In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 18


__ADS_3

...šŸDisclaimeršŸ...


...Cerita ini asli dari imajinasi author, baik dari nama, tempat dan alur cerita semua murni dari imajinasi saya sendiri. Semoga kamu menyukai dan menikmati cerita ini!...


...šŸDON'T COPY MY STORY, PLEASE!šŸ...


...•••...


Semua siswa yang berada di lantai bawah mulai mengerumuni Anna dan Ghea. Sebagian lagi yang mendengar huru-hara dari lantai dua pun ikut meramaikan keributan disana.


Beberapa jam sebelumnya. Ghea yang sibuk mendengarkan materi pelajaran dari Bu Cilla tiba-tiba saja mendesah saat ponsel di saku roknya bergetar. Ia sembunyi-sembunyi menyalakan ponsel itu takut Bu Cilla memperhatikannya.


Setelah ia menekan sandi ponselnya, Ghea mengerutkan dahinya saat asisten rumah tangga di rumah mengirimkan sebuah video padanya lewat WhatsApp. Ghea me-muteĀ kan suara ponselnya. Disaat video berdurasi lima belas detik itu terputar, Ghea mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Kembali matanya bergulir ke pesan text yang baru saja dikirim kembali padanya.


'Maaf non. Bukannya itu ayahnya non Anna?'Ā Begitulah kira-kira isi pesannya.


"Brengsek!!" umpatnya pelan. Sera yang pada saat itu duduk disebelahnya menyiku lengan gadis itu.


"Gila ya lo. Kalau Bu Cilla tau lo barusan memaki lo gak bakalan gak dikasih izin masuk di mata pelajaran beliau."


"Diam deh lo!" tandas Ghea pada Sera. Sera yang melihat ekspresinya pun bingung.


"Gue habisin juga tuh cewek. Awas ajah lo!"


Sera mengerutkan keningnya. "Siapa sih? Lo kenapa? Ada masalah sama siapa lagi sekarang?"


"Diam gue bilang. Lo liat ajah sama siapa gue nanti bermasalah. Pokoknya siapapun yang berani menyentuh keluarga gue, gue bakalan habisin tuh hidup orang."


Sera menelan salivanya kasar. Ya ia akan diam. Ia tak mau lagi bertanya lebih. Ia langsung menegakkan tubuhnya menatap materi ajar yang Bu Cilla paparkan di depan kelas. Ghea dan Sera sama-sama siswa kelas sebelas XI IPA 3.


Setelah bel istirahat berbunyi, Ghea yang belum menutup bukunya langsung saja berjalan dengan langkah lebar keluar dari kelas. Sera yang masih membereskan alat tulisnya pun tak paham gadis itu sebenarnya kenapa. Setelah alat tulis dan bukunya beres barulah Sera menyusul langkah Ghea keluar dari kelas.


Kebetulan yang sama di ujung lorong Ghea berjalan dan melihat Anna seorang diri berjalan ke arah yang berlawanan arah dengannya. Disaat Anna hampir melewatinya, tangan Ghea dengan kasar menahan pergelangan Anna dan spontan mendorong Anna hingga membentur tembok.


"Argh! Apa masalah lo?" tanya Anna dengan berdiri tegap di depan Ghea. Keduanya saling serang dengan mata yang menajam.


"Lo pura-pura gak tau masalah yang terjadi atau memang udah merasa benar dengan apa yang lo lakuin?" sarkas Ghea menggenggam lengan Anna kuat dan menarik paksa gadis itu ke lapangan tengah.


"Awww ... lepasin!" erang Anna berjalan tersandung-sandung mengikuti langkah Ghea.


Banyak pasang mata yang menyaksikan keduanya saling adu mulut. Sampai-sampai karena emosinya yang sudah naik ke atas ubun-ubun, Ghea mendorong tubuh gadis itu menjauh sedikit darinya.


Mereka sudah berada di pinggir lapangan. Semua orang yang berada di lapangan memperhatikan mereka dengan serius. Bahkan beberapa siswa terdengar membicarakan mereka.


Ghea mengeluarkan ponselnya dari saku--memutar video yang ia simpan di galerinya sejam lalu. Semua orang yang berlalu lalang di lorong kelas sepuluh, kantor guru, bahkan duduk di dekat lapangan pun terpancing untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Itu bokap lo, kan? jawab!" bentak Ghea mematikan ponselnya setelah Anna melihat video yang diputar Ghea di ponselnya.


