In Another Life Secret

In Another Life Secret
Bagian 15


__ADS_3

...🍁Disclaimer🍁...


...Dilarang mengcopy / menulis ulang cerita ini dalam bentuk apapun. Cerita ini asli dari imajinasi Author. Baik dari segi nama, tempat dan alur cerita semua dari hasil pengembangan imajinasi Author sendiri. Harap-harap diperhatikan dengan baik. Mencuri hak orang lain tidak akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik....


...•••...


...[Real Life]...


Sekar baru saja mematikan panggilan teleponnya. Ia baru saja selesai berbicara dengan anak-anaknya dirumah. Baru hari ini ia datang kemari menjenguk Anna dan sudah diminta pulang oleh dua jagoan kecilnya. Mau tidak mau, Sekar pun beranjak dari tempat ia berdiri menemui Anna di kamarnya.


"Anna?" Pintu kamar terbuka, menampakkan Sekar berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengerutkan dahi menatap Anna yang terduduk termenung di tepi ranjang. Sekar pun melangkah mendekati Anna.


"Anna? Ada apa, Sayang?" ujar Sekar menyentuh pundak Anna. Perempuan itu tampak terkejut melihat Sekar ada di kamarnya.


"Dari tadi Tante panggilin kamu ngga jawab panggilan Tante. Ada masalah lagi?"


Anna menggeser duduknya seraya menggelengkan kepala. "Gak papa kok Tan. Anna cuman lagi mikirin masalah setahun lalu, saat Anna ribut sama teman-teman yang datang tadi sore kemari."


"Masalah kamu yang dituduh mencuri uang Kinara itu ya?" Anna sontak mengangguk ringan.


"Tante sudah bilang kan masalah itu jangan diingat lagi. Tante gak suka lihat kamu sedih hanya memikirkan masalah yang penyebabnya bukan kamu."


"Biarlah masalah itu berlalu dan sekarang juga mereka udah berubah baik pada kamu. Jangan sampai pikiran seperti itu buat kamu ragu. Mereka temanmu, Anna. Memang mereka pernah punya kesalahan, tapi kesempatan itu masih ada untuk mereka."


Kepala Anna berputar menatap ke arah balkon. Ia terdengar menghela napas. "Aku tidak seperti Tante yang mudah memaafkan orang lain walau sebanyak apapun kesalahan orang itu, tapi Anna masih sangat sulit melakukannya Tan. Entah kenapa sakitnya itu masih terasa sampai sekarang."


Sekar menghela napa panjang. "Iya Tante tau. Memaafkan kesalahan orang memang tidak semudah itu, butuh proses dan waktu yang lama. Tapi semakin kamu memendam, mengingatnya terus-terusan kamu sendiri yang akan sakit hati, Anna. Coba perlahan dilupakan. Ingat kenanganmu bersama mereka. Satu kesalahan tidak boleh membuang seribu kebaikan mereka."


Satu kesalahan tidak boleh membuang seribu kebaikan? Kenapa mereka tidak seperti itu. Mereka meninggalkannya disaat keterpurukan itu menghampiri Anna.


"Tante akan pulang malam ini. Tidak apa-apa, kan?" Anna langsung melirik Sekar.


"Secepat itu, Tan? Tante baru datang loh beberapa jam lalu. Kenapa harus pulang cepat?"


"Tante ngga bisa berlama-lama disini. Om kamu tadi nelpon Tante buat pulang malam ini karena tidak ada yang menjaga adik-adik kamu dirumah. Om kamu besok ada rapat di kantor."


Anna memasang wajah murungnya. Baru juga beberapa jam lalu mereka bertemu, sekarang Tantenya harus pergi lagi. Lantas gadis dengan pakaian kimono navy itu mengangguk mengerti situasi Tantenya.


"Tante pulang ajah gak apa-apa kok. Masih ada Bibi yang temanin Anna di rumah."


"Iya sayang. Maafin Tante ya."


"Gak papa Tan."


"Sebelum kamu tidur, ayo temanin Tante nunggu taxi di depan rumah. Tante tadi sudah pesan taksi kemari." Anna pun bangkit dari ranjangnya dan mengikuti langkah Sekar keluar dari kamar.

