In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 19


__ADS_3

...🍁 Disclaimer🍁...


...Cerita ini asli dari imajinasi author, baik dari nama, tempat dan alur cerita semua murni dari imajinasi saya sendiri. Semoga kamu menyukai dan menikmati cerita ini!...


...🍁DON'T COPY MY STORY, PLEASE!🍁...


...•••...


Tinggal lima menit lagi bel pulang berbunyi Anna sudah menuruni lantai kelasnya--berjalan melewati area parkiran yang dimana disana sudah ada Sean and the gang-nya menatap kepergiannya dari tempat mereka berada.


Melihat Sean ada disana, Anna jadi teringat tentang ucapan Sean sebelumnya. Mengatakan kalau ia adalah adiknya, tapi lihatlah tidak ada pembuktian dari sosok itu ketika ia diserang oleh Ghea di lapangan.


Anna memang bodoh terlalu memikirkan hal itu sampai menganggap Sean akan membantunya tadi, sayangnya lelaki itu cukup memandang dan menatap dirinya dengan miris. Seharusnya ia sadar tak ada yang bisa dipercaya di dunia ini.


Tidak ingin tahu menahu kenapa tatapan itu dilayangkan padanya, Anna pun kembali mengayunkan kakinya keluar dari gerbang. Sekarang ia harus pulang dan tepat waktu sampai di rumah.


Ia langsung menghentikan taksi yang tiba-tiba melintas depan sekolah. Buru-buru, ia masuk dan menyebutkan alamat rumahnya pada sopir tersebut. Selang lima belas menit ia sampai di depan rumah.


Setelah memberikan ongkosnya yang begitu pas tak ada kembalian, langkah lebar gadis tersebut kini memasuki pekarangan rumahnya. Dengan hati-hati Anna membuka gerbang rumah sampai ia menutupnya kembali, suara berat seseorang menyapa indera pendengarannya.


Dengan kaku Anna membalikkan badan dan di dekatnya sudah berdiri Mang Dodi, satpam yang berjaga di depan rumah. Pria itu menatapnya sendu.


"Non Anna gawat non..." kata Mang Dodi dengan raut wajah ketakutan.


"Apa apa, Mang?" tanyanya masih dalam keadaan bingung.


"Itu Non tadi sekitar dua jam lalu bapak pulang dengan keadaan marah-marah. Mang tidak tahu kenapa Tuan sampai begitu non."


"Mang Dodi yakin kalau Ayah lagi marah-marah? Mungkin ada pekerjaan kantor yang tidak beres Mang."


"Bukan sepertinya Non. Saya lihat tadi pas Tuan keluar dari mobil, Tuan marah dan ngomong tentang sekolah gitu non. Aduh, Non harus hati-hati masuk rumah takut tuan marah juga sama non."


"Udah biasa juga Mang, gak apa-apa kok. Jadi ayah masih ada dirumah?"


"Iya Non. Sepulang dari kantor Tuan tidak pergi kemana-mana lagi. Mang tadi juga sempat dengar suara teriakan dari dalam rumah. Mungkin Tuan sedang memarahi BI Rina, tapi itu hanya pemikiran saya saja non."


"Kalau gitu Anna masuk dulu Mang."


Mang Dodi mengangguk dan sedikit cemas menatap anak majikannya berjalan ke dalam rumah. Anna berjalan dengan langkah takut.


Walaupun ia tidak tahu apa yang jadi permasalahan sampai Ayahnya pulang dengan keadaan marah, tapi entah kenapa saat ini perasaannya benar-benar tidak nyaman, serasa dipenuhi rasa takut yang besar.


Anna mendorong pintu yang sedikit terbuka. Keadaan rumah begitu sepi dan membuat kaki kecilnya terayun berjalan ke ruang tamu. Namun, disaat ia melirik ke sebelah kanan, Anna melihat ayahnya tengah berdiri membelakanginya. Ia langsung dilanda kepanikan dan rasa takut yang mengekang.


Ryan berbalik badan dan melangkah lebih dekat kearahnya. Tangan pria itu menggenggam sebuah buku bersampul biru. Sepertinya ayahnya baru membaca isi buku tersebut.

__ADS_1


Anna menelan salivanya kasar. Tatapan tajam sang ayah benar-benar membuat Anna tidak akan beruntung hari ini. Entah apa yang akan Ryan lakukan, ia selalu siap menerimanya.


"Apa yang terjadi satu harian ini disekolah?" Ryan bertanya. Pertanyaan itu justru seperti jebakan yang membuat Anna harus jujur mengatakannya. Tapi jujur atau tidak Ryan akan tetap menyalahkannya.


Anna terdiam beberapa detik. "Ayah bertanya padamu, Anna? Apa ada masalah yang terjadi disekolah hari ini?"


