In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 47


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Sore ini sekitaran pukul tiga lewat sepuluh, sekembalinya Sean dari sekolah--pulangnya cowok itu tidak sendirian melainkan bersama Satria, Rogan, Davian dan Arkana. Mereka saat ini tengah berada di kamar Sean. Arkana sibuk mengacak-acak kamar Sean, mencari sesuatu ya g mengundang rasa jengkel di wajah Sean.


Satria dan Davian sibuk bermain PS sementara Rogan sendiri berbaring tengkurap di atas kasur bersama dengan dunia mimpinya. Sean terdengar menghela napas panjang sembari duduk diantara kedua temannya— menonton keributan yang tidak berhenti sejak mereka bermain ps.


Sean pemilik kamar tapi seperti orang asing di kamar sendiri. Apalagi Rogan, cowok itu tidak mau tidur di sofa dan memaksa tidur di ranjang king size milik Sean.


"Anjir. Lo main curang, goblok!! Setan ya lo, Satria," cecar Davian berbicara lantang, mengumpat Satria begitu saja.


Sialnya lagi makian itu justru mengarah pada Sean yang kebetulan berada di sebelahnya. Entah apa yang ia pikirkan siang tadi membawa para makhluk sialan itu datang kemari.


"Budeg ya gue lama-lama dekat sama lo. Ini kuping bukan batu, njir!" ucap Sean melirik tajam ke arah Davian lalu menyandarkan punggungnya ke pinggir tempat tidur.


"Bilang ajah lo gak tau main. Malah nyalahin gue..." sahut Satria cuek kepada Davian.


"Enak ajah lo ngomong gitu, jangankan soal gue, Ria juga bisa gue rebut dari lo!"


"Bacot!"


Disaat mereka masih saling bertengkar, tiba-tiba saja pintu kamar Sean terbuka lebar, mereka yang di dalam spontan terdiam dengan kepala menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Sean...."


Seorang wanita paruh bayah berdiri di ambang pintu menatap ke arah Sean berada. Bukannya mereka menonton film horor tapi keadaan satu menit itu cukup menegangkan untuk mereka.


"Bunda... ada apa, Bun?" tanya Sean bangkit lalu berjalan ke arah pintu. Berdiri dihadapan wanita yang jadi sumber bahagianya selama ini.


"Ada telepon untukmu itu dibawah. Bunda tanya namanya, dia tidak mau menjawab. Makanya Bunda kemari. Kamu coba angkat sana mungkin ada yang penting."


"Teleponnya masih tersambung. Kamu ke bawah saja sana. Bunda pikir itu seperti suara wanita dewasa..."


"Wanita dewasa ya, Tante.." cengir Rogan dari dalam kamar.


Sean yang merasa seperti dicurigai langsung berkata. "Gue gak seperti yang lo semua pikirkan. Selera gue beda."


"Ya udah sono lo angkat. Keburu mati tuh teleponnya," ucap Arkana.


"Kalau kalian mau makan siang, makan ajah ya. Tante udah siapin makanan untuk kalian dari tadi. Ada juga cemilan sama minumannya di atas kulkas. Have fun ya... eh, jangan sampai berisik ya."


"Beres Tan. Makasih banyak ya Tante..."


"Iya iya. Jangan sampai gak makan ya. Tante kebawah dulu."


Sean turun bersama Bundanya. Telepon rumah yang diletakkan tidak pada tempatnya langsung ia sambar dan didekatkan ke telinga.


"Halo?" sapa Sean pada sosok di seberang sana. Ia berbicara dengan dahi berkerut sembari sesekali melirik Bundanya yang masih setia menunggunya menyelesaikan telepon tersebut.


"Baik, Tante. Besok siang saya akan ke sana," jawabnya singkat. Setelah itu, panggilan berakhir dan Sean duduk di sofa bersama dengan Bundanya yang sedikit penasaran dengan apa yang mereka bicarakan lewat telepon barusan.


"Benar yang Bunda katakan kan kalau orang itu wanita dewasa. Kamu memanggilnya dengan Tante. Kamu mengenalnya?"


Sesaat setelah Sean meletakkan telepon genggamnya di atas nakas, ia menatap meja kaca di hadapannya dengan tatapan kosong.


"Sean? kamu bisa dengar Bunda?"


"Kenapa kau jadi melamun? Kau tidak dengar apa yang Bunda katakan barusan?"


"Bunda mengatakan sesuatu?"


"Kamu ini. Kenapa melamun? Apa yang orang itu katakan?"


"Tidak ada, Bun. Dia orangtua salah satu teman Sean. Katanya anaknya sampai sekarang belum pulang."