"Setelah lo rebut milik orang lain sekarang ayah lo juga rebut istri orang. Keluarga macam apa sih keluarga lo?!" Anna mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti apa yang sedang Ghea ucapkan.


"Apa lo gak bisa bilangin bokap lo lagi biar gak ganjen sama mama gue! Pembantu gue di rumah hubungin gue kalau ayah lo datang temuin mama gue! Kalau gue rasa itu bukan sekali dua kali lagi!"


"Pembantu lo pasti salah ngenalin bokap gue. Jelas-jelas itu bukan ayah gue kok! Bokap gue gak mungkin datang ke rumah lo disaat jam kantornya. Lagian bokap gue gak pernah make kemeja bergaris cokelat kayak gitu."


"Sialan! Maksud lo gue ngarang cerita gitu hah? Lo sendiri yang bilang bokap lo udah hampir tiga minggu gak pulang!" tandas Ghea emosi tak tertahan.


"Kalau lo mau marah, marah sama bokap gue. Jangan sama gue. Apa yang terjadi sama bokap lo itu bukan urusan gue. Gue sama sekali gak tau apa-apa tentang apapun yang bokap gue lakuin diluar sana."


"Gak tau lo bilang?! Lo itu anaknya, lo bisa ingatin bokap lo jangan ngerusak rumah tangga orang lain!"


"Keluarga lo ngga ada yang malu ya tau kelakuan bokap lo kayak gitu! Memang benar ya sifat orangtua itu ngga akan jauh dari anaknya!"


"Jangan pernah lo samakan sifat gue sama bokap!" tegas Anna geram. Kali ini bukan ekspresi marah lagi yang tampak di wajah gadis itu melainkan rasa ingin merobek mulut Ghea yang tidak bisa menjaga omongannya.


"Gue memang anaknya tapi sifatnya gak turun ke gue. Lo punya mata pasti bisa bedain!"


"Gak usah ngelak! Lo sama ajah sama bokap lo. Buktinya kenapa bisa Sean sedekat itu sama Lo, sementara lo ngga pernah kenal sama dia. Dia itu tunangan gue dan lo.. lo siapanya hah?!"


"Gue yang tunangannya ajah gak pernah bisa sedekat lo sama Sean. Jangan berpikir lo bisa rebut dia dari gue. Dia milik gue seorang!"


"Sebelum lo balik ke sekolah ini Sean gak pernah ngobrol sama cewek lain selain gue, tapi saat lo datang dia berubah drastis dan gak anggap gue siapa-siapa!"

__ADS_1


"Tunangan? Ghea udah tunangan sama kak Sean? Gimana sih maksudnya?" Bisik-bisik dari kerumunan mulai terdengar.


"Gak mungkin bangat kak Sean tunangan sama orang kayak dia. Cocokan sama Kak Anna sih, udah cantik baik hati lagi."


"Diam lo semua! Lo semua memang gak bisa lihat mana yang salah ya. Dia ini ... dia ini yang udah rusak hubungan semua orang di sekolah kita ini. Dia ini perempuan murahan yang mau ajah nempel sama laki-laki asing..."


"Mikir dulu baru ngomong ya! Sean? Cowok yang jadi ketua OSIS itu tunangan lo? Dia maksud lo, 'kan? Gue gak pernah dekat sama orang bernama Sean. Bahkan lo bisa tanya tunangan lo itu, yang dekat duluan siapa? gue apa dia?"


"Asal lo tau juga. Memang kemarin dia ngantar gue pulang tapi dia yang mau bukan atas permintaan gue. Lagian kalau dia memang tunangan lo, harusnya dia bisa jaga jarak sama cewek lain. Kelihatan lo memang bukan siapa-siapa Kak Sean!"


"Bacot ya lo. Gue udah bilang barusan kalau sifat ayah lo turun juga sama lo. Murahan benar-benar murahan lo!!"


Anna yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menerjang Ghea langsung saja menampar dan mendorong gadis itu sampai mengenai siswa lain yang memperhatikan mereka sejak tadi. Rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya tidak Anna pedulikan lagi. Kejadian tahun lalu kini terulang lagi dengan orang yang sama namun masalah yang berbeda.