__ADS_1


"Kalau ada libur nanti Tante akan bawa sekalian adik-adik kamu kemari. Biar mereka berlibur di sini saja, biar kamu ada temannya."


"Eh, iya Tan. Makasih banyak Tante..."


Sampai depan gerbang rumah, sebuah taksi sudah terparkir dijalan. Anna sekali lagi memeluk Sekar dengan erat.


"Hati-hati, Nyonya Sekar," ujar satpam rumah pada Sekar yang memasuki mobil.


"Iya Mang Ujang. Tolong jaga Anna ya Mang. Kapan-kapan saya akan datang kerumah lagi."


"Baik, Nyonya."


Sekar melambaikan tangan. Begitu juga dengan Anna yang membalas lambaian tangan Tantenya, sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Setelah itu barulah Anna berjalan masuk ke rumah dan menutup pintu.


Anna mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Rumah sebesar ini begitu sepi, tak pernah ada suara tawa yang dulu ia ingat seperti masa kecil bahkan panggilan dari sang ayah setiap pagi ia dengar juga sudah hilang.


"Entah ini sebagian dari rencana-Mu aku tidak tahu. Tapi tolong jangan persulit aku terus-menerus," gumam Anna berjalan menaiki gundukan tangga menuju kamarnya.


Masih berdiri di ujung tangga, netranya melirik ke arah pintu paling sudut sebelah kiri. Pintu bercat putih milik sang kakak yang sudah tidak pernah ditempati sejak ia tinggal di luar negeri.


Kamar itu sudah sangat lama tertutup rapat dan tak seorang pun diizinkan untuk memasuki kamar itu, titah ayahnya sejak ia duduk dibangku kelas satu menengah pertama.


Dulunya Anna penasaran sekali dengan apa isi kamar itu sampai sekarang pun masih sama. Rasa penasarannya tak berkurang sedikitpun. Dan sudah bertahun-tahun pemilik kamar itu tidak ada kabar sampai hari ini. Anna bisa hitung berapa kali abangnya itu menghubungi dirinya. Bisa sekali dalam tiga bulan, itu pun tidak tentu.


Kali ini Anna mengambil kesempatan untuk melihat apa sebenarnya di dalam kamar itu. Ia pun mendekat dan berdiri di depan pintu.


"Bibi tau dimana ayah menyimpan kunci kamar ini? Anna harus lihat apa isi di dalam kamar kakak."


"Tidak Non. Bibi tidak tahu dimana Tuan menyimpan kuncinya. Sudah lama juga kamar itu tidak pernah dibuka."


"Bibi pernah masuk kedalam?"


"Pernah Non. Bibi sebulan sekali diminta Tuan untuk membersihkan kamar tuan muda, abangnya non."


"Tapi kenapa ayah selalu mengunci kamar itu kalau memang kamar itu milik bang Leon. Apa yang ada disana sampai Anna pun tidak diizinkan masuk kesana. Apa ada sesuatu yang penting?"


"Kalau itu Bibi kurang tau Non."


Aneh, gumam Anna dalam hati.


Setelah Bi Rina permisi melanjutkan pekerjaannya di dapur, perempuan itu pun langsung memasuki kamar tidurnya. Disana ia duduk di bangku meja belajarnya sembari memikirkan apa yang ada di kamar abangnya.


Anna yang cukup penasaran pun mencoba menghubungi Leon. Sayangnya, nomor yang ia hubungi tidak tersambung membuat Anna menggerutu sendiri.


Kembali ia coba mengirimkan pesan pada Leon, tapi pesan itu justru cek list satu. Dimana sebenarnya abangnya itu sekarang? Hidup atau sudah mati Anna tidak tahu.

__ADS_1


"Non Anna, bisa buka sebentar pintunya? Ada yang ingin Bibi berikan non." Pintu terbuka menampakkan Anna dengan wajah ngantuk nya dan Bi Rina dengan tangan terulur ke depan Anna. Sebuah amplop cokelat.