"Benarkah ? Kasian sekali ibunya, dia pasti sangat khawatir anaknya belum pulang. Tapi tadi Bunda dengar—"


"Sean ke kamar dulu ya Bun. Ada urusan sesama laki-laki yang perlu dibahas. Nanti malam kita ngobrol lagi Bun."


"Oh yasudah, tidak apa-apa. Bunda juga ini mau pergi ada arisan di komplek sebelah. Kalau mau keluar jangan lupa kunci rumah ya," balas Angelica, Bundanya.


"Iya Bun. Hati-hati ya..."


Wanita itu menaruh sedikit rasa curiga tapi mengingat Sean tidak pernah berbohong padanya membuat Angelica membuang kecurigaan itu. Sesampainya ia di dalam kamar, Sean langsung duduk dengan kaki di luruskan dan kepala bersandar di kepala ranjang.


"Siapa wanita dewasa yang baru lo angkat panggilannya?" tanya Arkana.


"Kalau gue bilang lo semua gak bakalan percaya."

__ADS_1


"Misterius amat yang nelpon lo," kata Rogan.


"Kapan-kapan gue bakalan cerita tapi bukan sekarang..."


"Yaelah si kamvret! Mending lo gak ngomong tadi kalau bikin gue penasaran gini ujungnya," cecar Rogan kesal.


Drrrtt!


Drrrtt!


"Hal—" Belum juga ia menyelesaikan sapaannya, ibunya Davian sudah memotong ucapannya.


"Kau dimana, Davian? Jangan bilang pada ibu kamu nongkrong lagi sampai tidak ingat pulang. Pulang sekarang! Dasar anak--"


Tut! Davian mematikan telepon ibunya begitu saja. Ia berdecak kasar sesaat setelah mematikan sambungan telepon sepihak.


"Anak kurang ajar ya..." sambung Rogan terkekeh. Ia tersenyum miring menatap Davian ya g tampak sedang kesal.


"Sialan lo!" seru Davian kepada Rogan.


Rogan mengenalnya selama bertahun-tahun, jadi Rogan sudah tau jelas bagimana bahasa ibunya ketika memarahi temannya itu. Pulang dari tempat ini Rogan bisa tebak, Davian akan bonyok-bonyok karena emaknya.


"Nyokap lo lebih garang ya dari Bu Cindi. Sadis amat ngomongnya," ucap Arkana.


"Biasalah. Emak-emak semakin di depan. Kalau mau tempur, emak gue cocok bangat dijadikan pion di barisan paling depan," kata Davian. Anak durhaka memang dia menjadikan ibunya sebagai tameng.


"Gue cabut duluan ya. Lo gimana Gan belum balek juga, biar kita sama pulang."


"Duluan ajah lo. Entar emak lo ngamuk lagi kaya kemarin."


"Ok. Gue duluan ya..."


"Hati-hati lo," seru Satria.


"Thanks. Gue cabut dulu."


...•••...


Setengah perjalanan pulang, bukannya mempercepat laju motornya agar tiba di rumah tepat waktu, Davian justru menghentikan motornya mendadak, menimbulkan suara decitan keras di tengah jalan.


Hampir saja ia menambrak tubuh gadis di depan motornya kalau Davian tidak cepat menarik rem motornya.


"Kalau mau mati jangan di jalan!" umpatnya dari atas motor kepada gadis yang terduduk di aspal.


Di saat ia berjongkok di hadapan gadis itu, spontan tangannya di cengkram kuat membuat Davian menepisnya kasar.


"Lo apa-apaan sih?" serunya menatap tajam pada gadis tersebut.


"T—tolongin gue. Mereka mau bunuh gue," ujar perempuan itu lalu detik kemudian mendongakkan kepalanya menatap Davian.


Beberapa detik mereka saling beradu pandang sampai pada akhirnya Davian terduduk di aspal saking terkejutnya ia melihat gadis yang selama ini dianggap menghilang, tak ada kabarnya justru berduduk di hadapannya.


"Theresia? Lo k—kenapa ada disini?" Davian menyentuh kedua lengannya dan sesekali memperhatikan keadaan sekitar.


"Ikut gue."


...•••...


Davian melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar tidak jauh dari kamar yang ia tempati. Pemuda itu sedang ingin melihat keadaan gadis di dalam sana. Langkahnya terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka, dimana di sana ia melihat gadis itu terduduk dengan kaki bersilang di lantai. Davian tersayat ketika melihatnya.


