In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 38


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


Mobil yang Leon kendarai menepi di bahu jalan tidak jauh dari pekarangan mansion milik Alice. "Kau yakin tidak akan pulang setelah apa yang terjadi di rumah tadi? Anna bisa terluka jika kau tidak kembali," kata Alice padanya.


Tangan wanita itu masih bermain di rambut Leon. Mereka duduk bersama di jok belakang dengan Leon mendaratkan kepalanya di dada Alice. Napasnya masih naik turun setelah tangannya menghajar habis ayahnya setengah jam lalu.


"Jika selama ini Anna menerima luka itu dari ayah kamu, berarti Anna sedang tidak baik-baik saja Leon. Dia pasti trauma. Ingatan kesakitan itu akan terus bersarang dalam kepalanya sampai-sampai Anna mungkin tidak ingin memiliki hidup bahagia. Dia bisa saja takut dengan laki-laki."


"Sebaiknya kau membawanya ikut denganmu."


"..."


"Akan lebih berbahaya jika aku membawanya ikut denganku. Ada satu hal yang belum ku katakan padamu, Alice. Maaf jika aku berbohong."


"Tidak masalah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi baik kau jujur atau tidak. Kita sudah sama-sama berjanji kan. Kau mengenalku dengan masa lalu yang pelik dan aku juga harus demikian... katakan saja padaku."


Leon memposisikan duduknya menjadi bersandar di sandaran jok mobil. "Anna bukan adik kandungku. Dia tidak memiliki darah Williams yang mengalir dalam tubuhnya."


"Anna memiliki keluarga yang lengkap. Anna hidup bersama keluargaku karena hasil bisnis."


...•••...


Sementara di kediaman Sean, banyak orang yang berkumpul di ruang keluarga dengan Ayah Sean yang memimpin pembicaraan malam ini. Setelah ia mendaratkan bokongnya di sebelah ibunya, Arsen—ayahnya Sean melirik kedatangannya.


"Kau kembali?" ucap ayahnya. "Apa ada sesuatu hal yang ingin kamu sampaikan sampai kau harus duduk bersama orangtua yang sedang berdiskusi?"


"Sebelum kemari Sean bertemu dengan Ryan, ayahnya Anna, ayah."


Apa yang Sean ucapkan barusan membuat seorang wanita dengan pakaian rumah sakit yang duduk di sofa bergerak susah payah dari tempatnya.


"Jangan banyak bergerak, Naura. Infusnya akan terlepas," kata Helga—Bundanya Sean, menghampiri wanita bernama Naura yang mencoba menegakkan badannya.


"Anna? Apa yang terjadi dengannya? Dia baik-baik saja bukan? putriku..."


"Tenang, Naura. Kau bisa melukai dirimu," ucap Helga berusaha menenangkan Naura. Naura yang tidak ingin menghabiskan waktunya di rumah sakit terpaksa rawat jalan di rumah.


"Ikut ayah Sean."


Arsen bangkit dan berjalan lebih dari menjauh dari ruang keluarga. Mendengar hal itu mau tidak mau Sean mengikuti langkah ayahnya menuju teras dekat kolam renang.


"Apa yang kau pikirkan sekarang? Ibunya Anna masih belum pulih dan kau justru mengatakannya terang-terangan," kata Arsen menatap Sena tidak senang.


Sean menatap nyalang ayahnya. "Mau sampai kapan seperti ini ayah? Sean sudah tidak bisa tenang melihat Anna selalu terluka. Jika Sean benar-benar tidak punya hati, mungkin saat bertemu pria sialan itu Sean pasti menghabisinya."


"Jaga ucapanmu, Sean! Ayah sudah puluhan kali memperingatkan mu. Satu langkah saja kau berulah, Anna tidak akan selamat."


"Jangan mengulangi kesalahan yang ayah perbuat dulu. Cukup yang ayah katakan sebelumnya kau laksanakan."


"Tidak ada gunanya ayah. Anna tidak mengenalku. Dia menganggap ku seperti orang asing..."


Arsen memegang kedua pundak Sean dengan erat. "Untuk itu ayah memintamu untuk terus berjuang mendekati Anna. Apapun yang terjadi kita harus lebih dulu bertemu dengan Anna, jika tidak kakekmu akan bertindak."


