
...šDisclaimerš...
...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....
...ā¢ā¢ā¢...
Sekarang Anna menatap pintu rumahnya yang tertutup rapatāpintu bercat putih yang menjulang tinggi di hadapannya. Rumah berlantai dua itu tidak terlalu besar tapi suasana di dalam benar-benar terasa sesak bagi Anna selama bertahun-tahun.
Peristiwa yang terjadi sejak ia menjadi bahan amukan atas dasar kematian bundanya berputar di dalam kepala Anna. Kejadian dimana Ayah terus memukulnya bagaikan seperti sebuah film tragedi yang menyesakkan dada.
Ia mencoba menarik napas panjang, menenangkan perasaannya, menguatkan hatinya untuk sesaat. Setelah itu, manik matanya menoleh ke arah garasi, disana sudah ada mobil hitam milik ayahnya yang sering pria itu pakai berangkat ke kantor.
Sembari Anna masuk lebih dahulu, Alice dan Leon akan menunggu di luar. Keduanya akan melihat seperti apa kejadian yang membuat sang ayah sampai begitu tega berperilaku pada putrinya sendiri di depan kedua mata Leon.
Kembalinya Leon ke rumah hanya Bi Rina saja yang tau. Saat ini Anna memberanikan diri mendorong pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia menyembulkan kepalanya, tampak suasana rumah begitu sapi. Sampai suara berisik dari dapur membuat Anna melangkah begitu pelan.
"Bibi?" panggil Anna berjalan cepat menghampiri Bi Rina yang berjongkok di dapur. Tangannya bergerak bebas di atas lantai. Rupanya wanita paruh baya itu sedang membersihkan serpihan kaca disana.
"Jangan, Non, biarkan Bibi saja," ucap wanita itu kepada Anna saat gadis tersebut menyentuh serpihan kaca di lantai.
"Ada apa, Bi? Kenapa Bibi menangis?" ujarnya menyentuh kedua bahu wanita itu yang sudah bergetar hebat.
Mata Bibi Rina memerah. Mungkin beliau sudah lama menangis seperti saat ini. Bi Rina lantas menggeleng pelan dan setelah itu terduduk di lantai membuat Anna mengernyitkan kening.
"Sebenarnya apa yang terjadi Bi? Ayah marah lagi? Ayah dimana?" tanyanya kembali.
"Bapak tidak hanya marah non, tapi bapak memecat Bibi karena tidak becus menjaga non. Maafkan Bibi. Mulai besok Bibi tidak bisa lagi menemani non..."
"Ayah memecat Bibi?" Bi Rina mengangguk. "Itu tidak akan terjadi Bi. Anna tidak mau Bibi pergi ninggalin aku. Bibi udah janji dengan Anna."
"Sekarang Anna tanya. Ada apa sebenarnya?"
"Bibi gak tau bapak pulang dari mana non. Bapak kembali dalam keadaan mabuk dan tiba-tiba saja teriak di rumah memanggil nama non. Karena non tidak ada dirumah sejak sore tadi, bapak langsung marah dan jadinya seperti ini."
Ketika Anna hendak membantu Bi Rina berdiri, pencahayaan di dapur tiba-tiba saja terang benderang dan gadis itu menoleh ke saklar lampu di dekat kulkas.
Anna terkejut dengan mata melotot menatap ayahnya berdiri di sana dengan wajah datar dan mata yang menusuk ke arahnya. Penampilan ayahnya juga urak-urakan dengan dua kancing kemeja biru yang pria itu kenakan sudah terbuka.
"Anna ... anak sialan!!" pekik Ryan mendekati Anna. Tangan besar Ryan hendak menyentuh Anna berhenti saat Bi Rina melindunginya Anna.
"T-tuan maafkan non Anna. Jangan menyakitinya lagi Tuan. Saya mohon..."
"Ayah..." lirihnya. Ryan melangkah lebih dekat dan langsung mendorong Bi Rina hingga membentur kulkas.