Ghea yang tidak terima di gampar bahkan didorong begitu saja langsung menarik rambut Anna hingga kunciran itu terlepas dari ikatannya dan menutupi sebagian wajah cantik gadis itu. Tidak tinggal diam, Anna juga menyerangnya. Melakukan hal yang sama--menjambak rambut Ghea begitu kuat hingga Ghea merintih Kesakitan.


Keduanya jatuh di lantai bersamaan dengan Anna mendominasi dengan duduk di atas perut Ghea. Tangan milik Ghea sudah tidak berada di atas kepala Anna lagi. Tamparan keras kembali terdengar dan itu mengenai pipi kanan Anna membuat gadis itu merdecak kasar lalu tersenyum miring menatap tajam kearah Ghea.


Ghea di bawah kungkungannya justru tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menampar Anna.


Kali ini Anna mencekik kuat leher Ghea hingga membuat gadis yang terletak di bawah itu kesusahan bernapas dan Ghea tiba-tiba saja menyentuh pundak Anna, menusuk kulit Anna dibalik seragam sekolahnya sampai melukai luka yang belum sempat mengering di bahunya.


"Ke—kena lo...." ujar Ghea terbata saat melihat ujung kukunya berhasil melukai Anna.


"Woy, lerai, woy! Itu bahu Anna berdarah!" seruan dari antara kerumunan membuat suasana semakin ngeri. Pundak Anna berdarah. Terlihat dari baju seragamnya yang ada noda merah.


"Panggilan PKS gila! Bisa sekarat tuh si Ghea!"


Anna mengangkat tinggi-tinggi kepalan tangannya lalu detik berlalu—satu bogeman keras di pipi kanan Ghea mulus mendarat—wajah putih nan glowing tersebut sekarang sudah sedikit kotor dan membiru dan setelah itu disusul sebuah tamparan di pipi kanannya.


Anna tidak peduli bagaimana sensasi tangannya menyentuh rahang perempuan itu. Perkelahian itu tidak ada yang melerai sampai suara teriakan menggema memenuhi lapangan.


Kerumunan itu pun terpecah--memperlihatkan kegaduhan yang terjadi antara Anna dan Ghea. Semua mata memandang kehadiran mereka. Dengan gerakan cepat Satria menarik Ghea mundur, sementara Arkana dan Yesi membantu Anna yang tampak melemas untuk berdiri tegap.


Sean datang dan berdiri di dekat Yesi sembari melirik kearah Anna yang sudah acak-acakan dengan penampilannya. Kedatangan laki-laki itu tidak seorang diri melainkan bersama Bu Endang. Guru BK yang selalu memakai sanggul ke sekolah tengah menatap mereka tajam.


"Apa yang kalian berdua lakukan, hah? Berani sekali kalian berdua berbuat onar di sekolah ini. Kalian pikir sekolah ini milik orangtua kalian, hah?!"


Anna mengabaikan ucapan Bu Endang. Ekor matanya hanya melirik sebentar pundaknya yang berdarah. Tidak dengan Sean yang khawatir setelah melihat seragam gadis itu berdarah dibagian pundak.


"Apa kau yang melakukan itu Ghea! Kau menyerang nya sampai seperti itu!"


"Dia duluan..." ucap Ghea terpotong saat Bu Endang membentak dengan keras.


"Diam! jangan ada yang saling menyalahkan disini. Kalian berdua sama-sama perempuan tapi saling beradu fisik. Kalian ingin dikeluarkan dari sekolah ini hah?"


Kali ini tatapan Bu Endang beralih pada Anna. "Bagimana kalau Pak Komite tau kau memukul Ghea sampai babak belur begini Anna? Kepala sekolah akan kena teguran lagi. Beruntung kamu kepala sekolah sedang ada rapat di luar sekolah. Kalau sampai beliau tau tidak ada ampun untukmu lagi!"


Anna yang masih dipegang oleh Arkana dan Yesi langsung mengangkat dagunya menatap Bu Endang. Guru paling killer di sekolah ini, tapi tak membuat Anna merasa segan dengannya.