"Kakekmu tidak pernah menginginkan Anna lahir di dunia ini. Jadi tolong ayah Sean. Tolong kembalikan Anna."


...•••...


Esok paginya, tepat pada pukul 07.00 pagi terdengar suara tamparan keras di ruang keluarga dengan keberadaan Anna mengusap pipi kanannya dan Ryan dengan dibalut pakaian kantin menggerakkan tangan berdiri di depan Anna.


"Ternyata kau sudah tau kalau Leon akan pulang hari kemarin. Kenapa kau tidak mengatakan apapun pada ayah, hah?!"


"Anna tidak tahu kalau Abang pulang Ayah. Sudah Anna jelaskan sebelumnya Anna pulang dari sekolah juga terkejut melihat bang Leon berdiri di depan rumah."


"BOHONG!!" bentak Ryan keras sambil mendorong bahu Anna hingga ia membentur tembok. "Kau pasti mengatakannya, kan? Apa yang kau katakan pada Leon?"


"Salah Anna sebenarnya apa sih, Yah! Sampai kapan ayah seperti ini padaku? Ini aku putrimu Ayah, aku Anna anak ayah!" ujar Anna menitikkan air mata.


"Apa ayah gak kasihan padaku setelah bertahun-tahun menyiksaku seperti ini. Anna sudah tidak punya ibu jadi tolong jangan buat Anna berpikir kalau Anna juga tidak punya ayah karena ayah selalu seperti ini!"


"...Anna gak pernah minta apapun sama Ayah, karena Anna tahu semuanya akan percuma jika Anna meminta. Anna hanya ingin satu hal saja ayah, tolong ayah lihat aku, peduli sedikit padaku."

__ADS_1


Anna mengusap air matanya kasar menatap ayahnya yang terdiam dengan rahang mengeras. Lagi dan lagi selalu sama, Ayahnya pergi meninggalkannya begitu saja membuat Anna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Seberapa kuat ia meluapkan emosinya tak membuat sedikit orang menyadari kalau Anna sebenarnya merasakan sakit baik batin maupun fisik. Jika kematian bukanlah sebuah dosa, Anna sudah memilih mengakhiri segalanya sejak awal.


...•••...


📍 Starlight High School.


Setelah berjam-jam berkutat dengan rumus matematika yang membuat kepala pening, akhirnya Anna dan teman-temannya bisa bebas menghirup udara segar di lapangan. Walau terik matahari menyengat tapi itu terasa nyaman, daripada belajar di dalam kelas membuat mumet kepala.


Di tengah lapangan ini Anna, Kinara serta Bian sedang kedapatan tugas untuk membimbing adik kelas mereka yang akan ikut serta saat ucapan nanti di hari Senin. Mereka bertiga berdiri di depan tiga puluh dua siswa yang akan bertugas dengan bagian masing-masing di upacara bendera nanti.


"Okey, untuk tiga orang pengibar bendera senin nanti sudah aman ya. Pokoknya jangan sampai melamun. Dengarkan perintah yang membawa baki. Paham, kan?"


"Paham, Kak. Semoga kerja keras kakak ngajari kita bertiga gak sia-sia," ucap gadis yang berdiri diantara dua cowok.


"Gimana sih, Na? Bisa serius ngga sih! Kita udah lima kali ngulang latihan ini. Kita juga butuh istirahat. Masa baris berbaris ajah lo ngga bisa."


Kinara yang berjarak beberapa meter dari tempat Bian dan Anna berada langsung menolehkan kepala saat mendengar suara Bian seperti membentak Anna, temannya.


Sementara Anna, ia mengembuskan napas sebal karena memang sejak ia berangkat pikirannya sedang tidak ada disini. Ia juga masih merasakan kepalanya pening setelah kejadian tadi pagi, dimana ia sempat jatuh pingsan dan membuat kepalanya keleyengan.


Bian terus saja merepet padanya. Anna membuka topinya dan mengusap peluh yang bercucuran di kening, sementara Bian ia tetap sabar agar emosinya tidak meluap dan menyakiti perasaan perempuan itu.


"Kenapa Na, lo sakit lagi?" Kinara datang dan memegang bahu gadis itu. Anna hanya menggeleng lalu berjalan ke arah Bian.