"Apa ini Bi?" tanyanya.


"Anu Non ... tadi Nyonya Sekar minta amplop ini untuk dikasih sama Non. Katanya untuk bayar uang sekolah."


Anna melebarkan matanya dan langsung membuka amplop itu. Matanya kian melebar melihat lembaran uang di dalamnya yang tidak sedikit.


"Tante Sekar kenapa selalu seperti ini, sih? Anna gak bisa terima uang ini cuma-cuma Bi. Tante Sekar ini pun, dia kan masih punya anak. Uang sebanyak ini kenapa harus diberi sama Anna."


"Bibi juga ngomong gitu tadi Non tapi Nyonya tetap maksa. Katanya kalau uangnya ada sisa bisa ditabung untuk keperluan lain."


"Sebelumnya maaf Non, selama ini Bibi udah gak jujur sama non. Akhir-akhir ini Bibi selalu cerita sama Nyonya Sekar kalau Non gak pernah dikasih uang lebih sama tuan. Maafin bibi ya non..."


"Jadi semua yang Tante Sekar tau itu bersumber dari Bibi?"


Beliau mengangguk dengan perasaan bersalah. Bersalah karena terlalu mengutarakan semuanya pada Sekar. Kalau bukan pada wanita itu, mungkin Bi Rina tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hanya Sekar yang bisa membantu Anna yang sudah jelas anak dari adik kandungnya sendiri.


"Anna gak akan marah sama Bibi tapi kalau Tante Sekar tau semua yang terjadi di rumah ini bahkan apa yang terjadi pada Anna, Tante Sekar gak akan segan-segan ribut sama ayah Bi."


"Bibi ngga cerita yang lain kok Non. Apalagi cerita non dipukul sama Tuan, tidak non Bibi tidak cerita sampe kesitu."


"Syukur Bibi gak tukang ceplos orangnya."


"Bibi tau itu Non, tapi bibi gak bisa berbuat apa-apa. Bibi gak tega kalau tuan selalu menyiksa non," ujar Bi Rina sedih membuat Anna mendekat dan saling adu tatap.


"Hari ini Naya maklumi kesalahan Bibi tapi lain kali jangan katakan apapun pada Tante Sekar. Anna gak mau kalau masalah ini sampai kejadian sama seperti Naya SMP dulu."


"Baik Non. Maafin Bibi ya."


"Tak apa Bi. Sekarang Bibi buatkan susu kesukaan Anna ya sebagai gantinya," ujarnya tersenyum.


"Iya Non akan bibi buatkan segera." Beliau berlalu begitu juga dengan Anna yang melangkah masuk kedalam kamar. Ia duduk di pinggir tempat tidur seraya mengeluarkan isi amplop cokelat itu.


Anna menggeleng setelah mengetahui jumlah uang itu tidak sedikit. Sebelum ayahnya pulang, Anna langsung menyimpan uang itu di kotak berharga dimana semua barang kesukaannya ada disana dan lagi Anna juga teringat dengan surat yang Bu Ayu berikan padanya tadi pagi.


Sekarang apa yang akan ia lakukan agar surat itu bisa ia berikan dengan ayahnya sementara sang ayah masih belum pulang dari kantor. Kalau ia taruh di ruang kerja ada kemungkinan ayahnya tidak akan sempat melirik suratnya.


Tidak ada yang bisa Anna lakukan sekarang. Surat itu akan ia titipkan pada Bi Rina jika ayahnya tidak pulang malam ini.


Anna pun membuka lemari pakaiannya. Di bagian bawah dalam lemari ia mengeluarkan kotak berwarna keemasan. Kotak ukuran sedang milik sang Bunda yang sudah jatuh ke tangannya.


Di dalam kotak itu ada beberapa perhiasan Bundanya yang sering Anna lihat Bundanya pakai dulu. Ada juga foto dirinya bersama Naura saat berada di depan mall dan satu benda lagi yang membuat Anna mengerutkan dahi. Pita merah yang tidak ia ingat miliknya atau bukan.


"Pita merah ini bukannya milik Prince?"

__ADS_1


- to be continued -


__ADS_2