Rambut hitam legamnya yang sekarang sudah tidak seindah dulu. Sama seperti tubuhnya yang kurus kering seolah tidak pernah mendapat asupan yang cukup. Melihat gadis itu, apa yang harus pemuda itu lakukan sekarang? Apa ia harus memberitahu Sean atau tidak sama sekali?


"Maaf ya Dav udah ngerepotin lo," ucap Theresia tanpa menoleh kearah belakangnya.


Davian yang sudah ketahuan memperhatikannya mau tidak mau melangkah masuk membuka pintu itu lebar. Pemuda itu duduk di sisi ranjang sambil manik matanya menatap sosok Theresia yang bahkan tidak berbalik memandangnya.


"Kalo gue ingat yang dulu. Gue kayaknya jahat bangat ya sama lo."


"Lupain. Gak perlu lo bahas itu sekarang. Kesembuhan lo lebih penting dan gue ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Davian membuat helaan napas dari gadis di depannya terdengar berat.


Theresia melirik dengan ekor matanya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berbalik badan menatap Davian. Pakaian tidur yang masih melekat di tubuhnya benar-benar membuat Davian tidak percaya. Theresia dengan tubuhnya yang seperti tulang.


"Lo dimana selama ini? Kemana Theresia yang gue kenal yang selalu buat onar di sekolah dulu. Kenapa lo jadi kayak gini? Sadar gak sih tubuh lo gimana sekarang."


"Ck! Maaf kalo gue kelepasan ngomongnya. Gue ngomong sesuai dengan apa yang gue lihat."


"Gak papa. Gue boleh duduk di dekat lo?" tanya Theresia. Dan suara itu begitu lembut memasuki indera pendengaran seorang Davian.


"Kenapa, ngga? Lo meluk gue ajah gue ngga bilang apa-apa." Davian bergeser sedikit, mempersilahkan Theresia duduk di dekatnya.


Pemuda itu rasa sudah saatnya gadis di sampingnya ini mengatakan sebenarnya. Karena sejak mereka bertemu Davian terus mendesak Theresia untuk bercerita

__ADS_1


"Gue harus mulai dari mana?" tanya Theresia sambil menatap objek di depannya.


"Terserah. Gue bakalan dengarin apa pun yang lo katakan."


"... Setahun lalu gue Theresia yang paling dihormati dan jadi primadona Starlight High School. Punya pacar namanya Dean. Laki-laki yang jadi idaman semua perempuan di sekolah kita Dav. Tapi dari semua itu, Dean jadi pacar gue lebih menyukai adik kelasnya sampai dia putusin gue."


"Semua orang tahu, kalo gue bukan orang yang suka berbagi, apalagi berbagi orang yang gue cintai. Disaat bersamaan, kabar Dean yang menerima perasaan adik kelasnya buat gue marah dan pengen habisin adik kelas itu."


"Gue terobsesi dengan Dean, Dav. Gue cinta mati sama dia. Lo tahu kan masa kelam gue juga sama beberapa cowok di sekolah."


Davian berdehem. Siapa yang tidak mengenal Theresia. Gadis yang selalu jadi bahan giliran cowok-cowok di sekolah. Ia salah satu siswa yang paling sering digodain kaum laki-laki.


"Dua hari sejak mereka pacaran, Dean datang ke gue dan bilang ingin balikan lagi. Gue dengan senang hati menerimanya kembali. Sampai disaat Dean ngajak gue ke sebuah club malam, gue ngga tau kalau minuman itu di campur sesuatu."


"Sebagai laki-laki yang normal lo pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Theresia.


Menjelaskan apa yang terjadi matanya mulai berkaca-kaca. Davian yang duduk di sampingnya terus mendengarkan tanpa menolehkan pandangannya ke arah lain.


"Gue digilir beberapa pria malam itu. Gue gak bisa hitung. Gue cuman bisa lihat kalau malam itu Dean duduk di sofa samar-samar sambil menghitung banyak uang diatas meja. So pasti, dia terima uang dari hasil—"


Theresia mengusap wajahnya kasar. Bulir air matanya terjatuh di pipi. Dadanya naik turun mengingat kejadian itu. Ia kembali menarik napas dalam.


"Sebulan kemudian gue menghilang dari sekolah. Gue gak pernah menampakkan diri di manapun karena—" Theresia menahan ucapannya.


"Karena gue hamil Dav, gue hamil. Dean gak mau tanggungjawab dengan janin yang ada di kandungan gue."


Davian terbelalak. Matanya memang tidak menatap Theresia berbicara tapi pikirannya berputar mencerna pembicaraan mereka sekarang.