"Kalau lo sakit balik kelas ajah sana. Gue juga ngga mau emosian cuman karena masalah kayak gini," ujar Bian seenaknya.


"Sorry Bian. Kita latihan sekali lagi ya," kata Anna menatap Bian.


"Nggak perlu, besok ajah kita lanjutin," tukas Bian cepat. Cowok itu langsung menoleh pada barisan adik kelas yang ikut dengan mereka untuk upacara hari senin depan.


"Latihan kita cukup hari ini ajah dulu. Besok jangan lupa minumannya di bawa kalau perlu bekalnya sekalian."


Seluruh barisan bubar dan menyisakan Kinara, Anna dan Bian di pinggir lapangan. Mereka duduk di bawah pohon besar depan kantor guru dengan Kinara duduk diantara mereka.


"Ada masalah lagi ya sampai ngga fokus gitu?" tanya Bian. Anna masih saja menundukkan wajah sampai lima detik berikutnya ia mendongak, menatap lurus objek di depannya. Beberapa adik kelas yang berlalu lalang di koridor kelas sepuluh.


"Minta maaf lo," sarkas Kinara melirik Bian.


"M-maafin gue Na, gue—gue ngga tau kalau masalah lo serumit itu. Benar-benar gue minta maaf bangat."


Anna mengulas senyum sekilas lalu mengangguk ringan. "Engga papa. Gue yang salah terlalu mikirin semuanya."


"Gak enak juga sih Na. Maaf ya..." Anna mengangguk dan tidak berkata apapun lagi.


"Gue boleh nanyak sesuatu gak, tapi pertanyaan gue kali ini merujuk ke privasi sih. Ngga papa kalau gue tanya? Kalau lo keberatan gak masalah sih," tutur Kinara.


"Bebas kok. Kita cuman bertiga disini ngga ada yang lain juga," jawab Anna.


"Lo ada hubungan dekat ya sama Ghea? Setiap berantam dia selalu bisa ngerusak mood lo bahkan kemarin dia sebanyak itu tau tentang keluarga lo juga."


"Ghea sepupu gue, tepatnya adik gue. Bokap dia sama ayah gue saudaraan."


"Hah?!" seru Kinara dan Bian bersamaan.


"Really? Ghea saudari lo? Ya ampun dunia ini semakin sempit ajah ya. Lo berhati malaikat? Dia kayak setan," cetus Bian.


"Jadi..."


"Udah Kin. Pertanyaan lo cuman itu ajah jadi jangan diterusin lagi. Intinya Ghea orangnya ngga seperti yang kalian lihat di sekolah setiap harinya. Dia bakalan berusaha merusak nama baik gue di sekolah ini. Gue gak tau apa sebabnya dia seperti itu dan itu udah lama begitu sama gue."


"Yaudah yuk, istirahatnya udah cukup kayaknya. Bentar lagi pergantian jam. Kelas kita masuk jamnya Bu Aurora." Anna berjalan lebih dulu lalu disusul Kinara dan Bian dari belakang.


"Padahal lo dekat sama Anna masa ngga tau mereka saudara," ucap Bian melirik Kinara.


"Karena gue dekat sama Anna, semua tentangnya harus gue tau juga. Everyone has privacy..."


"Hmm...." jawab Bian dengan deheman malas


"Eh, Anna. Ngomong-ngomong tugas dari Bu Aurora yang buat makalah itu dua minggu lagi kan di kumpul?" tanya Bian disela sela mereka berjalan di koridor kelas.


"Ho-oh. Perkelompok kan ngerjainnya?" ucap Kinara.

__ADS_1


"Iya sih.. tapi ya namanya kelompok toh satu orang ajah yang kerja. Makanya dari kelas sepuluh gue niat bangat ngga ada kerkom kayak gini. Mati-mati satu orang ajah pun," cakap Bian.


"Kalau gue masuk tim kalian, gimana? Boleh ngga ya kira-kira?" lanjut Bian. Anna berhenti dan berbalik badan.


"Tanya Yesi ajah ya dia ketuanya. Soalnya kami pengen berempat bukan berlima."


"Yaelah, nambah satu kan ngga masalah sih."