__ADS_1
Apa yang baru saja terjadi membuat Anna panik dan lantas berdiri dari tempatnya. Wajah Ryan memerah. Pria itu langsung meraih botol minuman kaca di atas meja dan memecahkannya di lantai, membuat pecahan kaca itu berserakan di sekitaran kaki Anna.
Kejadian yang baru saja membuat Anna menatapnya dengan tatapan kosong. Anna terbiasa dengan sikap kasar ayahnya, tapi tidak dengan abangnya Leon yang sudah berdiri di ruang tamu menatap semuanya dengan tatapan menyala.
Kepala belakang Anna membentur lemari dibelakangnya. Ryan maju dan menjenggut rambut Anna dengan kuat.
"Ahh!! Ayah, sakit!!" rintih Anna saat Ryan sontak menjambak rambutnya begitu kuat.
Kepala Anna dipaksa berputar menghadap lemari dan detik kemudian Ryan menghantam dahi Anna ke lemari dengan kuat.
"Argh!!"
Darah segar dan hangat itu mengalir dari sudut dahinya. Air matanya meluruh, bukan menatap sang ayah tapi Leon yang sudah mengepalkan tangannya di ujung sana. Bahkan Alice sendiri bersembunyi di punggung lebar Leon melihat keadaanya yang begitu jelas dihadapan keduanya.
"Ayah sangat membenci orang pembangkang! Kau benar-benar anak sialan! Kemana saja kau sejak sepulang sekolah, hah? Kau selalu membuat ayah marah. Tidak bisakah dalam satu hari kau tidak membuat ayah marah!"
"Ayah sudah berulang kali mengatakannya. Jangan keluar rumah tanpa seizin ayah! Apa larangan itu tidak bisa kau dengarkan..."
"Argh..." Ryan kembali mendaratkan kepala Anna menghantam lemari.
Sudut tajam dari lemari itu lagi-lagi melukai dahi Anna. Gadis itu benar-benar seperti benda mati dibawah tangan Ryan yang masih menyentuh kepala Anna hendak mengulanginya kembali.
"Pukul yah! Pukul Anna sampai ayah puas!"
Ryan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, namun sebelum telapak tangan besar itu menyentuh pipi putrinya, Leon menahan tangan sang ayah. Ryan berbalik badan dan terkejut menatap Leon berdiri di depannya.
Sepasang matanya terus aja menatap Leon dengan lekat. Sampai semuanya benar nyata, pria paruh baya itu kembali berdiri dan mendekat ke arahnya. Detik kemudian Leon melayangkan tinju kerasnya kearah rahang sang ayah membuat Ryan langsung terkapar di lantai dan melirik ke arah Leon dengan tatapan tidak menyangka bahwa anak kandungnya sendiri memukulnya.
Tiga kali bogeman mentah mendarat di wajah Ryan tanpa henti. Leon benar-benar kesetanan dengan menghajar ayahnya sendiri dengan brutal.
"Leon pikir ayah menjaga Anna seperti yang ayah katakan sebelumnya. Ini yang namanya melindungi? Melindungi dengan cara menyakiti Anna seperti binatang?!"
"Hentikan, Leon, dia ayahmu! Apa yang kau lakukan?"
Melihat semuanya dengan mata telanjang, Anna gemetaran. Kepingan-kepingan siksaan ayahnya berputar di kepalanya. Bayangan Dean justru ikut dalam memori kepalanya Anna berputar di depan matanya. Ini tidak nyata. Anna meremas rambutnya kuat-kuat. Napasnya tercekat.
"Hentikan, Leon!!"
"Sialan!!" umpat Leon berdiri dari tubuh ayahnya. Ryan sudah terkapar di lantai dengan darah pukulan Leon mengotori lantai.
Alice menahan lengannya agar tidak melakukan tindakan lebih. Sorot mata menyala Leon benar-benar membuat Anna ketakutan. Ini pertama baginya melihat Leon semarah itu.
"Sialan! Ayah benar-benar pria sialan yang tidak tahu rasa terimakasih! Harusnya ayah malu. Melukai Anna tidak akan membuat Bunda kembali bersama kita. Bunda meninggal bukan karena Anna, Ayah. Leon sudah mengingatkan ini pada Ayah berulang kali."