Anna menunduk takut. Kedua jemari tangannya saling bertautan berusaha menguatkan dirinya dengan apa yang sebentar lagi akan terjadi.


"Ada Ayah," jawabnya begitu pelan. Kepalanya menunduk dengan tubuh sedikit gemetaran juga siaga, takut-takut ayahnya kembali melayangkan tangan padanya.


"Masalah apa kalau boleh ayah tau?" Perkataan tenang dari sang ayah sebenarnya sudah membuat Anna gemetaran.


"Anna berantam dengan Ghea dan sebagai hukuman karena Anna melakukan kesalahan, kepala sekolah memberi surat panggilan untuk Anna. Anna dimin—"


Buku ditangan Ryan melayang ke wajah Anna. Melihat buku itu melayang kearahnya, Anna yang tidak siap dihantam buku tebal itu hingga mengenai dahinya. Sesuatu yang hangat dan cair berderai di keningnya, bergerak perlahan dan menetes di lantai. Darah. Anna menyentuhnya dan darah segar itu membuat matanya berkaca-kaca.


Ryan melangkah lebih dekat dan spontan memukul kepala gadis itu keras lalu menjenggut rambut Anna kuat-kuat. Anna mencoba melepaskan tangan sang ayah yang semakin kuat menarik rambutnya. Rasa-rasanya rambutnya seperti akan terlepas dari kulit kepalanya.


"Sakit Ayah... Jangan lakukan itu. Kepala Anna sangat sakit jika ayah menariknya kuat!" lirihnya sudah berjongkok di lantai dengan tangan masih berusaha keras menjauhkan tangan sang ayah.


"Berdiri Anna! Ayah bilang berdiri!"


Ryan membentak keras. Anna pun bangkit dan pegangan ayahnya terlepas dari rambutnya. Ia mundur selangkah dengan suara meringis sambil mengusap kasar rambutnya yang terasa panas.


Kembali sang ayah melayangkan satu tamparan di pipinya. Kapan ini berakhir? aku sudah tidak sanggup menahan sakitnya. Aku ingin mengakhirinya hari ini. Kalau pun bisa aku ingin mati saja ditangan ayah. Sakitnya tak bisa dijelaskan lagi. Tolong aku!


"Anak kurang ajar kamu!" amuk Ayahnya. Pria itu seperti iblis dengan mata yang sudah berkobar api amarah.


Anna tersungkur dengan memegangi pipinya. Panas menyapa pipinya yang sejak awal memang sudah lebam, Ryan menamparnya dengan begitu kuat sampai sampai tubuh gadis itu seperti mati rasa.


"Dasar anak tidak tahu diri! Dibaikin malah ngelunjak!"


Makian itu terus-menerus bersarang dalam ingatan Anna. Gadis lemah yang sebenarnya bertahan menutupi sejuta luka dalam dirinya. Tatapan kebencian itu begitu melekat dalam tatapan sang ayah hingga sampai hari ini.


Giginya menggertak, sepasang netranya beralih menatap sang ayah yang juga menatapnya begitu tajam dan menusuk.


"Apa yang kau lakukan dengan putrinya Pak Hendra? Ghea sampai masuk rumah sakit karena ulahmu Anna karena ulahmu! Kau benar-benar membuat Ayah malu!"


"Sudah, Tuan. Sudah cukup tuan menghukum putri tuan sendiri seperti ini. Anna ini putri anda. Kenapa Anda sampai seperti ini menghukumnya? Kenapa Anda tega?" ujar Bi Rina ikut campur dan melindungi tubuh mungil Anna dari serangan majikannya.


"Jangan ikut campur Bu. Menyingkir dari hadapan saya atau Anda akan tau akibatnya..."


"Pergi Bi jangan disini. Anna tidak papa. Pergi Bibi..." Anna mendorong pelan tubuh Bi Rina agar menjauh darinya. Beliau tidak pergi dari tempat itu tapi justru menatap Anna dari jarak jauh.


"Bisa bisanya kamu melakukan hal seperti itu di sekolah. Memangnya kau tidak tahu siapa gadis yang kau serang disekolah itu, hah?! Gara-gara kelakuanmu yang merasa sok hebat ini Pak Hendra sampai menarik saham yang ada di perusahaan ayah!

__ADS_1


"Ini yang kau inginkan? Kau ingin ayah menderita, jatuh miskin dan tidak punya apa-apa?"


"Tidak Ayah. Anna sama sekali tidak ingin hal seperti itu terjadi. Naya selalu taat dengan apa yang ayah ucapkan tapi Anna tidak akan sanggup mendengar orang lain memfitnah dan menuduh ayah yang bukan-bukan."


"Ghea menuduh ayah menggoda istri Pak Hendra. Pembantu rumah mereka mengirimkan sebuah video yang memperlihatkan sosok di video itu adalah ayah bersama dengan Tante Windy," lirihnya menejelaskan.