"Gue ngga masalah Bi. Ketua kelompoknya Yesi jadi minta dia masukin lo gabung sama kita." Kinara menaikkan satu alisnya melirik Bian yang terlihat cengengesan menatapnya.


"Sekali ini ajah Kin. Masa sama ketua kelas sendiri begitu."


"Iya iya nanti gue masukin sama tim kita. Lo yang menyajikan makalahnya ya. Maksud gue lo moderatornya. Gimana lo mau, ngga?"


"Gampang itu mah," kata Bian.


...•••...


Setibanya di depan kelas, Anna langsung berjalan menuju mejanya. Disana sudah ada Yesi tersenyum padanya. Kali ini Kinara berganti tempat duduk disebelah Anna.


"Gue dengar dari kelas lain katanya kerkom dimajukan selasa depan. Gimana sama kelompok kita?"


"Besok maksudnya?" Yesi mengangguk.


"Kinara?" panggilnya. Gadis yang duduk di meja depan mereka menoleh. Ia mengangkat dagunya.


"Kapan kita kerkom. Gue dengar dari kelas sebelah Bu Aurora majuin waktu presentasinya jadi selesa ini. Kita ajah belum siap loh."


"Ini lagi mau gue bahas sama Ria. Lagian santai ajah kali, gak perlu sampai nguras tenaga mikirinnya."


"Gimana kalau di rumah lo ajah An ngerjainnya. Kan asik tuh biar kita main lagi ke rumah lo," ujar Yesi.


"Setuju ngga kalau kita kerja kelompok di rumah lo?" sambung Ria dari meja depan.


"Mau kapan?" tanya Anna.


"Tahun depan, Sayang. Ya sore nantilah Na sepulang sekolah ini. Gimana?"


"Lebih cepat lebih baik loh. Kalau soal makan gue ajah yang traktir. Entar gue sama Ria belanja dulu ke minimarket dekat rumah lo terus lo bareng Kinara, Bian sama Diandra," kata Yesi.


"Yaudah gak papa," ujar Anna. Setelah itu Bu Aurora masuk kelas dengan menyampaikan beberapa materi yang sebelumnya sudah beliau jelaskan di pertemuan sebelumnya.


"Jadi dari yang ibu jelaskan barusan coba Samantha jelaskan menurut pengertianmu sendiri apa itu pidato?"


"Hm, pidato itu seperti kegiatan berbicara yang dilakukan di depan banyak orang Bu. Biasanya pidato itu bertujuan untuk menyampaikan sebuah informasi kepada pendengar Bu."


"Bagus sekali jawabannya, Samantha. Kita lanjut. Ayo siapa yang bisa menyebutkan jenis-jenis pidato."


"Saya Bu!" seru Anna angkat tangan.


"Silahkan, Anna.."


"Menurut yang saya ketahui jenis pidato itu ada empat jenis Bu. Yang pertama ada pidato informatif, kedua pidato argumentatif, ketiga pidato jenis rekreatif, dan yang keempat jenis pidato persuasif."


"Iya benar. Nah sekarang ibu minta.. berhubung waktu kita masih banyak coba kalian kerjakan keempat jenis pidato yang teman kalian sebutkan tadi. Mulai dari pengertiannya serta tujuannya. Silahkan dikerjakan."


"Anna, bisa kemari sebentar, Nak!" panggil Bu Aurora dari depan mejanya. Gadis itu mendongak seraya menghentikan pekerjaan tangannya.


"Bisa tolong ibu sebentar? Boleh kamu ambil buku ibu yang tertinggal di perpus, kemarin siang ibu lupa bawa buku ibu dari sana."


"Boleh Bu."


"Nanti tanyakan saja sama petugas disana yang mana buku ibu yang tinggal ya."


"Baik, Bu. Permisi." Anna pun keluar dari kelas dan berjalan menuju perpustakaan yang tidak begitu jauh dari gedung kelasnya.


Setelah mendapat buku yang Bu Aurora maksud ia pun melangkah keluar dari perpus dan lantas terkejut dengan mata terbelalak saat seseorang membekap mulutnya dengan sebuah kain yang baunya begitu menyengat.


"Hmmppp...! Le-lepas-in!"


"Lepasin...!!"


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2