"Lantas kenapa Bu kalau beliau tau saya memukul anaknya yang tidak tahu sopan santun ini! Dia menghina ayah saya. Apa saya harus diam saja karena dia anak komite sekolah?"


Anna sangat geram bahkan ingin sekali ia menghabisi Ghea hari ini juga. Pikirannya sudah tidak lagi memikirkan banyak hal melainkan memikirkan hinaan Ghea tadi pada ayahnya. Persetan dengan siswi lain yang menatapnya. Sean yang masih berdiri pun ikut memperhatikan dan tidak menyangka akan melihat gadis itu menangis untuk pertama kalinya.


"Se--sejak setahun lalu dengan ke-jadian yang sama, sekolah ini tidak pernah membela saya Bu bahkan ibu sendiri guru BK justru tega menyudutkan saya sama seperti sekarang ini."


"Udah Na, jangan nangis," kata Yesi berusaha menghentikan Anna yang sudah berbicara lantang pada guru tua di sekolah mereka ini.


"Jangan ikut campur! Mereka semua harus tau apa yang selama ini gue pendam sampai buat dada gue sesak. Gue juga butuh keadilan Bu di sekolah ini. Saya punya hak disekolah ini. Kalau saya ribut dengan satu siswa disekolah ini kenapa saya yang selalu disalahkan!"


"Kalau ujungnya Ibu membela anak komite sekolah dan menyalahkan saya terserah ibu, tapi saya tidak akan pernah meminta maaf padanya bahkan kalau dipaksa sekalipun!"


"Saya engga salah tapi sekolah ini yang bermasalah gak bisa bedain mana yang salah dan benar termasuk ibu sendiri!"


Mereka yang masih berkerumun disana pun tak menyangka Anna akan seberani itu berbicara pada Bu Endang. Apalagi beliau ini salah satu guru tua disekolah.


Anna mengalihkan tatapannya pada Ghea. Perempuan yang wajahnya sudah memar ia lirik di belakang Bu Endang. Anna pun maju melewati Bu Endang. Arkana dan Yesi yang masih menahan tangan Anna ikut melangkah. Anna maju selangkah dan Satria sigap berdiri di dekat Ghea agar kejadian yang sama tidak terulang.


Satria sendiri bisa melihat ekspresi wajah Anna yang begitu menyedihkan. Mata indah yang dulu pernah ia tatap kini berair dan memerah.


"Otak tuh di pake, ya! Hidup gue udah susah jangan lo susahin dengan mulut kotor lo ini. Sekali lagi lo ngurusin hidup gue, gak cuman wajah lo yang gue rusak tapi hidup lo juga bakalan gue hancurin. Gue diam begini selama ini bukan karena gue takut tapi karena gue butuh waktu buat habisin lo!" tandas Anna panjang lebar.


"Lepasin!" seru Anna pada Arkana dan Yesi yang masih menahan kedua lengannya. Setelah mengatakan itu dan berhasil membuat heboh orang-orang di lapangan, Anna pun beranjak meninggalkan lapangan.

__ADS_1


"Sudah bubar semuanya!" seru Bu Endang membubarkan kerumunan di lapangan.


"Besok-besok punya mulut tuh dijaga," suara Bian terdengar berbicara pada Ghea setelah Bu Endang pergi meninggalkannya.


"Singanya keluar," kata Arkana disaat lapangan sudah mulai sepi dan hanya mereka bertiga saja disana.


...•••...


Di kelas XI IPA 1, meja yang ditempati Anna kini dikelilingi teman sekelasnya, tidak semua tapi hanya beberapa siswa yang merasa kasian dan peduli padanya termasuk Bian, Gio, Sammy, dan ketiga teman gadis itu.


"Banyakin sabar ya An. Ini minum dulu," kata Kinara mengulurkan botol minumannya.


Anna yang sudah duduk manis di kursinya hanya menatap botol minuman berwarna hijau itu tanpa mengindahkan perkataan Kinara. Ia sudah tidak ingin berbicara lagi. Ia ingin segera pulang dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.


"Udah An. Kejadian tadi jangan sampai dipikirin lama-lama. Perempuan kayak Ghea harusnya gak pantas buat lo jadi sedih gini," ujar Sammy menepuk pundak gadis itu.


"Air mata lo terlalu berharga Na," kata Ria.


