
...🍁Disclaimer🍁...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...•••...
Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagi Anna. Ia sepenuhnya percaya diantara mereka tidak akan pernah ada kata saling menyakiti, nyatanya semuanya hanya omong kosong belaka. Anna yang saat itu sedang mencuci tangannya di wastafel toilet, melirik kedatangan seorang gadis bernama Anissa. Ia masuk setelah mereka selesai jam olahraga.
Anna hanya meliriknya sekilas lalu kembali pada aktivitasnya. Tidak peduli. Anissa juga sama, gadis itu bersikap seolah Anna tidak ada didekatnya. Anissa mencuci tangannya di wastafel yang berada di samping Anna. Anna yang sudah mengganti pakaian olahraganya dengan seragam sekolah mematikan kran air setelah mencuci tangan dan berlalu hendak pergi.
Namun, langkahnya terhenti saat Anissa tiba-tiba bicara. "Hati-hati sama orang yang terlihat baik Anna," katanya masih mencuci tangan tanpa menoleh pada Anna yang kini sudah memalingkan wajah pada Anissa.
"Maksud lo?" tanyanya bingung. Anissa mematikan kran air dan meliriknya dari pantulan kaca wastafel. Dia berbalik menghadap Anna lalu tersenyum.
"Gak ada maksud apa-apa. Gue cuman ngingetin ajah. Soalnya orang-orang disekitar kita belum tentu semuanya baik, Anna. Bisa jadi mereka kelihatan lugu dan polos tapi sebenarnya mereka itu ular berkepala dua."
"Gue gak paham lo ngomong apa?" ujar Anna menghadap Anissa dan meminta penjelasan lebih detail lagi.
"Gue kan udah bilang kalo gue cuman ngingetin lo doang. Mana tau ajah kan lo dapat musibah dari teman disekitar lo, entah dalam bentuk apapun..."
Anna terdiam menatapnya. Setelah itu Anissa pun pergi meninggalkan Anna yang masih terkejut dengan perkataan perempuan itu.
Sadar gadis itu telah pergi, Anna pun beranjak dari tempat itu--lebih tepatnya mengejar Anissa. Ia harus memastikan apa tujuan gadis itu mengatakan hal seperti itu padanya.
"Anna!!" Teriakan seseorang membuat langkahnya berhenti dan berbalik. Ia melihat Diandra menghampirinya.
"Dicariin dari tadi taunya disini," ujar Diandra.
Sementara Anna menoleh mencari keberadaan Anissa, namun perempuan itu sudah tidak terlihat lagi.
"Lo kenapa? Lagi nyari sesuatu?" tanyanya.
"Bukan apa-apa," sahutnya Anna cepat membuat Diandra mengangguk paham.
Sampainya mereka dikelas, tiba-tiba Pak Robert, Bu Wanda dan Bu Aurora wali kelas mereka masuk dengan beramai-ramai. Mereka juga melihat Kinara berdiri diantara Bu Aurora dan Bu Wanda.
"Sekarang Bapak akan melakukan razia. Harap semua tas diletakkan diatas meja," ujar Pak Robert.
__ADS_1
"Kenapa woy? Kok ada razia dadakan?" seru cowok dari pojok belakang.
"Mana gue tahu, tanya tuh sama Pak Robert."
"Kenapa nih Pak? Hari ini kan gak ada jadwal razia, biasanya Selasa Jumat."
"Diam! Diam! Tidak perlu ada protes," ujar Pak Robert menghentikan kegaduhan dari siswa dan siswi dikelas itu.
"Tolong anak-anak ibu tasnya di antar ke depan," seru Bu Aurora.
Pak Dadang dibantu Bu Wanda mulai memeriksa satu persatu tas siswa yang berada di atas meja. Begitu banyak barang yang membuat Pak Dadang dan Bu Aurora geleng-geleng kepala melihatnya.
"Seharusnya kamu memadatkan tas kamu dengan buku-buku, Chika. Bukan alat-alat make up seperti ini," ujar Bu Aurora melihat betapa lengkapnya alat-alat make up yang dibawa gadis itu dalam tas.
"Bu dimanapun itu perempuan kan harus terlihat cantik. Saya sengaja bawa itu semua supaya nanti gak ribet kalau mau dandan," ujar Chika beralasan.
"Belajar dulu yang benar. Bukan hanya wajah yang harus glowing tapi otak juga harus cemerlang. Demi masa depan kamu juga. Paham kamu?!"
Chika mengangguk dengan bibir mengerucut ke depan seperti bebek. Sekarang Bu Wanda mememeriksa tas milik Tanaya dan Yesi.
Setelah tas Yesi diperiksa isinya hanya ada buku pelajaran saja dan kini giliran Anna. Bu Wanda memeriksa seluruh isi tas gadis itu. Beliau melihat seluruh isi tasnya dan hanya diisi dengan barang yang berkaitan dengan pelajaran.
"Itu uang saya yang hilang, Bu!" ujar Kinara menunjuk amplop cokelat ditangan Bu Wanda. Ia mengenal warna amplop itu karena itu amplop milik ayahnya.
