue udah gak ada. Gitu juga pas malam, Bi Rina bilang sekalinya pulang bokap langsung ke kamar."


"Gak ada dendam kan sama bokap?"


"Ya engga lah. Masa gue dendam. Kalo lo tanya sakit hati, ya pasti sakit hati itu ada. Tapi yaudalah, gue udah maafin bokap gue kok."


"Baik bangat sih," ujar Kinara menempeli sisi wajahnya di lengan Anna. Sementara Anna yang geli justru menggeleng heran karena kelakuan absurd Kinara yang tidak terduga.


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2