"Anna gak terima ayah kalau sampai ayah dipermalukan begitu di sekolah."


"Apapun yang sudah kau jelaskan kau yang pantas disalahkan disituasi ini. Kau seharusnya tidak melukai putri Pak Hendra. Asal kau tau saja, saham itu lebih penting bagi ayah ketimbang dirimu. Anak pembawa sial seperti ini tidak layak hidup di dunia ini!" Maki Ryan dengan menendang badan Anna berkali-kali.


Anna sudah terkapar tak berdaya di lantai tapi ia selalu berusaha kuat sekalipun ayahnya memukulnya diluar batas. Anna menengadah menatap ayahnya. Kakinya yang diinjak sang ayah begitu sangat sakit. Wajahnya yang sudah dipenuhi bekas tamparan sang ayah semakin memerah.


"Bunuh Anna saja Ayah. Bunuh Naya dengan tangan ayah sendiri biar ayah merasa puas dan tidak terbebani lagi dengan keberadaan Anna di rumah ini!"


"Argghh!" Anna berteriak--meringis keras ketika ayahnya benar-benar menginjak pergelangan kakinya dengan kuat. Suara patahan tulang kakinya membuat Bi Rina di dekat sofa besar itu panik dan menutup mulut.


Tidak sampai disitu, Anna yang memang bersimpuh di lantai karena kesakitan merasakan kakinya sakitnya luar biasa kembali ditendang di bagian bahu. Ryan tanpa sengaja menendang bahunya yang terluka karena ulah Ghea tadi. Nafas pria itu nampak terengah-engah. Ia menatap nyalang Anna yang sudah terbujur kaku dilantai.


"Baru saja kemarin malam ayah peringatkan kamu untuk tidak berulah, tidak melakukan kesalahan lagi, tapi kenapa kamu malah melakukan kesalahan besar? Kamu memang pembawa sial di keluarga ini!!"


Anna hanya diam dan diam ketika ayahnya semakin menjadi memukulnya. Bugh! Lagi dan lagi kepala gadis itu menghantam sudut meja membuat punggungnya teramat perih.


"Bu-bunda..." lirihnya dalam hati. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Melihat itu, Ryan tidak prihatin sama sekali. Pria berjas hitam itu sedikit menunduk sembari mencengkram dagu putrinya.


"Kau harus ingat anak bodoh. Pelanggaran apapun yang kamu lakukan disekolah kecuali kau berprestasi tidak akan membuat ayah datang ke sekolah untuk bertemu dengan kepala sekolahmu."


"Ayah tidak akan datang ke sekolahmu apapun ceritanya. Itu perbuatanmu yang terlalu keras kepala bila diingatkan! Kesalahan yang kau perbuat sendiri itu jadi tanggungjawab mu, bukan tanggungjawab ayah..."


"Satu lagi, kau tidak akan pernah mendapatkan dukungan apapun dari ayah--sampai kapanpun!"


Setelah mengatakan itu, Ryan berjalan keluar dari rumah. Bi Rina yang sudah menunggu pria itu pergi segera berlari memeluk tubuh lemah Anna yang terbaring di lantai. Wanita itu ikut prihatin menatapnya.


Tidak ada lagi cinta baginya, kebahagiaan pun terasa sangat jauh dari genggamannya bahkan perhatian yang seharusnya ia dapatkan dari satu-satunya orang yang ia punya justru tidak ada. Tamparan hingga pukulan dari tangan ayahnya juga sudah seperti makanan untuknya.


Kali ini Anna menolak bantuan dari Bi Rina. Ia bangkit menguatkan dirinya. Ia memasuki kamar dengan langkah terseok-seok lalu menguncinya--menatap dirinya yang begitu menyedihkan dengan luka lebam hampir menyelimuti seluruh bagian tubuhnya terutama wajahnya.


"Setelah ini apa lagi yang harus ku hadapi?" ujarnya berjalan ke sisi ranjang. "Apa aku tidak boleh bahagia seperti mereka? Apa harus menghilang dulu baru mereka peduli denganku?"


Anna menangis di pinggiran tempat tidurnya. Menenggelamkan wajah pilunya di atas selimut. Sekuat tenaga ia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun. Apakah ada yang lebih sakit daripada menangis dalam diam? Tidak ada.


Ia kembali mengangkat wajahnya, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Ia berbalik badan menatap cermin setinggi satu meter di depannya. Perlahan tangan mungilnya melepas seragam sekolahnya yang tidak layak pakai lagi. Ia memiringkan tubuhnya--mengamati setiap bekas lebam di punggung.


"Luka yang seminggu lalu saja belum sembuh dan ayah malah menambah lukaku lagi. Sebenci itukah ayah padaku," ujarnya mengobati luka di bagian bahu belakangnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya sekarang.


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2