Seketika semua orang langsung melihat ke arah Anna. Begitu juga dengan Kinara yang melayangkan tatapan elang pada gadis itu. "Benar ini uang kamu Kinara?" tanya Bu Wanda memastikan. Perempuan itu mengangguk.
"Benar Bu. Itu yang yang akan saya pakai untuk bayar SPP bulan depan Bu." Anna langsung melihat Kinara dengan kedua mata membulat.
"Masa iya orang kaya kayak dia nyuri uang teman sekelasnya?"
"Gak mungkin deh Anna kayak gitu. Selama ini dia royal kok orangnya. Bokapnya kaya jadi gak mungkin dia maling uangnya Kinara."
"Justru karena itu. Dia bisa royal karena uang hasil curian!" Ujaran tidak benar itu bersama dari Luna.
"Gue gak nyangka ya semenyedihkan apa lagi hidup lo sampai harus mencuri uang gue. Hidup lo nyaris sempurna Anna, tapi kenapa harus kayak gini. Pantas semua orang bilang lo itu mukanya doang yang polos tapi kelakuan diluar dugaan."
"Selain centil sama semua orang, suka rusak hubungan kakak kelas, lo juga suka mencuri milik orang lain!" tandas Kinara menohok Anna.
__ADS_1
"Gue--bukan gue yang mencuri uang lo Kin, bukan gue."
"Kalau bukan lo siapa lagi? Lo gak usah ngelak deh. Semua orang udah tau kok, sejak lo pacaran sama Dean lo itu kayak orang susuh tau ngga. Jadi pasti lo nyuri duit ini buat beli sesuatu."
"Emang dasar ya lo. Nyesal gue punya teman pencuri kaya lo!" Anna menggeleng dan mata sendu itu tidak menyangka kalau Kinara sahabatnya justru tidak mempercayai ucapannya.
"Udahlah Kin. Mana ada maling yang cepat ngaku," timpal Ria.
"Jangan sampai gitu nuduhnya Kin. Anna juga udah bilang bukan dia pelakunya," ucap Yesi membela.
"Ngapain sih belain dia yang jelas-jelas udah salah. Uang gue ada di tasnya, Yesi!"
"Kalau uang lo ada di tas gue, gue ngga mungkin sebodoh itu nyimpan duit itu di tas. Sejak pagi juga gue bareng sama lo bertiga. Apa ada satu detik gue gak bareng kalian? Engga ada, 'kan? kalau nuduh itu pakai bukti jangan cuman apa yang lo lihat doang," tandas Anna kesal menatap Kinara.
Sahabat apa seperti itu menyalahkan temannya sendiri hanya karena sesuatu yang terlihat mata tanpa disertai dengan bukti?
Kasus pencurian ini menjadi momok mengerikan bagi Anna selama beberapa bulan. Penjelasan yang ia berikan nyatanya tidak membuat Kinara percaya kalau bukan ia pelakunya.
...•••...
Satu bulan berlalu.
Satu orang pun siswi di sekolah itu tidak ada yang mau berbicara dengan Anna kecuali Yesi yang diam-diam berbicara dengan Anna ketika Kinara dan Ria tidak sedang bersamanya. Sampai kebenarannya terbukti barulah Kinara sadar kalau biang dari masalah itu adalah Ghea dan Sera. Kedua perempuan itu sudah mengatur rencana ini jauh sebelum harinya.
"Gue bilang juga apa Ghe. Masalah kayak gitu terlalu mudah buat Kinara jauhin Anna. Mau gue kemarin dia itu dihujat habis-habisan, tapi ini Kinara cuman memaki Anna sekalem itu."
"Engga masalah. Gue masih punya banyak cara buat Anna berantam hebat sama Kinara."
"Jadi benar kata Yesi kalau lo berdua dalang dari uang yang ada di tas Anna?!" Kinara angkat suara dan membanting pintu toilet, melangkah menghampiri Ghea dan Sera di depan wastafel.
"Lo—Lo udah gila ya, Kin? Ngapain lo ngerekam kita. Lo itu lagi live, hah?" kata Sera panik saat matanya tidak sengaja melihat layar ponsel Kinara merekam mereka dan deretan komentar berisi makian pada mereka berdua.
"Sialan lo, Kinara!" amuk Ghea berusaha meraih ponselnya itu. Namun sayang Kinara lebih cepat menjauhkan ponselnya.
"Gue bakalan kasih bukti ini ke Bu Wanda juga Bu Aurora. Gue ngga nyangka lo orangnya kayak gini Ghe. Gue kira kita itu teman dekat nyatanya lo nikam gue dari belakang."
"Hahahaha..." Ghea tertawa terbahak-bahak setelah rencananya diketahui Kinara. "Lo benar dan bodohnya lo justru gak percaya sama teman lo sendiri. Hubungan lo sama Anna jadi renggang, kan?" .
__ADS_1
Sialan!!! batin Kinara sambil mengepalkan kedua tangannya
- to be continued -