"Iya Anna. Jangan nangis lagi ya. Gue sedih lihat lo kayak gini," timpal Diandra.


"Kasian bangat si Anna. Ngga pernah aman terus di sekolah ini," kata Evi.


"Gue harus apa coba? Lo semua tahu sendiri kan bukan gue yang cari masalah duluan. Gue juga gak tau kebenaran ayah gue dekat sama nyokap nya bahkan dekat sama Sean juga gak ada, tapi kenapa selalu gue yang terima ini semua. Bahkan Bu Endang juga sejelas itu belain dia yang harusnya gue dibelain. Dari dulu guru sialan itu memang gak bisa berpihak sama gue!"


"Nyebut An. Jangan ngomong gitu," ujar Ria.


"Memang jelaskan Bu Endang selalu bisa cari cara untuk belain Ghea--siapapun yang cari masalah sama dia Bu Endang selalu belain dia!"


"Anna?" ujar seseorang dari dekat pintu. Dia adalah Prita, sekretaris kelas mereka. Perempuan itu menggulum bibirnya dengan mata yang tampak gelisah.


"Apaan, Prit?" tanya Bian.


"Anu ... itu ... Pak Kepala Sekolah manggil Anna ke kantor guru, sekarang juga katanya."


Sial! batin Anna.


"Bukannya Bu Endang bilang Pak Kepsek lagi gak ada di sekolah kok jadi mendadak ada," kata Angga.


"Jangan-jangan tuh si Ghea udah lapor sama bokapnya masalah tadi," kata Bian. Mereka yang hanya menebak pun menoleh pada Anna.


"Engga usah kesana An. Bentar lagi juga kita mau pulang," kata Kinara menahan gadis itu pergi.


"Gue ngga bisa diam ajah Kin. Gimanapun gue harus bela diri gue. Gue gak mau karena kebodohan gue dimasa lalu mereka seenaknya. Gue engga bisa."


"Gue bakalan baik-baik ajah. Ini masalah gue dan gue bisa hadapin sendiri."


"Gak An. Apapun yang terjadi sama lo gue bakalan belain lo mati-matian," kata Ria.


"Gue juga bakalan belain lo Na," timpal Kinara.


"Gue juga..."


"Kita semua bakalan ada buat lo kalau sampai kepala sekolah ambil tindakan lebih," ujar Bian memberi dukungan.


Lima menit berlalu disusul dengan bel panjang berbunyi pertanda waktunya pulang, Anna berjalan memasuki ruangan kelasnya dengan tangan menggenggam sebuah surat. Kedatangannya sudah ditunggu teman sekelasnya di depan meja guru beramai-ramai.


"Gimana? Kepala sekolah bilang apa?" tanya Ria menyentuh kedua lengan gadis itu. Anna mengulurkan surat diamplop putih padanya. Belum Ria sempat membuka dan ingin tahu apa isi surat itu Anna sudah lebih dulu mengatakannya.


"Gue dapat surat panggilan orangtua. Gue harus pulang sekarang. Gue duluan ya. Makasih banyak buat lo semua udah dukung gue," ujar Anna berjalan kearah mejanya. Semua peralatan sekolahnya ia masukkan ke tas.


"Tapi pundak lo perlu diobatin dulu An," kata Kinara berjalan ke arah meja gadis itu.


Anna yang membereskan alat tulis dan bukunya hanya membalas dengan gelengan kepala. Setelah ia melampirkan tasnya di pundak, gadis itu berhenti dan menatap ketiga temannya.


"Gue bakalan baik-baik ajah. Kalau gue masih muncul di kelas ini berarti gue masih baik," ucap Anna berlalu keluar dari kelas. Melihat Anna pergi begitu saja Kinara yang geram karena situasi pun menendang kursi di dekatnya.


"Sialan tuh si Ghea. Kelakuannya memang kayak bocah. Udah pasti dia ngadu sama bokapnya."


"Kalau begini terus yang ada sekolah ini gue tuntut juga lama-lama. Jelas-jelas Ghea yang buat masalah kenapa malah Anna yang dikasih surat panggilan," kesal Ria mengepalkan tangan.


"Kalau gak salah ini kali kedua Anna dipanggil orangtuanya, 'kan?" ujar Bian. Mereka yang di dalam kelas pun langsung mengangguk.


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2