__ADS_1
"Sudah Leon. Kau sudah berjanji tidak akan bersikap kurang ajar," kata Alice menenangkan Leon dengan mengusap pelan-pelan dada bidang Leon berulang kali.
"Kita impas, Ayah, tapi ini semua belum berakhir," ujarnya menatap Ryan dengan mata menyala. Ryan yang baru saja Leon pukul terduduk lemas di lantai sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Ini yang Leon dapatkan setelah kembali? Ayah berani menyakiti Anna seperti ini berarti ayah sama saja menyakitiku. Abang bisa saja menceploskan ayah ke penjara kalau Abang mau," ujar Leon dengan sarkas.
"Ayah tidak ingat, Bunda sendiri berpesan pada ayah untuk tidak menyakiti Anna, tapi mana? Bunda bakalan kecewa dan benci sama ayah karena udah ingkar janji."
"Ayah bisa jelaskan semuanya..."
Ryan berusaha berdiri lalu meraih tangan Leon itu namun Leon dengan cepat menepisnya kasar. Sontak Ryan terdiam dengan mata memerah yang sudah berkaca-kaca.
"Tidak ada yang bisa ayah jelaskan. Semuanya sudah jelas. Jadi selama Abang pergi, ayah seperti ini pada Anna. Iyah?!"
"Kalau begini terus, aku akan membawa Anna pergi dari rumah ini. Pergi menjauh dari hadapan ayah sampai ayah tidak akan pernah melihat Anna lagiātidak seharusnya aku mempercayakan adikku sendiri pada ayah. Aku kecewa sama ayah."
Ekspresi wajah Ryan yang tadinya sendu, mata berkaca-kaca langsung berubah total. Pelupuk mata yang tadinya berlinang kini menegang.
"Kau kecewa pada ayah?" ujarnya memajukan langkahnya mendekat pada Leon.
"Tidak masalah kalau kamu kecewa sama ayah. Satu langkah saja adikmu ini keluar dari rumah, kau akan tau akibatnya. Jangan membuat ayah mengulangi kesalahan yang sama atau kau benar-benar akan menyesalinya sendiri."
Ryan berlalu dari hadapan Leon meninggalkan sejuta rasa kebingungan diantara Anna, Bi Rina dan Alice. Anna mendekat dan berdiri di depan Leon.
"Apa ada sesuatu yang tidak Abang ceritakan pada Anna? Apa itu sebuah rahasia?"
Leon mendekat lalu tersenyum manis sembari mengusap lembut kepala belakang gadis itu.
"Masih sakit?" tanyanya. Anna hanya menggeleng lalu kembali bertanya.
"Jawab pertanyaan Anna dulu, Bang. Kenapa ayah sampai ngomong begitu? Apa ada sesuatu yang Abang dan Ayah sembunyikan dariku?"
"Sssttt... Anak sekolah gak boleh lama tidur. Sekarang kamu istirahat ya. Bi Rina tolong bawa Anna kembali ke kamarnya sekarang ya Bi."
"Baik, Tuan Muda," jawab Bi Rina lalu membawa Anna berjalan ke arah tangga menuju kamar gadis itu. Namun, Anna masih melirik Leon yang berdiri di hadapan Alice.
"Kita pulang sekarang," ucap Leon melirik Alice disampingnya. Wanita itu mengangguk lalu berjalan mengikuti Leon ke arah pintu rumah.
"Tunggu Bi," ujar Anna kembali berbalik badan lalu menuruni anak tangga. "Kakak pergi dan ninggalin Anna lagi?" Leon menghentikan langkahnya lalu kembali berdiri di hadapan gadis itu.
"Abang akan kembali besok kemari. Ayah juga tidak akan berani memukulmu lagi, percaya sama Abang."
"Tapi Abang..."
__ADS_1
"Bibi tetap dirumah. Kalau bukan Leon yang meminta Bibi pergi, jangan pernah tinggalkan rumah ini," lanjut Leon berjalan keluar. Tidak lupa ia menggapai tangan Alice, menuntunnya keluar dari rumah.
- to be continued -