"Disaat Dean gak mau tanggungjawab dengan cabang bayi yang ada dikandungan gue, gue juga terima surat dari rumah sakit kalau gue kena HIV. Bayangan orang yang terkena penyakit itu buat gue stress. Gue gak percaya gue menderita itu. Karena gue gak yakin, gue cek sendiri ke rumah sakit."


Theresia berbalik badan. Mata sembabnya menatap bola mata cowok itu dengan dalam. "Gue bersih dan sama sekali gue ngga ada penyakit HIV. Brengsek, Dav, Dean brengsek udah berbohong dengan surat itu."


"Tenangkan diri Lo, jangan emosian," sahut Davian menyentuh pundak Theresia.


"Bayi lo gimana?" tanya Davian kembali. Ia penasaran dengan apa yang terjadi dengan bayi tidak berdosa itu.


"Gue keguguran karena stress," jawab Theresia tanpa berlama-lama. "Dean gak mau tanggung jawab sama keadaan gue dan orangtua gue pindah keluar negeri karena mereka gak mau nama keluarga tercoreng karena tau gue hamil di luar nikah."


"Dengar cerita lo okay gue paham, tapi yang mau gue tanyain lagi. Kenapa lo make baju rumah sakit saat kita ketemu di jalan kemarin?"


"Gue punya Bibi yang mau rawat gue sementara waktu, tapi benar mereka yang datang tiba-tiba justru karena ada maunya."


"Tabungan gue di kuras habis oleh Bibi gue. Karena gak ada biaya rumah sakit lagi gue harus lari dari sana sampai ketemu sama lo di jalan."


"Oke oke. Walau gue gak paham-paham betul tapi gue ngerti dikit. Jadi sekarang lo bakalan lakuin apa?"


"Pertemukan gue dengan Anna... Dean udah kembali dan gue takut kalau Dean kembali mengusik Anna. Karena Dean masih cinta sama Anna."


"Dengan senang hati gue bakalan bantuin lo ketemu sama Anna, tapi dengan satu syarat. Lo jangan sampai nyakitin perasaannya lagi."


"Gue janji. Gue bakalan minta maaf..."


"Kak Davian, Dokternya udah datang," ujar seseorang cewek yang baru saja datang dan berdiri di ambang pintu. Dia adalah Wina, adik perempuan Davian.


"Tunggu sebentar." Wina masuk dan duduk di sofa kamar itu. Ia cukup mendengar tanpa ikut campur dengan masalah yang terjadi antara kakaknya dengan gadis disana.


"Gak perlu sampai kayak gini Dav. Gue gak mau banyak utang sama lo. Mau gue bayar pakai daun semua bantuan lo ini."


"Memangnya gue bilang lo harus balas apa yang udah gue lakuin sama lo, kan engga ada. Gue juga punya adik perempuan dan juga gue ngga mau punya dosa mengabaikan orang yang butuh pertolongan."


"Lo tunggu disini. Gue bakalan panggil dokternya dulu," ucap cowok itu bangkit dari ranjang dan melirik ke arah Wina untuk keluar bersamanya. Setelah lima menit berlalu, Dokter keluarga Davian menyudahi pemeriksaannya.


"Bagaimana keadaanya, Paman?"


"Sejauh yang Paman periksa, keadaanya sudah mulai membaik. Jangan lupa obatnya diminum tiga kali sehari. Dan untuk kondisi berat badan yang menurun, itu karena faktor stress. Itu saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Terimakasih Paman. Mari Davian antar ke depan." Davian mempersilahkan dokter itu berjalan lebih dulu. Meninggalkan Theresia bersama Wina di dalam kamar. Wina terus menatap Theresia yang tampak bergeming akhirnya memilih menyentuh kedua tangannya.


"Kak Theresia jangan sedih terus dong. Ayolah kak, lebih semangat lagi. Masa orang cantik sukanya sedih."


Theresia menghela napas pelan lalu mencoba menarik sudut bibirnya perlahan. Senyum yang tidak pernah terlihat itu kini tercetak bebas di wajahnya.


"Nah kan, kakak jadi cantik kalau senyum. Jangan sedih lagi ya kak."


Wina spontan memeluk erat tubuh Theresia membuatnya jadi merasa bahwa masih ada orang yang peduli dengannya. Sosok yang berdiri di dekat pintu pun tersenyum singkat.


"Mau makan pizza?" seru Davian. Wina langsung mengembangkan senyumnya.


"Wina mau kak!"


"Ayo turun. Kita makan sama," ujar Davian berjalan lebih dulu. Tidak lupa Wina mengajak Theresia ikut bergabung bersama mereka di meja makan.

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2